Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aku akan belajar membuka hati


__ADS_3

...82😻...


"Hentikan jika tidak aku akan pulang...!" Ancam Antonio, yang sudah di telanjangi oleh rasa malu.


Mulut Aelin langsung bungkam, setelah mendengar ancaman Antonio yang terdengar tidak main- main.


Ia masih ingin Antonio di sini, ia belum ingin berpisah dari pria yang sudah di anggap kakak sendiri.


"Baik lah aku akan berhenti tertawa, tapi jangan pulang ya..." Ucap Aelin dengan memasang puppy eyes nya.


Antonio menghela nafas panjang, tawa menjengkel kan Aelin benar- benar membuat diri nya malu.


Tapi ia juga senang melihat Aelin akhir nya bisa tertawa, di tengah- tengah duka yang menerjang nya.


Setidak nya ia bisa melihat senyum dan tawa indah itu lagi, sebelum ia pergi untuk urusan nya.


Diri nya sangat berharap, Aelin baik- baik saja dan bisa menjaga diri saat ia tidak si samping gadis manis ini.


Tapi ia janji, akan melindungi Aelin secara diam- diam hingga waktu di mana ia akan muncul dan merampas Aelin dari Davin.


Antonio meraih ke dua tangan Aelin, menumpuk kan ke dua tangan halus itu di tangan nya.


Menggengam dan mengelus setiap jari- jari tangan Aelin dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Aelin bisakah sekarang kita bicara serius?" Tanya Antonio kini dengan nada bicara lembut namun terkesan serius. Di mana atmosfer di sekeliling mereka berubah.


Aelin menatap pada ke dua tangan nya yang kini tengah di genggam hangat oleh Antonio.


Rasa nya begitu nyaman, dan juga terasa begitu aman. Diri nya merasa tidak ada yang bisa menyakiti nya saat tangan nya di genggam dengan penuh kasih sayang seperti ini.


Aelin mengangguk kecil , di mana kini wajah nya terangkat menatap ke dua manik mata Antonio.


"Semua nya terjadi begitu cepat, maaf jika aku tidak mengabari kakak tetang masalah pernikahan ku..." Ujar Aelin dengan menghembus kan nafas nya. Di mana kini wajah nya menggurat kan kesedihan, saat ingatan nya kembali menghantam insident malam kelam itu.


Malam yang sampai kapan pun tidak akan bisa ia lupa kan, meski benci dan kemarahan nya mulai mereda.


Aelin menarik tangan nya dengan perlahan , hingga terlepas dari genggaman Antonio.


Lalu ia bangkit dari duduk nya, dan memutar tubuh nya, hingga membelakangi Antonio yang hanya bisa menatap Aelin dengan sendu.


Aelin melangkah mendekat ke arah sebuah bunga mawar yang mekar, terlihat beberapa kumbang menghinggapi dan mengambil sari manis bunga tersebut.

__ADS_1


"Hari itu, aku bertemu pertama kali nya dengan Om Davin... Kami berkenalan dan papy membahas masalah pekerjaan dengan nya... Aku tidak tahu jika malam itu dia masih tinggal di rumah ku... Dan malam itu..." Suara Aelin mengambang di udara.


Lidah nya benar- benar tidak mampu untuk mencerita kan hal yang paling suram dalam hidup nya.


Mendengar suara Aelin yang tercekat, Antonio bangkit dari duduk nya. Mendekat ke arah Aelin dan merengkuh tubuh mungil itu dari belakang.


Memeluk hangat tubuh Aelin, menyalur kan keberanian dan kekuatan untuk bisa mengata kan hal yang terjadi.


Aelin memejam kan ke dua mata nya , merasa kan pelukan Antonio yang benar- benar mampu membuat diri nya merasa lebih tenang.


Jujur, setiap berada di dekat Antonio Aelin benar- benar merasa aman.


Bahkan pelukan penuh arti yang di lakukan Antonio bagi Aelin hanya pelukan seorang kakak.


