Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 16 tiga siswa pengganggu


__ADS_3

Ledakan itu membentuk pusaran angin besar yang seperti mengebor tanah. Semakin membesar dan akhirnya menghilang, meninggalkan Amara yang tidak sadarkan diri dan lubang besar seperti di bor oleh sesuatu.


Maka dari itu sudah dapat di pastikan joshu keluar sebagai pemenangnya.


Setelah itu, Amara pun di bawa petugas kesehatan.


Setelah semuanya selesai, pertarungan selanjutnya pun di mulai, tapi tidak selama dan sehebat tadi, karena semua yang bertarung hanya siswa kelas c yang lemah-lemah.


Melihat siswanya tidak ada yang bagus, Klarika hanya bisa menghela nafas seraya berharap hanya ini saja dan tidak ada lagi pertarungan yang membosankan seperti ini.


Karena bosan, namila pun memutuskan untuk mencari simo. Wajahnya terlihat khawatir, karena simo tidak menghadiri ujian kali ini. Berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di dalam pikirannya. Setiap kali muncul, namila akan berusaha menghilangkan dan mengatakan di dalam hatinya dia pasti sedang baik-baik saja.


Ketika keluar, beberapa orang siswa menghampirinya, mereka tidak lain siswa kelas 2 yang sedang istirahat. Wajah mereka terlihat menjijikkan. Ada yang terlihat mesum dan berniat jahat. Jika bukan persis di depan namila dan tujuannya, sudah di pastikan dia akan pergi dari sana.


“gadis manis, apa kau siswa baru di sini?” tanya salah satu siswa seraya memandang namila dari atas ke bawah. Setelah mengamatinya, ekspresi penuh nafsu terlihat di wajahnya. Walau siswa itu tahu mungkin saja namila bukan siswa baru, dia hanya ingin menebak dan ingin mengganggunya.


Pemuda itu tanpa sadar menyentuh dagunya beberapa kali. Mengelus-elusnya dengan lembut, setelah itu menjilat bibinya dengan lembut.


Melihat itu, namila memandang pemuda itu dengan tajam, seolah mengatakan jangan ganggu aku, tapi mereka seolah tidak mengerti atau tidak mempedulikannya.


“gadis kecil, bisa temani kakak keliling sebentar? Melihat indahnya taman di sini. Kau juga pasti ingin melihat seluk beluk akademi ini, kan?”


Mendengar itu, namila mengepalkan kedua tangannya. Dia marah dan ingin memukuli pemuda di depannya sekarang ini, tapi dia sadar, dia bukan lawannya sekarang. Oleh karena itu, dia hanya bisa meladeninya saja. “kakak, aku sudah memiliki pacar. Pacarku sangat cemburuan, dia tidak akan memaafkanku jika aku berjalan-jalan dengan pemuda lain selain dirinya.”


Saat mengatakan itu, namila menyentuh dagunya dengan hari panjangnya, dan memperlihatkan ekspresi seimut dan secantik yang dia bisa.


Ketiga wajah siswa itu memerah, karena malu. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat gadis secantik namila di akademi. Walau tidak hanya namila cantik, bagi mereka kecantikan namila tidak ada tandingannya. Mereka tersenyum melihat namila berekspresi seperti itu.


“gadis kecil, kau tenang saja, kami semua akan melawan pacarmu jika dia marah kepadamu, dan katakan saja kami dari kelas 2B yang kekuatannya tidak di ragukan lagi. Kenapa kau tidak memutuskannya saja? Jika pemuda cemburu seperti itu, tandanya dia tidak terlalu mencintaimu.”


“Sungguh? Jika begitu aku mohon kakak tolong membantuku. Sebenarnya, aku di paksa untuk menjadi pacarnya.” Kata namila seraya memasang Ekspresi memelas seperti memang ingin meminta bantuan.


“Kurang ngajar! Laki-laki tidak tahu diri. Di mana dia, biar kami yang akan membunuhnya.” Seketika siswa itu berujar marah.


2 siswa lainya mengangguk.


“Tapi.... Hehehe. kau harus melayani kami bertiga.” Ekspresi mesum mulai terlihat di wajahnya.

__ADS_1


“Melayani?” tannya namila seperti tidak tahu.


“Iya, kau harus melayani kami.”


Tangan siswa itu mulai bergerak ingin menyentuh dagu putih namila, tapi sebelum itu, sebuah tangan berhasil menghentikannya.


“maaf kakak kelas. Meski anda lebih tua, Anda tidak layak melakukan tindakan seperti itu.”


Melihat tangan itu, namila menoleh. Tanpa sadar berkata, “simo.”


Kedua matanya tampak cerah ketika melihat simo masih sehat dan kini berada di sampingnya. Semua rasa kekawatirannya seketika menghilang seperti di hembuskan angin kencang.


“apa kau temannya?” tanya siswa itu dengan nada arogan.


Simo mengangguk.


