
...146💚...
Tubuh Darren menegang seketika, di mana kini ia berada di dalam ruang kerja Davin dengan seluruh benda- benda yang sudah berpindah tempat ke lantai.
Ia masih memilih diam dan berdiri di pojokan. Ia tidak akan melakukan kesalahan dengan mengeluar kan sedikit pun suara, karna jika tidak salah satu benda pasti akan mendarat di wajah nya.
Prang...
Brakkk...
Davin menghempas kan apa pun yang ada di depan mata nya.
Bahkan kini ruang kerja nya yang selalu terlihat rapi, sudah berantakan seperti kapal pecah.
Darren hanya bisa menelan saliva nya paksa, melihat sikap Davin yang tiba- tiba berubah liar.
Tapi untung saja ia berhasil membawa Davin pulang, sehingga majikan itu tidak sampai membuat onar di acara penyambutan nya sendiri.
Meski Darren harus mendapat bogem mentah di dada nya. Karna Davin yang terus memberontak.
"Kenapa harus sekarang....!" Teriak Davin frustasi dengan menjambak rambut nya kasar.
Diri nya benar- benar gelisah. Amarah dan ketakutan kini mengusai diri nya.
Amarah karna diri nya yang terjebak dalam permainan nya sendiri lalu ketakutan karna harus kehilangan Aelin.
Lalu kenyataan yang harus membuat diri nya memilih, memilih pilihan yang sangat sulit dan membuat diri nya merasa hancur.
"Darren apa ini karma untuk ku..?" Tubuh Davin langsung terduduk di kursi kerja nya. Di mana tangan nya memangku kepala nya.
"Jawab Darren !!!" Bentak Davin.
"Aku tidak tahu Tuan..." Jawab Darren dengan cepat.
Rasa nya saat ini ia ingin kabur dari dalam kandang singa ini. Tapi ia tidak berani meninggal kan Davin sendiri.
Bagaimana jika majikan nya itu melakukan hal- hal yang nekat.
Jika sampai itu terjadi, pada siapa lagi ia akan bekerja.
"Seharus nya aku merasa senang , karna akhir nya Syaila sudah sadar.. Tapi aku takut aku akan kehilangan Aelin..."
Pranggg...
Davin kembali membanting benda yang ada di dekat nya.
Ia benar - benar frustasi saat ini.
.
Sementara di luar ruangan, Aelin langsung menghenti kan langkah nya saat mendengar suara gaduh yang berasal dari ruang kerja suami nya.
Ia baru saja pulang setelah bertemu dengan Boy dan Lia.
Tapi sekarang ia sangat khawatir saat mendengar suara - suara benda pecah tersebut.
Aelin segera bergegas mendekat ke arah ruangan kerja Davin.
__ADS_1
Di mana suara bantingan benda- benda tersebut semakin kencang terdengar.
Prangg..
Brak...
Tubuh Aelin mundur seketika, saat mendengar suara benda yang membentur pintu yang ada di hadapan nya.
"Akhhh !!!!!" Teriak Davin dari dalam, yang semakin membuat Aelin cemas.
Tanpa menunggu lagi, Aelin memutar knok pintu dan mendorong daun pintu.
Bugh..
Sebuah patung batu langsung melayang ke arah Aelin dan mendarat tepat di pelipis nya.
"Auuuu" Teriak Aelin di mana kepala nya terasa pusing dan pandangan nya berubah gelap.
Bruk...
Tubuh Aelin ambruk di lantai.
"Aelin...!" Pekik Davin yang langsung mendekat ke arah Aelin.
Wajah Davin seketika berubah panik dan takut.
Bodoh nya diri nya, apa yang sudah ia lakukan sehingga membuat istri nya sampai terluka.
Seharus nya ia tidak asal melempar barang.
Dareen yang melihat hal itu juga kaget, ia tidak mengira jika Aelin akan menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Davin.
"Maaf kan aku Sayang.. Aku benar- benar tidak sengaja..." Lirih Davin dengan kecemasan, di mana wajah nya seketika berubah menjadi pucat.
