Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 48 menguji


__ADS_3

Keesokan harinya, simo pergi ke akademi. Dia di suruh ibunya untuk menantang beberapa siswa berbakat di akademi. Simo sebenarnya tidak ingin bertarung dan ingin beristirahat, tetapi ibunya tidak membiarkannya sama sekali, bahkan mendesaknya untuk pagi-pagi sekali pergi ke akademi.


Tentu saja hal ini di lakukan karena letak akademi cukup jauh. Butuh satu hari untuk tiba di sana. Simo tidak sendirian; dia bersama rina, Safia dan Naria, sementara Delisa memilih diam di istana bersama putri Dhiya kharya, kedua gadis itu sangat akrab.


Mereka tiba di akademi di malam hari. Para guru dan kepala sekolah sudah berada di taman menanti mereka. Mereka terlihat sangat sopan dan tersenyum ramah.


Ketika rombongan simo turun, mereka semua di sambut dengan pemandangan yang indah. Gedung-gedung tinggi dan taman yang luas. Tidak kalah dengan istana. Selain itu, tempatnya juga besar.


Ketika melihat simo, guru perempuan yang bernama Agni Dan guru laki-laki bernama Deon mengerutkan kening dan memandang simo. Mereka rasa pernah melihat simo, tetapi mereka tidak ingat di mana melihatnya.


Memang benar, mereka pernah melihatnya, tetapi waktu itu simo berada sangat jauh dengan mereka. Di tambah lagi, mereka melihat simo ketika simo menggunakan kekuatan naga hitam, sehingga membuat mereka kesulitan mengenalinya.


“hormat yang mulia!” ujar para guru dan kepala sekolah bersama-sama ketika Dira berjalan mendekati mereka.


Dira mengangguk. “Apakah kalian sudah mempersiapkannya?”


“iya, yang mulia.” Jawab kepala sekolah. “ kami sudah mempersiapkan sepuluh anak siswa kami.”


“baiklah, ayo kita ke sana.”


Kepala sekolah diam sejenak. Dia tidak pernah memiliki pikiran, bahwa ratunya datang langsung ke tujuannya. Namun dia mengangguk dan mengantarnya langsung ke area luas, tempat biasanya mereka bertarung menguji para siswa. Di sana sudah ada sepuluh siswa. Di Antaranya ada Amara dan Jerome.


Amara langsung tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah simo.


Simo hanya bisa tersenyum getir. Dia mulai merasakan sensasi dingin menyebar dari samping. Itu tidak lain berasal dari Naria. Selain itu, aura mencekam datang juga dari kirinya, yang tidak lain adalah Rina.


“ayah! Apa ayah kenal kakak cantik itu?” tanya Safia sambil menunjuk Amara.

__ADS_1


Simo diam sejenak. “Tidak, ayah tidak mengenalinya.” Jawabnya bohong. Simo harus berbohong kepada anaknya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, Safia pasti akan menanyakan lebih jauh lagi.


Ekspresi Safia sedikit curiga memandang ayahnya. Namun dia mempercayainya dan tidak bertanya lagi.


“Yang mulia ratu, siapa yang akan anda uji di sini?” tanya kepala sekolah sambil memandang simo, rina dan Naria.


“Aku akan menguji anak muda itu. Dia adalah salah satu siswa dari akademi gunung salju. Aku mendengar, dia adalah salah satu siswa jenius. Oleh karena itu, aku ingin mengujinya, apakah benar. Dan juga ingin menguji para siswa-siswi di akademi kita. Aku tidak pernah melihat kemampuan mereka.” Dira berkata seolah simo bukan anaknya. Dan, memang seperti itu dia ingin terlihat. Dia tidak ingin memperlihatkan bawah simo adalah anaknya.


Bukan karena dia malu, tapi dia tidak ingin mengungkapkannya saja kepada publik. Tentu saja suatu saat nanti dia akan mengatakannya.


“oh, ternyata begitu,” ucap kepala sekolah lebih ramah. Berbagai pertanyaan sudah terjawab, mengapa yang mulia ratunya datang dan langsung ke tujuannya. Ternyata ingin memeriksa kemampuan para siswanya. Kali ini dia yakin, siswanya pasti ada yang bisa mengalahkan siswa akademi gunung salju itu.


Meski tidak merasakan aura kuat dari simo, kepala sekolah itu cukup yakin, simo sedang menyembunyikan kekuatannya. Dia memandang simo dari bawah ke atas kemudian memanggil Amara mendekatinya.


