
Setelah beberapa detik, akhirnya Namila membuka matanya. Dia menghela nafas, lalu berkata, “kondisi tubuhmu sudah baik . Hanya saja kau harus beristirahat untuk memulihkan tenagamu.”
Simo mengangguk. Tidak ada rasa penasaran untuk bertanya beberapa lama dia pingsan, apa yang terjadi selama dia Pingsan, ada kejadian penting atau tidak, juga bagaimana tentang siren, lalu mengapa dia bisa berada di sini. karena dia sudah menduga kesadarannya akan menghilang ketika berhadapan dengan jendral raksasa itu. Dan dia memastikan raksasa itu tidak akan bisa menandinginya.
Meski itu aneh, simo bisa menerimanya. Walau kadang-kadang mengganggu, setidaknya itu akan berguna di saat seperti itu.
Ketika simo sadar, dia kira akan mendapatkan luka yang fatal setelah bertarung dengan jendral raksasa itu, tapi ternyata dia baik-baik saja dan menderita kelelahan saja. Aneh! Tapi itu adalah sesuatu yang harus disyukurinya.
“kau sudah pingsan selama dua hari.” Tiba-tiba nada Namila sedikit melemah. “Meski, ini tidak sopan aku harus memberitahumu. Latihan di pulau sijiriah sudah berakhir. Mungkin saja besok akan menjadi hari pertama ujian, jadi apakah kita akan pergi?”
Simo diam sejenak. Berpikir untuk tiba sebelum ujian, rasanya mustahil, mengingat simo berada cukup jauh dengan pusat kekaisaran. Bahkan untuk pulau sijiriah lebih jauh lagi, maka simo menjawab, “ya, tapi kita tidak akan mengikuti ujian.”
“kenapa begitu? Bukankah ujian itu penting. Meski kita berada cukup jauh, kita bisa pergi melalui laut. Kau tahu, kan, aku seorang pengendali air. Dengan air yang melimpah, aku tidak akan mudah kelelahan.”
Apa yang di katakan namila ada benarnya, namun, yang menjadi masalahnya, di manakah mereka sekarang berada?
“Apa kau mempunyai peta?” tanya simo.
Dengan pelan, namila menggelengkan kepalanya. “tidak, tapi aku yakin, kita hanya perlu sesering mungkin bertanya.”
“Apa kau sudah menanyakan orang-orang?”
“sudah. Tidak ada dari mereka yang memiliki peta ataupun mengetahui di mana kota gunung salju. Sepertinya mereka kurang mengetahui dunia luar.”
“Baiklah, sudah di putuskan, kita akan pergi dan mengadakan ujian susulan.”
Mendengar itu, ekspresi Namila menjadi mendung. Walau begitu, siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikan. Bahkan itu tidak mengurangi sedikit pun kecantikannya. Sepertinya dia sangat ingin mengikuti ujian.
Melihat itu, simo berkata, “tenang saja, kita bisa mengikutinya tahun depan.”
Namila mengangguk pelan, lalu berkata, “tapi... kita masih bisa, kan, berusaha untuk tiba di akademi tepat waktu?”
Simo mengangguk.
Saat simo hendak berdiri isla masuk ke dalam. Tidak ada sayap lagi di punggungnya yang membuat Namila heran.
melihat ekspresi heran namila, isla tidak mempedulikannya. “Jika kalian ingin pergi dengan cepat, aku tahu caranya.” Kata Isla.
Seketika kedua mata namila bercahaya penuh harapan. Walaupun isla mendengar percakapan mereka, itu tidak penting. Yang terpenting bagi namila adalah pergi secepat mungkin dari sini. “Bagaimana caranya?”
“Kalian bisa mengikutiku.”
Tanpa berpikir, Namila langsung menyetujuinya, sedangkan untuk simo, dia hanya mengikutinya saja.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan para penduduk yang telah berdamai dengan para siren yang telah memberikan kompensasi dengan membatu para penduduk mencari ikan, Namila dan simo hendak pergi, tapi tiba-tiba saja ayu dan Andros menghentikan mereka, lalu menyerahkan sebuah bungkusan.
“Apa ini?” Tanya namila.
“ini Adalah kenang-kenangan yang harus kau simpan. Kau juga senang bukan dengan pantai, kapan-kapan kemari lagi, rumahku akan senang tiasa terbuka lebar untukmu.” Tutur ayu.
Namila memandang sejenak bungkusan itu, lalu mengangguk.
“anak muda, kau harus menjadi lebih kuat lagi.” Di sebelah ayu, Andros berucap seraya memegang bahu simo.
Walaupun simo tidak tahu mengapa Andros berkata seperti itu, dia mengangguk dan lagi pula dia juga ingin menjadi kuat untuk membalaskan dendam orang tuanya.