"Darren panggil Stef sekarang juga...!" Teriak Davin sebelum pria itu menghilang di balik pintu kamar nya.
Darren segera merogoh ponsel dalam saku jas nya, memencet nomer Stefan untuk meminta Dokter itu kemari.
"Iya ada apa Darren?" Ujar Stefan dari ujung telpon.
"Kamu harus datang sekarang juga ke rumah Davin.. Sekarang..."
"Memang nya ada apa?"
Tut...
Darren memutus kan panggilan ponsel itu sepihak, tanpa menjawab pertanyaan Stefan , dengan cepat Darren memungut tas salempang Aelin lalu segera menyusul ke dalam kamar.
Davin meletak kan tubuh Aelin di atas ranjang dengan perlahan, seolah tubuh Aelin akan hancur jika tersentuh.
Ke dua mata indah Aelin terpejam dengan rapat, di mana di pelipis nya terlihat sedikit darah yang keluar.
Davin benar- benar sangat menyesal dan merasa bersalah, karna perbuatan nya Aelin harus pingsan.
"Maaf kan aku sayang... Aku benar- benar tidak sengaja... Demi apa pun, kenapa aku bisa melakukan hal gila ini.. Tangan ini... Akkhhh...!!" Pekik Davin frustasi dengan memukul tangan nya yang sudah melempar patung kayu tersebut ke arah pintu.
Darren segera masuk ke dalam kamar Davin, di mana ia bisa lihat Davin yang duduk di bibir ranjang dengan menggengam tangan Aelin yang sedanh pingsan.
__ADS_1
Darren bisa melihat betapa cemas nya dan kalut nya Davin.
Bahkan saat kecelakaan Syaila Davin tidak setakut ini.
Tapi kini wajah sahabat sekaligus majikan nya itu terlihat pucat.
Tak berselang lama, Stefan yang di tunggu- tunggu kehadiran nya masuk ke dalam Davin.
Ia cukup kaget ketika melihat ternyata Aelin yang membutuh kan pertolongan nya.
Ia pikir terjadi sesuatu pada Davin karna memang di rumah ini hanya Davin yang sedang sakit.
"Stef.. Cepat buat istri ku sadar... Lakukan yang terbaik Stefe.. Aku mohon..." Pinta Davin memohon dengan wajah memelas ketika melihat Stefan.
"Tenang lah..!" Ujar Stefan menenang kan Davin yang terlihat seperti orang gila.
"Memang nya apa yang terjadi, hingga Aelin bisa pingsan..?" Tanya Stefan dengan tangan nya yang fokus memeriksa Aelin.
"Aku yang melukai nya.. Aku melempar nya dengan patung kayu.... Ck.. Aku benar - benar brengsek..." Jawab Davin jujur dengan decakan penyesalan.
Stefan langsung melayang kan tatapan membunuh nya pada Davin.
Rasa nya ia ingin sekali melempar Davin dari lantai tertinggi di rumah ini.
Stefan tentu tahu pasti hal itu terjadi karna Davin yang tidak bisa mengendali kan emosi nya.
Stefan menggeleng kan kepala nya, lalu mencium kan bau aroma terapi pada hidung Aelin agar wanita itu cepat sadar.
Sementara Davin masih sangat cemas, ia terus meremas jari- jari nya satu sama lain nya.
"Eehhhhmmmm..." Lengkuh Aelin ketika merasa kan pelipis nya yang terasa berdenyut perih.
Perlahan pandangan Aelin yang memudar kini terlihat jelas, di mana netra nya menangkap wajah Stefan yang tersenyum manis kepada nya.
"Sayang kamu sudah bangun..?" Ujar Davin yang langsung memeluk tubuh Aelin.
Untuk sejenak ia benar- benar merasa takut.
"Iya.. Aku baik- baik saja sayang..." Jawab Aelin dengan lirih, lalu mendorong tubuh Davin untuk melepas kan diri nya.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1
.