“kami hanya ingin membawanya melihat semua hal yang ada di akademi ini. Kami tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh. Mungkin kau salah menduganya. Melayani yang aku maksud tidak lain hanya berupa bayaran Kecil.”


Kedua temannya mengangguk dengan bangga.


“ah, perbuatan kakak memang baik, tapi biarkan aku saja yang mengajaknya berkeliling. Lagi pula aku adalah temannya, seorang teman pasti mau melakukannya, apalagi jika hanya berkeliling.”


Melihat itu, siswa itu tersenyum, lalu berkata, “apa nona ingin bersamanya.”


Namila mengangguk. “iya kakak. Terima kasih atas pertolongannya, jika nanti aku membutuhkan pertolongan lagi, pasti aku akan menerimanya dengan tulus.”


“kalau begitu, sepertinya aku harus pergi.”


Ketiga siswa itu lantas pergi dengan perasaan dan wajah yang kecewa dan marah.


Setelah mereka tidak terlihat lagi, Namila langsung menggandeng tangan simo.


Melihat itu simo pun menoleh ke arah namila, seperti tidak setuju dengan tindakan namila.


“Kenapa? Aku hanya tidak ingin kau pergi lagi. Kau tahu aku sudah dari tadi mencarimu, tapi kau seperti di telan bumi entah ke mana.” Kata namila memperlihatkan ekspresi cemberut.


“Soal itu... Aku hanya ingin beristirahat sebentar di rumah. Kau tahu, aku sangat kelelahan setelah perjalanan itu, dan kini akhirnya aku bisa ke akademi. Selain itu kakek juga berusaha menghentikanku pergi.”

__ADS_1


“alasan.” Kata namila seperti tidak peduli dengan perkataan simo.


Mendengar itu, simo hanya bisa menghela nafas, tapi dia senang, namila lebih ceria dan tidak sedingin ketika mereka bertemu dulu.


Melihat simo menghela nafas. Namila tertawa kecil, kemudian berkata dengan nada mengancam, “untung saja, nomormu tidak di panggil, jika iya, maka aku harus mencarimu ke mana-mana dan aku pasti akan membunuhmu, jika hal itu terjadi.”


“Sudah ada satu pertarungan yang panjang namun tidak terlalu menegangkan, dan selanjutnya membosankan. Sangat memalukan, ada beberapa siswa dari kelas kita, aku harap baik kau atau aku tidak melakukan hal yang sama. Walaupun aku tahu dan juga kemungkinannya kecil, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di kedepannya.” Lanjut Namila.


“Tidak akan terjadi. Kau jangan menakutiku, hal itu jelas tidak akan terjadi dan tidak akan pernah.”


“dasar sombong!” ujar namila lalu mengalihkan perhatian ke arah lain.


Melihat itu, simo lagi-lagi menghela nafas, dan berkata, “ayo kita pergi ke lapangan lagi.”


Namila mengangguk.


Ketika mereka tiba, semuanya masih sama, pertarungan masih membosankan. Walau sebagian besar mungkin menganggap pertarungan itu tidak terlalu membosankan, tapi bagi namila dan simo yang berpengalaman itu jelas sangat membosankan.


Setelah beberapa saat menonton, akhirnya namila pun memulai pembicaraan, “kau mendapatkan nomor berapa?”


Simo dengan cepat merogoh kantongnya dan melihat nomor berapa yang dia dapatkan. “nomor 50”


“aku dapat nomor 20. Kenapa bisa berbeda? Padahal kita terlambat masuk. Bukankah ini aneh?”


Simo mengangguk.


Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Simo terlihat fokus pada pertarungan, sedangkan namila seperti memikirkan sesuatu.


Sementara itu, di lain sisi, Talina menyadari simo dan namila. Dia ingin menghampiri mereka dan mengajak Thomi ikut bersamanya. Kedua matanya cerah dan terlihat bersemangat ketika melihat temannya kembali dengan selamat. Dia juga tidak menyangka namila bisa secantik itu ketika berubah penampilan menjadi perempuan. Itu membuatnya bertanya-tanya mengapa namila mengubah penampilannya dulu, padahal dia secantik ini.


Walau di dalam hatinya, dia masih menyukai sosok jauzan, dia berusaha menghilangkannya dan menganggap tidak pernah bertemu dengannya. Talina tahu, dia menyukainya, tapi dia juga tahu itu adalah hal yang tidak akan mungkin terwujud. Jauzan hanya bayangan namila dan tidak akan mungkin menjadi nyata.


“Eh, siapa di samping simo itu?” kata Thomi Melihat namila. Tentu saja thomi tidak mengetahui siapa sebenarnya jauzan dan sebaliknya siapa gadis di samping simo.


“Dia jauzan.”


“ahh?” ujar Thomi tidak percaya. Seingatnya, jauzan itu laki-laki sedangkan di samping simo itu seorang gadis. Mana mungkin jauzan seorang laki-laki bisa berubah menjadi wanita?

__ADS_1


“Ah maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya.”


__ADS_2