
...158💛...
Kringgg!!!
Suara bel pulang akhirnya berbunyi, seluruh siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Wajah mereka dihiasi dengan berbagai ekspresi, ada yang terlihat lesu, pucat, ada pula yang terlihat begitu bahagia.
Sebagian dari mereka berlari ria, seolah baru bebas dari penjara yang sudah ratusan tahun mengurung mereka. Tidak tertinggal pula Aelin dan Lia yang keluar dengan senyum mengembang.
"Hah, tinggal dua hari lagi. Kepalaku akan bebas dari pelajaran yang sangat membosankan," pekik Lia dramatis, sembari merenggangkan otot-otot jarinya yang terasa kaku. Mengerjakan soal yang begitu banyak membuat seluruh otot-otot di tubuhnya terasa mati rasa, meskipun Aelin membantunya mengerjakan soal. Tapi, tetap saja sahabat pintarnya itu sedikit membuat dirinya kesusahan. Dengan sengaja pura-pura tuli atau pura-pura buta.
"Iya, tinggal dua hari lagi Li. Ngak kerasa ya, waktu berjalan dengan begitu cepat," timpal Aelin dengan senyum mengembang. Ia sama sekali tidak sabar untuk menunggu dua hari, dimana di hari itu ia akan memutuskan untuk menjadi istri seutuhnya. Fokus mengurus suami dan anak-anaknya sungguh adalah sebuah pencapaian besar untuk Aelin. Meskipun sekarang ia belum memiliki benih, tapi hal itu akan segera terjadi dan kehidupannya dengan Davin akan lengkap.
"Tapi aku juga sedih tahu Lin, itu artinya kita akan berpisah. Kamu janji ya jangan lupain aku," hembus Lia dengan wajah terlihat sedih.
"Kamu yang tidak boleh melupakan aku, aku yakin kamu pasti akan menjadi pemain biola yang handal dan terkenal. Saat itu terjadi ingatlah sahabatmu ini, sahabat yang selalu memberikan contekan selama dua belas tahun." Ke dua mata Aelin mulai berkaca-kaca. Mengingat sahabat satu-satunya akan pergi jauh darinya.
Suasana di antara mereka menjadi sedih. Lia menatap Aelin dengan sendu, ia sangat sedih. Sebenarnya ia sangat berat untuk meninggalkan kota ini, tapi impiannya juga sedang menunggunya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menyelesaikan pendidikannya dan segera kembali ke kota ini.
Aelin dan Lia berpelukan, dengan deraian air mata kesedihan yang mengalir dengan deras dari ke dua mata mereka. Bahkan terdengar rintihan tangisan yang mengiris hati.
"Ae!" Suara bass dan serak menghancurkan kesedihan antar dua sahabat yang sedang menikmati momen mereka.
Aelin dan Lia mengurai pelukannya, mengusap air mata di pipi masing-masing.
Di depan mereka sudah berdiri Arjun, yang menatap Aelin dengan penuh kerinduan. Aelin memasang wajah dinginnya. Ia sangat malas untuk bersinanggungan dengan Arjun. Setelah semua hubungan di antara mereka sudah berakhir, entah mengapa Arjun selalu berusaha mendekati Aelin.
"Kak Arjun? Ada apa?" tanya Aelin dengan dingin. menampakkan wajah tidak suka akan kehadiran Arjun.
Arjun mendunduk dalam, hatinya terasa sangat sakit melihat tatapan dingin Aelin. Entah sejak kapan rasa cinta untuk Aelin tumbuh di hatinya, tapi saat Aelin mulai menjauhi dirinya. Rasa tidak terima tiba-tiba muncul di hatinya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Arjun langsung menghambur memeluk tubuh Aelin, melepas semua kerinduan yang ia rasakan pada mantan tunangannya. Menghirup aroma Aelin sedalam-dalamnya.
Aelin yang tiba-tiba di peluk melebarkan ke dua matanya dengan sempurna. Ia benar-benar kaget dengan pelukan tiba-tiba Arjun.
Dulu mungkin ia sangat ingin dipeluk oleh Arjun, jangankan di peluk, dulu ia hanya memiliki keinginan sekedar menggengam tangan Arjun. Harapan yang begitu sederhana, namun tidak pernah terwujud saat rasa dalam hatinya begitu besar untuk pria yang sedang memeluknya.
Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, perasaan yang pernah ia miliki untuk Arjun telah hilang, karna semua perasaan cinta yang dirinya miliki hanya untuk Davin, suaminya.
