Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 39 kemarahan


__ADS_3

Setelah selesai dengan dira, Carissa buru-buru pulang untuk menjaga kerahasiaannya. Dia tahu aura yang dikeluarkannya akan menyebabkan orang-orang kota tertarik pergi untuk melihat apa yang terjadi.


Setelah perintah itu disanggupinya, dia langsung pamit dan menghilang. Setelah melihat Carissa pergi, Dira juga cepat-cepat pergi. Walaupun tindakan Carissa tidak sopan, dira tidak mempedulikannya. Dan lagi pula, dia juga tidak peduli dengan statusnya Sekarang, entah seorang ratu ataupun seorang biasa-biasa saja.


Dira juga tahu Mengapa Carissa pergi buru-buru, oleh karena itu dia juga cepat pergi dari sana.


Kini Carissa berjalan menelusuri gua yang gelap. Di tangannya ada segumpal api ungu yang terus menyala. Meski segumpal, api itu bisa menyinari jalan Carissa.


Gua yang tengah dia telusuri adalah gua yang selalu dia gunakan untuk pulang. Dia melewatinya untuk menyemarkan dirinya supaya tidak di ketahui.


Carissa tahu, jika dirinya tidak menghilang atau pergi, cepat atau lambat, dia akan mati atau jika beruntung akan tertangkap dan mendekam di penjara. Hal ini terjadi karena dia membenci Kaisar galen dan ingin membunuhnya. Karena dia tidak kuat melawan semua antek-antek kaisar galen dia memilih untuk menyamarkan dirinya.


Namun sayang, anak satu-satunya yang dia miliki mengumumkan bahwasanya dia anak jendral kedua. Berita ini sampai ke telinga Kaisar, maka terjadilah pencarian besar-besaran beberapa hari. Carissa memilih melarikan diri untuk sementara waktu seraya mengutuk anak durhaka itu.


Hingga sampai akhirnya dia berhasil lolos. Setelah pencarian di hentikan dan kondisi sudah nyaman dia akhirnya kembali dam menjewer anaknya itu hingga takut dengannya. Meski begitu, itu hanya sesaat. Anaknya Kembali berani dengannya, tapi tidak seberani sebelumnya.


“kau terlambat.” Kata delisa yang tengah duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari memperlihatkan ekspresi marah.


“Jika bukan karena kau mengumumkan itu, aku tidak harus pulang malam dan berjaga-jaga seperti ini.” Seraya mengatakan itu, Carissa membuka pintu di depannya lalu masuk.


Delisa yang melihatnya langsung berdiri dan masuk seraya berkata, “akan rugi jika tidak mengumumkannya. Dengan mengumumkan juga membuat orang-orang takut denganku.”


Delisa duduk berseberangan dengan ibunya.


“Aku memerintahkanmu untuk menyebarkan informasi mengenai gedung penelitian kaisar gunung salju. Buatlah Citra mereka busuk, sebusuk-busuknya. Sebarkan di Setiap pelosok ibu kota. Ingat, gunakan penyamaran dan jangan sampai tertangkap,” perintah Carissa.


“Itu saja?”


Carissa mengangguk.


“Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?”


“jika kau tidak mau, aku akan membunuhmu. Jangan anggap remeh ucapanku ini, aku tidak akan segan-segan membunuhmu, meski kau anakku Sendiri.”


Delisa memandang sesaat kedua mata ibunya. Dan benar, apa yang di katakan ibunya menang benar dan bersungguh-sungguh. Delisa menghela nafas, memejamkan mata, dia berkata, “aku akan melakukannya.”


Delisa kemudian pergi dari hadapan ibunya tanpa pamit.


...****************...


Setelah mendengar kematian anaknya dari salah satu prajurit, Jendral theo sangat marah besar, dia sampai tidak sadar mengeluarkan energi alamnya, membuat orang-orang dan benda-benda di sekitarnya berterbangan.

__ADS_1


Rasa marah, benci, sedih dan dendam bergejolak di dalam tubuh pria tua itu, dia tidak habis pikir anak satu-satunya mati yang bahkan tidak meninggalkan jasad.


“siapa yang membunuh anakku!? Cepat katakan!” pekiknya Kepada prajurit di depan seraya Mengangkatnya.


Dengan tubuh gemetar, prajurit itu menjawab, “h-hamba tidak tahu tuan.”


Mendengar itu, jendral Theo menghempaskanya dengan keras, membuat prajurit itu membentur lantai dengan keras, hingga mengeluarkan seteguk darah.


“Kalian semua! Cepat cari pembunuhnya! Cepat!”


Semua orang yang ada di sekitarnya langsung buru-buru keluar, takut jika Jendral teheo melampiaskan amarahnya Kepada mereka semua.


Kini jendral Theo sendiri di dalam ruangan. Dia lalu duduk di kursi dan melambaikan tangan ke kiri, menyebabkan beberapa barang seketika hancur berkeping, kemudian ke kanan, menyebabkan gorden-gorden robek tercabik-cabik.


