Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 64 pertarungan akhir


__ADS_3

Simo yang melihat itu, dapat merasakan kekuatan yang sangat kuat mengalir dari api tersebut. Selain itu, meski berada sangat jauh dan di musim dingin, dia dapat merasakan panas memancar darinya, bahkan lebih kuat dari api birunya.


Hatinya sedikit gemetar memandangnya. Walaupun memandangnya, tidak di pungkiri akan membuatnya takut dan gemetar seperti ini. Di dalam pikirannya, dia bertanya beberapa kali apakah dia bisa pergi dengan aman dari sini.


Namun terlepas dari itu, dia teringat dengan Namila, kekasihnya yang pasti ada hubungannya dengan Azka. Simo berteriak menanyakannya.


Azka dengan dingin menjawab, “Dia sudah mati.” Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Hanya ada kesenangan dan kejahatan.


Mendengar itu, simo menatap kosong ke bawah. Hatinya di penuhi kabut dan awan hitam tiada tara. Mati? Dia tentu tidak mudah mempercayainya, namun, jika hidup di manakah dirinya sekarang? Bangunan itu sudah hancur lebur dan tidak menyisakan apa pun lagi.


Azka tidak mempedulikan simo, dia lalu memandang Anulika terbaring tidak sadarkan diri dengan nafas yang lemah. Dalam sekejap mata, Azka tiba di depan anulika yang berbaring tidak sadarkan diri.


Dengan senyuman jahat, dia berkata, “kakak yang malang. Kau pikir dengan kesini, kau akan menyelamatkanku? Ha ha ha! itu adalah ide yang bodoh!” Ekspresi penuh dendam tiba-tiba terlukis di wajahnya. “jadi, karena kau telah datang! Kau harus mati!”


Azka langsung mengarahkan api ungu Hitamnya, tepat di dada Anulika. Namun sebelum itu terjadi, sebuah tangan menghentikannya. Azka terkejut dan, dengan cepat menoleh ke samping. Selain terkejut, Azka juga merasakan dingin dari tangan yang memegangnya, seolah yang memegangnya bukan tangan melainkan es balok.


Simo, dengan tanpa ekspresi menahan tangan Azka. Samar-samar dari tubuhnya keluar aura hitam, putih dan merah yang peka. Siapa saja yang ada di sekitarnya, akan bergidik ngeri merasakan hawa tersebut.


Namun, tentunya itu tidak berpengaruh kepada Azka. “oh, jadi kau ingin melawanku?” dengan tenang Azka berkata.


“jadi ... karena kau telah membunuhnya! Maka kau harus ikut bersamanya ke alam baka!” Bersamaan dengan itu, simo mengayunkan tangannya ke samping, membuat Azka terhempas beberapa meter sebelum kembali mendapatkan keseimbangannya. Setelah itu, hempasan angin yang kencang menerpa wajahnya. Ini membuat terkejut, pasalnya, angin itu terasa sangat kencang.


Dia lalu memandang simo, akan tetapi dia sudah tidak ada. Tetapi sudah berdiri di depan dengan tanpa ekspresi, memegang pedangnya erat-erat. Dia menunduk. Dan, ketika dia mengangkat kepalanya, terlihat kedua matanya memerah seperti marah. Ketika Azka melihat itu, dia tidak bisa menyembunyikan sedikit ketakutannya.


Jika saja dia tidak setengah abadi, mungkin dia akan berlari terbirit-birit, tapi sekarang itu hanya membuatnya sedikit takut. Setelah mengendalikan suasana, di tangan Azka muncul tombak api ungu hitam pekat. Aura yang di pancarkannya sangat kuat.


Dia memutarnya sebelum akhirnya melempar dengan cepat. Ketika tombak itu melesat, angin yang ada di sekitarnya bergerak dalam kekacauan. Butiran-butiran salju yang ada, mengeras dan menajam, ikut menyerang simo.


Simo dengan aura kematian dan kemarahan di dalam hatinya, dengan tenang perlahan-lahan berjalan. Langkahnya sangat berat. Ketika dia berjalan, dia tanpa henti memandang Azka. Kedua matanya sangat merah, seperti memiliki kebencian yang sangat tinggi, bahkan samar-samar aura merah keluar dari bola matanya.

__ADS_1


Lalu, saat satu meter tombak itu dari simo, dia langsung menebaskannya dengan keras, membuatnya meledak dan menghancurkan di sekitarnya.


Azka tersenyum, namun senyumannya harus runtuh ketika melihat simo masih berdiri, tanpa terluka. Hanya saja pakaiannya robek.


Dengan langkah berat simo mendekat sambil berkata, “kau Harus menyusulnya.” Suaranya sangat berat. Bibirnya bergetar saat mengatakan itu.


Azka tersenyum, lalu menjawab, “kau yang seharusnya pergi bersamanya.”


Azka tiba-tiba menghilang. Dia lalu muncul di belakang simo dengan kecepatan tinggi. Tanpa membuang waktu, Azka mengayunkan tangannya yang sudah ada bola api ungu.


Sebelum menyentuhnya, simo berbalik, dan langsung menghalau serangan Azka. Tentu saja, Azka tidak menyerah, dia muncul di sisi lain, dan lainnya lagi.


