
Dia kemudian membantunya duduk. Sebelum melangkah maju, Hendry memintanya untuk berhati-hati dan memberikan sedikit informasi mengenai kemampuan Nayaka.
Wanita itu mengangguk lalu mengeluarkan pedangnya.
“Sebelum bertarung, ada baiknya kita harus memberitahu nama pedang masing-masing. Nama pedangku, pedang musim semi. Aku mendapatkan dan menempanya pada saat musim semi.” Seraya mengatakannya, wanita itu berjalan dengan pedang di arahkan ke samping. Memegangnya dengan erat dan memandang nayaka dengan tajam.
Gaun putih panjangnya bertiup-tiup seiring dia berjalan. Matanya yang jernih dan menusuk tak pernah dia arahkan ke arah lainya.
“Menempanya? Memang sungguh wanita berbakat. Aku pernah dengar, orang yang membuat senjatanya lebih mengenal senjatanya lebih dari hanya untuk bertarung. Katanya, mereka adalah seorang ibu yang akan memelihara dan menjaganya. Dan begitu pun dengan senjatanya. Aku tidak sabar ingin merasakan pedangmu.” Jawab Nayaka tenang, namun angin di sekitarnya berputar-putar lebih kencang dari sebelumnya.
Di bilah pedangnya ada angin putih tipis yang keluar seperti asap.
“Hari ini.... Biar aku perlihatkan senjataku ini!”
Wanita ini mengambil ancang-ancang. Ketika kaki kanannya di hentakkan, dia berlari kencang ke arah Nayaka.
Sementara itu di sisi lainnya, beberapa wali kelas juga muncul membantu kai untuk melawan rani dan dara. Mereka dua orang pria kembar dengan rambut pirang hitam legam. Mereka sama-sama memiliki elemen pasir.
Sedangkan yang lainnya mengejar klarika yang nekat mengejar Theo ke tengah hutan.
“Maaf, kami terlambat.” Kata salah satu Pria dengan tentakel-tentakel pasir muncul dari tanah.
“tidak apa-apa.” Jawab kai yang di rangkul oleh laki-laki lainya.
“jika saja sebelumnya kami tidak mengevakuasi para siswa, kami pasti akan datang lebih awal.” Kata orang yang merangkul kai. Wajahnya terlihat bersalah.
Melihat ini, kai menepuk bahunya lalu tersenyum. “Tidak apa-apa. Lagi pula aku masih bisa bertahan. Menyelamatkan para siswa adalah pilihan terbaik untuk dilakukan, tanpa ada mereka, maka semuanya akan selesai. Mereka adalah generasi yang harus di pertahankan dan di selamatkan. Kau tidak perlu bersalah atas hal itu.”
Pria itu menoleh. “aku akan berusaha. Namun hatiku merasa bersalah. Mungkin itu adalah pilihan yang terbaik. Akan tetapi, memang sulit untuk membuat perasaan tenang setelah apa yang terjadi. Aku akan berusaha menghilangkannya.” Kemudian senyuman mekar di wajah Pria itu.
...****************...
Di dalam hutan, Klarika terus mengikuti Theo pergi ke hutan. Dia tidak peduli entah ke mana Theo akan pergi. Yang terpenting baginya adalah untuk membunuhnya dan membalaskan dendamnya sekarang. Tidak peduli entah mati atau hidup hari ini.
Di dalam cela-cela sinar matahari yang menerobos kegelapan hutan, dia melompat-lompat.
Theo yang tahu Klarika mengikutinya, sedikit meliriknya. Kemudian berbalik dan berdiri di salah satu dahan pohon.
__ADS_1
“Apa kau cari mati!?” ujar Theo memandang klarika yang berdiri di depannya.
“memangnya siapa yang ingin mati? Jika itu bukan orang gila.” Jawab klarika ketus.
“baiklah, aku akan menyelesaikanmu dulu.” Saat mengatakan itu, dari tangan Theo muncul pedang.
Dia melompat ke arah Klarika kemudian mengayunkan pedangnya.
Klarika dengan reflek melompat menghindar. Saat di udara, dia mengarahkan jarinya ke arah Theo.
Tangan-tangan tanah muncul di sekitar Theo dan ingin menahannya.
“Heh. Trik murahan!” Theo membanting pedangnya, membuat tangan-tangan tanah hancur dan melesat ke arah Klarika.
Kecepatannya sangat tinggi, sehingga membuat klarika tidak sempat menghindar.
“Mati!”
Theo mengarahkan pedangnya ke arah pinggang Klarika, membuat wanita itu terpental dan membentur tanah. Seteguk darah muncrat dari mulut Klarika setelah membentur tanah beberapa kali. Meski pun itu hanya tanah, kekuatan Theo sangat kuat. Bahkan di tempat Klarika terbentur, tersisa bekas-bekas hantaman yang keras.
Lutut dan siku Klarika berdarah, akibat hal itu. Jika saja dia masih memiliki energi, maka dia tidak akan menderita seperti ini. Dan, jika saja dia tidak nekat ingin mengejar Theo, maka dia pasti tidak akan mati.
