
...181...
Syaila tengah duduk dengan penampilan glamornya di sebuah kafe di pinggir jalan. Tampak sesekali ia menyesap minuman di depannya.
Terlihat di wajahnya ekspresi terburu-buru dan tidak sabaran. Sejak tadi, ia terus bolak-balik memandangi ponselnya yang sama sekali tidak berdering.
Syaila memperbaiki kacamata hitam yang bertengger dengan indah di hidungnya. Ia manatap lurus ke arah depan, hingga akhirnya suara derap kaki mendekat kearahnya.
Syaila menoleh ke arah pintu kafe, senyumnya terukir di bibir yang dipoles dengan lipstik merah menyala. Akhirnya penantiannya berakhir.
Seorang pria dengan pakaian serba hitam mendekat ke arah Syaila. Di beberapa bagian bajunya, terlihat debu yang menempel. Pria tersebut mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu meletakkan di atas meja, tepat di depan Syaila.
Senyum Syaila semakin mengembang dengan sempurna. Saat melihat benda yang ia cari akhirnya berhasil ia dapatkan.
"Saya sudah menyelesaikan misi yang Anda berikan. Jadi, saya meminta bayaran yang Anda janjikan," ujar pria bertudung itu, yang ternyata adalah pria yang sama yang menyerang Aelin.
"Tenang saja, ambil ini." Syaila memberikan segeplok uang pada pria di depannya. Lalu ia menatap pria tersebut dengan tatapan membunuh.
"Pastikan mulutmu itu bungkam selamanya. Jika sampai ada orang lain yang tahu, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun," ancam Syaila menekan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Sekarang kau boleh pergi!" Lanjutnya lagi mengusir pria itu. Senyum kemenangan kembali terukir di wajah Syaila. Ternyata, ia tidak sia-sia menyewa pembunuh bayaran untuk menyerang Aelin dan merampas ponsel ini dari tangan wanita itu.
Mulai sekarang, ia bisa bernafas dengan lega tanpa takut, jika Davin akan mengetahui semuanya. Syaila menyalakan ponsel Aelin, lalu memeriksa setiap memori penyimpanan pada benda pipih itu.
Syaila tertawa senang, saat melihat video yang ia cari akhirnya dia temukan. Takdir kali ini memang berpihak padanya. Setelah ini ia pastikan akan menendang Aelin dari hidup Davin.
Jari telunjuk Syaila menekan tanda segitiga sama sisi pada layar ponsel itu, dimana video tersebut langsung menampilkan dirinya dan seorang pria muda yang sangat tampan sedang duduk di meja kecil sebuah kafe.
Flasback On.
Aelin dan Lia pulang bersama dari sekolah hari ini. Guyonan dan candaan yang saling mereka lemparkan, selalu berhasil membuat perut mereka di gelitik geli.
Tatapan Aelin langsung berhenti, saat melihat Arjun mengendarai motor sportnya.
__ADS_1
"Lah, kok berhenti ketawa Ae? Engsel bibirmu pasti lepas ya. Ha ... Ha ...," ledek Lia dengan tawanya yang menyebalkan.
Aelin langsung mengusap wajah Lia dengan tangan kirinya, yang sempat ia gunakan untuk cebokan.
"Diam ah, berisik. Aku lagi liatin ayang Arjun, dia mau kemana ya? Ikutin ajalah," ketus Aelin pada Lia yang berbicara tidak karuan. Dengan cepat, Aelin berlari ke arah mobilnya yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah, bersama dengan supir yang selalu menjemputnya.
"Weh Ae! gila ni anak, maen kejer anak orang aja. Sampai kapan sih Ae, kamu terus kejer cowok ke Arjun," umpat Lia kesal Aelin yang meninggalkannya begitu saja. Lia langsung tancap gas mengejar Aelin. Ia tidak akan membiarkan Aelin menyusul Arjun sendirian. Ia tahu pasti Arjun akan membentak dan berlaku kasar pada Aelin.
Aelin segera masuk ke dalam mobil, yang langsung di susul oleh Lia.
"Eh Li, kok kamu ikutan naik si. Turun dari mobil ku!" seru Aelin tidak suka.
