
Di bawah langit malam dengan angin sejuk terus berembus menggerak-gerakan gaunnya yang lembut dan putih bersih. Tidak ketinggalan rambutnya yang panjang melambai-lambai. Dira berdiri seraya memandang hamparan kota gunung salju. Ada perasaan senang, sedih dan kebencian bergejolak di dalam hatinya mengingat kenangan yang indah, sedih dan buruk.
“Semuanya telah berlalu.” Dia menghela nafas lalu berbalik menghadap tetua hoshi yang sedang menunduk memberi hormat.
“Kau Tidak perlu seperti itu. Sekarang semuanya sudah berlalu, aku hanya orang biasa tanpa status kebangsawanan.”
Mendengar itu, tetua Hoshi mengangkat kepalanya, lalu berkata, “walaupun anda sekarang orang biasa, bagiku anda tetap orang yang harus aku hormati.”
Dira tersenyum lembut, kemudian berbalik menatap hamparan kota. “berdirilah.”
Hoshi ragu-ragu berdiri.
“Terima kasih telah mengkhawatirkan anakku. Aku juga sebelum sudah menyampaikan keadaannya Kepada aoba. Kau tidak perlu menghukumnya. Sekarang aku memintamu untuk menjaga anakku dengan baik. Sebelum aku kembali, jaga dia baik-baik dan pastikan latihannya berjalan baik, tanpa hambatan. Serta kau tidak perlu memberontak, kau hanya perlu diam dan bergerak jika itu di perlukan.”
Dira menarik nafas, kemudian melanjutkan, “suatu saat nanti aku pasti akan merebut kembali kota ini dan mengembalikan keadaannya seperti sedia kala.”
“Aku akan selalu menunggu anda.”
...****...
“nak, kau berasal dari mana?” tanya istri andros memulai pembicaraan setelah meminum beberapa kali tehnya.
Simo yang mendengar itu, ragu-ragu untuk mengatakannya, Tapi setelah melihat wajah istri Andros yang tidak ada niat jahat sedikit pun membuatnya mengatakan semua hal yang dia alami, mulai dari mengapa dia tiba di sini, bagaimana, siap dan apa.
Istri Andros dan Andros menyimak semua hal yang simo katakan, tanpa ingin kehilangan apa pun itu.
“Jadi begitu, ah sudah lama desa kami tidak kedatangan tamu dari jauh.”
“keinginanku untuk mengundangmu kesini untuk menanyakan semua hal itu, tapi sebelum pergi bisakah aku memeriksa pergelangan tanganmu?”
Simo sedikit terkejut sekaligus bingung dengan permintaan itu. Setahunya hanya orang sakit saja yang di periksa seperti itu. Oleh karena itu dengan wajah yang bingung dia hendak menjawab, tapi dia kalah beberapa detik dengan istri Andros.
“Ah, aku tidak akan melakukan hal-hal aneh, lagi pula kau pasti akan menyadari jika ada sesuatu yang aneh yang aku lakukan, bukan?” Tambah istri Andros, kemudian meminum tehnya lagi.
Apa yang dikatakannya ada benarnya. Jika dia berniat jahat, Pasti simo akan merasakan hal aneh dan dapat mencegahnya. Apalagi Kaisar pedang juga tidak mengatakan apa pun, dia seperti ingin menyerahkan semuanya kepada simo.
Terlebih lagi, simo Memiliki kekuatan, jelas itu akan membuat istri Andros lebih waspada dan tidak akan meminta hal itu.
Simo memandang namila, mengisyaratkan untuk menanyakan pendapatnya. Gadis itu menggeleng pelan seraya memegang tangan simo. Jelas sekali dia takut terjadi apa-apa kepada simo dan tidak ingin kejadian buruk terulang lagi.
Simo lalu memandang istri andros, kemudian mengangguk.
Mendengar itu, namila terkejut dan memegang tangan simo lebih erat.
“tenang saja, aku akan baik-baik saja” kata simo menenangkan gadis di sampingnya.
Namila mengangguk ragu.
“bisakah kau kemari?” tanya istri andros.
__ADS_1
Simo kemudian menghadap kepadanya.
“istriku apa yang akan kau lakukan?” Tanya Andros ragu-ragu. Dia berpikir beberapa menit untuk mengeluarkan Pertanyaan itu. Selain takut istrinya marah, dia juga takut hal buruk terjadi kepada simo, dan untuk mencegah hal itu dia harus menanyakannya.
“Aku hanya memeriksanya sebentar.” Setelah mengatakan itu istri andros menyentuh pergelangan simo, kemudian memejamkan matanya.
Beberapa detik, dia membuka matanya dan mendapatkan dirinya di tanah tandus dengan di seekor naga besar tengah melingkar di langit.
Naga itu memandang tajam ke arah istri Andros, tetapi itu tidak berpengaruh dengannya.
“Sudah ku duga ternyata ada kekuatan tersembunyi di dalam tubuh anak ini.” Gumam istri Andros.
Naga itu langsung menerjang istri Andros. Namun sebelum dia mencapainya beberapa rantai besar langsung mengurung naga itu. Naga itu ingin mengeluarkan api panas, tapi lagi-lagi rantai berhasil mengikat mulutnya.