Setelah perpisahan itu, isla membawa mereka ke atas bukit. Bukit itu di penuhi Padang rumput dengan beberapa pohon-pohon di sekitarnya. Jika anda berdiri di sana, maka Anda akan melihat keindahan pantai dan desa Padang pasir.
Namila diam sejenak, lalu melanjutkan perjalanan.
Isla membawa mereka ke depan pohon yang begitu besar. Saat tiba, Isla melangkah maju lalu mengibaskan tangannya. Sebuah pusaran hitam terbentuk di badan pohon tersebut.
Baik namila maupun simo terkejut melihatnya dan seolah bertanya, siapa dia sebenarnya?
Walaupun namila tahu Isla adalah seorang siren, dia tidak menyangka bisa memiliki kekuatan seperti ini.
“tunggu apalagi, pulanglah.” Kata Isla
Saat beberapa meter dari pusaran itu, Isla memberikan sebuah gulungan.
“apa ini bibi?” tanya namila.
Isla tersenyum, lalu berkata, “kau akan mengetahuinya nanti.
karena tidak ada lagi yang harus di bicarakan, simo dan namila akhirnya pergi. Setelah simo dan Namila masuk ke dalam, pusaran itu akhirnya menghilang.
...****...
Akar-akar beracun bergerak cepat. Raja dengan cepat memejamkan matanya seraya berharap putrinya senang setelah membunuhnya.
Suara teriakan irina bergema seraya berusaha melepaskan dirinya, tapi usahanya sisa-sisa.
Beberapa prajurit memejamkan mata. Walaupun seorang prajurit di desain untuk melihat kematian, bagaimana bisa mereka melihat pemimpinnya mati di depan mata mereka?
Saat beberapa cm dari leher raja, tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya muncul dan berusaha menghentikan akar-akar. Dira segera menghentikan akar-akarnya.
“Tuan putri, aku mohon jangan bunuh yang mulia.” Ucap wanita paru baya itu seraya bersimpuh dan memohon.
__ADS_1
Dira memejamkan matanya, lalu menarik nafas panjang dan berkata, “mengapa? Bukanya dia harus mendapatkan hukuman mati.”
“tuan Putri aku tahu seberapa besar penderitamu dan seberapa banyak air mata yang anda keluarkan, tapi coba anda pikirkan, bagaimana tanggapan orang-orang jika mengetahui yang mulia di bunuh oleh anaknya sendiri?”
“kau tidak perlu memohon, aku sudah ikhlas berakhir di tangan anakku sendiri.” Kata raja Kepada wanita itu.
“Tapi yang mulia, jika anda mati di tangan tuan putri, bagaimana tanggapan orang-orang?”
Apa yang dikatakan wanita itu ada benarnya. Jika dira membunuh raja, maka dapat di katakan itu adalah kejahatan dan merupakan main hakim sendiri. Ya, walaupun raja melakukan Kejahatan yang besar, itu belum tentu mendapatkan hukuman mati.
Dira diam sejenak, lalu berkata, “lalu apa yang harus aku lakukan untuk menghukum ayahku ini?”
Meski Dira masih ingin membunuhnya, dia ingin mendapatkan pendapat lainnya
“begini saja, biarkan yang mulia mengakui kejahatannya di pengadilan bagaimana?”
“Tidak, aku tidak setuju.” Jawab dira tegas
Mendengar itu, wanita itu lantas menyarankan untuk menghukum yang mulia sesuka dira, tapi jangan sampai mati.
“Baiklah, aku akan menghukumnya dengan memenjarakan dan menurunkan takhtanya.”
Mendengar ucapan dira, Wanita paruh baya, irina dan beberapa prajurit terkejut.
“Adiku, kau sudah keterlaluan!” ujar irina marah. Bagaimana pun itu adalah cara dira memperlakukan ayahnya dan tentu saja sebagai putrinya, irina berhak marah.
“apakah kau dan ayah tidak keterlaluan kepadaku saat itu?”
Irina terkejut. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Irina telah menyiksa Adiknya sendiri.
“Baik, aku akan menerimanya.” Kata raja.
Irina menoleh dan berkata tidak percaya, “ayah.”
“Baiklah, sudah di putuskan, aku tidak akan membunuhnya, tapi sebagai gantinya, aku akan naik takhta dan memenjarakanmu.”
Setelah mengatakan itu, dira berjalan seraya melepaskan semua prajurit, irina dan raja.
Saat beberapa meter dari tangga, dua pria besar keluar dengan aura kematian yang mencekam. Dua orang itu memakai zirah yang besar. Yang satunya memakai pedang dan satunya lagi memakai palu besar.
Mereka berdua melompat.
“maaf tuan putri, tidak semudah itu untuk menjadi penguasa, kau harus mengalahkan kami.” Kata yang memegang palu seraya meletakan palunya di bahu.
__ADS_1
“sebagai seorang jendral, aku harus menguji atasanku terlebih dahulu. Bukankah begitu tua putri?”