Suara ledakan pun bergema di sekitar karena bola api dan tebasan simo. Beberapa menit terjadi, akhirnya Azka memilih mundur untuk menarik nafas. Dia tersenyum menyaksikan lengan simo terbakar oleh api ungunya. Api Azka sangat kuat, dan sulit di padamkan, selain itu juga sangat panas, sehingga satu tangan simo akan hancur menjadi debu.


Namun, bukan itu yang terjadi. Aura hitam muncul di lengan simo dan melahap api tersebut tanpa sisa. Lengan simo yang terbakar juga perlahan-lahan sembuh dan puluh Kembali.


‘kekuatan apa yang di miliki orang ini?’ Azka mengernyitkan dahi, dia tidak menyangka apinya bisa di padamkan secepat itu.


Azka dengan refleks menyilang tangannya di depan. Dia terdorong beberapa meter dan meninggalkan jejak di salju. Simo tidak berhenti, dia berlari dan melompat. Di udara dia mengangkat pedangnya dengan kedua tangan.


Azka tentu saja tidak akan membiarkannya lagi, dia mengeluarkan pedang biru hitam, campuran tiga elemen dengan kadar air yang lebih tinggi. Lalu, melemparnya ke atas tepat ke arah simo.


Dengan kecepatan tinggi, pedang itu menusuk dada simo dan menyisakan lubang kecil di sana. Perlahan-lahan darah keluar dari sana. Bibirnya juga mengeluarkan darah. Dia merasakan jantungnya hancur dan semakin sulit bernafas. Dan akhirnya terjatuh.


Tapi, bagi Azka ini belum selesai, simo memiliki kekuatan aneh di dalam tubuhnya. Dia cepat-cepat mengeluarkan api ungunya lagi. Mengangkat ke atas. Perlahan-lahan bola api ungu yang besar terbentuk.


Dengan meraung, Azka melemparnya.


Bomm!!!!

__ADS_1


Ledakan itu akhirnya hancur, menghancurkan salju di sekitar simo. Asap putih mengepul di atas langit seperti jamur.


Azka tersenyum, dia menduga simo sudah mati. Akan tetapi setelah asap menghilang siluet simo terlihat. Kedua matanya bercahaya merah.


Dengan tidak senang, Azka berkata, “aku harus mengeluarkan semuanya untuk membunuhmu.”


Setelah siluet itu muncul, simo melesat dengan cepat. Dia lalu mengayunkan Pedangnya ke segala arah untuk menyerang Azka. Tentunya Azka dengan cepat menyerang balik. Kecepatan mereka sama-sama cepat.


Azka mengeluarkan beberapa pedang air untuk menyerang simo. Lalu mengeluarkan pedang api. Selain itu adalah beberapa teknik lain yang di gunakannya untuk menyerang.


Pertarungan terus berlanjut. Setelah beberapa saat simo bisa menyembuhkan lukanya, kini dia tidak bisa lagi. Dari kedua tangannya muncul hawa hitam yang entah apa fungsinya. Tubuh simo sangat memprihatinkan, dia di penuhi luka. Bahkan meski Azka menyerang tubuhnya, dia sudah tidak mempedulikannya.


Dia seperti hewan buas yang haus darah. Dan, di dalam pikirannya, hanya ada menyerang dan menyerang.


Saat ini Azka menjaga jarak dari simo. Dia sedikit kelelahan karena simo menyerangnya secara beruntun, tapi sangat tidak berpola.


Simo sendiri, kondisinya sangat memprihatinkan. Tapi, dia seolah tidak merasa kelelahan. Di kedua matanya hanya ada hawa membunuh dan penuh kebencian.


Azka mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya muncul tentakel-tentakel air yang sangat panjang dan banyak, lalu melesat menyerang simo.


Simo tidak menghindar, dia berjalan dan mengayunkan pedangnya ke segala arah untuk memotongnya. Setiap dia mengayunkannya, maka tentakel-tentakel itu hancur. Simo mempercepat langkahnya, sebelum akhirnya berlari menuju Azka.


Tidak membiarkan simo mendekatinya, tangan kiri Azka mengeluarkan es-es tajam dan langsung melesat menyerang simo.


Tapi, serangan itu hanya memberi dampak kecil bagi simo. Meski pun serangan itu mengenai tubuhnya, dia tetap berlari dan terus memotong tentakel-tentakel yang menghadang. Tidak ada ekspresi kesakitan di wajahnya. Hanya ada kemarahan dan kebencian.


Pedangnya pun mengeluarkan tiga hawa sekaligus, hitam, merah dan putih. Tiga hawa tersebut sangat kental dan tebal. Jika simo mengayunkannya, maka hanya ada hawa yang terlihat.


‘jika seperti ini, aku harus mengeluarkan energi yang lebih banyak lagi.” Azka lalu meloncat ke atas dan melayang. Pandangannya langsung terkunci terhadap simo. Dengan segera mengarahkan telapak tangannya. Bola api ungu hitam seukuran bola terkumpul.

__ADS_1


Simo yang melihatnya langsung meloncat ke arah Azka.


“bodoh!” Senyuman bermekaran di wajah Azka. Memancing simo mendekatinya adalah rencananya. Dia ingin menembaknya ketika saatnya tepat.


__ADS_2