
Terlahir dari keluarga bangsawan, tidaklah selalu membuat orang memiliki hidup yang bahagia dan indah. Terkadang itu menjadi kutukan yang sangat mengerikan. Mengikis air mata, menyayat hati dan perasaan. Apalagi jika terlahir sebagai orang yang tidak di inginkan atau pun tidak bisa memenuhi permintaan orang yang berkuasa.
Hal itulah yang kerap dialami seorang gadis yang terlahir di antara keluarga kerajaan. Dia terlahir dengan bakat yang rendah dan tumbuh yang tidak bagus.
Ibunya yang semestinya menjadi sumber kasih sayang, meninggalkannya semasih bayi. Hal itu membuatnya lebih sedih dan menderita.
“kenapa aku harus hidup seperti ini?” tanya gadis itu seraya memegang sel tahanan. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, membiarkan air mata menetes, membanjiri pipinya yang lembut dan menetes seperti hujan.
Ayah yang semestinya menjaganya, justru mengurungnya, karena tidak memenuhi syarat kelayakannya. Selain itu, dia marah dan benci kepada anak gadisnya itu. Jika bukan karena istri tercintanya mati saat melahirkannya, mungkin dia tidak akan semarah dan sebenci ini kepadanya.
Awalnya dia tidak terlalu membencinya. Namun seiring anaknya tubuh dewasa, dia menjadi mengingat sosok istrinya. Setiap dia melihatnya, perasaan marah, benci bercampur aduk di dalam hatinya.
Dia memutuskan untuk tidak melihat ataupun berkata kepada anaknya. Setiap dia melihat anaknya dia akan menghindar. Namun hal itu tidak membuatnya bahagia.
Setelah anaknya tumbuh lebih dewasa, dia mulai mendengar suara , yang sama persis dengan apa yang dikatakan istrinya. Bahkan intonasi dan nadanya tidak berbeda sedikit pun.
Hal itu jelas membuatnya bersedih dan mengingat kenangan masa lalu yang kelam. Dia akhirnya memenjarakannya di bawah tanah, supaya tidak lagi melihat atau mendengar suara itu.
Walaupun dia sebagai ayah, memang terlihat kejam dan benci kepada anaknya, dia sadar, dia telah menyiksa dan memperlakukan hal yang tidak baik kepada bagian tubuh dan jiwanya yang lain.
Meski demikian, dia tidak punya pilihan lain. Terkadang harus menjadi egois untuk Bertahan hidup, kata itulah yang tepat baginya sekarang.
Sang gadis hidup di penjara. Langit biru yang indah, suara kicauan burung, angin membela, kini tidak lagi bersamanya; hanya suara menyeramkan, kegelapan, siksaan dan ketakutan yang menemani kala di penjara.
‘bisakah sepasang mata ini kembali melihat langit biru nan cerah? Bisakah kulit yang lembam dan memerah ini merasakan belaian angin yang lembut?’ batin gadis itu. Setiap kali dia bangun dan kembali membatin kala di esok hari. Hal-hal itu terus dia ucapkan dalam hati.
Memberi harapan dan membayangkan kebahagiaan, yang selalu dia lakukan. Meski dia baru berumur 13 tahun, dia sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghadapi situasi seperti gempa bumi, badai dahsyat, juga angin topan serta ombak yang mungkin menenggelamkan seisi kota sekaligus.
Hari-hari yang dia lakukan memang tenang. Namun sebagian manusia, yang harus berkomunikasi, itu bagaikan siksaan yang mulai merenggut kewarasannya.
Waktu pun berlalu dengan cepat, dia akhirnya berumur 15 tahun. Yang semestinya mula mengenal lawan jenis, dan menstruasi. Namun pengetahuan itu tidak dia miliki, sehingga setiap darah keluar dari selangkangannya, dia akan bergerak menuju sudut ruangan. Menutup telinga dan menangis serta berteriak seperti orang kesurupan.
Suatu kali, seorang gadis menghampirinya, dia adalah saudara perempuan tirinya, yang menyandang gelar gadis tercantik di kerajaan, sedangkan dirinya, meski seorang putri, wajah pucat, rambut acak-acakan, bau tubuh yang busuk, berbeda jauh dengan saudaranya.
Kedatangan gadis itu memberikan harapan baru baginya. Namun harapan itu lenyap setelah dia melakukan siksaan yang mematikan kepadanya. Gadis itu menamparnya, menelanjangi, menyayat pergelangan tangannya serta tidak segan-segan memukulnya.
Beberapa kali kejadian itu berlangsung, sehingga membuat tidak tahan dan berteriak keras, ingin pergi.
Seperti tuhan mengabulkannya, dia akhirnya di datang seorang wanita paru baya. Ekspresi kasihan dan redup seketika menghiasi wajahnya kala melihat gadis yang sebelumnya cantik, kini tidak karuan wujudnya.