Naga itu menggeliat- geliat sebelum akhirnya menyerah.
[Apa yang kau inginkan?] Tanya naga itu dengan kasar dan nada marah.
“tidak ada, aku hanya tidak menyangka energi sekuat ini bersemayam di tumbuh anak ini.”
[Jika tidak ada pergilah. Aku hanya ingin tenang, tapa gangguan sedikit pun.]
“Kenapa secepat....” istri Andros tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena dia kembali ke alam nyata, tanpa dia kehendaki.
Setelah melihat situasi di depannya, ternyata namila menarik simo dengan paksa.
“Ada apa dengannya?” tanya istri andros kebingungan dengan namila kepada Andros.
“kau membuat simo seperti tidak sadar diri.”
“Ah! Bagaimana mana bisa?”
Andros menggelengkan kepalanya pelan.
“hemm, menarik."
...****...
“Paman apakah masih jauh?” tanya simo Kepada andros seraya memandang lautan seperti tidak ada ujung.
“Tidak, hanya beberapa kilo meter saja.” Jawab andros yang menjadi nakhoda kapal.
Mereka sekarang akan pergi ke tempat biasanya para siren terlihat.
Sebelum pergi, simo memerintahkan kepada ayu dan Andros untuk membuat penutup telinga yang akan di gunakan saat hendak tiba di tempat lokasi. Andros ingin bertanya, tapi ayu dengan cepat menariknya seraya berkat, “ paman, aku akan menjelaskannya nanti, tapi paman harus mengikuti dulu, nanti keburu larut malam.”
Gadis itu, kemudian tersenyum lalu pergi. Walaupun Andros enggan, dia tetap melakukannya dan percaya itu untuk keperluannya yang sangat penting
Saat pagi hari, barulah Andros tahu kegunaannya untuk merendam suara petikan arpa yang masuk jika ada Siren yang muncul.
__ADS_1
Tujuan mereka ke laut kali ini adalah untuk memastikan dan memeriksa tempat persembunyian para siren. Selain itu, simo juga ingin bertarung melawan siren.
Sebenarnya, jika tidak terlalu banyak, simo ingin menyelesaikannya dan cepat pergi, karena ujian akhir tahun sudah dekat dan Klarika juga memberikan waktu tambahan 2 hari.
Masih ada 2 hari lagi untuk simo berlatih di pulau sijiriah. Walaupun itu terkesan mustahil tiba di akademi sebelum ujian di mulai, simo tetap melakukannya. Di dalam hatinya masih ada harapan untuk kembali dengan cepat. Apalagi dia masih memiliki kaisar pedang.
“Sejuk sekali ya, angin di pantai ini. Andai saja aku tinggal di pinggir pantai, pasti akan sangat menyenangkan.” Gumam namila seraya merentangkan kedua tangannya dan menutup mata, membiarkan hempasan angin menerpa wajah dan rambutnya yang indah.
Namila berada di geladak paling depan.
“Jika ada waktu, lain kali kesini lagi, aku pasti akan menyambutmu dengan baik dan akan memberikan pengalaman terindah yang tidak pernah kau rasakan.” Ucap ayu seraya mendekati namila.
“iya, mungkin aku akan kembali.”
“Apakah kau senang ada di sini?”
“emm, bagaimana ya? Mungkin setengah-setengah.”
“Mengapa?”
“karena waktuku tidak lama.” Ujar namila tersenyum, kemudian tertawa dan itulah tawa pertama kalinya saat bersamaan orang lain.
“Baiklah, sepertinya aku harus melayanimu dengan baik.” Ucap ayu menggoda.
Sementara itu, simo lagi-lagi bertanya.
“Lagi 2 km saja.” Jawab Andros.
Mendengar itu, simo terkejut dan heran. Bagaimana bisa hanya beberapa detik saja sudah hampir sedekat itu, tapi tidak ada waktu untuk memikirkannya.
Simo langsung masuk ke dalam, mengambil penyumbat telinga dan membagikan Kepada semuanya.
Walaupun itu terasa agak aneh di telinga, mereka harus menggunakannya. Apalagi itu akan menyelamatkan hidup mereka.
Tidak beberapa lama seperti ada angin kencang yang bertiup, awan-awan hitam menumpuk banyak di langit dan menyembur buih-buih air yang tiada jumlah, membuat simo dan rekan-rekannya masuk ke dalam.
Ombak menjadi ganas, membuat kapal terombang-ambing seperti ingin tenggelam.
Namila yang tidak terbiasa dengan ombak seperti itu, membuatnya mengeluarkan isi perutnya beberapa kali hingga akhir tidur di pangkuan simo yang seraya menyembuhkannya. Wajahnya terlihat pucat setelah di guncang beberapa kali.
“paman kenapa bisa mendadak hujan?” tanya simo. Baginya aneh tiba-tiba saja hujan deras seperti badai besar.
Jika saja mereka tidak menggunakan kapal yang besar mungkin saja mereka sudah tenggelam.
“Aku juga tidak tahu... Mengingat ini membuatku teringat dengan kenangan masa lalu.” Jawab Andros seraya mengingat kenangan masa lalu yang pahit.
...****...
jika bacaan kurang nyaman bisa komentar ya, biar author kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1