
...190...
Davin melebarkan ke dua matanya. Aelin benar-benar berhasil membuat ia menyingkir dari pintu lemari. Tamat sudah riwayatnya, semua pasti akan terungkap. Ia tidak bisa lagi mencegah Aelin karena wanita itu sudah membuka pintu lemari.
Davin memukul udara kosong, pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Aelin menatap lurus ke dalam lemari, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan.
Tidak ada apapun, lalu kenapa Davin bersikap seperti itu? Batin Aelin menatap heran ke dalam lemari yang hanya berisi pakaian.
Davin mendekat ke arah Aelin, ia memiringkan kepalanya melihat ke dalam lemari. Davin memejamkan ke dua matanya dan menghembuskan nafasnya lega.
"Sudah aku katakan bukan, jika tidak ada apa-apa." Davin berjalan menjauh. Ia sedang berpikir kemana Syaila pergi?
Aelin segera menutup pintu lemari kembali, lalu mengejar Davin. Bisa ia lihat dari ekspresi datar Davin jika suaminya itu sedang kesal.
"Dav, dengarkan aku---"
"Apalagi yang harus aku dengarkan darimu Ae?" Oktav suara Davin meninggi, ia memakai kemejanya dengan cepat.
"Selalu saja seperti ini, kau selalu mencurigaiku. Aku sudah mengatakan padamu jika apa yang kamu pikirkan itu salah. Kau pikir aku menyembunyikan apa Ae? kamu pikir aku suka selalu di curigai seperti itu?" omel Davin dengan wajah kesal.
"Bagaimana aku tidak curiga Dav, sikapmu saja seolah-olah menyembunyikan sesuatu."
Davin berbalik ke belakang, menatap Aelin dengan tajam.
"Aku selalu mengatakan semua hal kepadamu. Aku mengatakan aku melakukan hal itu dan hal ini. Bahkan aku sudah menjelaskan hal ini. Jika aku sama sekali tidak menyembunyikan apapun darimu. Menurutmu apa yang aku sembunyikan? Sehingga kau terus saja mencurigaiku?" Amarah Davin akhirnya tersulut. Sebenarnya rasa marah di dalam dirinya, sama sekali bukan untuk Aelin. Namun, rasa takut akan ketahuan membuat ia menjadi gelap mata.
Aelin yang merasa jika Davin menyembunyikan sesuatu darinya, tidak ingin berhenti untuk terus memojokkan Davin. Ia sangat yakin jika ada sesuatu yang menjanggal dan sedang ditutupi oleh Davin.
"Kejujuran adalah dasar dari rumah tangga Dav. Hati istri tidak akan pernah salah---"
"Jadi, maksudmu aku yang salah? Aku yang tidak jujur?" potong Davin dengan cepat, sembari mencengkram kedua bahu Aelin dengan keras.
Aelin menahan rasa sakit yang kini bersarang dibahunya. Akan tetapi, ia tidak akan mengalah hari ini. Ia harus menemukan hal yang disembunyikan oleh Davin.
__ADS_1
Aelin menatap Davin dengan kedua mata berlinang air mata. Menguatkan dirinya agar buliran bening di pelupuk matanya tidak jatuh.
"Sikapmu belakangan ini terlalu mencurigakan Dav. Kau tidak pernah bersikap seperti itu padaku, sekarang katakan apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa kau bermain api dengan wanita lain?" Air mata Aelin luruh seketika, saat bibirnya menyebut wanita lain. Hatinya terasa di remas begitu kuat. Sebenarnya, ia tidak sanggup mengatakan hal itu. Namun, pikirannya sudah dipenuhi dengan opini yang selalu mengganggu pikirannya, dan opini tersebut adalah opini yang paling masuk akal atas perubahan sikap Davin.
Wajah Davin seketika memucat, cengkraman tangannya di bahu Aelin mengendur. Ia tidak menyadari jika perlahan Aelin mulai merasakan kehadiran wanita lain, padahal ia sudah melakukan segala cara untuk menutupi kehadiran Syaila.