Dengan rasa sakit yang menjalar, klarika melirik dan menggeliat untuk berusaha berdiri.
“dasar tidak tahu diri!” ketika mengatakan itu, Theo mulai berjalan mendekati klarika. Senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya.
“awalnya aku berniat melepaskanmu, namun kau terlalu keras kepala. Jadi, aku akan memberimu waktu 5 detik untuk berdiri dan melawanku.”
Dalam waktu 5 detik itu, Klarika berusaha berdiri. Namun, tubuhnya terlalu lemah saat ini, apalagi rasa sakit yang tumbuh di dalam tubuh sangat sakit.
‘aku tidak bisa,’ gumamnya dengan lirih seraya memandang ke arah lain. Dia tidak ingin melihat Theo membunuhnya dengan tersenyum. Dia ingin mengakhiri hidupnya dengan melihat pemandangan yang terhampar di depannya. Dan menghirup bau tanah di dekatnya.
‘bodoh!’ dia memaki dirinya sendiri karena ceroboh dan tidak memikirkan akibat dari perbuatannya.
“matilah!”
Bomm!
__ADS_1
Theo terkejut, setelah melihat tidak ada darah keluar dari pedangnya. Bahkan di bilah pedangnya tidak tersisa sedikit pun darah klarika.
Dengan ekspresi marah, dia berkata, “berengsek! Siapa yang telah menggangguku? Keluarlah!” Theo memandang sekitar. “aku tahu, pasti kau yang telah menggagalkan rencanaku. Keluarlah! Jangan bersembunyi seperti itu! Dasar penakut!”
“tuan jendral... Tidak baik marah-marah.”
Mendengarnya, Theo memandang ke sumber suara. Dan mendapati seorang wanita berpakaian hitam dengan cadar menutup sebagian wajahnya. Kedua matanya cerah dan jernih. Siapa pun tahu, jika wanita itu memiliki paras yang cantik dan menawan.
Senyuman jahat terukir di wajah Theo.
“Akhirnya kau muncul juga. Apa kau sudah siap mati?” tanya Theo sombong.
“Mati?” meledaklah tawanya. “apa aku salah dengar tuan jendral? Kau bilang siap mati?”
Ekspresi kesal terlihat di wajah Theo. Namun, dia tidak berkata apa-apa.
“tuan jendral... Hari ini yang mati adalah kau.” Tiba-tiba ekspresi berubah menjadi lebih dingin. Di saat mengatakan itu, wanita itu menghempaskan cadarnya. Memperkenalkan wajah cantik nan indahnya.
Saat melihat wajah wanita itu, Theo seketika terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini. Bahkan menduganya pun tidak pernah. Seingatnya, dara, rani dan Nayaka sudah mengatakan dia sudah menjatuhkan diri ke dalam lembah. Meski anaknya selamat, belum tentu ibunya juga selamat.
Menyadari dira kini berada di hadapannya dalam keadaan sehat, tentu saja ini adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya. Apalagi Theo tidak merasa ada energi alam di dalam tubuh Dira, jadi, dia dapat dengan mudah membunuhnya.
Namun, ada pertanyaan yang muncul di dalam pikiran Theo, mengapa Dira terlihat percaya diri ingin membunuhnya? Terlebih lagi, tidak punya kekuatan, itu adalah hal yang bodoh!
Namun tentu saja tidak sesingkat itu. Mungkin saja dira sudah merencanakan sesuatu. Atau, mungkin dia sudah ahli dalam sesuatu? Terlihat jelas dira berhasil menggagalkan Theo untuk membunuh Hoshi dan Klarika, jadi ini lebih rumit dari yang di pikirkan Theo.
“Kenapa anda terkejut?” tanya dira dingin. Wajah dan matanya memperlihatkan kebencian yang mendalam yang telah terpendam beberapa tahun.
Tiba-tiba, Theo tersenyum. “aku tidak menyangka akan bertemu dengan yang mulia ratu hari ini.”
“baguslah, jika kau tidak menyangkanya, jika tidak, maka aku harus membunuhmu bersama Hoshi.
“Hahaha! Apa yang anda miliki sehingga mempunyai kepercayaan diri setinggi itu berhadapan denganku?” Theo ingin memancing Dira untuk mengatakan rencananya. Walaupun wajah Theo terlihat santai dan tenang, namun di dalam pikirannya, dia menebak-nebak apa yang akan di lakukan Dira dan apa rencananya.
Dira tersenyum dingin. “tentu saja aku punya, jika tidak, Mengapa aku berani muncul di depanmu secara langsung seperti ini.” Akar-akar muncul dari belakang Dira. Mereka seperti tentakel yang penuh dengan racun yang menetes. Siapa saja akan mengetahuinya, jika itu adalah racun.
‘bagaimana bisa?’ kegembiraan tadi akhirnya runtuh di wajah Theo. Jika yang muncul buka akar-akar itu, dia pasti tidak akan terkejut seperti itu, Namun di depannya, sungguh tidak terduga.
__ADS_1
“sekarang kau harus membayar perbuatanmu.”
Akar-akar dira mulai melesat ke arah Theo.