Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 27 diserang


__ADS_3

“Kau tunggu saja dulu. Jika ada gerak-gerik mencurigakan, jangan menyerang, tunggu dan lihatlah.”


“mengapa begitu?” simo bertanya seraya mengerutkan keningnya.


“Jika kau menyerangnya, kemungkinan besar, kau dalam bahaya. Kau tidak mendengar ucapan gadis tadi? Ada seseorang yang berada di tingkat alam tahap sembilan dalam organisasi itu. Meskipun kau sudah memiliki aura pedang dan beberapa teknik, itu tidak bisa kau bandingkan dengan orang itu.”


“guru, jika aku terus mengamatinya saja, bukankah itu rugi? Bagaimana kalau aku masuk mengendap-endap untuk memeriksa gedung itu?”


“Tidak. Itu terlalu berbahaya.”


“Lalu bagaimana?”


Kaisar pedang ingin berkata, tetapi dia dihentikan oleh seorang.


“tenang saja, serahkan ini kepadaku.” Daria datang lalu duduk di samping simo.


“Aku bisa memeriksa gedung itu dengan aman. Meski aku diserang, hal itu tidak akan terlalu berefek denganmu.”


“bukankah kau tidak bisa keluar?”


“tentu saja, tapi dengan sedikit bantuanmu, aku bisa melakukannya.”


“tidak, aku tidak menyetujuinya.” Ucap simo tegas. Dia masih ragu-ragu mempercayai para siren di dalam tubuhnya. Meski para siren ini adalah roh, dia tetap tidak bisa mempercayainya. Dia menduga ini adalah rencananya untuk membebaskan diri.


Mendengar itu Kaisar pedang berkata, “kau tenang saja, aku jamin, dia tidak akan macam-macam denganmu. Walaupun mereka dulu merupakan penjahat, kini mereka tidak lebih hanya boneka yang kau kendalikan. Aku jamin seratus persen, mereka tidak akan berani denganmu.”


Mendengar ini, simo ragu-ragu, entah mengiyakan ataupun menolak. Setelah sejenak berpikir, simo menjawab, “aku akan memikirkannya. Jika tidak ada gerak-gerik mencurigakan sampai 4 jam mendatang, aku akan melakukannya.”


“baiklah, jika itu yang kau inginkan.” Ucap Kaisar pedang, lalu menghela nafas panjang.


Setelah mengatakan itu, perlahan-lahan tubuh simo menghilang, dan kembali ke alam nyata. Saat dia membuka kembali kedua matanya, hari sudah sore.


Simo mengamati gedung di depannya yang masih tidak ada gerak-gerik mencurigakan sedikit pun, Bahkan tidak ada jejak kaki sedikit pun di sana. Hal ini membuat menduga, bahwa tidak ada orang yang datang ataupun keluar.


Simo Kemudian mengamati jendela dan pintu, namun, dia masih tidak menemukan apa pun.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dia melihat seseorang keluar dari gedung itu. Simo dengan cepat bersembunyi dan mengintip.


Orang yang keluar adalah seseorang yang memakai pakaian hitam dengan kain yang menutupi wajahnya. Orang ini gemuk.


Setelah beberapa langkah berjalan keluar, dia menguap dan melentangkan kedua tangannya.


“wuah... Akhirnya aku bisa keluar sejenak.”


Pria itu kemudian berjalan mengambil tongkat di samping pintu. Setelah mengambilnya, kedua matanya menyipit, dan di saat bersamaan, dia melempar tongkat itu, tepat di pohon simo berada.

__ADS_1


Simo dengan cepat bersembunyi di balik pohon seraya bersiap-siap bertindak. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya seketika tidak beraturan. Dia takut ketahuan.


 Meski sekarang dia bersama anulika dan namila, kemungkinan untuk menang sangatlah kecil. Apalagi dia mendengar pemimpin organisasi tersebut sangat kuat.


“Wuah...! Akhirnya aku berhasil mengenainya!” kata pria itu setelah tongkatnya menancap di batang pohon itu dengan erat, dan mengenai jangkrik di sana.


Dia kemudian tersenyum bersemangat, menyebabkan Giginya sedikit terlihat dari balik kain hitam di wajahnya. Dan di saat bersamaan, dia melambaikan tangannya ke depan.


Beberapa tongkat kayu panjang muncul dan melayang. Mereka masing-masing memiliki panjang 1 meter.


Beberapa tongkat itu melesat, mengenai pepohonan. Menusuk batang pohon dengan kuat. Itu berada tidak jauh dari simo bersembunyi.


“Keluarlah! Aku tidak ada waktu mengurus anak kecil sepertimu!” ujar pria itu lalu tersenyum.


Buih-buih keringat mulai mengalir dari pelipis simo. Dia sangat takut ketahuan. Meski di depannya bukan orang yang kuat menurutnya, tapi, jika ada orang lain di dalam, hal itu akan sangat bermasalah.


Meski dia tidak mengetahui tingkat kultivasi orang di depannya, dia menduga orang itu bukan orang kuat, karena jika orang kuat, simo harusnya dapat mengetahuinya dari tekanan kekuatannya.