Davin menimalisir raut wajahnya. Tanpa sadar ia mendorong tubuh Aelin hingga terjengkal ke belakang. Bahkan tubuh ringkih Aelin hampir jatuh.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Ae, sudah cukup kamu terus menuduhku," ucap Davin menurunkan nada suaranya lalu segera pergi dari hadapan Aelin.
Tubuh Aelin seketika ambruk di lantai, ke dua lututnya terasa lemas dan tidak bisa menopang bobot tubuhnya. Hatinya terasa dihancurkan dengan begitu tragis.
Buliran bening akhirnya mengalir dengan deras dari kedua sudut mata Aelin. Ia tidak bisa menahannya lagi. Aelin menggigit bibir bawahnya dengan keras, meredam suara isak tangis yang begitu menyesakkan dada.
Untuk pertama kalinya Davin mendorong bahkan mencengkram tubuhnya. Bahkan, bekas cengkraman tangan kekar pria itu masih terasa di kedua bahunya.
"Hiks ... Hiks ... semuanya terlihat begitu buram. Haruskah aku percaya dengan semua perkataan Davin? Tapi kenapa hatiku tidak bisa mempercayai ucapan Davin? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Aelin bertanya pada dirinya sendiri, bisa di dengar tangisan putus asa begitu memilukan.
Setelah Aelin keluar dari kamar. Pintu lemari seketika terbuka dengan cepat, lalu dari dalam lemari keluar sosok Syaila dengan nafasnya yang memburu.
Davin memang sangat tega kepada dirinya. Bisa-bisanya pria itu memasukkan ia ke dalam lemari dan meninggalkan dirinya begitu saja, hanya agar Aelin tidak mengetahui keberadaannya.
Untung ia bersembunyi di balik bad cover besar yang ada di dalam lemari, sehingga Aelin tidak melihat dirinya. Namun, sungguh nafasnya hampir habis di dalam sana.
Syaila segera melangkah menuju pintu, membuka pintu kamar dengan perlahan. Menyembulkan kepalanya dari balik pintu untuk melihat tidak ada orang yang berada di sekitar kamar. Setelah merasa cukup aman, Syaila keluar dan berlari menuju kamar tamu.
...----------------...
Davin terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya. Sejak sampai di kantor, moodnya benar-benar sangat buruk. Pertengkaran dengan Aelin pagi tadi, begitu berdampak pada dirinya.
Darren yang melihat tingkah sang majikan yang sejak tadi terus menghela nafas panjang, kini membuka suara.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
"Aelin mulai curiga jika ada wanita lain dalam hidupku."
__ADS_1
"Hah?" Mulut Darren langsung terbuka lebar. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang dirinya dengar.
"Maksud Tuan, Nona sudah tahu tentang Syaila?" tanya Darren dengan serius, sembari kedua matanya melotot lebar.
"Huhh, tidak," jawab Davin singkat dengan hembusan nafas.
"Lalu?"
"Dia hanya curiga tapi dia belum tahu jika aku memiliki istri lain selain dia." Wajah Davin terlihat frustasi. Ia merasa sangat menyesal karena bertengkar dengan Aelin. Seharusnya ia tidak tersulut emosi.
Aku mencengkram bahunya dengan sangat keras, pasti hal itu meninggalkan jejak. Batin Davin memijat pelipisnya ringan.
"Tuan, sebaiknya Anda mendengar saran dari Tuan Steve. Anda harus segera memilih salah satu, sebelum keduanya menghilang dari hidup Anda. Saya tahu ini memang sulit, tapi Anda tidak bisa terus berdiri dalam dua perahu yang sedang berlayar. Anda harus tega, menghancurkan salah satu perahu agar Anda bisa berlayar dengan aman," tutur Darren dengan suara sendu, memberi saran kepada majikan sekaligus sahabatnya.
"Kamu bisa mengatakan hal itu dengan mudah, tapi melakukannya sangatlah sulit---"
"Itu karena kamu seorang pengecut!" sarkas suara penuh kebencian yang tiba-tiba memotong ucapan Davin.
Davin dan Darren mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu, dimana terlihat Antonio mendekat ke arah mereka dengan melempar berkas tepat di depan Davin.
...----------------...
...****************...
Haduhhh Davin, ayo pilih Aelin aja.
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1