
“apa ketua yakin simo adalah pangeran?” tanya aoba terkejut setelah mengetahui apa yang menjadi maksud hoshi datang ke tempatnya.
Meski aoba tidak pernah mengetahui Pasti siapa orang tua simo, dia tidak berharap identitas begitu penting apalagi itu adalah seorang pangeran.
Awal pertemuannya dengan simo, dia mengira simo adalah seorang anak yang di tinggalkan oleh orang tuanya karena tidak mau menerimanya atau tepat anak tidak di harapkan.
Hoshi mengangguk dengan yakin. “Aku yakin dia orangnya. Meski aku tidak tahu apakah dia adalah anak ratu atau tidak, yang pasti darah keluarga kerajaan mengalir di tubuhnya. Kau harus menjaganya, mungkin saja kelak dia akan memerintah kekaisaran ini dan mengembalikan semua hak yang telah di rampas.”
Aoba dan Hoshi sekarang berada di ruangan tamu di rumah aoba. Mereka duduk saling berhadapan dengan meja sebagai penghalang mereka dan tentu saja seperti bisa Hoshi membawa secangkir teh hangat.
“apa maksud anda?” aoba mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhir Hoshi mengenai hak-hak yang di rampas.
“Cepat atau lambat kau akan mengetahuinya. Oh, iya, kau tidak perlu memanggilku ketua, panggil saja aku Hoshi.”
Aoba mengangguk. “kenapa berubah?”
“rasanya nama itu terlalu formal untukku sekarang. Baiklah aku pergi dulu.”
Aoba ingin bertanya lagi, tapi saat hendak mengucapkannya, hoshi sudah menghilang dari hadapannya. Melihat itu, haoba hanya bisa menarik nafas panjang lalu menutup jendelanya.
Sementara itu, simo dan namila seperti bisa berlatih di malam hari. Latihan yang mereka lakukan tidak lain pengendalian sihir dan latihan bertarung. Jika sebelumnya tidak ada yang menang maka sekarang namila keluar menjadi pemenang.
Tidak terasa sudah larut malam, Mereka memutuskan untuk menyelesaikannya. Saat namila hendak pergi dengan cepat simo menghentikannya dan mengatakan terima kasih atas bantuan namila di akademi.
Namila tersenyum lembut, lalu berkata, “tidak masalah, asalkan kau ingat dan ngomong-ngomong apa kau sudah beberapa kali berutang denganku?”
Mendengar itu, simo menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Sudah aku duga, kau tidak ingat sedikit pun. Baiklah aku terima rasa terima kasihmu, tapi utangmu tetap ya dan kau juga harus menjaga keselamatan dirimu.” Setelah mengatakan itu namila menghilang.
...****...
Di teras rumah yang begitu megah terlihat seorang pria gemuk sedang mondar-mandir seperti menunggu seseorang.
Raut wajahnya serius dan sesekali melihat jam di dinding.
__ADS_1
Tidak beberapa lama muncul seorang wanita cantik yang memakai gaun merah yang tidak lain adalah rani. Saat rani muncul pria itu mendekatinya. Ekspresi serius berubah menjadi penuh kegembiraan seperti anak kecil yang mendapat permen dari orang tuanya.
“Apa kau sudah siap?” tanya rani dengan nada menggoda.
“iya nona, aku sudah siap.”
“ini.” Rani melempar sekantong koin penuh yang langsung membuat pria itu tersenyum bahagia.
“sekarang kau lakukan tugasmu.”
Pria itu mengangguk, kemudian berlari ke dalam rumah.
Pria gemuk itu adalah jeremy, ayah angkat kenzo dan ivander. Mereka bertemu secara tidak sengaja di tengah hutan. Saat itu jeremy berlari di kejar kawanan bandit yang ingin merampok dan membunuhnya.
Ivander dan kenzo segera menolongnya dengan cepat. Tidak sampai satu menit semua Kawan bandit itu tergeletak di tanah dengan darah mengalir deras dari tubuhnya. Jeremy terpukau oleh kehebatan kenzo dan ivander, oleh karena itu dia memberikannya tinggal di rumahnya layaknya sebagai seorang anak.
