
Waktu pun berjalan sangat cepat dan terus berlalu. Sudah satu bulan sejak pencarian simo dan Hoshi mengenai namila, namun tidak membuahkan hasil. Meski pun mereka tahu mungkin saja namila sudah mati, mereka tidak mempercayainya dan terus melakukan pencarian.
Hoshi yang mengetahui itu, tidak bisa melakukan apa-apa. Dia menduga namila memang mempunyai takdir seperti itu dan memang harus berpisah dengannya. Meski pun mereka bukan satu darah mereka tetap cucu dan kakek. Hoshi tetap merawatnya dengan penuh semangat.
Dia menemukan Namila di pinggir sungai saat bulan bersinar terang di langit. Hoshi tanpa sengaja pergi ke pinggir sungai untuk membasuh mukanya. Dia terkejut ketika mendengar suara tangisan bayi. Menoleh. Seorang bayi terhanyut di sungai. Bergoyang-goyang karena ombak sungai.
Hoshi dengan cepat menggapainya dan melihat seorang bayi cantik tersenyum dan mengerak- gerakan tangannya. Bayi itu tertawa dan tersenyum, memandang Hoshi.
“Kenapa bayi ini bisa ada di sini?” Hoshi mengerutkan keningnya dan mulai memikirkan apa dia membawanya atau tidak.
Sejenak berpikir, dia akhirnya memilih membawa dan merawatnya hingga orang tuanya bertemu.
Namun setelah beberapa hari, dia tidak menemukannya. Berbulan-bulan berlanjut, tidak juga. Karena tidak kunjung- kunjung di temukan, dia akhirnya mengadopsi dan menganggapnya sebagai cucu.
Hoshi menghela nafas. Angin dingin menerpa wajahnya. Dia kini berdiri di depan jendela yang terbuka. Dia ingin menikmati malam ini dan membuang semua hal-hal yang mengganjal di pikirannya. Dia ingin mengikhlaskan kepergian cucunya itu.
Simo yang sangat menyayangi namila, tidak pernah menyerah. Dia terus mencari dan mencari, namun keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Tidak ada petunjuk atau apa pun. Mulai sejak bertemu dengan Hoshi hingga melanjutkan sekolah di akademi, dia terus melakukan pencarian.
Meski pun dia yang keluar sebagai pemenang, dia tidak mempedulikannya. Hatinya hampa.
Klarika yang mengetahui itu mengerti dan mendekatinya.
“ibu tahu kau sedang sedih, tapi berlarut-larut dalam kesedihan itu tidak baik.”
Simo mengangkat wajahnya, dan memperlihatkan wajah kosong dan tidak memiliki unsur kehidupan sedikit pun.
Dia mengangguk. “aku akan berusaha.”
“ibu punya misi untukmu. Ini khusus untukmu, apa kau sanggup?”
“Jika itu menantang, aku sanggup.”
“datanglah ke tempat ini besok. Ibu akan memberikannya.” Klarika memberikan peta.
__ADS_1
Simo mengangguk lalu pergi. Klarika memandangnya beberapa saat lalu mendesah. Sebegitu sedih kah kehilangan seseorang? Dia lalu pergi.
...****************...
Sementara itu, di sebuah ruangan yang mewah dan elegan. Kaisar Galen duduk di singgasana. Lampu yang remang-remang berwarna hijau membuat suasana lebih misterius.
Di depannya sudah ada Nayaka, rani dan dara. Mereka berbaris dan siap menerima perintah.
Setelah beberapa saat mengetuk-ngetuk sisi singgasana, kaisar Galen akhirnya berkata, “kalian bawa anak kecil di rumah keponakanku. Aku ingin mendapatkannya. Terlepas entah menimbulkan kekacauan atau tidak, kalian harus mendapatkannya.”
Yang dikatakan Kaisar tidak lain adalah Safia, dia mendapatkan beberapa informasi mengenainya dari orang yang di kirim untuk menyelidiki gedung tua. Orang itu tidak sengaja melihat gadis itu membunuh 5 orang dengan mudah.
Awalnya, tentu Kaisar Galen tidak percaya, akan tetapi setelah informasi kedua menyusul dan mengatakan anak itu mirip dengan Azka, membuatnya bersemangat dan langsung merancang rencana untuk menculiknya. Bagaimana pun terjadi, Azka harus menjadi miliknya. Gadis itu adalah hasil penelitian yang paling sempurna di antara semuanya.