"Ni mulut diam ngak, pokoknya aku ikut buat kejer ayang brengsek kamu itu," balas Lia dengan mencela Arjun.
"Li, please jangan mulut kamu. Arjun itu tunanganku yang paling sempurna. Sekali lagi kamu ngatain dia brengsek, aku tendang kamu keluar dari mobil."
Lia memutar ke dua bola matanya malas. Aelin selalu saja membela Arjun, padahal sahabatnya itu sudah diperlakukan dengan sangat buruk. Namun, bukannya menjauh, Aelin malah terus menempeli Arjun.
"Terserah," timpal Lia mencari jalan aman. Ia memilih mengalah dari pada harus ditendang keluar dari mobil.
Aelin dan Lia menatap fokus ke arah Arjun. Mereka saat ini bertanya-tanya kemana kiranya Arjun akan pergi.
Berselang 15 menit, motor Arjun berbelok dan berhenti di sebuah kafe. Arjun turun dari motornya dan masuk ke dalam Kafe.
Mobil Aelin juga berhenti. Dengan cepat Aelin segera turun dari mobil, dengan Lia yang ikut mengekor di belakang.
Aelin dan Lia masuk ke dalam kafe dengan satu tangan menutupi wajahnya dari samping, takut jika sampai Arjun melihat mereka di kafe ini, bisa-bisa Aelin di sebut penguntit dan Arjun akan semakin membenci Aelin.
Lia menarik tangan Aelin menuju meja kafe yang terletak di bagian pojok. Dari sini mereka bisa melihat dengan jelas Arjun yang tengah duduk di salah satu meja, seperti sedang menunggu seseorang.
"Ae, si Arjun keliatannya lagi nunggu seseorang," ujar Lia dengan mengawasi gerak gerak Aelin.
"Iya Li, tapi siapa?"
__ADS_1
"Ahh, aku tahu. Pasti dia lagi nunggu pacarnya."
Aelin langsung menatap Lia dengan tatapan tajam. Jika saja Lia bukan sahabatnya, sudah ia pastikan ia akan menjahit mulut gadis itu.
"Ngak mungkin Arjun punya pacar. Dia itu tunanganku," ujar Aelin dengan nada tidak suka.
"Iya, tunangan yang tidak di akui," cibir Lia tanpa dosa.
"Stop deh Li. Kalau ngomong jangan jujur-jujur amat."
Lia menahan tawanya, mendengar perkataan sahabatnya yang sudah di pelet oleh Arjun.
Ke duanya melebarkan mata mereka, saat melihat seorang wanita menggunakan mini dress yang sangat ketat, dengan memakai kalung berlian yang terlihat sangat mahal di lehernya duduk di hadapan Arjun.
"Tuh, lihat Li yang dateng tantenya bukan pacar. Ya kali, Arjun pacaran ama cewek tua kayak gitu," cibir Aelin dengan lega. Namun, berbeda dengan Lia yang fokus menatap Arjun, sembari tangannya merekam Arjun dan juga wanita yang berusia tiga puluh tahunan itu di ponsel miliknya.
"Eh Lin, deketan yuk ngupingnya!" ajak Lia dengan wajah tegang, lalu berpindah tempat duduk persis di belakang Arjun, dengan Aelin yang mengekor di belakang.
Arjun terlihat tersenyum pada wanita dengan tubuh seksi di hadapannya. Biarpun sudah berusia tiga puluh tahun, tapi pesona wanita itu benar-benar terlihat.
"Nona Syaila, senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Arjun dengan lembut, lalu menarik tangan Syaila dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan mesra.
Lia terbelalak melihat apa yang di lakukan Arjun. Ternyata dugaannya benar. Jika wanita itu bukanlah Tante Arjun melainkan pacarnya. Sementara Aelin terpaku dengan air mata yang mulai merembes di wajahnya. Hatinya di patahkan melihat Arjun mencium tangan wanita lain. Dengan perlahan Aelin bangkit dari duduknya dan berlari ke arah toilet meninggalkan Lia yang masih asik merekam Arjun dan wanita seksi itu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komen
__ADS_1
gift
vote