
Melihat itu, aoba tahu jika mereka terkejut mendengarnya.
Kekaisaran gunung salju adalah salah satu kekaisaran terbesar dan terkuat di negeri ini. Selain kuat kekaisaran itu memiliki kekayaan alam yang melimpah dan semua penduduknya hidup makmur.
Setiap orang yang ingin pindah ke sana harus membayar uang yang banyak untuk perorangannya oleh karena itulah mereka terkejut mendengarnya.
Bukan tanpa alasan kekaisaran gunung salju menetapkan harga yang mahal. Sejak dulu kekaisaran gunung salju memiliki penduduk yang sedikit dan tentu harga untuk menjadi warga di sana sangat murah, akan tetapi setiap tahun jumlah yang ingin menjadi warga semakin banyak dan terus bertambah oleh karena itu demi kemakmuran warganya pemerintah di sana menetapkan harga yang tinggi bagi yang ingin menjadi warga kekaisaran.
Pemerintah di sana menginginkan jika yang mengungsi adalah orang kaya jadi dapat membangun perusahaan di wilayah kekaisaran dan meningkatkan kemakmuran warganya.
“e...tuan apa anda bercanda? Jika begitu anda tidak perlu menghibur kami seperti itu.” tanya kepala desa yang mengira Aoba bercanda.
Semua penduduk mengangguk setuju dengan kepala desa.
“tidak, aku tidak berbohong, jika kalian tidak percaya lihat ini.” Aoba mengambil benda yang di berikan kakek namila dan memperlihatkannya kepada semuanya.
Semua orang memandang dengan tidak percaya terhadap benda yang ada di depan mereka dan ingin bertanya, namun tidak satu pun kata bisa mereka keluarkan karena saking terkejutnya.
“baiklah, kalian bersiaplah, kita akan berangkat besok.” Ucap Aoba seraya meninggalkan semua penduduk yang masih memandang tidak percaya.
Sementara itu simo mengikuti kakeknya. Setelah mendengar kakeknya berkata seperti itu, simo menjadi senang karena dia dapat bertemu orang-orang di kekaisaran.
...****...
Bumi berputar terus membuat matahari yang sudah lelah dari jam kerjanya harus meninggalkan daerah desa terpencil. Bulan yang sudah berada di langit kini sudah bercahaya menggantikan matahari.
Di teras rumah, simo duduk dengan kedua tangannya memegang lipatan kertas yang di berikan Lia.
Dia sendirian, tanpa aoba yang menemaninya.
Aoba sendiri sudah pergi ke gua karena akan pergi ke kekaisaran gunung salju dan meninggalkan simo sendirian.
Simo membuka kertas itu. Seraya membuka dia menerka-nerka apa isinya dan setelah dia buka, kertas itu hanya berisi 3 kata, “kau berhutang kepadaku.” Itulah yang tertulis. Tidak ada apa pun selain itu bahkan nama yang mengirim pun tidak ada.
Melihat itu simo kecewa, dia berharap akan ada surat dari ibu atau ayahnya yang tidak diketahui keberadaannya atau setidaknya yang lainnya yang berkaitan dengan keluarganya.
“huh, sudahlah, mungkin orang itu sangat pemalu dan tidak ingin diketahui namanya.” Simo membuang kertas itu kemudian mengambil barang-barangnya lalu pergi dari sana.
Keesokkan harinya, simo bangun pagi sekali bahkan bulan masih bercahaya terang saat dia keluar menghirup angin pagi yang segar.
Simo berencana untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Lia dan Rina sebelum dia meninggalkan desa terpencil yang menjadi tempat dia tumbuh dan belajar bela diri.
Saat simo hendak melompat, dia melihat dua sayap kupu-kupu yang berwarna biru menuju ke arahnya.
Dia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas.
“rina.” Ucap simo setelah memastikan dua sayap kupu-kupu itu milik Rina.
“Apa yang terjadi?” tanya simo setelah Rina tiba dan mendarat.
Rina tidak menjawab karena dia ingin mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat terbang terlalu cepat dan lama.
“si...mo aku mohon tolong kami!” Ucap Rina dengan lirih dan wajah sedih.
“Apa yang terjadi?”