Namun Aelin tak memungkiri jika hati nya berdesir untuk Antonio.


"Lanjut kan...!" Bisik Antonio tepat di telinga Aelin.


Di mana ke dua mata nya terpejam , menikmati aroma bunga lavender yang menguar dari tubuh Aelin.


Benar- benar bisa merilekskan pikiran Antonio yang sedang ruwet.


Mungkin ini adalah terakhir kali nya ia memeluk Aelin.


"Malam itu, menjadi malam yang paling suram untuk ku.. Hidup ku hancur, masa remaja ku hancur, dan keperawanan ku di rampas dengan paksa... Aku tidak berdaya... Aku hanya sendiri..." Buliran bening, lagi- lagi meluncur dengan bebas, namun suara Aelin tidak terisak atau pun tersendat.


"Semua nya berjalan begitu cepat, pagi nya papy tahu semua yang terjadi... Aku mencerita kan semua nya pada papy,,, jika om Davin memperkosa ku.. Tapi papy seperti nya sudah termakan oleh omongan Om Davin.. Sehingga dia tidak percaya pada putri nya... Andai kan kak Antonio ada di sana mungkin semua nya akan berjalan dengan berbeda... Mungkin saat itu aku tidak akan sendiri... Karna ada kak Antonio yang mempercayai ku.. Tapi sayang nya aku hanya sendiri.


Pernikahan ku pun terjadi dalam waktu singkat, kisah pernikahan yang pernah ku cerita kan pada kak Antonio hanya tinggal mimpi yang tak akan pernah terwujud.


Di hari kehancuran ku, aku pun menjadi istri om Davin.


Aku sangat membenci nya, aku marah bahkan aku ingin melenyap kan nya. Namun aku hanya seorang gadis yang bahkan belum lulus sekolah...


Dan sekarang aku ingin hidup lagi, menulis kisah baru dengan orang- orang yang berbeda... Aku ingin mewujud kan permintaan papy, dengan menerima om Davin sebagai suami ku, dan mulai belajar untuk mencintai nya..."


Blar ..


Duar....


Tubuh Antonio rasa nya langsung di sambar petir dengan kekuatan jutaan volt.

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Aelin , yang akan membuka hati nya untuk Davin.


Rasa nya hati nya di tumbuk dengan keras, hingga hancur tak berbentuk lagi.


Apa itu arti nya ia sudah tidak memiliki kesempatan lagi?


Andai diri nya ada saat itu, mungkin Antonio akan mengorban kan diri nya untuk menikahi Aelin.


"Jangan lakukan itu.. Jangan buka hati mu untuk pria yang sudah menyakiti mu.." Kata Antonio dengan membalik kan tubuh Aelin menghadap nya.


"Kenapa? aku tidak punya pilihan lain selain menerima om Davin... Aku tidak punya alasan lagi untuk membenci nya, setelah semua yang dia lakukan untuk ku kak... Takdir ku sudah di tentukan dan aku sudah menjadi istri om Davin.. Lebih baik aku belajar membuka hati untuk nya..." Balas Aelin dengan mantap, di mana hati nya sudah yakin jika keputusan yang di ambil nya sudah tepat.


Antonio terdiam seribu bahasa, ia tidak tahu alasan kuat apa yang harus ia kata kan untuk membuat Aelin mengurung kan keputusan nya.


Tidak mungkin ia menghalangi tekad Aelin tanpa alasan yang kuat.


"Aku tidak punya alasan apa pun.. Tapi percaya lah dia bukan pria yang baik..." Ujar Antonio membujuk Aelin untuk mengurung kan niat nya.


"Aku mohon percaya pada ku Aelin, aku tahu semua nya namun saat ini aku tidak bisa mengata kan semua nya pada mu.." Batin Antonio dengan memandang wajah Aelin lekat.


...----------------...


...****************...


Apa othor tamatin aja ya karya othor ini... Soal nya pembacanya sepi banget😭


Othor jadi ngak semangat buat ngelanjutin😭


Jika ada yang mau karta ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2