Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 2 tantangan


__ADS_3

Simo mengerutkan keningnya saat melihat gerbang akademi gunung salju yang tidak ada satu pun orang yang mendaftar. Dia hanya melihat seorang pria gemuk tengah tertidur di kursinya dan sepertinya dia adalah penjaga gerbang.


Meski tidak membuatnya mengantri, dia merasa aneh dengan keadaan ini, dia sangat mengenal akademi itu selama 7 tahun dan selama itu tidak ada hal yang ganjil seperti di hadapannya sekarang.


Apakah kakek salah. Batin simo mengira-ngira.


Simo memutuskan untuk mendekati pria gemuk itu lalu menggoyang-goyangkan bahunya seraya memanggilnya beberapa kali.


“Ah, iya, ada apa?” pria itu terperanjat lalu mengusap-usap matanya yang masih mengantuk.


“tuan, saya ingin mendaftar.”


Mendengar itu, pria gemuk itu terkejut; matanya yang mengantuk hilang tiada jejak. Pria itu mengamati simo lalu berkata dengan nada berat, “kau ingin menjadi murid di sini?”


Simo mengangguk. “ kata kakek saya, saya hanya perlu menyerahkan ini.” Simo memberikan simbol yang di berikan kakeknya.


Pria itu lalu mengambil kaca dan memperhatikan apa yang di berikan simo. Tidak beberapa lama, pria itu terkejut dan heran. “bagaimana kau bisa mendapatkannya?”


“itu punya kakek saya dan saya tidak tahu entah di mana kakek saya mendapatkannya.”


Pria itu lalu berdiri. “ Tunggu sebentar ya.” Pria itu lalu berlari masuk.


Simo menunggu seraya melihat-lihat gedung akademi yang sangat besar dan tinggi, halamannya kira-kira 2 hektar dengan pepohonan yang tumbuh teratur.


Saat mengamati, dia melihat beberapa murid sedang latihan bersama dengan seorang pria paru baya yang sepertinya adalah salah satu guru yang mengajar di akademi.


10 menit sudah berlalu akhirnya pria gemuk itu datang bersama seorang pria paru baya yang berseragam. menurut Simo orang itu adalah salah satu guru di akademi.


Pria itu memiliki kumis tipis, rambut pirang hitam dan wajah terbilang tampan.


“Tuan, dia orang yang telah membawa simbol ini.” Ucap pria gemuk.


Pria itu hanya mengangguk.


“Anak muda, siapa kakekmu?” tanya pria itu dengan lembut.


“Kakek saya bernama aoba.”


“apakah kakekmu memiliki hubungan dengan salah satu orang dari akademi? Ah maaf namaku Hendry, panggil saja tuan Hendry.”


Simo mengangguk. “saya tidak tahu, yang saya tahu benda itu sudah di miliki kakek saya sejak 10 tahun lalu.”


“baiklah jika begitu. Apakah kau ingin menjadi murid di akademi ini?” tanya Hendry dengan wajah serius.


“ya.” Jawab simo dengan serius.


Mendengar itu Hendry sedikit terkejut karena tahun ajaran baru akan segera tiba dengan begitu simo akan belajar sangat sedikit bahkan jika seperti itu dalam 1bulan lagi akan ada ujian kelas 1 untuk dapat lolos ke kelas 2.


Murid-murid pada umunya akan masuk akademi tingkat atas saat berumur 17 tahun dan itu berarti simo kurang dari satu tahun. jika saja bukan karena simbol itu maka dapat dipastikan simo akan langsung di tendang keluar karena tidak memiliki persyaratan yang layak.


“Anak muda berapa umurmu?”


“saya baru menginjak 16 tahun.”


Mendengar itu Hendry menghela nafas panjang. “nak kau bisa masuk akademi saat kau berumur 17 tahun atau kau juga bisa bersekolah di akademi saat ajaran baru tiba, itu setidaknya 2 bulan lagi.”


Mendengar itu jelas simo tidak mau karena sudah lama dia menginginkan bertarung bahkan dia selalu bermimpi saat tidur. “tidak tuan Hendry, saya ingin sekarang, meski saya dapat belajar sedikit dan belum cukup umur.”