 Setelah beberapa saat, Simo diam-diam mengintip.


“aku di sini!”


Simo seketika terkejut dan menoleh. Pria itu sudah ada di depannya. Di tangannya terselip 4 batang tongkat kecil, lalu melambaikannya ke arah simo.


Simo dengan cepat menghindar, dia kemudian menarik pedangnya lalu menyerang pria itu.


Setelah beberapa ayunan, pria itu dengan cepat menendang simo, yang membuatnya terpental dan Menabrak salah satu pohon. Seteguk darah segar keluar dari mulutnya. Simo dapat merasakan punggungnya hancur.


Pria itu tidak membiarkan simo menarik nafas, dia melempar beberapa tongkat.


Simo dengan tubuh yang masih terasa perih dan sakit, kemudian berusaha menghindar. Walaupun susah, dia akhirnya bisa menghindarinya, kemudian mengeluarkan energi alam kecil dan aura pedangnya. Dia mengeluarkannya tanpa menahannya sedikit pun.


Simo tahu, lawannya sangat kuat, Meski dia tidak merasa itu, dia sangat yakin lawanya saat ini sangatlah kuat.


Setelah semua kekuatan simo keluar, tekanan kuat terpancar. Dan dalam radius beberapa meter semuanya Hangus.


Pria itu kini melihat simo seperti dewa Kematian. Meski begitu, pria itu tersenyum melihatnya, seolah dia sangat menyukainya.


Simo mengambil ancang-ancang. Menendang tanah, kemudian melesat seperti bola api yang panas.


Melihat ini, pria itu memperlihatkan punggung tangannya. Seketika muncul beberapa batang tongkat panjang sekitar 3 meter dari sela-sela jari-jarinya.


Di tangan satunya, muncul cakram kayu yang bergerigi.


“kau sangat menarik!”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, pria itu dengan cepat melesat.


Bomm!!!


Ledakan terjadi, aura merah darah bertempur dengan aura yang tak terlihat dari pria itu.  Meski simo menyerangnya dengan kekuatan penuh, pria itu tetap tersenyum, seolah dia hanya bermain-main.


Melihat ini, simo mencampur aura pedangnya dengan api birunya. Di udara, kini aura merah kebiruan terpancar dari tubuh dan pedang simo.


Teknik ini merupakan pertama kalinya, dia gunakan. Walau ini akan menguras tenaganya dengan cepat, simo tidak mepedulikannya, baginya sekarang bisa lari adalah sebuah keberuntungan dari musuh di depannya.


Simo Bahkan tidak bisa mengukur seberapa kuat pria gemuk di depannya ini. Dia menduga mungkin musuhnya sekarang adalah salah satu hasil eksperimen organisasi gelap itu.


“Hahaha! Bocah, kau sungguh hebat, bisa menahan seranganku sampai saat ini.” Pria itu berkata senang.


Cakram di tangan satunya, pria itu ayunkan. Saat mengayunkannya, siapa pun akan melihat itu hannyalah ayunan biasa, namun, siapa sangka itu menimbulkan tekanan yang kuat.


Simo mengertakkan giginya, menahan serangan pria itu, bahkan dari mulutnya keluar darah.


Ini adalah pertama kalinya simo merasakan kekuatan semengerikan ini. Jika sebelumnya, dia bisa melawan raksasa Herry karena kekuatan aneh itu, maka kini simo harus berjuang dengan kemampuan dirinya sendiri.


Saat ini simo sangat mengharapkan kekuatan aneh itu datang atau bantuan lainya!


Bomm!!!


Setelah beberapa detik menahan serangan pria itu, akhirnya simo terpental dan berhenti ketika menabrak batang pohon dengan keras.


Kini tulang-tulangnya terasa hancur dan mulutnya kembali mengeluarkan seteguk darah segar.


Musuhnya melompat, lalu tersenyum melihat simo sudah tidak berdaya.


Simo perlahan-lahan bangun, dan dengan tubuhnya yang masih sakit, dia mengusap darah dari bibirnya.


Musuhnya kini sangat kuat! Dia sepenuhnya menggunakan energi alam kecil dan aura pedangnya, hanya untuk menahan beberapa serangan pria gemuk di depannya.


Saat ingin menyerangnya lagi, tiba-tiba namila dan anulika muncul, menghalangi simo.


“maaf, aku terlambat.” Kata anulika.


“Simo!” Namila langsung mendekati simo, dan berusaha membantunya. Ekspresi gadis ini dipenuhi kekewahtiran.


“orang ini terlalu kuat, aku tidak bisa mengalahkannya.” Kata simo lirih.


“aku tahu, oleh karena itulah aku datang. Bertahanlah.” Kata Namila seraya mengalirkan energi penyembuhnya.


Melihat dua gadis datang, pria gemuk itu tersenyum menyeringai. Walaupun dia memakai penutup wajah, siapa pun akan mengetahui hal itu.

__ADS_1


“Apa kalian datang mencari mati


__ADS_2