Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aku terjatuh.


__ADS_3

...125💚...


Malam hari nya, Aelin memasak untuk makan malam Davin.


Apa yang terjadi beberapa jam yang lalu sudah ia lupa kan dan maaf kan.


Aelin meletak kan piring kosong di atas meja lalu menuang kan sepiring nasi goreng.


Kepala Dapur yang melihat Aelin tersenyum lembut.


Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Aelin di dapur ini.


Karna beberapa hari belakangan majikan nya itu terlihat begitu senang memasak.


Tentu saja Aelin memasak untuk Davin. Namun meski pun begitu Aelin juga pernah memasak untuk para pelayan seperti diri nya.


Dan semua itu membuat para pelayan mengubah cara pandang dan nilai nya pada Aelin.


Bahkan kini para pelayan sangat menyukai dan menghormati Aelin.


Karna Aelin memperlakukan mereka layak nya seorang teman bukan seorang pelayan.


"Nona.. Ada yang bisa saya bantu...?" Seru kepala dapur yang usia nya hampir tiga kali lipat dari Aelin.


Kulit nya yang telah keriput tidak menghalangi kecepatan nya untuk mengurus dapur rumah keluarga Arselion.


Aelin bisa menebak jika kepala dapur ini sudah bekerja sangat lama di rumah besar ini.


Aelin menyunging kan senyum hangat pada wanita di hadapan nya yang juga tersenyum ramah pada nya.


"Bibi Rani aku sudah selesai.. Jadi bibi tidak perlu repot untuk membantu ku..." Jawab Aelin dengan sopan pada kepala dapur yang bernama Rani.


Rani tersenyum , Aelin memang begitu. Wanita yang masih belia itu tidak pernah mau menerima bantuan siapa pun saat memasak untuk Davin.


"Oh.... Aku membuat kan teh jahe untuk Bibi Rani. Aku berharap malam ini bibi tidur dengan tubuh hangat..." Aelin langsung menggiring tubuh Rani untuk duduk di sebuah kursi.


Lalu meletak kan secangkir teh jahe di atas meja tepat berada di depan Rani.


Ke dua mata Rani berkaca- kaca. Tangan Rani terangkat untuk membelai puncak kepala Aelin.


Wanita yang sudah di sakiti oleh tuan nya yang sudah ia rawat sejak kecil ternyata sungguh baik.


Tidak ada yang memperlakukan diri nya sehormat ini, bahkan Syaila dulu pun tak pernah berniat untuk akrab pada nya.


Meski pun begitu Rani menyadari diri nya yang hanya sebagai pelayan.


Namun Aelin, tetap memperlakukan nya dengan sangat baik, hingga diri nya merasa memiliki seorang putri.


Melihat genangan air mata di pelupuk mata Rani membuat Aelin mengerucut kan bibir nya ke depan.


Ia sangat bingung dengan semua pelayan di rumah ini.

__ADS_1


Ketika diri nya melakukan sesuatu , dengan tiba- tiba mereka memandang nya penuh dengan rasa iba dan kasihan.


Apa diri nya sebegitu tidak berdaya nya. Sehingga tatapan kasihan itu selalu tertuju pada nya?


"Bibi...!" Tegur Aelin dengan menyentuh tangan Rani.


"Terimakasih nona.. Nona sangat baik.. Semoga kehidupan Nona selalu di liputi kebahagian..." Rani mendoa kan Aelin. Berharap jika hidup Aelin akan selalu di berkahi.


Meski ia tahu semua hal yang sudah terjadi saat ini adalah salah.


Aelin tersenyum senang, setelah Maya ternyata ada orang lain yang masih peduli pada nya.


Andai ibu mertua nya bisa semanis Rani. Mungkin hidup Aelin akan merasa damai.


Namun hidup memang begitu bukan, selalu ada rintangan yang akan membuat nya menjadi berwarna.


