
Keesokan harinya, Naria, Delisa, Rina dan simo akhirnya berangkat menuju ke arah timur. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menemukan seorang jendral yang di perintahkan dira yang berada di kekaisaran bukit, yang merupakan negara pertama mendapatkan serangan para raksasa. Walaupun kemungkinannya kecil jenderal itu untuk selamat, Dira tetap memerintahkannya. Dia yakin, orang itu masih hidup.
Dira mengatakan dia adalah seorang gadis kecil yang cantik jelita. Namun sebenarnya, dia adalah seorang yang berumur enam puluh tahun. Selain itu, ketika dia berada di sekitar mereka, akan ada bau yang sangat wangi tercium, wanginya yang di katakan dira, lebih wangi dari parfum mana pun di dunia ini, dan kecantikannya tiada banding di antara para gadis.
Tentu saja mereka tidak percaya dengan hal itu, Namun dira menjelaskan, bahwa gadis itu adalah eksistensi yang berbeda; lain dari yang lain. Dia terlahir dari manusia kerdil yang aneh dan mempunyai rupa yang buruk.
Karena perbedaan itulah mereka semakin penasaran dan merasa aneh. Dira menjelaskan lagi, bahwa, dia tidak mempunyai informasi yang lebih jelas untuk mengatakannya karena sulitnya informasi mengenai gadis itu lagi. Di tambah lagi, dia juga tidak mengetahui situasi peperangan yang terjadi. Tetapi, dia yakin, kekaisaran bukit sudah di taklukan oleh para raksasa.
Jika memungkinkan, dira memerintahkan untuk menyelamatkan para penduduk yang masih hidup dari sana.
Alasan dia sangat yakin negara itu sudah hancur, tidak lain karena dia mendengar bahwasanya negara-negara yang ada di sana rata-rata lemah dalam militer.
Selain itu, dira juga menjelaskan untuk berhati-hati dalam menyeberang daerah padang pasir tengah yang selalu di huni para raksasa. Dira menyarankan untuk melintasinya dengan cepat karena akan sangat berbahaya untuk berada dalam waktu yang lama di sana.
Dira juga menanyakan Naria, Rina dan Delisa untuk Persiapan mereka untuk melakukan petualangan ini. Rina menjawab dengan sangat siap untuk petualangan ini, sementara Delisa dan Naria juga melakukan persiapan, tetapi mereka melakukan beberapa hal untuk keluarga mereka.
Delisa mengirim surat untuk ibunya, dan begitu pun dengan Naria.
Meski Delisa tidak terlalu peduli dengan ibunya, bagaimana pun juga dia adalah anaknya, yang harus melakukan itu untuk ibundanya.
Mereka pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari Safia yang menangis karena ayahnya telah meninggalkannya. Entah apakah dia akan menangis atau tidak, mereka bertiga hanya untuk berjaga-jaga saja.
Mereka memilih makan di pinggir jalan di pagi hari ini. Selain mereka bertiga, ada seorang pria tua yang menjalankan kereta kuda. Dia akan mengawal mereka hingga tiba di daerah tengah. Namanya adalah Chan.
“Simo, apakah kau mau makananku? Aku tidak terbiasa dengan makanan ini.” Ujar Rina sambil mengulurkan makanannya. Makanan itu terlihat sangat enak dan lezat. Selain itu, merupakan makanan mewah.
Semua menatapnya heran. Tapi, berbeda dengan simo. Dia mengetahui Rina sebelumnya adalah peri, meski dia tidak tahu mengapa rina bisa menjadi seperti ini, dia mengetahui, rina belum terbiasa makan makanan seperti ini. Dia juga sudah mengamati bagaimana rina makan di istana. Jadi, hanya buah-buahan yang dia bisa makan.
__ADS_1
“baiklah. Apakah kau ingin buah?” simo mengambilnya, kemudian meletakkan di sampingnya.
“iya. Aku terbiasa makan makanan buah seperti itu. Apakah di sekitar sini ada buah-buahan? Ada yang tahu?” rina menatap semua orang yang ada.
Chan yang tidak jauh berada menjawab, “Ada. Apa nona sangat menginginkannya?”
Rina mengangguk. “aku sangat membutuhkannya saat ini. Aku belum makan... Apakah terlalu jauh untuk mendapatkannya?”
“Tidak nona, hanya beberapa menit saja menjangkaunya. Tetapi, aku tidak tahu pasti apakah buah-buahan itu sudah matang atau tidak.”
