
...156💚...
Antonio menggengam erat stir mobilnya, dimana emosinya tersulut.
Sedangkan, Syaila meremas jarinya satu sama lain. Dimana pelipisnya mulai berkeringat. Apa Antonio tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika waktu itu ia sedang bertemu dengan seorang anak remaja yang dirinya sewa untuk memuaskan hasratnya.
"Hmmm ... A‐aku tidak tahu," jawab Syaila terbata-bata dengan ketakutan yang membuat tubuhnya rasanya mati rasa.
Bruk....
Antonio memukul stir mobil dengan keras, hingga Syaila langsung terkejut.
"Bohong!!" teriak Antonio yang langsung menginjak rem mobil, sehingga mobil tersebut berhenti mendadak.
Wajah Syaila berubah pias, dengan bibir yang memucat.
"Kak!!" tegur Antonio meninggikan suaranya.
Seperti kaset yang di putar dengan cepat, Syaila tersentak saat Antonio memanggil namanya. Syaila menghembuskan nafasnya lega saat menyadari semua hal tersebut hanya terjadi dalam bayangannya. Antonio masih tersenyum manis ke arahnya.
"Astaga, aku hanya mengkhayal," batin Syaila dengan memejamkan ke dua matanya dalam. Lalu memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Mensugesti dirinya jika semuanya akan baik-baik saja, selama ia masih menyembunyikan kebenaran dihari itu.
"Hari itu, benar-benar sangat mengerikan Antoni. Aku berusaha untuk melupakannya dan memulai hidupku yang baru. Bisakah kita tidak membahas kecelakaan itu?" Syaila menatap sendu pada Antonio, berharap Antonio akan menyetujui permintaannya.
"Tentu saja," balas Antonio dengan tersenyum pahit, sembari terus menatap lurus ke arah jalanan.
Rasanya hatinya ingin sekali membantah apa yang di katakan saudarinya tadi, tapi ia masih memiliki perasaan karna Syaila baru saja kembali dari ambang kematian.
Tak berselang lama, akhirnya mobil Antonio memasuki pekarangan rumah yang begitu megah dan mewah. Syaila tersenyum melihat bangunan kokoh dan besar yang baginya selalu menjadi istananya.
Di sinilah ia tumbuh besar, menghabiskan seluruh masa kecilnya. Hingga ia menikah dengan Davin. Namun, wajah Syaila berubah muram saat mengingat jika bangunan besar dan megah itu tidak akan pernah bisa ia miliki.
__ADS_1
Karna ayahnya, Tuan Alexander mewariskan rumah besar dan juga bisnisnya pada Antonio, sementara dirinya hanya mendapat rumah besar yang ada di dekat gunung. Bukankah itu sangat tidak adil?
Flash Back On.
Sepuluh bulan yang lalu ....
Syaila berjalan dengan cepat, melewati lorong-lorong rumahnya menuju ruang kerja sang ayah.
Wajahnya terlihat begitu marah, bahkan suara gemelatuk gigi-giginya satu sama lain terdengar begitu jelas. Di tangannya terlihat beberapa berkas yang diremas dengan begitu kuat, bahkan kertas-kertas tersebut terlihat kusut.
Dubrakk ....
Syaila langsung mendobrak pintu kerja Tuan Alexander yang kini menatapnya dengan tajam, bahkan siap membelah tubuhnya menjadi dua.
"Syaila, apa begini caramu masuk ke dalam ruanganku?" bentak Tuan Alexander dengan marah.
Syaila langsung melemparkan berkas-berkas di tangannya tepat di wajah Tuan Alexander, yang berhasil membuat kemarahan Tuan Alexander mencapai puncaknya. Karna ulah kekurang ajaran putrinya.
"Syaila, aku membagi hak kalian dengan sama rata. Antonio adalah seorang putra, sedangkan dirimu adalah seorang putri. Tentu saja hak waris akan lebih banyak jatuh kepada Antonio. Dan juga Antonio lebih berpengalaman dari padamu. Ingat Syaila kamu adalah seorang istri, ikut dalam bisnis gelap tidak baik untukmu." Tuan Alexander mencoba menjelaskan putrinya. Membuat putrinya mengerti jika apa yang ia putuskan adalah yang terbaik, dan sudah ia pikirkan dengan matang.
Lagipula harta yang dirinya berikan pada Syaila tidak akan habis dimakan selama tujuh turunan oleh putrinya. Namun, ia tidak bisa memberikan bisnis gelapnya pada Syaila karna Syaila tidak akan bisa menghandlenya, apalagi status putrinya yang sudah menjadi seorang istri.
