
Cahaya emas terpancar dari tubuh Safia. Cahaya itu terpancar 12 arah dan sangat menyilaukan. Cahaya itu tepatnya berasal dari dahinya, menyebabkan suasana menjadi lebih sejuk dan aneh.
Safia melayang tidak sadarkan diri. Kedua tangan dan kakinya sangat lemas. Dia melayang di udara dengan cahaya emas itu.
Perlahan-lahan tubuhnya yang terluka kembali sembuh, bahkan tidak ada bekas sedikit pun seolah dia tidak pernah terluka.
Baron dan bawahannya mengangkat kedua alisnya dan meletakkan tangan di depan. Mereka heran dan kagum dengan gadis ajaib di depannya. Mereka merasakan kehangatan dari cahaya emas itu. Rasanya lebih hangat dari cahaya matahari pagi, dan lebih nyaman dari air padi di sinari matahari siang.
Mereka heran, bagaimana bisa cahaya itu muncul dari dahi Safia. Dan bagaimana mungkin cahaya itu bisa menyembuhkan secara total dan memulihkan kekuatannya. Mereka tidak pernah melihat fenomena aneh seperti ini. Mereka bisa di bilang beruntung karena telah menyaksikannya.
Kedua sudut bibir baron tertarik ke atas dan tertawa terbahak-bahak. “kalian! Cepat tangkap anak itu, aku sudah bilang anak itu anak emas!”
Hati Baron di penuhi kebahagiaan, dan jantungnya berdetak lebih kencang karena bahagia. Kedua matanya bercahaya ketika memandang Safia perlahan-lahan turun.
Tapi berbeda dengan bawahannya. Dia memandang serius Safia turun. Kemudian terkejut dan berseru, “tuan! Kita harus pergi dari sini. Lupakan saja untuk menangkapnya! Kita tidak bisa membendung lagi kekuatannya. Dia sangat mengerikan.”
Bawahannya kembali menjadi lima orang. Empat orang langsung berlari menjauh, satu lagi mendekati baron.
“kalian mau ke mana!? Aku menyuruh kalian menangkap gadis itu bukan lari!”
Meski tuan mereka memerintahkannya, mereka tidak peduli dan terus menjauh.
Dengan kemarahan di wajahnya, Baron menatap satu orang bawahannya kemudian berkata, “kau seharusnya tahu apa yang terjadi bukan?”
“I-ya tuan.” Jawab pria itu takut, jika kemarahan tuannya tidak tertahankan. Tubuhnya sedikit bergetar, dan kedua matanya redup karena takut.
“Jika sudah tahu, cepat katakan!”
“B-baik. Saya merasa akan ada sesuatu yang tidak baik terjadi, dan yang lainnya juga merasakannya. Oleh karena itu, mereka berlari untuk menyelamatkan diri.”
“dasar bodoh! Karena itu kalian melarikan diri? Kau pergi sekarang, dan bawa mereka kembali!”
Melihat kemarahan di wajahnya, membuat pria itu tidak dapat mengelak dan menerimanya. “b-baik tuan.”
Ketika Pria itu hendak pergi suara seorang gadis tiba-tiba terdengar.
“kalian harus menerima apa yang telah kalian perbuat!” kemarahan muncul di wajah Safia. Energi yang di pancarkannya lebih kuat lagi dari sebelumnya. Dia kini berdiri tegak dan penuh energi seolah tidak pernah bertarung sebelumnya.
Baron dan bawahannya merasakan kekuatan yang sangat besar, oleh karena itu, dahi mereka terajut karena heran dan takut.
Jika di depannya adalah seorang pria tua, mereka tidak akan keheranan seperti ini, namun di depannya adalah gadis kecil yang aneh dan memiliki potensi kekuatan yang mengerikan di masa depan.
__ADS_1
“tuan ayo kita pergi!”
Baru kali ini baron mengerti situasinya. Namun, dia sudah terlambat, tentakel-tentakel air melesat menyerangnya. Tentakel-tentakel itu seperti tentakel-tentakel gurita, hanya saja memiliki ukuran yang besar dan banyak. Dengan kecepatan tinggi menerjang ke arah mereka berdua.
Baron dengan cepat melambaikan tangannya. Pedang-pedang angin muncul dan menyerang tentakel itu. Tapi tidak satu pun yang bisa memotongnya. Tentakel-tentakel itu sekuat besi.
Baron dan bawahannya lalu pergi dengan perasaan kecewa dan takut. Dia kecewa karena tidak berhasil menangkap Safia.
Tetapi tidak semudah itu untuk lari. Dengan cepat para tentakel yang lentur bergerak menyerang mereka dan mengurung dari segala sisi.
Melihat ini, mereka berdua menyerang dengan semua kekuatannya. Tapi tidak ada satu pun yang bisa mematahkan kurungan.
“Kalian terimalah ini!” seru Safia sembari menarik busur api dan mencari sasaran yang tepat.
