
...199...
Syaila yang berkedok sebagai Livia tengah menatap lurus jalanan yang dipenuhi oleh pengguna jalan lainnya. Jalanan kota sedikit macet tidak seperti biasa. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju mall besar yang ada di pusat kota. Sesekali, ia memainkan ponselnya yang terus saja bergetar.
Berbeda dengan Aelin yang memilih diam tanpa bersuara. Ia memilih melihat pemandangan di luar jendela yang begitu ramai dengan orang-orang yang melakukan aktivitas pagi hari. Ia menoleh ke arah Livia yang lagi-lagi memainkan ponsel, seperti sedang berkirim pesan. Sejak keluar dari rumah, wanita di sampingnya tidak pernah teralihkan dari gawai. Hal yang membuat Aelin curiga kalau orang yang menjadi tujuan pesan Livia adalah Davin, suaminya sendiri.
Aelin meremas kedua tangannya saat pikiran negatif melalang buana menciptakan rasa sesak dan sakit seperti sayatan sembilu tajam. Pikiran positif yang berusaha ia hadirkan selalu tertepis begitu cepat dengan pikiran bahkan Davin selingkuh dengan wanita di sampingnya. Membayangkannya saja membuat seluruh sendi dalam tubuhnya terasa melebur.
"Livia," celetuk Aelin sedikit ragu.
"Iya," jawab Livis tersenyum kecut sambil meletakkan kembali ponselnya.
"Kamu terlihat senang sekali berkirim pesan dengan seseorang, apa itu pacarmu?"
"Uhuk ...." Tenggorokan Livia lansung terasa kering mendengar pertanyaan Aelin. Pacar? Jangankan pacar, bahkan ia sudah punya suami.
"Tidak, aku hanya sedang berkirim pesan dengan salah satu temanku," jawab Livia santai.
"Teman? Pria atau wanita?" Aelin mulai melancarkan aksinya. Mengoreksi setiap jawaban yang terlontar dari mulut Livia. Berusaha menemukan kejanggalan yang bisa membawa dirinya menemukan jawaban yang ia inginkan. Mengawasi setiap ekspresi wajah serta gerakan kecil wanita di depannya itu. Hal itu ia lakukan untuk mendeteksi kejujuran atau kebohongan Livia.
"Pria," jawab Livia melirik sekilas ke arah Aelin dengan smirk licik yang muncul di bibirnya. Ia sepertinya mengerti apa yang sedang dilakukan istri kedua suaminya itu.
"Hmm, aku tidak yakin kalau dia hanya sekedar teman bagimu. Sejak tadi, kamu terus tersenyum membalas pesannya."
"Tentu saja, dia sedang mempersiapkan apa yang aku inginkan. Hal yang membuatku sangat bahagia dan akan mengembalikan apa yang aku miliki."
"Maksudmu?" Kening Aelin berkerut bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Livia. Ia sama sekali tidak bisa mengurai setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu, yang baginya sedikit menyimpang dari pembahasan.
__ADS_1
"Yah, Dia adalah teman yang sangat mengerti aku. Biarpun, dia sangat menyebalkan, tapi dia akan menjadi orang yang paling membantuku saat ini. Kamu tidak akan mengerti karena ini masalah pekerjaan. Aku ingin segera keluar dari kehidupanmu. Jadi, aku harus memperbaiki semuanya sekarang."
Aelin mengangguk mengerti. Ia rasa tidak ada yang mencurigakan dari Livia. Namun, ada beberapa hal yang ia rasa sedikit janggal dari perkataan Livia. Ia harus mencoba lebih baik lagi. Kali ini ia harus menarik Livia masuk ke dalam zona kehidupan Davin.
"Malam ini adalah malam ulang tahun Davin. Aku ingin membuat kejutan yang bagus untuk suamiku. Oleh karena itu aku mengajakmu untuk berbelanja." Aelin menekan kata suami untuk menegaskan kalau Davin hanyalah miliknya. Jujur, ia tidak mau membicarakan tentang Davin dengan Livia. Namun, hanya ini cara satu-satunya untuk memancing Livia.