Akan tetapi, Syaila tidak menerima penjelasan Tuan Alexander. Ia tidak terima ayahnya menggangap dirinya tidak sanggup untuk menjalankan bisnis gelap itu. Hal itu membuat kemarahan Syaila meledak.
"Itu bukan alasan untuk papa berlaku tidak adil. Antonio, putra mu yang kau banggakan dimana dia sekarang? katakan! Dimana dia sekarang? Dia pergi entah kemana dan menghilang. Dia tidak ingin meneruskan bisnismu karna dia tidak mampu dan hanya seorang pecundang. Dia tidak memiliki kemampuan sepertiku pa. Kenapa memberikan bisnis ini pada putra yang bersikap kekanak-kanakan---"
"Cukup Syaila!!!" Teriak Tuan Alexander, dimana suara teriakannya menggelegar dan memantul-mantul di dalam ruangan kerjanya.
"Mengertilah, mengurus bisnis gelap dan menjadi ketua bandar narkoba tidak semudah yang kamu pikirkan. Setiap detik dan menit, kamu akan berhadapan dengan maut. Kamu tidak akan memiliki waktu dengan keluargamu, lihatlah papa nak! Papa sangat jarang pulang dan bermain bersama dirimu dan adikmu. Papa tidak mau hal itu membuatmu tidak memiliki waktu untuk suamimu Davin."
"Kalau begitu aku akan menceraikan Davin!"
__ADS_1
Plakk....
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Syaila, bahkan saking kerasnya wajah Syaila berpaling ke samping.
Tuan Alexander benar-benar kehabisan kesabaran. Dengan sikap serakah Syaila yang begitu menginginkan kekayaan. Dan kemarahannya tidak bisa dibendung lagi saat Syaila mengatakan ingin menceraikan Davin.
Air mata Syaiala luruh begitu saja, merembes dengan bebas membasahi pipinya yang terasa panas dan kebas karna tamparan sang ayah.
Ia tidak percaya ayahnya memukul dirinya, hatinya benar-benar sangat sakit. Untuk pertama kalinya ayahnya memukul dirinya. Sungguh kenyataan yang tidak bisa ia terima.
"Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan Syaila! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang Davin? Kamu menyewa lelaki muda untuk memuaskan hasratmu--" Tuan Alexander menjeda kalimatnya. Rasanya ia jijik untuk mengatakan kelakuan putrinya yang benar-benar sangat buruk.
"Cih, aku tidak percaya putri seorang Alexander melakukan hal menjijikkan seperti itu. Jika sampai kamu berani menceraikan Davin, aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil kembali warisan yang aku berikan kepadamu. Aku tidak akan pernah iba pada wanita yang tidak setia dengan suaminya. Jika suamimu saja bisa kamu khianati, maka kamu juga bisa mengkhianati pekerjaanmu. Sekarang pergi dari ruanganku!!!" Teriak Tuan Alexander sembari tangannya menunjuk ke arah pintu kayu yang terbuka dengan lebar.
Syaila menatap nyalang kepada Tuan Alexander, lalu melangkah keluar dengan perasaan marah dan kesal. Ia tidak terima ini semua.
"Sial, Akkkhhhh ...." pekik Syaila frustasi.
"Bagaimana bisa papa tahu apa yang selama ini aku lakukan?" lirih Syaila dengan memukul udara kosong.
Ia masih memerlukan Davin, ia tidak mau sampai hidup di jalanan sebagai gelandangan. Ia sangat tahu jika perkataan ayahnya tidak pernah main-main.
Meski tidak terima, ia harus menerima ketidak adilan ini. Jika melawan dirinya tidak akan mendapatkan sepeserpun. Lagi pula ia masih memiliki Davin, suaminya tidak terlalu miskin, meski kekayaan keluarganya jauh lebih berkali-kali lipat. Dan semuanya akan di dapatkan oleh adiknya Antonio.
Flash Back End ....
...----------------...
...****************...
Astaga sifat asli mu mulai terkuak ya Syaiala.. ck ck.. serakah sekali kamu Syaila dah di kasi warisan ngak habis tujuh turunan malah protes..🥲udah kalau ngak mau kasi othor aja ya kan papa Alexander 😆
__ADS_1
Oke. jangan lupa like koment kasi koin bisa semangat nonton iklan juga biar bisa dapet tips😆.. Anda votenya ya gans dari pada mubazir. othor maksa ini😮💨