Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 38 mengunjungi rumah


__ADS_3

“apa kau ingin menyerah begitu saja!” ujar seseorang yang membuatnya menoleh. Dengan tiba-tiba Pedang yang entah dari mana mengarah kepadanya. Dengan refleks dia menangkapnya, lalu mencari-cari orang yang melempari pedang dan berbicara kepadanya.


Dari kerumunan penduduk melompat Seorang pria paru baya lalu menepuk bahu Frey beberapa kali. “ Masih ada dua ronde yang harus kau selesaikan. Kau tidak inginkan kan membuat ayahmu ini menanggung rasa malu karena putranya lari sebelum pertarungan selesai.”


“ayah.”


Pria itu adalah salah satu prajurit desa yang juga menggerakkan dan mengobarkan semangat melawan siren dan merupakan pembimbing ayu, Walaupun gadis yang dia didik belum bisa menggerakkan perlawanan, dia masih memiliki harapan gadis itu akan mampu memimpin desanya seperti apa yang ayahnya lakukan. Dia bernama Andros


Dia juga yang menyuruh Frey untuk menguji simo dan ternyata hasilnya di luar harapannya. Pemuda yang dia kira lemah ternyata memiliki kemampuan yang luar bisa. Dia sampai geleng-geleng di buatnya dan berharap bisa pergi keluar desa setelah bisa membalaskan dendam teman-teman.


“Ayo maju lagi, Walaupun kau kalah kau akan mendapatkan pengalaman yang berharga.” Andros menyemangati anaknya dengan senyuman percaya diri.


“t-tapi ayah.”


“tidak apa-apa, rasa malu hanya berlaku bagi orang yang tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya. Ayo tunjukkan keterampilanmu dan jangan membuat ayah malu karena ini. Ibumu pasti kecewa setelah melihat putra kesayangannya seperti ini, Apa kau ingin seperti itu?”


“tidak! Aku tidak akan mengecewakan ibu.” Frey kembali bersemangat seperti di tuangi minyak tanah dan segumpal api.


“ayo jangan kecewakan ayah dan ibumu.”


Setelah mengangguk Frey kembali mendekati simo yang masih berdiri memantau sekitarnya.


Semua penduduk mulai berargumen entah itu baik atau pun tidak Frey tidak mempedulikannya, yang dia pedulikan hanya ayah dan ibunya.


“seperti yang ayu katakan, masih ada dua ronde lagi yang belum terpenuhi. Walaupun sepertinya aku akan kalah aku akan tetap berusaha sekeras yang aku bisa, meski kau bukan orang yang memiliki kemampuan bertarung saja aku tidak peduli, yang aku pedulikan hanyalah ibu dan ayahku!” setelah Mengatakan itu, Frey melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dia menarik dan menggenggam pedangnya dengan erat.


“Ibu aku pasti akan membuatmu Bangga!”


Wuss trangkk!


Simo berhasil menahan serangannya dengan santai dan seolah dia menggerakkan pedangnya dengan lambat, tapi itu sebenarnya mengandung tekanan angin yang tinggi dari teknik yang dia latihan.


Kreak!


Lagi-lagi pedang Frey retak, tapi dia tidak terkejut lagi. Dia Mulai menyerang simo dari segala sudut tubuhnya yang dirasa mudah untuk di serang, tapi sesuai prediksinya simo tentu saja dengan mudah menahannya.


Berbagai suara pedang memenuhi lapang dan dua sosok menjadi pusat perhatian, ada yang memperlihatkan kekaguman, kengerian dan ketakutan setelah melihat pertarungan itu.


Ayu beberapa kali terlihat mengangguk dan tersenyum. Apa yang dia harapkan memang benar, simo Memiliki kekuatan yang tinggi. Bahkan melampaui temannya itu yang menjadi prajurit desa terkuat beberapa tahun.

__ADS_1


Sedangkan, untuk namila hanya terlihat biasa saja. Apalagi dia sudah terlalu sering melihat pertarungan simo.


Brungg!


Akhirnya pemuda itu tumbang seraya memegang tangkai pedangnya saja, sedangkan untuk bilahnya sudah hancur lebur oleh kekuatan teknik pedang simo. Tubuhnya di penuhi keringat. Nafasnya terengah-engah.


Simo hendak pergi tetapi Frey langsung memegang kaki simo, dengan lirih dia berkata, “pertarungan masih belum usai, masih ada satu ronde lagi.”


Setelah itu, Perlahan-lahan Frey berdiri, walaupun sulit akhirnya dia mampu berdiri. “ayah aku memerlukan pedang lagi!”


Wuss plak!


Pedang di lempar dan kembali di tangkap.


“sekali lagi, ayo!” dengan raungan itu Frey lagi-lagi berlari ke arah simo, tapi kekuatannya sudah terkuras habis. Dia hanya bisa mengayunkan pedangnya beberapa kali sebelum akhirnya tumbang tidak sadarkan diri.


Sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran dia berkata, “ayah, ibu aku sudah melakukan yang terbaik.”


Dapat di pastikan simo berhasil memenangkan tantangan dengan nilai tiga kosong.


Ayu dengan segera mengumumkannya dan menanyakan ada yang keberatan. Sesuai prediksinya tidak ada yang keberatan. Dengan begitu simo di jadikan pemimpi dan pencetus startegi yang akan digunakan untuk berperang melawan para siren yang akan di lakukan dalam beberapa hari mendatang.


