
Melihat percakapan keduanya, Thomi merasa heran, bagaimana bisa Talina sepintar ini dalam waktu singkat. Dia pun bertanya.
“setelah aku kalah saat latihan, aku memutuskan untuk belajar dan mencari beberapa strategi pertempuran, karena aku ingin pintar dalam menghadapi musuh. Kau tahu, kan, tidak hanya kekuatan sebagai penilaian utama?” kata Talina. Saat mengatakan itu, wajahnya di penuh semangat dan tekad yang membara
Mendengar itu, Thomi mengangguk, kemudian berkata, “bisakah kau mengajariku?”
Walau thomi sedikit malu mengatakan itu, dia tidak punya pilihan lain, selain meminta Talina mengajarinya. Dia bisa saja belajar sendiri, tapi jika belajar dengan orang lain, dia akan lebih cepat bisa dan usaha yang di perlukan juga tidak terlalu banyak seperti berlatih sendiri.
Talina tersenyum manis dan berkata, “Tentu.”
Setelah beberapa saat akhirnya namila pun kembali. Dengan lembut dia berkata kepada Talina. “terima kasih atas dukungannya.”
“sama-sama, tapi aku tidak mendukungmu.”
“Kenapa tidak?” kedua alis namila sedikit terangkat.”
Sebelum Talina menjawab, namila melanjutkan, “oh. Aku tahu, kau tidak menyu...”
Seketika mulut namila di tutup oleh tangan Talina. “ah, iya aku lupa. Aku sudah mendukungmu, tapi aku punya saran untukmu.”
Melihat kelakuan keduanya, simo dan Thomi hanya bisa menghela nafas panjang dan berusaha tidak mempedulikannya. Meski itu menarik, mereka sadar itu urusan perempuan, dan laki-laki tidak boleh ikut campur.
“Saran apa?” di saat bersamaan, namila menjauhkan tangan Talina.
“kau jangan terlalu memperlihatkan kekuatanmu yang sebenarnya di pertarungan nanti. Musuh bisa saja memanfaatkan hal itu untuk mengalahkanmu.” Tiba-tiba Talina menjadi serius.
“Aku tahu. Serangan itu hanya serangan normal, dan tidak ada istimewanya.”
Namila menoleh ke arah simo, lalu berkata, “simo, bisa kau mengantarkan ku ke kantin? Aku ingin makan siang hari ini. Lagi pula kau bosan di sini.”
“tapi jika nanti nomorku di panggil. bagaimana?”
“Kau tenang saja, ini hanya sebentar. Setelah makan kita akan kembali ke sini.”
“Baiklah.” Jawab simo singkat. Meski simo enggang, dia tidak berani menolak permintaan namila. Apalagi namila terlihat tersenyum manis, yang tentu saja simo tidak bisa menolaknya.
Mendengar itu, namila tersenyum, lalu mengucapkan salam perpisahan kepada Talina dan thomi.
__ADS_1
“pergilah. Jika nanti nomor simo di panggil, aku akan mengabari Kalian. Nomormu berapa?” Tanya Talina.
“aku nomor 50.”
“Baiklah. Makan yang tenang, jangan terburu-buru. Ini adalah pertama kalinya kalian pergi ke kantin bersama-sama, kan?”
“Bagaimana kau tahu?” Tanya namila penuh kecurigaan.
“ini rahasia.” Talina tersenyum jahil.
Setelah itu, simo dan namila pergi ke Kanti. Saat tiba, suasana di Kanti begitu ramai, saking ramainya, para siswa saling berdesakan untuk masuk. Selain itu keributan selalu menghiasi kantin. Melihat itu, simo menghela nafas, dan berkata, “aku tunggu di sini saja, kau pergi makan saja.”
Ekspresi cemberut terlihat di wajah namila. Dia dengan keras berujar, “apa kau Tidak menyukaiku lagi!? Sehingga kau tega membiarkanku pergi ke kantin dalam suasana seperti ini!”
Simo Langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung dengan sikap namila yang mendadak ini. “ tidak, tapi kau lihat Suasana begitu buruk, aku tidak ingin ke kantin hari ini.”
