Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aku minta maaf, tolong buka pintunya


__ADS_3

...185...


Davin terlihat mondar-mandir di kamar tamu. Ia mengusap dagunya yang sedikit di tumbuhi jambang-jambang halus, dimana wajahnya terlihat begitu khawatir dan tertekan.


Ia tengah mencemaskan keadaan Aelin yang mengunci diri setelah kejadian tadi sore. Wanita cantik itu tidak membuka pintu sama sekali meski ia berteriak dan menggedor-gedor pintu.


Jujur, jauh di lubuk hati Davin ia sedikit cemburu melihat Aelin yang menangis untuk Antonio. Namun, ia tidak ingin memikirkan hal itu. Semuanya terjadi karna kesalahannya. Seandainya ia menjemput Aelin, pasti Aelin tidak akan terluka dan baik-baik saja.


Krieeet!


Pintu kamar terbuka, membuat Davin menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pintu.


Dari balik daun pintu, terlihat Syaila masuk dengan nampan berisi makanan di tangannya. Wajahnya tersenyum sangat manis dan menawan. Akan tetapi, tidak mampu untuk menggetarkan hati Davin.


Davin terlihat terganggu dengan kedatangan Syaila. Saat ini ia tidak ingin berdebat atau bertengkar.


"Dav, kamu tidak turun makan malam. Jadi aku membawa makan malam ke kamarmu. Ini adalah makanan kesukaanmu. Aku tidak ingin kamu sakit hanya karena melewatkan makan malam," ujar Syaila dengan perhatian. Ia meletakkan nampan berisi makanan di atas kasur.


"Aku tidak ingin---"


"Aku tahu, tapi lupakan pembicaraan kita tadi sore. Sungguh Dav aku tidak bisa hidup tanpamu. Tegakah dirimu menelantarkan diriku di saat kamu sudah mendapatkan tambatan hati baru?" Wajah Syaila berubah menjadi sedih.


"Aku menerima jika kamu mencintai Aelin. Baik, aku akan berdamai dengan situasi. Kamu bisa memiliki wanita yang kamu cintai, dan biarkan aku memiliki kamu Dav. Aku rela berbagi suami dengan Aelin," imbuh Syaila, lalu menarik tangan Davin agar duduk di pinggir ranjang.


Wajah kesal Davin seketika melemas. Ia terenyuh dengan apa yang dikatakan Syaila barusan. Ia tidak menduga jika Syaila akhirnya menerima Aelin sebagai istrinya. Padahal Aelin adalah orang yang sudah hampir membuat Syaila kehilangan nyawa.


Hati Davin merasa tidak enak. Jika saja bisa, ia ingin menyingkirkan perasaan cinta ini dari hatinya. Ia sudah berusaha bahkan sangat berusaha. Namun, saat mendengar Aelin menghilang rasanya seluruh dunianya runtuh seketika.


Davin menatap lekat ke dua bola mata Syaila. Mencari dusta dan kebohongan pada dua bola mata itu. Akan tetapi, ia tidak menemukan apapun selain rasa pedih.


"Maafkan aku Syai, aku sudah sangat menyakitimu tapi aku juga tidak bisa menghalangi perasaanku pada Aelin. Aku sangat mencintainya dan aku tidak bisa hidup tanpanya. Jika kau tidak sanggup untuk berbagi suami dengan Aelin, lebih baik kita berpisah Syai. Kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik dariku."

__ADS_1


Syaila menggeleng dengan cepat, kemudian langsung memeluk Davin. Sampai kapanpun ia tidak akan melepaskan Davin. Davin adalah miliknya, dan tetap akan menjadi miliknya.


Davin membalas pelukan Syaila. Mengelus surai hitam wanita yang ada di dalam pelukannya. Memberikan sedikit kekuatan karna di sinilah dirinya yang bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.


"Dav, jangan katakan hal itu. Jika kamu tidak bisa hidup tanpa Aelin. Lalu, bagaimana dengan diriku yang tidak bisa hidup tanpamu," ujar Aelin dengan menangis pilu.


Davin mengurai pelukannya, menghapus air mata Syaila yang tumpah.