“Buah apa yang tuan Chan katakan?”
“buah apel. Di sekitar sini ada beberapa pohon apel yang sudah berbuah. Aku melihatnya beberapa hari lalu bersama cucuku. Waktu itu, buahnya belum matang, tapi sekarang aku tidak tahu. Mungkin ada beberapa yang baru matang untuk nona. Tapi, mengapa nona sangat menginginkannya? Makanan yang di persiapkan istana lebih baik dari pada buah-buahan itu.”
“Aku tidak terbiasa. Baiklah, Tidak masalah, aku akan pergi untuk mencarinya.”
Dia kemudian berjalan menjauh. Dia berjalan dengan lambat, berharap simo mau membantunya, tetapi simo tidak membantunya, dan hanya menjawab, “aku akan menunggumu.”
Dengan perasaan kecewa, rina pergi menjauh. Simo hanya menatapnya. Dia sebenarnya ingin membantu Rina, tetapi perutnya terasa sangat lapar untuk saat ini, tidak baik menahan lapar demi orang lain, dan lagi pula, tempat yang di katakan Chan itu tidak jauh, membuatnya lega.
Simo mengambil makanannya. Ketika dia hendak memakannya, Naria mendekatinya. “Bolehkah aku menyuapimu?” kedua pipi Naria memerah ketika mengatakan itu.
Delisa dan Chan yang ada di sekitarnya terlihat memandang ke arah lain, dan seolah-olah menganggap hal itu tidak terjadi sama sekali. Mereka sibuk menikmati makanan masing-masing.
Simo terkejut mendengar itu. Ini adalah pertama kalinya Naria menawarkan itu. Dia terlihat sangat cantik dengan pipi memerah seperti itu!
“Ini tidak seperti biasanya.”
__ADS_1
Naria menjadi cemberut. “Memangnya kenapa jika aku berbeda hari ini? Aku adalah pacarmu, dan ini adalah ungkapan rasa bersalahku karena telah meninggalkanmu beberapa bulan ini, jadi, kau tidak boleh menolaknya.”
“Sejak kapan kita berpacaran?” simo ingin menggoda Naria.
“baik, baik. Jika kau tidak mau, aku akan pergi...” Naria lalu beranjak pergi, tetapi simo langsung memegang tangannya.
“Baiklah. Aku menerimanya. Lagi Pula, ini adalah untuk pertama kalinya kau melakukannya, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Juga, jarang-jarang kau bersikap selembut seperti ini.”
“apakah aku tidak selembut ini di hari-hari sebelumnya?” Naria bersimpuh di samping simo. Dia kemudian mengambil makanannya.
“Tentu saja. Kau sangat dingin ketika aku bertemu denganmu saat pertama kalinya. Kau juga cuek dan pemarah. Aku tidak pernah menyangka, kau bisa selembut ini sekarang, rasanya seperti kau menjadi orang berbeda.”
“sikap yang mana yang kau sukai? Apakah aku yang dulu atau yang sekarang?”
“aku menyukai semuanya. Tetapi, yang paling aku suka, ketika kau bisa bersikap lembut seperti ini. Kau terlihat lebih cantik dari sebelumnya.”
“Kau... jangan memujiku seperti ini.” Wajah Naria memerah dan menunduk.
“Baiklah, jika kau tidak mau menyuapiku hari ini, aku akan makan sendiri.”
“Tidak! Biarkan aku saja!” Naria mengambil kotak makanan dari tangan simo. “jika aku sudah mengatakannya, aku akan melakukannya. Buka mulutmu.”
Simo pun mulai membuka mulutnya. Mereka terlihat sangat bahagia ketika di saat seperti ini. Delisa dan Chan yang berada tidak jauh tidak melihat mereka, tetapi, tentu saja mereka iri dengan perilaku sepasang kekasih itu.
Delisa ingin cepat-cepat mempunyainya dan ingin merasakan bagaimana mempunyai kekasih, sementara Chan membayangkan bagaimana masa mudanya yang tidak pernah dia lupakan.
Tetapi.... Hanya satu orang yang menderita melihatnya. Dia tidak lain adalah Rina. Dia bersembunyi di balik pohon. Berharap menunggu simo akan menyusulnya, tetapi ternyata tidak. Air matanya mengalir deras melihat hal itu.
__ADS_1