“Apakah kau serius?” tanya Hendry meyakini.

__ADS_1


Simo mengangguk.


Melihat wajah simo yang serius, Hendry menarik nafas panjang. “ baiklah karena kau memiliki logo ini maka aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena logo ini milik kepala sekolah di sini. Jika kau memang ingin menjadi bagian dari sekolah akademi ini maka demi keamananmu, aku harus mengujimu sebentar dan dari yang aku lihat kau sepertinya hanya berada di tingkat fisik, seharunya kau mendaftar di akademi menengah.”


“Nak sekali lagi aku tanyakan apakah kau yakin ingin menjadi murid di sini?”


“iya tuan Hendry, saya tidak akan menyesal dan tenang saja saya bisa menjaga diri.” Jawab simo yakin. Sebenarnya apa yang di katakan Hendry tidak benar mengenai tingkatkan kekuatan simo, jika bukan karena di segel maka akan kelihatan jika dia memiliki tingkatan yang tinggi dan setara dengan jenius atau bahkan lebih tinggi.


Mendengar itu, Hendry menarik nafas panjang, meskipun dia melihat wajah yang tidak ada keraguan, tetapi tetap saja sebagai seorang yang lebih tua, dia tahu bahwa itu hanya akan membuat simo terluka.


“Baiklah, ikut aku.” Ucap Hendry lalu masuk ke dalam dan sementara itu, pria gemuk itu sudah kembali ke tempatnya.


Simo di bawa ke ruangan aula dan bertemu seorang gadis mungil yang cantik. Dia memiliki wajah yang mungil dengan poni khasnya, rambutnya sebahu dan memakai seragam akademi berwarna putih.


Gadis itu tersenyum manis saat simo dan Hendry datang.


“Selamat siang tuan Hendry.” Ucap gadis itu dengan sopan seraya memberi hormat.


Hendry mengangguk.


“Amelia, tolong bawa simo berkeliling akademi.”


“baik.” Jawab Amelia dengan ceria.


Mendengar itu Hendry lalu pergi.


“apakah kau yang bernama simo?” tanya Amelia dengan ceria dan mendekatkan wajahnya kepada simo membuatnya sedikit terkejut.


Simo mengangguk.


“kalau begitu mari ikut aku” ucap Amelia lalu menarik tangan simo dengan keras membuatnya harus berjalan cepat. simo tidak menyangka jika gadis mungil di depannya memiliki energi sebesar ini.


Sepanjang perjalanan, Amelia menceritakan akademi gunung salju memiliki 3 gedung yang terletak berurutan dan saling berdekatan. Tinggi semua gedung itu sama, tetapi memiliki fungsi yang berbeda-beda.


Gedung Pertama adalah area latihan. Di sana para murid akan berlatih bela diri dan dijadikan tempat untuk ujian.


Gedung kedua yang ada di tengah-tengah berfungsi sebagai ruangan kelas dan kantor guru dan


terakhir Gedung ketiga yang berfungsi sebagai perpustakaan. Di tempat ini berbagai buku bisa di temukan.


Selain itu dia juga menjelaskan bahwa setiap murid akan menempuh 6 tahun pendidikan dan setelah tamat mereka akan terjun sebagai seorang yang menerima misi di kantor pemerintah.


Setiap kelas memiliki tiga kelas mulai dari A sampai C. Setiap huruf menandakan tingkat bakat para murid. Jika orang mendapatkan kelas A maka dapat di pastikan kemampuannya hebat sedangkan jika C maka kebalikannya.


Tidak terasa mereka akhirnya tiba di lapangan tempat para murid latihan yang tadi simo lihat.


Simo memandangnya sebentar dan mengamati setiap gerakan pedang yang di lakukan.


Setelah mengamati gerakan-gerakan pedang itu, simo mengerutkan keningnya, dia heran setiap gerakan itu sudah sangat dia kuasai dan sudah jauh di atasnya, mengapa kakeknya ingin dia masuk ke akademi?


“apa kau heran mengapa para murid itu berlatih di luar sedangkan sudah ada gedung pertama kan?” tanya Amelia yang mengira itulah yang ada di pikiran simo.