Selain simo, Naria dan rina juga turut menjadi perhatiannya, namun dia tidak terlalu memperhatikannya. Meski kedua gadis itu cantik dan merasakan kekuatan mereka, dia lebih penasaran dengan sosok simo.


“Aku menyuruhmu untuk melawan pemuda itu. Dia adalah salah satu siswa dari akademi gunung salju. Menurut informasi yang kudapatkan, akademi gunung salju mencetak para siswa berbakat. Jadi, lakukan sebaik yang kau mampu.”


Mendengar kata ‘melawan’ kedua alis Amara menciut. Tentu saja, dia sudah mengetahui seberapa kuat simo. Jika dibandingkan dengan kekuatannya, itu jelas sangat jauh. Namun, dia tidak bisa menolaknya. Dia menerimanya dengan hormat, meski di dalam hatinya sudah tidak ada harapan.


Setidaknya, dia pernah bertarung dengan simo dan menambah pengalamannya. Meski hari ini kemenangan kemungkinan kecil, dia sangat berharap bisa bertahan cukup lama.


“Tuan, kenapa kau tidak mengirimkan dua siswamu saja ke dalam pertarungan ini? Aku yakin, anak muda ini tidak sembarangan. Dia mungkin sangat kuat. Bahkan dia yang telah mengantarkan putri Dhiya karya pulang.”


Mendengar itu, kepala sekolah terdiam, tidak tahu apa yang di pikirkannya.


Melihatnya seperti itu, dira berkata, “Aku bukanya meremehkan para siswamu, melainkan aku ingin mengujinya dengan cepat. Anak muda itu sebelumnya yang meminta itu. Mohon tuan kepala sekolah kabulkan. Biarkan dia merasakan bagaimana kekuatan para siswa kita.” Dira memandang simo tajam seolah memiliki kebencian. Tentu saja itu adalah kebohongan.

__ADS_1


Dira ingin menguji simo dengan cepat dan melihat kemampuan terbaik simo. Walaupun dia sudah melihat kemampuan simo sebelumnya, dia yakin, simo masih memiliki kekuatan lain selain kekuatan aneh itu.


Simo terlihat terkejut mendengar itu, namun dia tidak bisa mencegahnya.


Naria yang ada di sampingnya menoleh kepadanya dan tersenyum tipis. Dia mencengkeram tangan simo dan memegangnya erat.


“kau harus memperlihatkan kekuatanmu selama aku tidak bersamamu ya.”


Simo hanya bisa mengangguk.


“Ah... Jika begitu, Baiklah,” jawab kepala sekolah. Dia berbalik dan memanggil Jerome.


“yang mulia, dia adalah Jerome dan Amara, aku akan menyerahkan mereka berdua untuk bertarung dengan pemuda itu. Apakah anda menyetujuinya?”


“Tentu saja, asalkan mereka berdua siswa terbaik kalian.”


Maka simo, Jerome dan Amara pun masuk ke dalam lapangan. Mereka menjaga jarak 50 meter.


Simo memandang tajam ke arah mereka berdua. Sementara Jerome tersenyum jahat, dan Amara terlihat sangat serius. Jerome mempunyai kepercayaan diri untuk melawan simo, berdua, walaupun dia tahu kekuatan simo sebelumnya. Tetapi meski begitu, Jerome merasa kekuatan simo tidak sekuat itu. Dia juga tidak merasakan aura kuat dari simo. Sehingga, dia menyimpulkan kekuatan simo sebelumnya bukan miliknya sendiri.


Amara juga berpikir sama, namun dia lebih pengalaman dari Jerome. Dia tidak akan meremehkan musuhnya sebelum bisa mengalahkannya. Bahkan setelah kalah, dia masih harus tetap waspada. Kemampuan setiap orang akan terus berkembang. Ketika kau mengalahkan seseorang, orang itu sudah lebih kuat dari sebelumnya. Itulah kata-kata yang selalu dia pegang.


Guru Agni berdiri di tengah-tengah. Dia menatap kedua belah pihak.


“Aku umumkan beberapa peraturan sederhana pertarungan ini. Pertama, tidak ada yang boleh membunuh. Jika ada teknik kuat yang tidak sengaja di keluarkan, maka kami para guru akan bertindak. Kedua, salah satu pihak akan menang jika masih bertahan paling akhir. Dan terakhir, kalian bisa mengumumkan kalah jika merasa tidak akan mampu bertahan lagi.”


“Baiklah, aku umumkan kedua belah pihak mulai bertarung!”

__ADS_1


Setelah suara itu terdengar, simo menarik pedangnya kemudian berlari secepat kilat. Amara dan Jerome pun tidak kalah cepat dengan simo.


__ADS_2