
Tepat satu meter simo dari Azka, dengan tersenyum, Azka langsung menembakkan bola api ungu di tangannya. Meski bola itu seukuran bola sepak bola, udara di sekitar meledak seperti di celup oleh sesuatu yang besar. Kecepatannya sangat cepat mengarah simo. Salju-salju yang ada ikut menjadi serpihan-serpihan.
Namun, bukan serpihan-serpihan es biasa, tapi berwarna ungu kehitaman.
Simo dengan ekspresi tidak takut sedikit pun tetap mengarah ke tempat Azka. Dia bahkan mempersiapkan pedangnya untuk membelah bola tersebut.
Namun, belum sempat mengayunkannya, bola itu meledak menjadi pusaran. Lalu di area sekitarnya hancur lebur seperti di jatuhkan bom atom. Gema ledakannya terdengar sangat jauh dam keras.
Di luar area ledakan, Azka muncul dari butiran-butiran salju. Senyuman kemenangan terlihat di wajahnya. Meski simo jauh dari layak menjadi lawannya, dengan kekuatan aneh seperti itu dia layak di lawan olehnya.
“satu beres.”
Azka menghilang, lalu dengan cepat muncul di depan anulika yang masih tidak sadarkan diri, tapi nafasnya sudah kembali normal.
Dengan senyum jahat di wajahnya, Azka mengarahkan telapak tangan. Butiran-butiran es hijau berkumpul membentuk jarum-jarum hijau panjang. Jumlahnya mungkin 50. Berputar-putar di telapak tangan Azka.
“Kakak, sekarang pergilah ke neraka!”
Boooom!!!
Belum sampai jarum itu bergerak, simo muncul mendadak dan memukuli perut Azka dengan keras, membuatnya terpental beberapa meter sebelum akhirnya menabrak tebing dengan keras.
Nafas simo sangat tidak beraturan. Dia bahkan sekarang bernafas melalui mulut. Kedua matanya bercahaya merah seperti monster.
Tangan kanan sudah hancur, dan di gantikan dengan tangan dari aura hitam peka dengan jari-jari yang panjang. Pakaiannya kini sudah robek dan kumal.
Simo meraung lalu melesat ke arah Azka.
Bommm, kerak boggh!!!!
Dengan pukulannya, tebing salju terbuat dari batu tersebut hancur berkeping-keping. Simo meraung lalu memandang Azka yang melayang di udara.
Dengan kedua mata yang di penuhi kemarahan, Azka berkata, “kau memang pengacau!”
Simo tidak mendengarkannya. Dia melompat ke arah Azka.
“Baik. Baik. Aku harap kau bisa mengalahkan ini!”
__ADS_1
Azka mengangkat tangannya. Perlahan-lahan bola merah dengan keunguan terbentuk, semakin membesar, membesar dan akhirnya terbentuk bola api raksasa yang sangat besar, membuat salju-salju di sekitar meleleh.
Baju yang simo kenakan perlahan-lahan terbakar. Kulitnya juga seperti itu.
“Monster! Pergilah ke neraka!”
Booooommmmm!!!!!!
Ledakan yang sangat besar bergema, membuat hancur lebur di sekitar. Lebih dari satu kilo meter dari tempat Azka berada.
Azka tertawa, lalu tersenyum menyaksikannya. Meski harus mengeluarkan energi yang besar, setidaknya simo akan mati tanpa sisa sedikit pun.
Anulika mungkin juga bernasib sama dengannya.
Namun setelah beberapa saat, suara terdengar dari belakang Azka, membuatnya terkejut, dan kebahagiaan harus sirna.
“Kakak!”
“kau terlalu jahat! Aku harus membunuhmu hari ini!”
Anulika muncul dengan dewi tuju warna di kana dan dewi es di kirinya.
Anulika tidak menanggapinya, dia memilih memejamkan mata dan menyatukan kedua telapak tangannya. Seketika kedua matanya terbuka lebar. “meski hari ini aku mati, aku pastikan akan membunuhmu!”
Keputusan anulika sudah bulat. Namun di dalam hatinya, dia ingin sekali memeluk adiknya. Membawanya menari-nari di hamparan bunga dan Savana yang indah. Di cerahkan oleh sang surya. Dan terakhir, memberinya sebuah kue dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetaran, anulika menggerakkan salah satu telapak tangannya ke depan. Bersama dengan itu, dewi tuju warna dan dewi es bergerak menyerang Azka dari dua sisi.
Azka lalu mengeluarkan pedang api dan air. Dia lalu melayani dua dewi es tersebut.
“Maafkan kakak.” Lirih Anulika. Dia tidak tega melihat adiknya seperti itu. Tapi demi keselamatan orang banyak dia harus melakukannya. Anulika tahu, jika dia akan menjadi abadi, maka apa pun kehendak kaisar Galen akan terpenuhi.