"Baik lah bi.. Aku akan ke kamar Om Davin.. Aku harus memberi nya makan malam... Aku yakin dia pasti sudah lapar..." Aelin lansung beranjak mengambil nampan lalu meletak kan sepiring nasi goreng dan juga segelas air serta susu.


Sementara Rani hanya mengangguk senang.


.


Klek...


Aelin membuka pintu kamar Davin, di mana Davin tengah duduk dengan menyandar kan punggung nya pada dasbord ranjang.


Tangan nya terlihat memegang cermin. Namun saat Aelin membuka pintu wajah Davin langsung menatap ke arah nya.


Aelin mendekat ke arah Davin lalu duduk di tepi ranjang , di mana bibir nya selalu menyungging kan senyum manis pada Davin.


Wajah Davin terlihat cemas, saat penglihatan nya menangkap memar yang ada di wajah cantik Aelin.


Bagaimana bisa wajah Aelin menjadi babak belur seperti ini ?


"Kenapa wajah mu terluka ? Apa ada yang memukul mu?" Cecar Davin dengan nada mendesak.


Ia sama sekali tidak suka melihat luka di wajah Aelin.


Rasa nya seluruh darah nya mendidih dengan sangat cepat.


Aelin menggeleng kan kepala nya, sebagai jawaban jika apa yang di pikir kan Davin adalah salah.


"Tidak ada yang memukul ku.. Aku tanpa sengaja jatuh hingga pelipis ku terluka dan wajah ku memar..." Jawab Aelin berbohong.


Bagi nya Davin tidak perlu tahu jika ia mendapat kan luka ini dari Nyonya Tissa. Ia hanya tidak ingin hubungan Davin dan ibu nya retak.


Davin menatap Aelin tajam, di mana ke dua mata nya tersirat kilatan amarah yang siap menyambar hangus tubuh Aelin.


Atmosfer di sekitar Aelin tiba- tiba menjadi berat, di mana ia bergidik ngeri melihat tatapan marah Davin pada nya.


Glek...

__ADS_1


Apa diri nya salah bicara?


Atau Davin tahu jika diri nya berbohong.?


Demi apa pun Davin sangat mengerikan saat sedang menahan amarah.


Pikir Aelin yang berusaha menyetabil kan mimik wajah nya.


Di mana sebenar nya ia merasa sangat terintimidasi.


"Kenapa kamu begitu ceroboh ? lihat wajah mu yang terluka.. Apa kamu pikir ini hal yang sepele..? Seharus nya kamu memperhati kan diri mu.. Jangan seperti anak kecil yang ceroboh... Aku sama sekali tidak menyukai hal ini... Lain kali aku tidak ingin melihat mu terluka lagi... Apa kamu mengerti...!" Tegas Davin dengan omelan nya dengan nada khawatir.


"Sekarang kemari lah.. Duduk di sini..." Lanjut Davin dengan kalimat perintah mutlak. Sembari tangan nya menepuk paha nya agar Aelin naik ke pangkuan nya.


Aelin mengerucut kan bibir nya, ia mendapat kan semprotan omelan dari Davin.


Tapi Aelin senang akan hal itu.


Bukan kah marah tanda nya sayang.


Dengan canggung Aelin beranjak dari duduk nya dan duduk di atas paha Davin.


Ia sebenar nya tidak nyaman, tapi ia tidak mungkin menolak perintah Davin.


Jika ia menolak pasti ia akan terkena omelan Davin.


Davin tersenyum senang, melihat Aelin yang menurut pada nya.


Sikap Aelin benar- benar berubah pada nya.


Wanita pembangkang yang selalu memberontak dan melawan perintah nya kini patuh seperti anak anjing yang baik.


"Sekarang kamu makan malam dulu.. kamu pasti lapar..." Ucap Aelin yang mulai menyendok kan nasi goreng dan menyuapi Davin.


Seperti biasa Davin langsung melahap makanan yang di suapi Aelin.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2