"Iya, aku juga ingat. Aku juga sudah menyiapkan kejutan besar untuk Kakak sepupuku yang menyebalkan itu. Kamu tahu, setiap tahun hadiahku selalu menjadi hadiah favorite bagi Davin."
Hati Aelin terasa tertusuk beling mendengar jawaban Livia. Wajah wanita itu terlihat bahagia saat menjawab pertanyaan darinya. Menahan amarah cemburu tetap berkecimpung dalam dada benar-benar sangat menyakitkan.
"Kamu sangat menyayangi Davin, apa sebelum Davin menikah kamu pernah memiliki perasaan lain untuknya?"
Aku yang paling mencintai Davin lebih dari siapapun. Davin memang milikku, kamu hanya wanita mainan yang dibawa Davin. Ingin sekali aku mengatakan pada wanita murahan ini kalau aku adalah istri pertama Davin. Batin Syaila dengan perasaan yang bergejolak. Ia mencengkram kuat stir mobil dan menambah kecepatan.
"Orang bisa berubah ketika bertemu orang baru. Mungkin itu yang terjadi antara aku dan Davin. Davin sangat mencintaimu, Ae." Syaila menggigit bibir bawahnya dengan keras. Ingin sekali ia menampar bibir sendiri karena sudah mengatakan kalimat yang sangat menjijikkan itu.
"Yah, dia sangat mencintaiku. Aku hanya punya Davin di dunia ini. Aku sangat bersyukur takdir mempertemukan aku dengan laki-laki seperti dia. Kau tahu hal yang tidak disukai oleh Davin adalah---"
"Davin sangat membenci pengkhianat." Livia melanjutkan ucapannya.
"Aku rasa tidak, Hal yang tidak disukai Davin adalah ketika orang yang disayanginya disakiti oleh orang lain."
"Hhhh, yah kamu memang benar. Banyak hal yang tidak disukai oleh Davin. Kamu jauh lebih mengenal dia dari pada aku."
"Tentu saja, dia adalah suamiku."
Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan mall besar dan megah. Kedua wanita itu segera turun. Livia melempar kunci mobil pada tukang parkir. Kemudian berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan terbesar di kota.
__ADS_1
"Hadiah apa yang akan kamu berikan pada Davin?" tanya Livia sambil melihat-lihat stand pedagang yang berjejer dengan rapi. Suasana mall cukup ramai hari ini.
"Aku sudah persiapkan hadiah yang sangat berharga dan luar biasa untuk Davin. Aku yakin, Davin pasti suka. Aku juga sudah memesan pendekor acara untuk mendekor acara kejutan Davin nanti malam. Jangan penasaran, kamu akan tahu nanti apa hadiah yang akan aku berikan," jelas Aelin dengan senyum mengembang. Malam ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu. Dimana ia akan memberitahu Davin kalau ada buah cinta mereka yang sedang tumbuh dalam perutnya. Wajah bahagia Davin terbayang dengan begitu jelas di pelupuk matanya.
Livia mengangguk sebagai respon. Kedua wanita itu masuk ke dalam stand pakaian pria. Tentu saja, itu adalah keputusan Aelin. Kedua wanita itu terlihat sangat antusias memilih pakaian pria. Aelin ingin membelikan pakaian yang akan dikenakan Davin malam ini. Ia ingin memperlakukan sang suami dengan spesial hari ini. Namun, tangan Aelin berhenti memilah saat melihat Livia yang jauh lebih antusias dari dirinya. Wanita itu memilih kemeja pria. Bukankah, Livia tidak punya pacar, lalu untuk siapa baju yang dia pilih itu?
Rasa curiga kembali membesar dalam diri Aelin. Saat ia mendekat pada Livia dan melihat ukuran baju yang dipilih Livia adalah ukuran tubuh Davin.
"Liv, kamu pilihin baju buat siapa?" tanya Aelin memastikan apa yang ia pikirkan benar atau salah.
"Davin."
Deg.
Jantung Aelin terasa dicabut paksa dari tempatnya. Kedua tangannya mengepal begitu erat meremas pakaian yang ia bawa. Ternyata Livia memang memilih kemeja untuk Davin, suaminya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
Like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips