Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aunty Maya


__ADS_3

...193...


"Bagaimana? kau sangat di untungkan di sini bukan? Jadi, aku rasa penawaranku harus mendapatkan jawaban setuju darimu," ujar Syaila, setelah menjelaskan rencana yang ia susun untuk Aelin pada Arjun, sembari tangannya memainkan gelas minumannya.


Arjun terlihat memgerutkan keningnya dalam. Menimbang-nimbang penawaran Syaila yang memang terdengar sangat menggiurkan. Mendapatkan Aelin kembali baginya hanya sebuah mimpi. Namun kini, Syaila menunjukkan satu jalan untuk membuat Aelin kembali ke sisinya.


"Bagaimana jika rencanamu gagal?" tanya Arjun yang masih sedikit ragu.


"Ha ... Ha ..., baiklah jika kamu tidak mau, i'ts oke. Aku akan membayar pria lain. Setidaknya jika rencanaku gagal kamu sudah mengantongi uang sebesar 500 juta bukan. Aku rasa, jika rencanaku gagal hanya aku sendiri yang akan di rugikan," tawa Syaila, menarik ulur penawaran.


"Jika, setelah melakukan hal itu. Tapi aku gagal mendapatkan Aelin, bukankah itu percuma? Aku sangat menginginkan Aelin, uangmu tidak cukup untuk membuatku puas."


"Setidaknya Aelin akan terikat denganmu, dan Davin akan membenci Aelin dan menganggapnya sebagai pengkhianat. Davin tidak akan segan lagi untuk membuang Aelin dari hidupnya. Setelah itu, Aelin tidak punya tempat untuk berteduh selain dirimu."


"Baiklah, aku setuju. Mari kita laksanakan rencanmu," putus Arjun menyetujui kesepakatan dengan Syaila. Rasa ingin memiliki Aelin sudah membuat Arjun rela melakukan apapun untuk mendapatkan wanita itu kembali.


"Keputusan yang bagus." Syaila tersenyum lebar. Membuat kesepakatan dengan Arjun memang tidak mudah. Namun, dengan menggunakan mulutnya yang pandai menggoda. Akhirnya ia berhasil membuat Arjun menjadi tokoh utama dalam rencananya. Semuanya menjadi lebih mudah.


Setelah pembicaraan mereka selesai. Syaila dan Arjun mengambil jalan yang berbeda. Mereka berdua telah siap dengan rencana yang akan segera dieksekusi. Syaila segera kembali pada penyamarannya menjadi Livia.


Kali ini, tujuannya adalah menuju kantor Davin untuk mengantar makan siang. Ia ingin merebut hati Davin kembali, ia yakin jika mood pria itu sedang hancur karena pertengkarannya dengan Aelin. Tanpa melakukan apapun, Aelin sendiri sudah membuat kondisi sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Di sisi lain, tepatnya di rumah Arselion. Terlihat Aelin tengah mematut dirinya di depan cermin. Tubuhnya di balut dengan dress panjang yang menjuntai ke bawah dengan lengan panjang. Meski memakai pakaian tertutup, Aelin tetap terlihat cantik dan mempesona.


Aelin meraba perutnya yang masih rata, sembari bibirya tersenyum lebar.


"Sayang, bagaimana penampilan Momy? Momy ingin memberikan kejutan untuk Dady dengan mengantarkan makan siang untuknya. Mungkin Momy memang sedikit posesif pada Dady. Tidak seharusnya Momy bertengkar dengan Dadymu," ujar Aelin berbicara dengan cabang bayi yang ada di dalam rahimnya.


"Nona, ini makanan yang sudah saya masukkan ke dalam kotak makan, serta segelas air sesuai yang Anda minta!" seru Maya masuk ke dalam kamar Aelin, mengantarkan permintaan Aelin.

__ADS_1


"Terimakasih, Maya," balas Aelin dengan tersenyum manis pada Maya.


"Nona, kau terlihat sangat cantik, seperti putri dari sebuah kerajaan," puji Maya, membalas senyum Aelin.


"Kau terlalu berlebihan Maya, kau juga tidak kalah cantik." Aelin mengambil sebutir vitamin ibu hamil, lalu meminumnya. Aelin lupa, jika Maya masih ada di dalam kamar. Maya yang melihat Aelin meminum obat, mengerutkan dahinya. Ia berpikir, apakah Aelin sedang sakit?


