
...164💚...
Klek!
Davin membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Keningnya berkerut dalam saat ruang kamarnya gelap gulita.
Pandangan Davin jatuh pada cahaya lampu tidur yang menyala, dimana di depan lampu tersebut terlihat siluet seseorang yang sedang duduk di kursi goyang yang sedang bergerak.
"Syai!" panggil Davin mendekat, namun tidak ada sahutan sama sekali.
"A-- aku-- Akan menjelaskan --- Tidak!! Syaila!!!" Suara Davin yang terbata-bata, seketika berubah menjadi teriakan saat melihat tetesan darah segar menetes ke lantai keramik dari pergelangan tangan Syaila.
Davin segera mendekat, dan mendapati ke dua mata Syaila telah terpejam rapat dengan bibir memucat. Seketika rasa takut akan kehilangan kembali menyeruak ke dalam hati Davin.
Perasaan yang sama yang pernah ia rasakan saat melihat Syaila kecelakaan.
"Tidak!!! Syai bangun Syaila!!" pekik Davin dengan menepuk pelan pipi Syaila. Rasa khawatir, bersalah, dan cemas menyatu membaur menjadi satu. Dirinya memang laki-laki brengsek, yang sudah menyakiti istrinya.
Davin segera membopong tubuh Syaila ke atas ranjang, membaringkan tubuh Syaila dengan begitu pelan. Seakan tubuh Syaila akan hancur ketika mendapat tekanan.
"Darren!!!" teriak Davin memanggil Asisten pribadinya. Pikirannya benar-benar kusut, yang hanya terpikir saat ini adalah menyelamatkan Syaila.
Darren segera masuk ke dalam kamar Davin dengan setengah berlari. Matanya terbelalak saat melihat tubuh Syaila terkulai lemas di atas ranjang. Refleks Darren segera menyalakan saklar lampu.
"Cepat panggil Stevan sekarang !!!" titah Davin mutlak. Darren kembali keluar dari kamar dan menjalankan perintah Davin.
Air mata menetes dengan begitu deras di pipi Davin. Ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah. Seharusnya ia mengatakan semuanya pada Syaila. Tapi, ia malah membuat Syaila kembali sekarat.
Davin mendekat dan bersimpuh terduduk di lantai. Ia meraih tangan Syaila dan mengecupnya dalam.
"Honey, maafkan aku. Ini semua adalah salahku, maafkan aku telah menyakiti hatimu. Bertahanlah Syai, jangan tinggalkan aku," rintih Davin dengan suara serak menahan tangis.
Tak perlu menunggu terlalu lama, Stevan sudah sampai di kediaman Davin. Ia segera mengambil tindakan pertolongan untuk Syaila. Sementara Davin di minta untuk keluar dari kamar.
Davin berjalan mondar-mandir dengan cemas, sembari tangannya terlipat di depan dada. Sesekali ia menggeram karna kesal dengan dirinya sendiri.
"Tuan, minumlah dulu!" seru Maya dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
Davin menatap Maya dengan tajam, tatapan yang siap mencabik-cabik tubuh Maya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku bisa minum di saat kondisi Syaila seperti itu!" bentak Davin dengan menghempas nampan dari tangan Maya.
Prangg!!
Nampan berisi dua cangkir kopi, kini berpindah tempat dari tangan Maya ke lantai. Maya terhenyak dan menatap nanar pada pecahan-pecahan cangkir yang berserakan bercampur dengan cairan kopi.
"Enyah dari hadapanku!" bentak Davin lagi. Tidak ingin mengambil resiko, Maya memilih untuk segera pergi. Padahal niatnya baik, ingin sang majikan sedikit merasa tenang dengan meminum secangkir kopi. Tapi sayang, perkiraannya melesat dan ia malah terkena semprotan amarah dari Davin. Darren yang melihat semua itu, hanya acuh tak peduli.
Stevan keluar dari kamar dengan wajah lega. Davin segera menghampiri sahabat sekaligus dokter keluarga Arselion itu.
"Bagaimana? Syaila baik-baik saja kan?" cecar Davin tak sabaran.
"Kamu tenang saja, luka di pergelangan tangannya tidak terlalu parah. Dia hanya butuh istirahat untuk saat ini," jelas Stevan sambil merapikan jas putih kebanggaannya.
Davin yang mendengar penjelasan Stevan menghembuskan nafasnya lega. Ia sangat bersyukur Syaila baik-baik saja. Dengan gerakan cepat, Davin meninggalkan Stevan begitu saja dan masuk ke dalam kamar.
