
Di siang hari itu, seorang peri sedang duduk di salah satu dahan pohon. Kedua kakinya dia ayunkan, wajahnya tersenyum memandang ke luar hutan.
Itu adalah rutinitas yang selalu rina lakukan setiap hari. Tidak pernah dia absen duduk di sana. Walau dia tahu orang yang ditunggunya mungkin sudah melupakannya atau mungkin sudah tiada, hati dan perasaannya selalu yakin, orang yang dia tunggu akan datang mengunjunginya seperti sediakala.
Tidak pernah dia bosan ataupun mengeluh, dia hanya duduk di sana. Dia akan terbang mengitari pepohonan sesekali, dia juga akan bernyanyi untuk melelehkan suasana.
Tidak jauh dari sana Lia mengamati temannya, hanya bisa mengeluh. Dia khawatir rutinitas itu akan mempengaruhi kesehatan Rina, Walau dia tahu, jika rina di tanya, dia akan mengatakan tidak apa-apa dan selalu sehat, tapi Lia sangat tahu bagaimana kondisi rina.
Pernah sekali, Lia melihat rina terbatuk-batuk dan lemas, tapi dia tetap melakukan aktivitas seperti itu. Hal itu membuatnya khawatir sehingga menemui ratu peri untuk melakukan sesuatu demi temannya itu.
Ratu peri langsung mengunjungi rina dan kembali dengan tangan kosong. Itu membuat Lia khawatir, tapi ratu peri dengan cepat mengatakan dia sudah menyebutkannya.
Ucapan ratu peri membuat Lia lega dan akan berjanji untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu.
Lia melakukan beberapa cara untuk menghilangkannya, namun, semuanya tidak ada artinya.
Dia tidak menyerah begitu saja, dia berusaha lagi dan lagi, Tapi pendirian rina terlalu kokoh untuknya.
Mulai sejak itu, Lia hanya bisa berharap simo datang untuk mengunjungi temannya itu, meski sekali saja.
...****************...
Setelah simo menyerang tempat yang di curiganya, seorang gadis rambut biru keluar dengan anggun seraya membawa ranting pohon.
Gadis ini mempunyai tubuh yang ideal, dan sedikit cantik. Dia tidak lain adalah anulika.
Ekspresi anulika dingin mendekati simo.
Saat anulika keluar, simo merasakan tekanan kekuatan yang tinggi terpancar dari tubuh anulika, hal ini membuatnya menjadi waspada.
Setelah mengamati beberapa detik, simo teringat dengan gadis di depannya, yang merupakan salah satu siswa yang dia lihat saat ujian.
Melihat simo waspada, anulika berkata, “aku hanya lewat, kau tidak perlu memasang wajah seperti itu.”
“aku tidak percaya. Bagaimana mungkin secara kebetulan aku bisa bertemu denganmu di hutan belantara seperti ini. Jika kau berburu, itu tidak mungkin kau lakukan di hutan yang tidak ada hewannya sama sekali.”
“bagaimana aku harus menjawabnya?”
“katakan saja kau mengikutiku dan mengatakan alasanmu mengikutiku ke sini.”
“baiklah, aku akan mengatakannya. Jika bukan karena bertarung, aku tidak akan mungkin mengikutimu!”
Anulika melesat seraya mengeluarkan serulingnya.
Simo secara refleks melesat dan menarik pedangnya. Ketika mereka berdekatan, simo langsung mengayunkan pedangnya.
Seruling dan pedang itu akhirnya beradu, menimbulkan suara nyaring dengan radius beberapa meter.
__ADS_1
Meski senjata simo pedang dan anulika seruling, hal itu seperti tidak ada yang lebih unggul; keduanya sama-sama kuat!
Setelah beberapa detik beradu, seruling anulika berbunyi seperti di tiup oleh seseorang. Simo seketika terkejut dan merasa heran dengan seruling itu, dia dengan cepat menendang Anulika dan melompat ke belakang. Serangannya tidak mempan, ada seperti pelindung yang menghalangi serangannya.
Simo mengamati anulika, musuhnya sekarang bukan orang sembarangan. Menurut Simo, musuhnya sekarang adalah salah satu siswa jenius di akademi.
Anulika tersenyum melihat keterkejutan simo. Dia dengan tenang lalu berkata, “kau hebat juga. Bisakah kau mengeluarkan semua kekuatanmu disini? Aku ingin melihatnya sekarang!”
Setelah mengatakan itu, udara di sekitar anulika mulai membeku, membentuk serpihan-serpihan es kecil yang mengelilingi tubuh anulika.
‘elemen es!’
Simo tidak bisa menahan keterkejutannya saat melihat lawannya memiliki elemen es, elemen yang tidak pernah dia lawan selama ini.
Perlahan-lahan serpihan-serpihan es itu melayang-layang ke belakang anulika, lalu membentuk dua sayap es yang indah. Lalu serpihan-serpihan lain membentuk pedang panjang yang langsung di genggam erat oleh anulika.
Serulingnya perlahan-lahan melayang di atas anulika, lalu mengeluarkan nada yang indah, Namun mematikan.