“Semuanya telah di culik iks...iks...iks..” ucap Rina lalu menangis dengan kedua tangan di wajahnya.
“siapa yang menculiknya dan bagaimana bisa?”
Simo heran, setahunya bukankah hutan peri memiliki bagian-bagian jiwa yang saling terhubung dan jika salah satu bagian hilang pastinya bagian yang lain akan menolong.
“entahlah, yang pasti semua warga telah di culik termasuk Lia dan ratu bahkan semua pasukan penjaga.”
__ADS_1
“rina tenangkan dirimu, aku akan membantumu dan tidak akan membiarkan orang itu menyakiti satu peri pun.”
Mendengar itu Rina mengangguk.
Setelah Rina tenang, dia menjelaskan kepada simo apa yang terjadi, mulai dari bagaimana bisa semuanya di culik dan dari mana dia mengetahui semuanya di culik.
“Itulah yang terjadi. Simo aku mohon tolong kami.” Ucap Rina dengan lirih.
“Tenang saja Rina, aku pasti akan membantu kalian. Sekarang kau tunjukan di mana tempat mereka di culik.”
Rina mengangguk.
Setelah pembicaraan itu mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah gubuk yang berada di hutan.
Mereka memerlukan beberapa jam hingga akhirnya tiba di sana.
“Di sana, aku melihat orang itu membawa Lia masuk.” Bisik Rina seraya menunjuk arah gubuk.
Simo mengangguk lalu mengendap-endap mendekati gubuk itu.
Saat simo hendak melintasi pintu, seketika pintu itu terbuka memperlihatkan sosok Nara yang hendak keluar.
“Bocah, lama tidak bertemu.” Ucap Nara yang seperti mengetahui simo datang ke gubuknya.
Simo melompat ke belakang lalu menarik pedangnya dan bersiap untuk bertarung.
“Hahaha, santai saja, kau tidak akan mati dengan cepat.” Nara menarik pedangnya.
“kau sebelumnya selamat karena nona, tapi sekarang maaf aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum jantungmu ku ambil.” Setelah mengatakan itu Nara melesat dan menyerang simo berbagai ayunan pedang.
Pertarungan mereka berdua sangat tidak seimbang. Terlihat beberapa kali simo terpojok dan terkena sayatan pedang.
“Ahahah, pedangku ternyata ingin sekali mencicipi darah segarmu.” Ucap Nara seraya menyerang simo.
Simo terus berusaha menahan dan sebisa mungkin menyerang Nara, tetapi Nara memiliki ilmu pedang yang lebih mapan membuatnya kesusahan menyerang.
Buruk.
Simo akhirnya terkena tendangan Nara dan tersungkur beberapa meter lalu mengeluarkan seteguk darah segar.
Tidak sempat untuk berdiri, tangan dan wajahnya sudah di injak Nara. Simo berusaha melepaskan diri, tetapi dia merasa tangannya ada yang menghalangi.
“sungguh di sayangkan, anak berbakat sepertimu harus merenggang nyawa di tanganku sekarang.” Ucap Nara seraya melemparkan senyuman jahatnya.
“maaf nona, teman latihanmu harus mati di tanganku sekarang” Ucap Nara.
Simo masih berusaha untuk melepaskan diri. Dikarenakan Nara jauh lebih unggul darinya membuat tidak bisa melepaskan diri.
Apakah ini pertarungan yang sebenarnya. Batin simo seraya berusaha melepaskan diri.
Simo tidak menyangka jika musuhnya terlalu kuat. Dia mengira jika musuhnya dapat dia lawan, tapi nyatanya malahan dia sekarang yang tersungkur dan berusaha melepaskan diri.
Sumo tidak mempedulikan apa yang Nara ucapkan.
“Bocah! Terimalah kematianmu sekarang.” Nara mengayunkan pedangnya, tetapi ada suara yang menghentikannya.
“Akhirnya kebusukanmu terungkap juga.” Suara gadis yang entah dari mana membuat nara terkejut.
“Nona!”
Empat gelombang air yang entah dari mana muncul lalu membentuk tubuh seorang gadis cantik yang memakai gaun biru langit.
