Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Bayi adalah anugrah


__ADS_3

...148💚...


Melihat situasi yang semakin memanas, Darren segera menengahi ke dua nya.


"Sudah lah.. Kalian ini kenapa membahas hal itu di sini.. Bagaimana jika Nona Aelin sampai mendengar nya?"


"Jika Aelin mendengar nya itu lebih bagus, karna semua kebohongan majikan mu ini akan terbongkar... Davin aku sudah mengingat kan mu... Bahwa apa yang saat ini kami lakukan adalah salah.. Kamu jangan serakah dengan menjerat dua wanita dalam hidup mu... Kamu harus memilih sebelum kamu menyesal.." Kecam Stefan dengan menunjuk wajah Davin dengan jari telunjuk nya.


"Stef henti kan...!!!" Sentak Darren yang mulai memanas.


"Darren kau juga?" Stefan menatap Darren tidak percaya.


"Bukan seperti itu Stef.. Tapi ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahas masalah ini... Biar kan Davin memutus kan siapa yang akan dia pilih.. Kamu tidak tahu betapa sulit nya pilihan ini.." Darren mencoba menjelas kan apa yang sedang di pikir kan diri nya.


Ia sama sekali tidak ingin menyalah kan siapa pun. Lagi pula semua nya sudah terjadi dan mereka semua terlibat dalam hal ini.


Stefan Tertawa kecut mendengar ucapan Darren.


"Jika sekarang bukan lah waktu dan tempat yang tepat, lalu kapan Darren?. Kamu mengata kan jika kamu tidak membela Davin tapi cara bicara mu menunjuk kan semua itu. Jika ini pilihan yang sulit seharus nya Davin tidak pernah melakukan semua ini... Dia tidak seharus nya membalas kan dendam busuk nya itu..."


"Cukup Stef... Aku tahu aku salah tapi bisa kah diri mu tidak menghakimi ku seperti ini.. Aku sudah pusing... Aku tidak mau Antonio merampas Aelin dari ku.. Aku tidak terima..." Seru Davin yang akhir nya bersuara.


Stefan yang mendengar pengakuan Davin semakin tertawa ringan terkesan mengejek.


"Vin.. Kamu tidak bisa seperti ini terus... Kamu tidak akan bisa terus membohongi Aelin. Aku tahu jika semua ini akan membuat nya sangat terluka. Tapi lebih baik dia tahu sekarang, karna semakin cepat dia tahu maka luka nya tidak akan terlalu dalam... Tapi jika kamu terus menunda, kamu tidak akan tahu jalan takdir membawa mu... Setidak nya jika Aelin membenci mu. Dia masih bisa bertahan hidup dan menata hidup nya lagi..." Nasihat Stefan mencoba menjelas kan apa yang ia maksud pada Davin.


Berharap Davin segera mengakhiri semua nya.


"Baik lah aku pergi..." Lanjut Stefan yang langsung melangkah ke arah mobil nya.


"Vin. Aku rasa apa yang di kata kan oleh Stef memang benar..." Ucap Darren sebelum melangkah pergi, meninggal kan Davin yang masih berperang dengan diri nya sendiri.


"Kalian hanya bisa mengata kan nya.. Tanpa kalian tahu bagaimana rasa sakit nya.. Jika aku memilih Aelin maka aku akan merasa bersalah seumur hidup ku karna telah melanggar janji ku pada Ibu nya Syaila. Namun jika aku memilih Syaila aku akan mati..." Lirih Davin dengan rasa remuk redam di dalam dada nya.


...----------------...


Malam hari nya , Aelin menyiap kan makan malam untuk malam ini.


"Nona... Anda terlihat senang sekali.." Celetuk Maya yang sedang membantu Aelin menyiap kan makan malam.


"Tidak... Bukan nya aku selalu merasa senang setiap hari..." Sanggah Aelin.

__ADS_1


"Tidak Nona.. Wajah anda terlihat bersinar dan sangat cantik.." Jujur Maya yang tersenyum lebar, karna tertular aura positif dari Aelin.