Simo mengangguk, meski bukan keinginannya dan jika dia mengatakan yang sebenarnya, itu akan menjadi masalah.


“Karena pelatihan juga tergantung pada setiap wali di kelas. Mereka adalah murid-murid kelas 1A yang terkenal akan kehebatannya dan merupakan kelasku.” Ucap Amelia menyombongkan dirinya.


Mendengar itu, simo menoleh. “ kenapa bisa? Bukankah di dalam ruangan lebih baik dan tidak kepanasan?”


Mendengar itu, Amelia sedikit kecewa. dia mengira simo akan memujinya, tetapi sepertinya orang yang ada di sampingnya memang kampungan dan tidak tahu cara memuji gadis cantik seperti dia. “jika seperti itu maka kau tidak akan berkembang. Apa kau lupa jika otot harus di rusak dulu untuk mendapatkan otot yang lebih besar.” Jawab Amelia dengan nada kesal.

__ADS_1


“jika begitu, kenapa tidak di hancurkan saja gedung itu?”


Mendengar itu Amelia sedikit terkejut, dia tidak menyangka jika pertanyaan itu keluar dari mulut simo. “enak saja. Kau pikir mudah membangunnya?”


“Kalau begitu kenapa di bangun?”


“kalau itu......ah sudahlah, aku kesal menjelaskannya. Ayo kita ke tempat selanjutnya.” Amelia hendak menarik tangan simo, tetapi seseorang memanggilnya


“Amelia, siapa dia?” tanya seorang pria yang tidak lain adalah guru yang mengajar para murid itu.


“salam tuan, namaku simo, saya sedang mendaftar di tempat ini.”


“aku tidak menanyakanmu.” Ucap pria itu dengan dingin dan sombong.


Mendengar itu simo hanya bisa terdiam, meski dia marah dan kesal


“ah, guru kai, dia adalah calon murid di sini dan besok baru dia akan memulai aktivitasnya.”


Mendengar itu, kai mengamati simo lalu tersenyum jahat. “seorang gelandangan ingin bersekolah disini?”


“bukan tuan, dia bukan gelandangan, tapi seorang yang penting.” Ucap Amelia membela simo.


“maksudmu, orang yang menjadi pimpinan pemulung?”


Mendengar itu, simo menjadi lebih marah. dia tidak habis pikir seorang guru bisa berkata seperti itu, tetapi dia hanya bisa diam dan mengepalkan tangannya dengan erat.


“Tidak tuan, bukan begitu.”


“Ah sudahlah, aku hanya bercanda.” Ucap kai menurunkan nada bicaranya.


“kenapa kau ingin bersekolah, meski akan masuk tahun ajaran baru?” tanya kai kepada simo.


Simo yang dari tadi sudah marah, menarik nafas panjang lalu dengan berat berkata, “saya juga tidak tahu tuan. kakek saya yang menginginkannya.”


“hem.... Siapa kakekmu?” tanya kai lagi.


“Maaf, tuan saya juga tidak tahu, siapa kakek saya sebenarnya. Yang saya tahu hanya kakek saya adalah matan guru dan untuk dimana dia mengajar saya belum tahu.”


“baiklah, jika begitu. Joshu....”


Pria yang bernama joshu mendekat. “ada apa guru.” Joshu memberi hormat.


“Kau lawan dia sekarang, tanpa menggunakan elemen.”


“Baik guru.”


“kau harus membuktikan bahwa kau layak di sini dan menjadi salah satu murid di akademi ini.” Ucap kai kepada simo.


“baiklah, jika begitu yang anda inginkan.”


“tidak tuan, dia harus berkeliling dulu.” Ucap Amelia yang tidak setuju.


“tenang saja Amelia ini hanya sebentar setelah itu kita akan melanjutkannya.” Ucap simo.


“Tapi...”


“tenang saja.” Potong simo.


Melihat simo yang sepertinya tidak bisa di hentikan, Amelia hanya bisa menghela nafas panjang “ingat hanya sebentar.”

__ADS_1


Simo mengangguk.


__ADS_2