"Terimakasih sudah mengerti akan diriku Syai," tutur Davin sambil tersenyum kecut.


"Aku rela melakukan apapun untuk mu Dav. Sekarang makanlah, aku membawa makanan ini untukmu." Syaila memberikan makanan yang ia bawa kepada Davin.


Bagaimana bisa aku makan, jika Aelin belum makan. Aku akan membawa makanan ini untuknya. Batin Davin dengan tersenyum.


"Terimakasih sekali lagi, Syai," ucap Davin dengan tulus. Menerima makanan yang diberikan oleh Syaila.


Syaila tersenyum senang karena Davin menerima makanan ia bawa. Namun, senyum di bibir Syaila langsung luntur saat Davin beranjak dan pergi keluar dari kamar dengan membawa makanan yang ia berikan.


"Aku akan makan bersama Aelin. Dia juga belum makan!" seru Davin dengan tersenyum senang, lalu melangkah kembali.


Syaila meremas jahitan baju dress yang ia pakai. Selalu saja Aelin, dan terus Aelin. Ia membawa makanan itu untuk Davin, tapi pria itu malah memberikan makanan itu pada wanita sialan itu.


Syaila menghembuskan nafasnya perlahan, sembari mengibaskan tangannya di depan wajahnya yang terasa terbakar.


"Aelin, Aelin, dan Aelin. Hahhh, lihat saja aku akan membuat Davin kembali kepadaku." Syaila merogoh ponsel di dalam saku bajunya. Lalu menekan kontak yang seharusnya sudah ia hapus dari ponselnya.


"Halo, kita harus bertemu. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu," ujar Syaila lalu segera mematikan panggilan telponnya.


...----------------...


Davin berhenti tepat di depan pintu kamar Aelin. Ia mengangkat tangannya mengetuk pintu kamar Aelin. Dirinya sangat berharap jika Aelin akan membuka pintu.

__ADS_1


"Ae, sayang. Aku mohon buka pintunya, kamu belum makan malam Ae. Jangan terus mengurung dirimu seperti ini aku sangat khawatir!" seru Davin.


Sementara di dalam kamar. Aelin tengah berbaring dengan lampu kamar yang dimatikan. Ke dua matanya terlihat sembab karena ia terus saja menangis menyesali apa yang sudah ia katakan pada Antonio.


Aelin menoleh ke arah pintu yang di ketuk, dimana Davin terus saja merenggek meminta masuk. Akan tetapi saat ini, Aelin hanya ingin sendiri.


Davin yang tidak mendapatkan respon atau tanda-tanda pintu akan terbuka, menghembuskan nafasnya kasar. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat Aelin mau membuka pintu. Sementara dirinya hampir mati karena khawatir dengan kondisi wanita itu. Apa lagi, Aelin habis di serang oleh seseorang.


Davin memejamkan ke dua matanya. Ia sedang memutar otak menemukan cara untuk membujuk Aelin. Seperkian detik kemudian, ke dua kelopak mata Davin terbuka lebar dengan wajah sumringah. Ia segera pergi dari kamar Aelin.


Aelin bangkit dari baringannya menatap ke arah pintu kamar yang kembali terdengar sepi. Sepertinya Davin sudah pergi, tapi itu bagus karena saat ini ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.


Aelin kembali merebahkan tubuhnya, kini ia menarik selimut hingga ke dada.


Tak!


Tak!


Tak!


Aelin cukup terkejut, saat mendengar suara kaca jendela kamarnya yang dilempar kerikil. Aelin menautkan alisnya lalu turun dari ranjang.


"Ck, siapa yang melempar kaca jendela kamarku?" gumam Aelin dengan perasaan kesal.


Aelin berjalan mendekat ke arah jendela besar yang menghubungkan dirinya dengan balkon kamar. Ia membuka kaca besar tersebut. Seketika mulut Aelin terbuka lebar dengan ke dua mata membulat sempurna saat melihat kumpulan balon dengan tulisan 'Aku minta maaf, tolong buka pintunya', melayang di depan balkon kamarnya.


Aelin segera keluar dan menoleh ke bawah. Dimana ia melihat Davin tengah menatapnya dengan wajah memohon.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like koment gift and vote


__ADS_2