“baik,” jawab mereka kompak dan memberi hormat lalu pergi.
“Azka kita akan bertemu lagi.” Gumam Kaisar Galen kembali mengetuk-ngetuk sisi singgasana.
...****************...
Katanya, dia suka taman. Suka dengan ayahnya, dan tidak ingin melihat ayahnya menangis dan murung seperti beberapa hari sebelumnya.
Simo yang mendengar berusaha gembira, walaupun hatinya tidak. Dia terus memikirkan di mana kekasihnya. Apakah masih hidup? Atau sudah mati.
Dia berharap, sangat berharap bisa bertemu dengannya lagi. Merasakan lembut kulitnya, melihatnya tertidur dan melihat wajahnya yang khawatir dengannya dan selalu mengatakan ‘jangan terlalu memaksakan diri’ dan terakhir memintanya berjanji.
Kenangan itu selalu berputar-putar di dalam pikiran, hati dan perasaannya.
“jika ayah kenapa-kenapa, aku akan selalu siap untuk melindungi ayah. Aku anak gadis yang kuat, dan selalu melindungi ayah,” kata gadis itu di kamar tidur. Kedua matanya cerah dan bersinar. Mata yang terbebas dari malapetaka dunia.
Simo mengangguk. “ayah percaya, kau bisa melindungi ayah.” Simo mengusap-usap rambut gadis itu.
“ayah! Apa ayah akan tidur di sini?”
__ADS_1
Safia selalu ingin sekali tidur dengan ayahnya, meski itu bukan ayah kandungnya. Sejak pertama kali, ayahnya tidak mau dan selalu menghindar. Kali ini, dia ingin mendengar ucapan ya, paling tidak mengangguk.
Setelah beberapa saat yang mendebarkan, Simo akhirnya mengangguk. Dia juga ingin membuat hatinya nyaman setelah beberapa hari tidak tenang. Dia berharap tidur dengan anaknya membuatnya lebih tenang.
Keesokan harinya, simo pergi ke Bangunan yang di katakan klarika. Dia ingin pergi sendirian, tetapi Safia, anaknya mau ikut dan tidak mau melepaskan simo dengan alasan, dia harus melindungi ayahnya.
Simo ingin menolak, tetapi melihat Safia menggelembungkan pipinya dan cemberut, membuatnya mau tidak mau membolehkannya.
“Hore! Aku sayang ayah!” seru gadis tersebut dan memeluk ayahnya.
“Aku tidak akan nakal.”
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di gedung yang tinggi dan mewah. Mereka langsung masuk. Tiba di dalam ada seorang gadis memakai kaca mata memberi salam dan mengatakan apa yang di inginkan simo.
Gadis itu sedikit melirik Safia di gendongan simo. Dia tertarik dengan anak kecil.
Suara keributan orang-orang lalu lalang terdengar di segala arah di ruangan tersebut. Di tambah ruangan tersebut sangat besar, jadi bisa di bilang bangunan ini penuh dengan orang-orang. Selain itu ruangannya sangat mewah dan indah.
Bangunan ini adalah tempat orang-orang menerima misi. Biasanya, Hanya orang-orang dari akademi yang sudah tamat bisa masuk dan menerima misi. Simo yang di panggil ke sini pasti ada hubungannya dengan misi.
“aku ingin bertemu Bu Klarika.”
“Apa anda simo?”
Simo mengangguk.
“Kemari, ikut aku.”
Wanita itu membawa simo berjalan ke sebuah ruangan. Di sana ada meja panjang dengan beberapa Kursi mengelilinginya. Simo di Persilahkan duduk di sana. Keributan di luar seketika menghilang begitu saja, sepertinya ruangan ini di desain untuk senyap dan tenang. Gadis itu lalu pergi dengan alasan mencari klarika.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya klarika datang dengan seorang gadis cantik di sampingnya. Dia memakai gaun hijau. Kedua rambutnya di ikat pita merah. Di kedua telinganya ada liontin yang indah dan berbunyi ketika dia berjalan.
Gadis ini berumur sekitar 7 tahun dan memiliki rupa yang cantik dan enak di pandang. Jika dia tersenyum, pasti sangat indah. Namun sayang sekali kali ini dia terlihat murung.
__ADS_1