Lia juga sama terkejutnya, melihat Arjun yang sembrono asal memeluk sahabatnya. Bahkan bibirnya sekarang terbuka dengan lebar.
"Ae, maafkan aku. Aku sudah membuat kesalahan dengan memintamu pergi. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh untukmu. Saat kamu tidak ada di sampingku, hari-hariku benar-benar sangat sepi dan suram. Tapi sekarang aku menyadari ternyata aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Saat aku melihatmu mengenakan gaun berwarna silver malam itu. Namun, karna gengsi dan keegoisanku yang begitu besar, aku sampai tidak menyadari jika hatiku telah berlabuh untukmu," lirih Arjun dengan suara serak menahan tangisnya. Ia sudah tidak peduli dengan gengsinya, ia sudah tidak tahan untuk menahan semua perasaan yang baru ia sadari ketika dirinya telah kehilangan Aelin.
Aelin mendorong tubuh Arjun agar melepaskan dirinya. Namun bukannya malah terlepas Arjun malah semakin erat memeluknya.
"Kak Arjun lepaskan aku!!!" sentak Aelin berusaha mendorong tubuh Arjun. Tapi sayang, tubuh Aelin sama sekali tidak bergeming.
"Kak Arjun tapi hubungan kita sudah lama berakhir, aku tidak bisa kembali denganmu. Lagi pula kamu sudah mempunyai Yaya, jadi aku mohon lepaskan aku kak."
"Ae aku sama sekali tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu terimalah aku!!" paksa Arjun yang semakin memeluk Aelin dengan erat.
Aelin benar-benar muak dan kesal dengan sikap Arjun yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Entah kenapa dulu dirinya bisa jatuh cinta pada laki-laki seegois Arjun.
"Lepaskan aku!!!" teriak Aelin yang sudah mulai merasa sesak dan tidak nyaman. Namun, Arjun seolah-olah tuli dan tidak mendengarkan teriakan Aelin.
"LEPASKAN DIA!!!"
Srakk...
Bugh...
__ADS_1
Tubuh Arjun terpental ke belakang begitu saja dan ambruk ke tanah. Aelin sangat terkejut melihat tubuh Arjun yang terpelanting dengan begitu ringan dan mendarat begitu keras di tanah. Tidak hanya Aelin yang begitu terkejut dengan hal itu, bahkan beberapa siswa mulai menonton adegan tersebut.
"Berani sekali kamu menyentuhnya!! Dia sudah mengatakan padamu untuk melepaskannya. Tapi sepertinya tanganmu butuh di beri pelajaran." Suara bass penuh amarah tersebut, lalu diikuti suara hantaman keras.
Bugh... Bugh...
Arjun yang belum mencerna kejadian yang begitu cepat menimpa dirinya, tidak bisa mengkelit ataupun menghindar. Sehingga wajahnya menjadi tempat sarang pukulan yang berhasil membuat rahangnya terasa patah.
"Davin!" gumam Aelin dengan keringat dingin melihat ternyata yang memukul Arjun adalah suaminya sendiri. Ia lupa jika hari ini, Davin yang akan menjemput dirinya. Dan Aelin baru sadar jika Arjun memeluknya tepat di depan gerbang sekolah.
Dengan khawatir Aelin segera mendekat dan menarik lengan Davin agar berhenti memukuli Arjun yang sudah terkapar, dengan wajah babak belur.
"Davin sudah! Arjun bisa mati," ucap Aelin menghentikan Davin yang terlihat begitu marah.
"Lihat saja, aku akan menghabisimu," ancam Davin dengan menunjuk Arjun.
Arjun mengerjapkan ke dua matanya, wajahnya rasanya hancur berkeping-keping. Entah bagaimana rupa wajah tampannya sekarang, yang pasti rahang bawahnya terasa bergeser.
Arjun menatap ke arah pria berjas rapi yang tengah menatapnya nyalang, seolah ia adalah sasaran empuk yang siap di lahap habis.
"Kita pulang sekarang!" Davin langsung menarik pergelangan tangan Aelin dengan nafas yang memburu karna amarah yang membuncah.
...----------------...
...****************...
Nah kan Arjun asal nyosor.. kena pukulan maut.. Sayangkan wajah gantengnya dah kayak bubur sumsum🤪
oke yok like koment gift anda vote ya sekalian koin tips nya donk
__ADS_1