Kini ketakutan merasuki mereka berdua. Keringat dingin mulai keluar.
Setelah pas, Safia melepaskan tangannya, dan membiarkan anak panah melesat dengan kecepatan yang tinggi, sangat tinggi.
Bommmmm!!!!
Api menyebar ke segala arah. Jeritan kesakitan terdengar seiring percikan api. Jeritan-jeritan terdengar sangat menderita, seolah mereka terbakar oleh api neraka.
Setelah 5 menit berlalu, akhirnya api pun padam, dan menyisakan kurungan api di sana. Di dalamnya baron terkurung. Semua tubuhnya terluka, dan pakaiannya terkoyak-koyak. Dia kini terlihat sangat menyedihkan.
Baron terkejut dan pergi mendekati Safia. “aku akan melakukannya, ta-tapi, aku harus keluar dari sini.”
Kini wajah baron di penuhi ketakutan. Dia bahkan sulit berkata-kata. Tubuhnya gemetar.
“Aku tidak akan melakukannya. Kau bisa melepaskan ayahku dari dalam sana.”
“a-aku tidak bisa, tapi aku bisa memberikan caranya.”
“katakan!”
“tapi apa kau akan membunuhku setelah mengatakannya?”
“Aku bilang katakan!”
Baron terkejut dan, dengan cepat menjawab, “B-baik.”
Baron menarik nafas kemudian berkata, “kau hanya perlu pergi ke pegunungan dan mencari gua di sana. Jika kau bisa menemukan gua yang tepat, maka kau akan menemukannya.”
__ADS_1
Safia mengangguk. Dia mulai berjalan. ketika mencapai 10 langkah, dia mengepalkan tangan kanannya, menyebabkan kurungan api meledak dan mulai terdengar lolongan kesakitan yang amat mengerikan.
...****************...
Setelah makan, putri Naria dan simo bergegas keluar. Mereka berdua terlihat tergesa-gesa. Simo khawatir dengan apa yang terjadi di luar. Meski dia tahu, Safia adalah aska, rasa takut di hatinya tetap muncul.
Dia takut jika musuh yang mereka lawan adalah musuh yang kuat. Namun setelah beberapa menit mereka berjalan, cahaya masih tidak terlihat sedikit pun. Seberapa dalam gua ini?
Simo terus berjalan dan berjalan. Walaupun putri Naria beberapa kali mengatakan untuk tenang dan tidak terlalu gesa-gesa, dia tidak mempedulikannya, dan tetap berjalan.
Hingga akhirnya muncul lagi 10 golem tanah. Tapi kali ini Berbentuk manusia kekar dengan pedang besar di bahunya. Mereka tersenyum menyeringai ketika melihat simo dam putri Naria tiba, seolah mereka adalah mahkluk hidup.
Simo tersenyum menyeringai dan membanting pedangnya. Aura merah dan biru muncul secara bersamaan di pedangnya, menimbulkan rasa ngeri kepada para golem tersebut.
Tapi meski begitu, mereka tidak mundur, mereka mengambil ancang-ancang dan mempersiapkan senjata mereka.
Simo tersenyum. Dengan tenaga besarnya, dia berlari. Ketika tiba di musuh pertama, dia menggunakan lauthing linght, dan muncul secepat kilat di belakang musuhnya, kemudian menusuknya dari belakang, lalu melompat ke depan dan menebas yang satunya lagi.
Dalam sekejap itu, sudah dua musuh yang mati. Musuh yang tersisa geram melihat teman-temannya di bunuh secepat itu, dan Tanpa perlawanan. Mereka meraung dam mulai menerjang simo satu persatu.
Salah satu dari mereka berteriak dan menebaskan pedang secara vertikal ke arah simo. Tapi secepat kilat simo muncul di belakangnya dan menebas kepala Golem dengan sangat mudah.
Selain itu, dia juga menggunakan bola api untuk menyerang yang tersisa, menyebabkan mereka hangus terbakar.
Putri Naria hanya diam dan memberi semangat kepada simo. Walaupun simo tidak pernah melihat ke arahnya. setelah beberapa menit akhirnya semua musuhnya mati.
Melihat itu, putri Naria mendekati simo. “kau sangat hebat!”
Simo hanya mengangguk dan memasukkan kembali pedangnya. Dia kemudian berjalan lagi. Putri Naria sedikit heran mengapa simo tidak mempedulikannya, padahal dia sudah memujinya.
Tidak mau memikirkannya, dia pun mengikuti simo.
Setelah beberapa menit berjalan mereka akhirnya duduk di samping gua. Hal itu dilakukan karena melihat putri Naria kelelahan.
“Simo, kau memang hebat.” Puji putri Naria.
Simo mengangguk. Baginya itu adalah hal yang biasa dan tidak ada istimewanya.
“Simo, bisa kau mengajariku?”
“aku akan memikirkannya nanti.”
__ADS_1
“baiklah, aku akan mengingatnya.”