Dengan cepat, Maya mengambil botol obat yang ada di atas meja rias, yang sontak membuat Aelin terkejut dan sadar jika ia minum vitamin hamil di depan Maya.


Maya mencermati setiap tulisan pada botol itu, wajahnya terlihat begitu serius. Sementara wajah Aelin sudah berubah pias, dengan tangan gemetar.


"Nona, Anda hamil?" tanya Maya dengan menatap Aelin tidak percaya. Ia bukan pelayan bodoh, yang tidak akan tahu jika obat apa yang kini ada di tangannya. Ia sudah menjadi pengawal pribadi selama beberapa tahun, dimana pekerjaannya terkadang menuntut dirinya untuk bermain dengan berbagai macam obat.


"Maya, aku mohon jangan katakan hal ini pada Davin," pinta Aelin dengan tatapan memelas, sembari menggengam tangan Maya.


Pantas saja, akhir-akhir ini mood Aelin tidak stabil. Sebentar menangis, dan sebentar lagi tertawa. Bahkan, sudah beberapa kali Aelin meminta mangga muda pada Maya. Namun, Maya tidak menyadari jika saat itu Aelin sedang ngidam. Bahkan beberapa malam yang lalu, ia sempat berpapasan dengan Darren yang membawa Pizza dengan toping emas. Namun, yang dirinya tidak mengerti kenapa Aelin melarang ia memberi tahu Davin tentang hal ini? Itu artinya Davin belum tahu jika Aelin tengah mengandung.


"Nona, ini tidak benar. Seharusnya Anda tidak boleh hamil," ucap Maya.


Apa maksud Maya mengatakan hal itu padanya. Dada Aelin dihantam batu kecewa saat mendengar ucapan Maya. Terasa sangat menyakitkan, seolah-olah bayi dalam rahimnya tidak diinginkan. Meski, kata-kata itu terlontar dari mulut Maya bukan Davin. Namun, tetap menggores hatinya.


"Siapa kau? yang berani melarangku untuk hamil?" hardik Aelin marah.


Menyadari jika perkataannya membuat Aelin marah. Membuat Maya tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga senang mendengar kabar tersebut, tapi ia hanya tidak ingin nasib anak yang ada di dalam rahim Aelin menjadi menderita. Apalagi, ia tahu dasar Davin menikahi Aelin karena balas dendam. Belum lagi, ada Syaila yang pasti akan membunuh bayi itu sebelum lahir ke dunia, jika wanita itu sampai tahu.


"Bukan maksudku seperti itu Nona. Akan tetapi, Anda masih terlalu muda untuk hamil," ujar Maya memberi alasan pada Aelin.


Kemarahan Aelin seketika mereda, ia salah memahami ucapan Maya, yang sebenarnya mengkhawatirkan dirinya. Aelin meraih tangan Maya dan meletakkan tangan Maya tepat di perutnya.


"Jangan khawatir Maya, aku sudah sangat matang untuk melahirkan seorang bayi kecil. Aku hanya minta padamu, rahasiakan hal ini dari Davin."

__ADS_1


"Kenapa, Nona?"


"Aku ingin memberikan kabar ini sebagai hadiah ulang tahunnya, aku yakin dia akan bahagia saat tahu jika dia akan menjadi seorang ayah."


"Anakmu, masih sangat kecil Nona. Aku berharap apa yang Anda harapkan terjadi." Maya tersenyum getir. Ia merasa sangat terharu, saat meraba perut Aelin.


"Bayi kecilku pasti akan sangat menyayangi Bibinya yang cantik."


"Bibi?"


"Iya, kau akan menjadi bibi anakku. Anakku akan memanggilmu dengan sebutan Aunty, apa kau suka May?"


Maya mengangguk dengan cepat, air matanya menetes begitu saja.


"Selamat untuk kehamilanmu, Nona."


Aelin memeluk Maya dengan hangat, kehadiran Maya sebagai pelayan pribadinya sungguh sangat membantu dirinya. Di saat ia berada di posisi terendah, hanya ada Maya di sampingnya. Bahkan, Maya rela mendapat tamparan dan hukuman dari ibu mertuanya, hanya untuk melindungi dirinya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift

__ADS_1


vote


__ADS_2