“sungguh hidupmu sangat kasihan.” Wanita itu menggeleng pelan.
“aku ingin pergi!”
“Iya, iya.”
__ADS_1
“Aku ingin pergi!”
“iya, bibi akan membawamu pergi.”
Dengan sedikit usaha, akhirnya dia berhasil melarikan diri. Dia berlari ke arah hutan. Dia berhenti, kemudian menengadah, memandang langit yang di penuhi bintang-bintang dan bulan. Terukir senyuman di wajahnya, walaupun kesadaran tidak karuan, dia terlihat senang.
Dia berjalan dan berjalan, menelusuri hutan tanpa menggunakan alas kaki.
Beberapa menit kemudian akhirnya dia tiba di sebuah kamp dengan beberapa prajurit yang berada. Saat memandang buah-buahan dan makanan yang ada, nafsu makannya tiba-tiba memuncak.
Dia mengamatinya. Setelah tidak ada orang, dia berlari mengambil buah yang ada. Namun belum sempat dia kembali, seseorang mengagetkannya. Dia terkejut, lalu jatuh.
“Kau siapa?” tanya orang itu seraya mendekatinya.
“Jangan mendekat... Jangan!” katanya seraya mundur, namun orang itu tetap mendekatinya.
“Aku bilang jangan....!”
Orang itu menghela nafas.
“Jangan takut, aku bukan orang jahat, jadi kau tenang saja.”
“Tidak! Kau jahat!” Dia terus mundur menggunakan kedua tangannya.
Orang itu menghela nafas. Dia akhirnya membuatnya tidak sadarkan diri.
“akhirnya anda sadar.” Seorang wanita datang.
Dengan segera gadis itu menenggelamkan wajahnya di dalam selimut.
“Anda tidak perlu takut, aku bukan orang jahat.” Wanita itu menyodorkan segelas minuman untuknya. “minumlah, selagi panas. Dengan minuman ini anda akan menjadi lebih tenang.”
“sungguh?” dia akhirnya menurunkan selimutnya.
Wanita itu mengangguk.
Sang gadis akhirnya meminumnya dengan cepat. Dalam sekali tegukan akhirnya dia menghabiskannya.
“lagi?” katanya meminta lagi.
Wanita itu sedikit terkejut, kemudian tersenyum. “aku ambilkan dulu.”
Tidak beberapa lama, wanita itu kemudian datang dan langi-lagi sang gadis meminumnya dengan lahap.
“e...lagi?” katanya ragu-ragu seraya menyodorkan cangkir ke arah wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum. “aku akan memberikannya lagi, tapi sebelum itu, Anda harus menceritakan asal usul anda.”
Sang gadis diam sejenak. Ingatan-ingatan buruk kembali terbayang-bayang dalam benaknya.
“Ah, jika anda tidak mau, aku tidak akan memaksanya, biarlah waktu yang mengungkapkannya.”
Sang gadis mengangguk.
“anda sangat cantik.” Wanita itu mengelus-elus rambutnya yang hitam legan yang sudah di keramas dan di mandikan olehnya.
“C-cantik?”
Wanita itu mengangguk, “iya.” Dia lalu mengambil cermin. “ lihatlah, anda sangat cantik, sangat serasi dengan sang pangeran.”
Wajah oval, rambut di tata, tusuk konde yang indah, membuatnya tidak percaya.
“B-bagaimana bisa?”
“anda memang cantik. Apakah anda tidak mengetahuinya?”
Sang gadis menggelengkan kepalanya pelan.
‘apalah terjadi dengannya?’ batin wanita itu.
“baiklah. Sekarang anda istirahat.”
Wanita itu pergi.
Sang gadis ingin tidur, akan tetapi dia tidak nyaman dan tidak bisa melupakan pengalaman buruk yang pernah dia rasakan. Setiap kali dia sudah mula lelap tertidur, maka wajah saudaranya muncul, yang membuatnya takut.
Hingga tiba saatnya dia berteriak ketakutan. Menenggelamkan wajah dalam selimut dan tubuhnya bergetar.
Seorang pria muda datang, kemudian berkata, “ada apa denganmu?”
“T-t-takut.” Jawabnya seraya tubuhnya bergetar.
Pria itu duduk, lalu berkata, “apa yang terjadi denganmu? Bisa ceritakan denganku?”
Dia menggelengkan kepalanya pelan.
Pria itu tersenyum, “ada waktunya, kau harus menceritakan hal-hal yang mengganjal di pikiranmu. Aku pergi dulu, jika ada sesuatu kau inginkan, maka panggil saja pelayan.”
Pria itu ingin pergi, tetapi, sang gadis memegang tangannya. “Jangan! tinggal lah di sini, beberapa jam saja, aku mohon!”
Pria itu mau tidak mau mengangguk. “siapa namamu?”
__ADS_1
“d-dira.” Jawabnya ragu-ragu.”
“namaku Toru, senang bertemu denganmu."