Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 9 gadis itu tersenyum


__ADS_3

Simo tertegun beberapa saat karena pesonanya. Namun setelah itu, dia kembali sadar dan berusaha bersikap seperti biasa. Rina di depan memiliki kekuatan pesona yang sangat tinggi dan begitu mengagumkan. Dia sekarang sangat berbeda dari sebelumnya, bahkan wajahnya sangat berubah.


Simo mulai mempertanyakan, apakah di depannya adalah Rina yang dia kenal?


“kenapa kau menyembunyikannya?” simo bertanya dengan tenang dan mengalihkan perhatian kepada langit biru yang jauh di depannya.


“Apa kau ingin mengetahuinya?” Rina menoleh ke arah simo lalu tersenyum lagi.


“Jika kau memberikannya, aku akan menerimanya.”


“Benarkah?” gadis ini sangat mempesona dan cantik! Saat mengatakan itu, dia mendekat dan sangat dekat, membuat simo tidak nyaman dengannya


Tapi meski begitu, jarak mereka tidak lebih 30 cm. Simo mengangguk.


Melihat simo mengangguk, Rina sedikit kesal, namun dia akan berusaha membuat simo terkesan dengannya. Dia juga yakin, cepat atau lambat simo akan menyukainya dari pada dulu. Dan kemungkinan besar dia akan bisa menjadi pacarnya dan akan menjadi teman seumur hidupnya. Kali ini tidak ada halangan lagi!


Rina tersenyum, dan dengan nada renyah dia berkata, “baiklah ... Aku akan menceritakannya.”


Karena melihat simo tidak merespon apa pun, rina mulai menceritakan kisahnya. Setelah kepergian simo, dia akan selalu menunggunya kembali dan selalu melakukan itu. Awalnya, dia tidak melakukannya. Tapi semakin lama, dia mulai. Pertama satu kali seminggu, kemudian terus bertambah dan bertambah.


Lia, temannya, selalu memperingatinya, akan tidak terlalu melakukan itu karena dapat merusak kesehatan, tetapi rina selalu menolak dan terus menunggu simo. Karena simo tidak kunjung datang, dia pun pergi diam-diam untuk mencarinya.


“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu.” Simo terkejut, dan merasa sedih karena dirinya, rina melakukan itu.


“tidak apa-apa. Setidaknya karena dirimulah aku bisa menjadi seperti ini. Dan karena kau, aku bisa pergi berpetualang. Rasanya sangat menantang dan menarik. Simo, apa kau sudah mempunyai pacar?”


Meski ini mendadak, simo menggelengkan kepala pelan. Meski dia sangat dekat dengan Namila, baik dia atau pun Namila tidak mengungkapkan perasaan secara terang-terangan. Mereka bisa di bilang teman yang sangat akrab dan saling memperhatikan.


Tapi, dia ingin sekali mendengar ucapan ' aku akan selalu menemanimu, dan menjadi pacarmu’ dari mulut namila.


Walau begitu mereka bisa di bilang pasangan, karena tidak ada wanita dan pria sedekat itu jika bukan berpacaran.


Ingatan-ingatan tentang Namila kembali muncul dalam pikiran simo. Dia bertanya, di manakah dirinya sekarang?


Melihat itu, rina tersenyum dan merangkul simo. Dengan riang dia berkata, “jika seperti itu, aku ada kesempatan untuk menjadi pacarmu.”


Simo terkejut mendengar ucapan itu, dan melihat rina di sampingnya. Meski dia tidak enak di rangkul, dia tentu tidak bisa menghindar karena takut jika rina tersinggung.


Rina yang di lihat simo tersenyum. Gadis ini akan berusaha mengejar simo, meski tantangannya sangat sulit, dia akan berusaha sekuat tenaga. Rina tidak merasakan kesendirian yang ada di dalam hati simo.


Simo tersenyum dan mengangguk. Namun, tentunya dia akan sulit menyukai orang lain selain Namila lagi. Hati pemuda ini hanya ingin satu orang, hanya satu.

__ADS_1


“ayah!” ujar Safia marah. Dia sudah berada di depan pintu. Kedua matannya memandang tajam ke arah simo, dan dengan langkah cepat, dia mendekat.


Rina lalu melepaskan rangkulannya setelah melihat Safia datang.


Melihat ekspresi marah Safia, simo tertawa getir dan berkata, “hahaha, maaf, maaf, ayah lupa jika ayah harus tidur denganmu.” Simo tidak habis pikir, selain Kakeknya, dia juga takut dengan Safia. Meski Safia anak kecil, entah mengapa dia takut dengannya.


“ayah?” rina yang mendengar Safia memanggil simo ayah, membuatnya heran dan terkejut.


“ayah!! Kenapa ayah meninggalkanku kemarin.”


“Maafkan ayah. Sini ayah gendong.” Simo menggendong Safia di depan.


“Nanti malam, ayah akan tidur denganmu, ayah janji. Bukan hanya nanti, ayah akan denganmu selamanya.”