Tentu saja, itu adalah kejahatan dan tirani yang kejam.
Sebelumnya, meski dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya akan merespon apa pun yang ada di sekitarnya dan menyerap informasi di sekelilingnya sehingga apa pun yang terjadi dia akan mengetahuinya.
Betapa terkejutnya, saat dia menyadari Azka sudah menjadi bidak setia kaisar dan ingin membunuhnya. Di tambah dia sudah memiliki kekuatan yang sangat kuat, bahkan lebih kuat darinya.
__ADS_1
Setelah bertarung beberapa saat, Azka akhirnya mendekati anulika. Dewi es dan Dewi tuju warna sudah hancur. Meski anulika kini setara dengan tingkat alam, bagaimana pun juga dia memiliki satu elemen, dan juga tidak memiliki kekuatan aneh seperti simo.
Azka Melayang, dan dengan lembut mendarat di depan anulika. Senyuman jahat terlihat di wajahnya. “kakakku, adakah pesan terakhir yang ingin kau katakan?”
Mendengar itu, tentu saja anulika menjadi marah. Namun, dia tentu tidak bisa meluapkannya. Dan bagaimana pun juga di depannya adalah adiknya sendiri, seorang yang harus dia sadarkan atau tidak bisa harus di bunuh.
“Apa dengan seperti ini kau akan mendapatkan kebahagiaan?” anulika mencoba membuat Azka tersadar. Baru beberapa saat dia sudah membulatkan keputusan, tetapi melihat wajah adiknya yang dia rindukan, tiba-tiba dia berubah keputusan.
“tentu saja. Setiap hari aku selalu disayang oleh Kaisar, bahkan melebihi ibu, ayah, dan kakak juga. Awalnya aku duga akan menderita setelah di culik, tapi setelah beberapa hari aku menjadi lebih tenang. Di awal-awal aku sangat merindukan kakak dan sangat ingin bertemu kakak. Akan tetapi ketika itu terjadi, ternyata kakak sudah berubah, Kakak datang dan ingin membunuhku. Kemudian beberapa hari setelahnya, aku mendapatkan kabar, kakak telah melakukan berbagai kejahatan.”
Anulika ingin menyanggah, tetapi Azka melanjutkan.
“aku tahu, semua itu salah setelah kakak datang ingin menyelamatkanku. Tapi itu sudah terlambat, aku sudah terlalu setia dengan kaisar. Aku tidak mau lagi bersamamu! Hari ini hanya ada aku yang mati atau kakak.”
Di tangan Azka muncul pusaran air, kemudian membentuk tombak air. Dengan cepat dia mengarahkan kepada Anulika. “kakak, apa kakak sudah siap?”
Mendengar itu, Anulika menghela nafas panjang. Tidak ada gunanya menyadarkan Azka, dia sudah memilih pilihannya sendiri. Meskipun itu salah, dia sudah tidak mempedulikannya lagi. Anulika mengangguk.
Setelah dewi es dan Dewi tuju warna hancur, hanya satu yang bisa Anulika lakukan yaitu mengorbankan jiwanya untuk membunuh Azka. Teknik ini adalah teknik meledakkan diri dan memiliki daya ledak yang sangat tinggi setara dengan ledakan kekuatan api ungu tadi, yang menciptakan kawah besar di bawahnya.
“baiklah. Ini adalah pertarungan terakhir. Semoga saja kau tidak akan menyesal.” Anulika memejamkan kedua matanya ragu-ragu.
“Aku tidak akan menyesal.” Azka melesat sambil mengarahkan tombak ke depan.
Tanpa perlawanan, tombak itu menusuk dada anulika. Dia tetap memejamkan matanya, meski itu sangat sakit.
“oh, apakah kak akan mati begitu saja? Baiklah aku akan mengabulkannya.” Azka mendorong tombaknya, membuat anulika lebih ke sakitan.
“Sekarang saatnya!” tiba-tiba anulika membuka matanya dan memeluk Azka dengan erat.
“Kakak harap kita bisa bertemu lagi.” Air mata tidak bisa lagi di bendung, anulika menangis di bahu Azka.
Azka bisa merasakan kehangatan kakaknya itu lagi, tapi dia sudah tidak mempedulikannya lagi.
Perlahan-lahan muncul cahaya putih dari tubuh Anulika. Cahaya itu sangat putih dan terang, membuat siapapun tidak akan bisa melihat apa yang terjadi.
Kemudian ledakan yang sangat keras bergema di sana. Asap mengepul seperti jamur ke atas langit.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian terbentuklah dua kawah yang sangat besar seperti tambang terbesar di dunia. Di salah satunya di aliri air