"Apa pendapat mu tentang bayi May...?" Aelin menggigit bibir bawah nya. Berharap Maya tidak curiga dengan apa yang ia kata kan.


Maya menaut kan ke dua alis nya, di mana kening nya berkerut dalam.


Maya langsung menutup mulut nya yang terbuka. Di mana wajah nya terlihat kaget dan tidak percaya.


Melihat ekspresi wajah Maya, membuat Aelin langsung membuka suara.


"Itu tidak seperti yang kamu pikir kan.. Aku hanya tidak sengaja tadi menonton iklan yang ada di televisi, aku sangat gemas dengan bayi.. Jadi aku bertanya hal itu pada mu..." Bohong Aelin memberi kan alasan yang seperti nya sangat tidak masuk akal.


Namun ia berharap Maya tidak curiga dengan diri nya, apa lagi sampai mengira diri nya sedang hamil.


Meski saat ini ia sangat mengharap kan hal itu.


Maya terlihat lega, saat mendengar ucapan Aelin yang ternyata tidak seperti apa yang di pikir kan kepala nya.


Mengandung seorang bayi bagi Aelin bukan lah sesuatu yang bagus. Apa lagi sekarang Syaila istri pertama Davin sudah mulai sembuh.


Jika Aelin sampai mengandung anak Tuan nya maka semua nya akan semakin rumit.


Di mana hal itu membuat wajah Aelin berkerut dalam.


"Aku akan membawa makanan ini ke meja makan..!" Seru Aelin yang langsung pergi, di mana hati nya sedikit merasa nyilu karna ucapan Maya.


"Repot..? Itu sama sekali tidak benar. Kehadiran bayi itu adalah sebuah anugrah bukan membuat repot... Maya mengata kan hal itu pasti karna dia belum menjadi seorang ibu..." Gumam Aelin dengan meletak kan makanan yang di bawa nya dengan cukup keras hingga menimbul kan suara.


Prakk...


"Kamu pikir piring itu harga nya tidak mahal, hingga kamu menaruh nya dengan sangat keras..." Ketus suara Nyonya Tissa yang tiba - tiba datang dan duduk.


Ia memandang Aelin dengan sangat tajam.


Aelin merutuki aksi nya, seharus nya ia tidak perlu merasa terganggu dengan apa yang di kata kan Maya.


"Maaf ma.. tangan ku tadi licin, jadi aku tidak sengaja meletak kan nya dengan keras..." Aelin menunduk kan kepala nya dalam.


Kenapa harus ada Nyonya Tissa saat ia meletak kan piring mahal itu dengan kasar.


Jadi kan diri nya terkena semprotan amarah.

__ADS_1


"Maaf mu tidak berarti apa - apa.. Lebih baik kamu pergi dan panggil Davin.. " Sinis Nyonya Tissa yang sudah sakit mata melihat kehadiran Aelin di hadapan nya.


"Baik ma..." Aelin langsung melenggang pergi menuju ke arah kamar Davin.


Aelin memutar knok pintu dan masuk , namun netra nya sama sekali tidak melihat keberadaan Davin.


"Sayang...!!" Panggil Aelin dengan mengedar kan pandangan nya.


Namun tidak ada jawaban dari Davin, Aelin berjalan ke arah kamar mandi. Mengecek apa kah Davin ada di dalam.


Namun lagi- lagi kosong , Davin tidak ada di dalam kamar mandi.


"Kemana Davin?" Tanya Aelin pada diri nya sendiri.


Lalu kembali mengedar kan pandangan nya , dan berhenti pada siluet bayangan seseorang yang sedang berdiri di balkon taman.


Sudut bibir Aelin tersenyum. Akhir nya ia menemukan sosok yang ia cari.


Dengan perlahan Aelin berjalan mendekat ke arah Davin yang sedang memunggungi diri nya.


Lalu menyentuh bahu Davin yang cukup terkejut akan sentuhan nya.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


.

__ADS_1


__ADS_2