“Anakku, aku pasti akan membunuh orang yang telah membunuhmu!” kedua matanya memerah saat mengatakannya, seolah memperlihatkan betapa marahnya dan dendamnya dirinya saat ini.


...****************...


Saat simo ingin tidur, tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Simo langsung mempersiapkan belati yang selalu dia siapkan untuk berjaga-jaga.


Simo berjalan mengendap-endap ke arah jendelanya yang di tutupi korden. Simo Langsung membuka korden.


“Kau!” simo terkejut melihat muka anulika menempel di jendela. Simo terkejut dan terjungkal ke belakang, dia tidak menyangka akan di kejutkan seperti itu. Biasanya, orang-orang akan berdiri di seberang bangunan atau muncul di belakangnya dengan tiba-tiba. Tapi yang di lakukan Anulika sangat berbeda, yang membuatnya terkejut.


“kenapa kau berada di sini?” tanya simo seraya bangun.


“Aku ingin mengetahui informasi mengenai gedung itu. Kau pernah mengatakan mendapatkan informasinya, jadi aku memutuskan untuk mengunjungimu malam ini.”


“kenapa harus malam?”


“Bagiku informasi ini sangat penting, jadi harus secepatnya. Tadi siang aku terus mencarimu tapi aku tidak menemukanmu. Ke mana saja kau waktu itu?”


Mendengar itu, simo diam sejenak mencari alasan. Dia tadi siang setelah membunuh Tristan bersembunyi di gua untuk menenangkan dirinya. Walaupun dia tidak takut dengan Theo, dia takut di interogasi oleh klarika. Dan untungnya dia tidak diintrogasi oleh Klarika. Nomornya juga tidak terpanggil


“a-aku jalan-jalan saja. Mungkin karena itu kau tidak menemukannya.” Walaupun terlihat sangat mencurigakan, anulika mempercayainya.


“Cepat katakan.”


Simo pun mengatakan semua hal yang dia dapatkan. Saat mendengar itu, ekspresi anulika menjadi kesal, dia tidak puas dengan informasi yang di dapatkan simo. Saat sebelumnya dia pikir akan mendapatkan hal yang berharga, Tapi ternyata semuanya tidak berguna.


“kapan kita akan melakukan penyelidikan lagi?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu, tapi secepatnya.”


“bisa kau mencari informasi lebih lanjut? Aku sangat ingin mengetahui segera.”


“akan aku usahakan.”


“Aku pegang kata-katamu.” setelah mengatakan itu, anulika menghilang dengan butiran-butiran salju yang berterbangan.


Setelah melihat anulika pergi, simo menghela nafas panjang.


“lelahnya.”


Simo Kemudian menjatuhkan dirinya kemudian tertidur.


...****************...


Di pagi hari, semua siswa berkumpul untuk melanjutkan ujian, kali ini ujian Antara Delisa dan namila. Masing-masing dari mereka sudah melompat dan mempersiapkan senjata masing-masing.


“hari ini aku akan mengalahkanmu,” kata delisa sombong. Tentu saja hal ini di dukung dengan kekuatan. Walaupun lebih tinggi sedikit dari Namila, jika berada di tingkat bumi, perbedaan lebih tinggi dari pada di tingkat fisik.


Semakin tinggi tingkat dan tahapan, semakin jauh juga jaraknya. Dan untuk mencapainya semakin sulit juga.


Delisa mengeluarkan pedang dan selendang merah darahnya yang sangat panjang.


Namila mengeluarkan sepuluh pedang air yang melayang di belakangnya membentuk formasi. Pedang-pedang air ini berputar-putar dengan kecepatan tinggi seperti ingin mengebor sesuatu.


Klarika di tempat juri terlihat bersemangat dengan pertarungan antara namila dan Delisa. Walaupun dia tahu ada perbedaan kekuatan di antara mereka, Klarika tetap bersemangat dan tidak sabar menunggu mulainya pertarungan. Hal ini di sebabkan karena klarika tahu, tidak hanya kekuatan yang di perlukan untuk bertarung. Melainkan banyak hal, dan itu terdiri dari kecepatan, taktik, formasi, ketepatan, keberuntungan, pandai mengatur jalan pertarungan, ketenangan, dan lain-lain.


Simo, talina dan thomi terlihat tersenyum dan berdoa demi kemenangan Namila.


Talina yang tidak jauh berada terlihat tidak peduli dengan pertarungan di depannya, Meski itu seru.


Saat pertarungan dimulai, secepat cahaya mereka melesat. Saat berada beberapa meter dari namila, Delisa melempar selendangnya dengan anggun. Perlahan-lahan selendang bergerak maju.


Melihat ini, Namila melompat dan berjalan di atasnya.


Delisa kemudian menarik selendangnya, membuat Namila melompat, bersamaan dengan itu, dia melempar 5 pedangnya.


5 pedangnya melesat dan berputar-putar di udara. Walaupun Delisa sedikit Terkejut dengan 5 pedang itu, dia mampu menangkisnya dengan pedangnya.


Memanfaatkan hal itu, namila terus maju.

__ADS_1


Pertarungan secara langsung tidak bisa di hindari.


__ADS_2