“hentikan! jangan panggil aku nona lagi, aku tidak sudi jika kau memanggilku dengan nama itu.”
__ADS_1
Mendengar itu Nara tertawa. “aku tidak menyangka jika seorang gadis yang telah membunuh puluhan nyawa bisa berkata seperti itu kepadaku.”
Mendengar itu, namila menjadi marah. “hentikan!” Namila menarik pedang dan mengarahkannya. “jika kau berbicara seperti itu lagi maka pedang ini akan menusuk lehermu.”
“oh, maaf, maaf, apa boleh aku dengar alasanmu ke mari sebelum aku mengakhiri hidupmu.” Ucap Nara dengan senyuman jahatnya.
“tentu saja aku ingin membunuh pengawalku yang kurang beradab ini” Ucap Namila.
“Apa salahku, aku selalu setiap kepadamu dan tidak pernah menghianatimu, mengapa kau ingin membunuhku?” Nara memperlihatkan ekspresi memelasnya.
Mendengar itu namila sedikit kebingungan menjawabnya. “karena....karena....”
“Karena kau mencintai bocah ini kan!?” potong Nara dengan senyuman jahatnya
Namila terkejut. “kau keterlaluan!” namila melesat dan mengarahkan pedangnya.
Saat hendak pedang itu menyentuh leher Nara, Seketika namila terpental beberapa meter.
Wusss.
Angin Topan kecil seketika membentuk mengelilingi namila ketika dia berusaha berdiri.
“Ahahah, kau pikir muda membunuhku. Bagiku kau hanya gadis kecil yang masih perlu belajar. kau tidak akan bisa membunuhku.”
“Bajingan!” namila mengumpat seraya meletakan kedua tangannya di depan muka untuk menahan kuatnya angin yang mengelilinginya.
“Maaf gadis muda kau tunggu sebentar ya, aku ingin membunuh orang yang kau cintai dulu dan tenang saja kau akan menyusulnya lalu kalian akan bersatu meski di alam baka hahaha!”
Simo yang masih berusaha melepaskan diri dan tidak mempedulikannya. Baginya sekarang melepaskan diri adalah hal yang terpenting saat ini.
Blak.
Nara menendang muka simo dengan keras membuatnya terluka dan mengeluarkan darah segar.
“Hahaha, darah segar, pedangku! Hari ini kau akan mendapatkan darah segar lagi, setelah sekian lama.”
Nara mengayunkan pedangnya mengarah tepat ke leher simo.
Simo yang melihatnya hanya bisa pasrah.
Blak, teng.
Pedang itu akhirnya di tangkis oleh bola air.
“namila!” ujar Nara, tidak percaya apa yang di lihatnya lalu berbalik.
“Kenapa? Apa kau terkejut aku bisa menggagalkan usahamu. Apa kau lupa jika aku bisa mengendalikan elemen air dan mudah mencair. Sekarang terimalah kematianmu.” Namila bersiap bertarung.
“Melawan ku? Jangan bodoh, kau masih berada di bawahku.”
“hey, kau tidak boleh lengah saat bertarung.” Ucapan itu membuat nara memperhatikan simo lagi, tetapi sayang dia sudah terlambat. Salah satu tangan sumo sudah berada di kakinya.
Blakkk.
Simo berhasil membanting dan menghempaskan Nara yang membuatnya merasa sakit untuk pertama kalinya dalam pertarungan, meski begitu serangan itu hanya sedikit terasa sakit bagi Nara yang sudah mencapai tingkat alam tahap empat.
“bajingan!” Nara mengumpat seraya berdiri. Nara tidak suka jika dirinya di banting oleh bocah yang bahkan belum mencapai setengah umurnya itu.
Memanfaatkan waktu, simo berlari ke tempat namila berdiri.
“tolong kerja samanya.” Ucap simo kepada namila.
“Tanpa kau suruh pun aku akan bekerja sama dengan mu.” Sahut namila ketus dan dingin. sepertinya namila membenci simo.
__ADS_1
Mendengar itu simo tidak merasa keberatan. Baginya sekarang bukalah waktu itu bertengkar.
“baiklah, aku mulai.” Simo melesat dan menyerang Nara, tanpa mengusap darah yang mengalir di bibirnya.