Stevan menghela nafasnya dalam, melihat bagaimana kekhawatiran Davin pada Syaila. Lalu tatapannya jatuh pada Darren yang sejak tadi berdiri sambil menyenderkan tubuhnya di tembok.
"Di mana Aelin?" satu pertanyaan lolos dari mulut Stevan.
Darren mengangkat wajahnya, menatap Stevan dengan datar.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Syaila, hingga wanita itu memotong pergelangan tangannya sendiri?"
"Syaila tahu jika Davin menikah lagi."
Stevan tersenyum miring mendengar jawaban Darren. Ia sudah menduga hal itu. Syaila adalah tipe wanita nekat, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.
"Baiklah, aku permisi." pamit Stevan melangkah pergi meninggalkan Darren yang masih dengan posisi ternyamannya.
Maya yang sejak tadi mengintip dari balik tiang merasa begitu cemas, mendengar obrolan antara Stevan dan Darren. Jika Darren tidak tahu keberadaan Aelin, lalu dimana Nonanya itu berada sekarang? pikir Maya.
Di dalam kamar, Davin menatap Syaila dengan nanar. Tubuh Syaila lagi-lagi terbaring diatas ranjang. Dan itu semua karna dirinya. Karna dirinya yang sudah menghancurkan hati Syaila.
Apa sekarang dirinya punya keberanian untuk menatap wajah Syaila saat wanita itu sadar? pikir Davin, berjalan perlahan dan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Syaila.
"Maafkan aku Syai, aku menyakiti mu. Aku sudah melanggar sumpahku pada bibi. Tapi aku janji, aku akan segera memperbaikinya. Aku tidak akan menyakitimu lagi, karna kamu adalah tanggung jawabku. Aku memang pria brengsek," gumam Davin berbicara pada dirinya sendiri.
...----------------...
__ADS_1
Sementara di belahan bumi lainnya, tepatnya di kamar hotel Claunbeach. Aelin menggeliatkan tubuhnya secara perlahan, saat merasakan sinar matahari mulai masuk dan menerangi kamarnya.
"Hmmm ...." lengkuh Aelin sambil mengerjapkan ke dua matanya. Ia mengucek ke dua matanya saat pandangannya sedikit kabur.
Tubuhnya terasa letih dan pegal. Tapi, senyum indah seketika terbit di bibir Aelin saat mengingat kebersamaannya dengan Davin. Yang membawanya terbang jauh melintasi langit ke tujuh.
Aelin menoleh ke samping, seketika senyum di bibir Aelin surut ketika melihat kasur di sampingnya kosong. Tidak ada sosok Davin yang kemarin menemani dirinya.
"Sayang!!" panggil Aelin dengan sedikit berteriak.
"Kemana Davin? Apa dia ada di dalam kamar mandi?" gumam Aelin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
Tok!
Tok!
Tok!
Aelin mengetuk pintu kamar mandi, namun tidak ada respon atau jawaban dari dalam.
"Sayang, Davin! Apa kamu di dalam?" tanya Aelin, tapi lagi-lagi tidak ada respon atau jawaban.
Aelin mulai merasa panik, ia segera meraih ponselnya yang berada di atas sofa. Ia berharap Davin tidak dalam bahaya. Tidak mungkin Davin menghilang begitu saja, dan meninggalkan dirinya disini.
Aelin menekan kontak Davin, dapat terdengar nada sambung namun tidak kunjung di angkat. Aelin semakin panik dan cemas. Ia berharap Davin baik-baik saja.
Aelin terus mencoba menghubungi Davin, namun hasilnya masih tetap sama. Panggilannya sama sekali tidak di angkat.
"Sebenarnya dimana kamu Dav? Kenapa pergi tanpa memberitahuku," lirih Aelin memijat ringan pangkal hidungnya.
"Aku harus bersiap, dan kembali ke sekolah. Aku akan menelpon Darren dan mencari tahu keberadaan Davin," lanjut Aelin lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak bisa lebih lama lagi berada di hotel. Karna dirinya harus segera berangkat ke sekolah karna jam sudah menunjukkan pukul 6:30.
...----------------...
...****************...
Haduh kasihan si Aelin di tinggal sendiri di hotel. Davin davin pengen ku cubit deh ginjalmu om🤣
Oke yok like koment gift anda vote ya❤️ harus loh
__ADS_1