Di malam hari di bawah sinar bulan yang lengkap dan bintang-bintang tersebar, Andros datang mengunjungi rumah ayu. Dia bermaksud ingin mengundang simo ke rumahnya sebentar, setelah istrinya tahu ada seorang pemuda yang mengalahkan Putranya dengan segera dia meminta andros mengundangnya.


Selain ingin mengetahui siapa, bagaimana, mengapa putranya bisa kalah istri andros juga ingin mengetahui latar belakang simo dan mengapa dia datang.


Awalnya Andros tidak mau, karena selain lelah, hari sudah malam, tapi dengan ancaman istrinya yang berkata, “ dalam beberapa hentakan jari kau tidak pergi, maka jangan harap rumah tangga ini akan kembali seperti dulu.”


Dengan ancaman itu, dia terpaksa melakukannya. Sekarang dia berada di teras rumah dengan ayu menghampirinya. Gadis itu terlihat muram dan sedih. Aondros tahu apa yang menjadi bebannya, dia, lalu berkata, “sudah jangan dipikirkan.”


“baik paman, tapi aku sebagai siswamu sudah gagal membuat semua warga semangat melawan para siren.” Katanya dengan lirih.


Andros menepuk bahunya beberapa kali, sebelum akhirnya berkata, “kau coba lagi, mungkin suatu saat nanti kau akan bisa menyaingi pencapaian ayahmu, menjadi kepala desa yang baik. Walaupun kau seorang wanita, kau lihat semua warga masih mendengarkanmu dan percaya sosok Kepala desa terdahulu masih ada dalam benakmu. Tugasmu sekarang hanya berjuang dan berjuang. Ingatlah, semasih paru-paru mengeluarkan udara bekas aku tidak akan menyerah.”


Ayu yang menunduk kini menatap andros dengan tajam. “biar aku usahakan.” Katanya dengan nada lirih, kemudian mengajaknya ke ruangan tamu.


Saat tiba di ruangan tamu, ayu bergegas membuatkan minuman, tetapi Andros dengan cepat menghentikannya.


“Ada apa paman?”

__ADS_1


“aku hanya sebentar, kedatanganku hanya ingin bertemu pemuda yang bertarung dengan Frey tadi siang.” Ujarnya seraya duduk.


“Oh, begitu, tunggu sebentar biar aku panggilkan.” Kata ayu lalu masuk ke dalam setelah melihat Andros mengangguk.


Setelah beberapa menit andros menunggu akhirnya simo datang bersama namila. Dengan cepat andros berdiri.


“Apa anda mencariku tuan?” tanya simo.


“iya, aku mencarimu, ada hal penting yang harus aku sampaikan.”


“apa itu tuan? Apakah ada hubungan dengan penyerangan para siren?” Tanya simo seraya menebak.


“ah, itu juga. Silahkan duduk.” Andros mempersilahkan simo dan namila duduk dengan sopan. Hal itu dia lakukan, karena identitas simo masih misterius dan sesuai perkiraannya, simo bukalah dari keluarga yang bisa-bisa saja.


Selain itu, alasan lainya adalah simo sudah menjadi pemimpin warga saat perang nanti dan di pilih langsung oleh putri kepala desa yang di hormati.


Biasanya jika desa-desa lain memilih Kepala desa berkali-kali, entah itu melalui pemilihan atau lainnya, maka hal itu tidak akan berlaku di desa padang pasir. Di sana hanya akan terjadi pemilihan satu orang Kepala desa dan keturunannya akan mewarisinya. Para warga akan memilih lagi jika keturunan Kepala desa terdahulu kurang baik dalam pemerintahan, oleh sebab itu ayu berusaha menjadi pemimpin yang baik.


Selain untuk warga, itu juga untuk kehormatan ayah dan ibunya. Walaupun dia yatim piatu, dia tetap berusaha.


Simo dan namila mengangguk. Walaupun mereka agak sedikit tidak enak, mereka tetap melakukannya.


“kedatanganku ke sini selain membicarakan tentang strategi perang, ada hal pribadi yang harus aku minta Kepadamu terlebih dahulu.” Ucap Andros dengan serius.


“apa itu?”


“Tolong berkunjung lah di rumah ku sebentar saja.” Jawab Andros dengan wajah memelas yang membuat simo dan Namila terkejut dengan hal itu. Awalnya mereka berdua akan mendengarkan berita penting, ternyata hanya permintaan berkunjung saja.


“Tuan, kau tidak perlu berbicara dan memperlakukanku dengan hormat seperti itu, anggaplah aku hanya pemuda bisa. Mengenai itu aku menerimanya, lagi pula aku belum mengenal lingkungan sekitar.” Jawab simo dengan hormat.


Namila mengangguk, lalu berkata, “aku boleh ikut?”


Simo mengangguk.


“Terima kasih. Bisakah kita sekarang pergi?” tanya Andros yang di Jawab anggukan oleh simo dan namila.


Saat tiba di rumah Andros, seorang wanita paru baya langsung menghampiri simo dan namila, lalu mengajaknya masuk.


Wanita itu langsung menghidangkan teh Kepada dua tamunya itu.

__ADS_1


__ADS_2