Simo merapatkan bibir dan memegang pedangnya dengan erat, hari ini mungkin dia akan bertarung dengan keras. Energi alam kecil di lepaskannya, namun tidak sepenuhnya. Simo masih ragu mengeluarkan semua energi alam kecilnya, karena dia menduga mungkin saja lawannya tidak sekuat yang dia kira.
Walaupun simo merasakan energi kuat terpancar dari anulika, dia masih menduga bisa melawannya.
Perlahan-lahan Seruling yang melayang berubah menjadi butiran es tajam yang mengelilingi tubuh anulika. Dia dengan cepat melesat lalu melancarkan serangan pertamanya.
Aura dingin menusuk tulang menyebar ke segala arah, membuat tumbuhan-tumbuhan di sekitar membeku. Selain itu, tekanan yang diberikan anulika membuat tangan simo sakit.
Sehingga, dia berada dalam kondisi kurang baik. Apalagi setiap simo menyerang, butiran-butiran es itu selalu menghalanginya, al hasil serangannya tidak efektif.
Anulika terbang. Ekspresi senang dan kecewa terlihat di wajahnya.
“keluarkan semua kekuatanmu!” pekiknya. Dia menyadari simo belum mengeluarkan semua kekuatannya. Alasan dia datang tidak lain hanya untuk melihat seberapa kuat simo sebenarnya. Dia yakin, simo memiliki kemampuan di atas rata-rata, buktinya saja dia bisa menahan serangannya sejauh ini.
Kedua sayap anulika mengepak ke depan, bersamaan dengan itu, puluhan kepingan-kepingan es tajam melesat.
Simo mengayunkan pedangnya ke segala arah untuk menghancurkannya. Setelah beberapa saat melakukan itu, beberapa bagian tubuhnya tergores.
“Pergilah, aku tidak ada urusan denganmu!” ujar simo. Dia kini ingin memikirkan tentang rencananya untuk gedung tua di tengah hutan.
“Aku tidak mempedulikannya!” Anulika terus menyerang simo.
Simo semakin lama semakin geram, selain pertarungan ini mengganggu, dia yakin, pasti akan mengundang ketertarikan orang-orang sekitar. Oleh karena itu, dia pun mengeluarkan aura pedangnya.
Pedang simo seketika mengeluarkan aura merah, dan di saat bersamaan suhu di sekitar meningkatkan.
Suhu ini sangat panas! Tumbuhan-tumbuhan sekitar meleleh seketika, Bahkan es anulika perlahan-lahan meleleh karena panas.
Melihat ini, anulika terkejut, tapi dia juga kagum. Ternyata memang benar kekuatan yang dia perkirakan tepat.
__ADS_1
Aura pembunuh di pancarkan simo, “Aku akan mengakhiri ini!” dia kemudian melesat dengan kecepatan tinggi, bahkan Anulika tidak bisa melihat kecepatan simo.
Wuss bomm!!!
Ledakan aura terjadi di langit. Anulika kalah telak. Butiran-butiran esnya tidak bisa menahan serangan simo, Bahkan pedangnya yang merupakan satu-satunya senjatanya kini meleleh. Dengan situasi seperti itu, dia pasti akan cedera parah.
Namun simo ketika menghentikan serangannya. Dia melompat, lalu berkata, “kau sudah melihatnya. Pergilah aku sedang sibuk sekarang.”
Simo menyimpan pedangnya lalu pergi.
Anulika seketika ambruk. Dia kemudian mengambil obat dari sakunya. Untung saja dia sudah memperkirakan hal ini terjadi, jika tidak, dia harus pulang dengan susah payah.
“pemuda ini sangat menarik.” Gumam anulika Kemudian pergi.
...****************...
Saat tiba kembali, simo ingin mengajak namila melanjutkan perjalanan, namun, Namila tertidur dengan lelap di sana.
Simo tidak tega membangunkannya, dia memutuskan untuk duduk, tapi seketika dia menyadari ada seseorang yang mendekat. Simo menarik pedangnya.
Setelah beberapa detik menunggu, orang itu ternyata Anulika.
Simo menaruh pedangnya kembali seraya berkata, “apa kau ingin menggangguku lagi?”
Mendengar itu, Anulika menjadi kesal. Dia dengan kesal berkata, “kenapa kau berpikir seperti itu?”
“bagaimana tidak, kau telah menggangguku.”
“baiklah, apa yang bisa aku lakukan untuk menembus kesalahanku itu?”
“Apa kau punya selimut atau semacamnya?”
“untuk apa?”
“Keluarkan saja.”
“Baiklah.”
Anulika mengeluarkan sebuah selimut putih dari tempat penyimpanannya, lalu menyerahkannya kepada simo.
“Baiklah, aku akan melupakan kejadian itu.”
Simo Kemudian mendekati Namila. Dia lalu menutupi tubuh namila dengan selimut yang telah diberikan anulika.
Anulika yang Melihat itu berkata, “aku tidak menyangka kau bisa se-romantis ini.”
Simo tidak mempedulikannya, dia kemudian duduk di dekat api unggun.
__ADS_1
Karena tidak ada hal yang ingin dikatakan lagi, Anulika memutuskan untuk duduk di sana. Saat duduk dia berkata, “kenapa kau datang ke sini?”