Jeremy bersikap baik kepada kenzo dan ivander, hari-hari yang mereka alami tidak pernah kesusahan dan kelaparan saat waktu pelarian dulu.
Oleh karena itulah Kenzo dan ivander berjanji akan selalu menolongnya, meski harus mengorbankan nyawanya mereka sekalipun.
Maka di susunlah sebuah rencana.
...****...
Di dalam rumah kenzo dan ivander sedang beristirahat, tidak beberapa lama Jeremy datang dengan wajah takut dan berteriak memanggil mereka berdua.
“Ada apa ayah?” tanya ivander dan Kenzo dengan khawatir.
Jeremy menjelaskan dirinya telah di rampok oleh sekawan bandit. uang yang di bawa olehnya sangat banyak. Walau begitu dirinya berhasil melarikan diri dengan susah payah dan tentu saja apa yang di katakannya semuanya bohong.
“Berengsek! Beraninya mereka merampok ayah.” Umpat kenzo seraya mengepalkan tangannya dengan erat.
“Kak, kita harus mencari perhitungan dengan mereka.”
Ivander mengangguk, kemudian menanyakan dimana ayahnya di rampok. Jeremy segera mengatakan bahwa dia di rampok di tengah hutan.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka jika masih ada para bandit di sana. Kenzo ayo kita beri mereka pelajaran.” Geram ivander.
Kenzo mengangguk.
Setelah pembicaraan yang singkat itu, kakak beradik itu bergegas pergi. Sebelum pergi Jeremy ingin melarangnya, tetapi Kakak beradik itu sudah membulatkan tekadnya untuk memberi pelajaran para bandit itu.
Ekspresi Jeremy khawatir, tapi di dalam hatinya dia berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sebelum pergi tidak lupa jeremy meminta mereka berhati-hati.
...****...
Saat sampai di hutan, ivamder merajut alisnya. Dia heran kenapa bisa tidak ada jejak kaki yang berlari, padahal ayahnya berkata lebih dari 10 orang yang mengejarnya. Dan 10 orang itu memiliki tubuh yang gagah berotot, jadi mustahil tidak ada jejak sedikit pun.
Namun saat ivander dan Kenzo tiba di tempat yang di katakan ayahnya, satu pun tidak ada jejak kaki.
“kak mungkin ayah salah mengatakan tempatnya?”
Mendengar itu, ivander menggelengkan kepalanya pelan. Mustahil jika ayahnya berbohong dan untuk apa ayahnya berbohong? Seharusnya ayahnya akan berusaha mengingat dan mengatakan nama tempat yang sebenarnya. Apalagi jika ayahnya di kejar dan di rampok oleh kawanan bandit itu, akan ada keinginan balas dendam.
Ivander dan Kenzo memutuskan untuk masuk ke dalam hutan, sebab mungkin saja arah berlari ayahnya keluar jalur di dalam hutan. Sepanjang menelusuri hutan, ivander lagi-lagi keheranan, sebab jalan yang mereka telusuri sudah di penuhi semak-semak yang sebagai tanda jika jalan itu sudah lama tidak di lewati.
“jangan-jangan ayah....” belum menyelesaikan ucapannya, seorang wanita muda berucap membuat ivander dan kenzo seketika mempersiapkan senjata mereka untuk menjaga diri. Siapa tahu jika wanita itu yang di maksud oleh ayahnya.
Aura yang di pancarkan wanita itu sangat kuat, seingat ivander hanya tingkat alam tahap lima saja yang memiliki aura sekuat itu.
“akhirnya kalian datang juga.” Rani melayang Beberapa meter dari tanah.
“siapa kau?!” ujar kenzo seraya mengarahkan kapaknya.
Aku adalah malaikat maut yang akan mengantarkan kalian pergi ke neraka.” Jawab rani dengan tenang dan dengan nada menggodanya.
“Kakak?” kenzo berbalik bertanya kepada kakaknya untuk mendapatkan persetujuannya untuk melawan atau lebih baik mundur saja.
Namun ivander tidak menjawab pertanyaan Kenzo sebaliknya dia memerintahkan untuk menggunakan teknik terkuat yang mereka miliki.
...****...
__ADS_1
mohon maaf jika ada yang salah