“Sungguh?” Safia yang tadinya marah, perlahan-lahan luluh dengan perkataan simo. Gadis itu sangat menyukai jika ayahnya tidur dengannya. Dia sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.


Simo mengangguk. “ayah janji.” Dia mengeluarkan jari kelingkingnya.


“hehehe, janji ya.” Safia mengaitkan kelingking dan berjanji.


Simo mengangguk.


“Ayah, siapa dia?” Safia kini memandang rina di samping simo.


Safia hanya mengangguk pelan. Dia tidak terlalu bersemangat dan senang dengan kehadiran Rina. Meski dia cantik dan memiliki senyuman manis.


“Ayah, ayo kita makan.”


Simo mengangguk dan mengajak Rina ikut bersamanya. Rina dengan senang hati ikut dengan simo.


Saat di perjalanan, simo menceritakan semua hal tentang Safia. Dia tidak menyembunyikan apa pun dari rina.


Rina mengangguk dan menerima, meski pun itu sangat aneh dan tidak masuk akal.


Tiba di ruangan makan, semua perhatian tertuju kepada rina yang cantik. Meski semuanya perempuan, mereka kagum melihat kecantikan rina, apalagi dia murah tersenyum. Namun tentu saja tidak untuk Delisa, dia tetap dengan wajah datarnya, walaupun dia sedikit memandangnya.


Keluarga kerajaan hanya ada tiga orang, putri Dhiya kahrya, lestari dan dira. Saat melihat Delisa datang, tuan putri Dhiya kahrya langsung menghampirinya dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya. Tuan putri ini sudah menyukai Delisa.


Simo langsung memperkenalkan rina sebagai temannya.


Semua mengangguk. Dira menyuruh semuanya duduk. Mereka lalu makan bersama.

__ADS_1


Setelah itu, simo kembali ke atas. Upacara peringatan kematian raja akan mulai dalam tiga hari ke depan jadi dia bisa bersantai dulu dan menikmati pemandangan kerajaan radia. Setelah itu dia pergi ke kota bersama Safia dan rina.


Mereka jalan-jalan dan menikmati pemandangan yang baru mereka lihat. Rina berlari sana sini mencari barang-barang yang sangat berharga. Jika saja simo memberinya uang lebih, gadis bekas peri itu pasti akan membeli semuanya.


“simo, yang mana paling indah?”


Rina berteriak dan memperlihatkan dua gaun, satu berwarna merah muda dan satunya lagi abu-abu dengan sedikit warna merah. Kedua memiliki desain yang sama.


“keduanya bagus,” jawab simo datar. Dia tidak terlalu mempedulikan sebuah gaun.


“Jika kau yang membelinya, yang mana akan kau beli?”


“mungkin yang merah muda.”


“Baiklah, aku akan membelinya.”


Rina langsung menghampiri pria penjual dan membelinya. Tidak hanya itu saja, dia langsung memakainya. Kecantikannya lebih menawan dan bersinar. Semua orang yang lalu lalang memperhatikannya.


Namun sayang sekali simo tidak terlalu mempedulikannya.


“Simo, apa ini indah?” rina berputar dengan gaun barunya.


Simo mengangguk.


“ayah! Aku ingin membeli manisan itu!” pinta Safia seraya menunjuk penjual manisan.


Simo menerimanya. Setelah rina datang mereka pergi membeli manisan. Mereka kemudian menikmati suasana kota.


Besoknya, mereka melakukan hal itu lagi. Dan di malam harinya, setelah Safia tertidur, simo bertemu dengan ibunya. Mereka membicarakan banyak hal. Karena tidak ada topik, Dira mulai menggoda simo dengan mengatakan Rina adalah pacarnya.


Tentu saja simo menolak. Baginya dia tidak mempunyai hubungan apa pun selain teman. Tapi jika di pikir-pikir, rina selalu merangkul lengannya dan selalu membantunya. Dia juga mulai ingin menyuapi simo.


Melihat reaksi simo, Dira tertawa dalam hatinya.


Hari ini adalah hari terakhir simo keluar, tapi dia memilih berdiam di balkon bersama Safia. Saat itu sedang pagi hari yang cerah.


Tidak beberapa lama, kereta kuda masuk dari gerbang. Simo memperhatikannya. Dia menduga itu bukan kereta sembarangan, karena kereta itu sangat mewah dan indah.


Saat kereta itu berhenti, keluar seorang pria muda yang tampan. Dia lalu berjalan di sisi lain kereta. Kemudian keluar tangan yang lembut dan putih, memegang tangan pemuda itu. Perlahan-lahan seorang gadis cantik keluar dari sana.


Kecantikannya bisa setara dengan rina. Namun entah mengapa dia lebih bersinar dari pada rina. Rambut perak kebiruannya bersinar terang ketika cahaya menyentuhnya.

__ADS_1


Simo sangat familiar dengannya, tapi dia tidak tahu siapa.


Kemudian setelah keluar, gadis itu mengangkat wajahnya, memandang simo kemudian tersenyum.


__ADS_2