“jika begitu bagaimana kalau kita pergi ke taman belakang? Selain dekat dengan lapangan, itu juga memberikan suasana yang tenang. Kau akan mendengar nomormu di panggil di sana, jadi tidak akan ketinggalan atau khawatir.”
“kau benar.”
Setelah itu, mereka pergi ke taman belakang. Saat di perjalanan, namila terlihat ceria. Dia menceritakan semua hal- hal indah yang pernah dia alami. Selain itu hal-hal buruk turut dia ceritakan, menyebabkan suasana sedikit sedih. Namun suasana itu tidak lama, namila langsung menggandeng tangan simo, kembali berkata dengan nada ceria dan sedikit ancaman, “kau tidak boleh menghianatiku nanti.”
“kau bohong. Semua laki-laki, jika masih mencintai perempuan pasti mengatakan itu, tapi jika mereka sudah bosan, mereka tidak akan segan-segan meninggalkannya.”
“Apa yang harus aku jawab?”
“Berjanjilah.”
“Berjanji?”
“iya. Jika kau melanggar janji ini, kau akan mati dan begitu pun diriku.”
“baiklah, aku berjanji.”
Kedua kelingking Namila dan simo di kaitkan. Mereka lalu mengucapkan janji dan akan menerima hukuman jika salah satu dari mereka melanggar janji ini. Hukumannya tidak lain akan mati, jika salah satu dari mereka melanggar.
“Kau harus mengingatnya, jika tidak, kau tidak pantas di sebut seorang laki-laki sejati.” Ucap namila setelah berjanji. Saat mengatakan itu, ekspresi serius dan sedikit bercanda terlihat.
__ADS_1
Melihat wajah namila, membuat simo bingung dan heran, mengapa harus berjanji seperti itu? Jika Soal mencintai tentu saja simo bersungguh-sungguh dengan Namila. Tanpa berjanji pun simo tidak akan meninggalkan namila.
Tapi, simo sadar, Namila sangat takut kehilangannya. Apalagi beberapa kali kejadian mengerikan terjadi kepadanya. Mungkin hal itulah yang membuat namila harus melakukan itu.
Namun, bagi simo bukankah itu terlalu berlebihan? Apalagi namila berkata ‘menghianati’ itu membuat simo bingung.
Setelah mereka berjanji, mereka melanjutkan perjalanan dengan tangan simo di gandeng namila. Perilaku namila membuat simo sedikit tidak nyaman, apalagi semua orang menatap mereka dengan aneh dan dingin. Jika saja ini bukan keinginan namila, dia pasti sudah melepaskannya.
Maka dari itu, simo berusaha bersikap seperti biasa, dan tidak mempedulikan tatapan orang-orang sekitar.
Saat tiba di taman, namila tersenyum. Berlari mendekati sungai dan meninggalkan simo. Ketika tiba di pinggir sungai, tangan lembutnya, dia biarkan menyentuh dinginnya air sungai. Tangannya bergerak-gerak, merasakan lembutnya air.
“Kau tahu, aku menyukai air, tapi juga membencinya.” Kata namila ketika menyadari simo di dekatnya.
“Pasti kau menyukainya karena kau merupakan pengendali air.” tebak simo.
“Iya. Tapi apakah kau tahu mengapa aku membencinya?”
Simo diam. Dia memikirkan apa yang menjadi penyebab Namila tidak menyukainya, padahal itu adalah senjata yang selalu dia gunakan. Saat mendengar ini, simo sedikit terkejut dan memikirkan seberapa besar namila menyukai air dan seberapa besar juga namila tidak menyukainya.
“aku tidak tahu.” Jawab simo, tapi di lain sisi, dia mendapatkan jawaban mengenai pertanyaannya. Dia menduga namila lebih menyukai air dari pada membencinya sebab, namila adalah ahli dalam air dan air merupakan teman alaminya.
“Karena aku tidak suka dingin.” Kata Namila singkat.
Kedua alis simo terangkat. Simo tidak menyangka alasannya sesederhana itu, apalagi di tambah dengan nada Namila yang sangat serius sebelumnya.
“Aku tidak menyukainya, Tapi aku menyukai ikan. Oleh karena itu, kau harus mendapatkannya, aku lapar dan ingin makan sekarang. Jadi, tolong tangkap ikan ya.” Pinta namila dengan wajah imut yang dia bisa.
Mendengar itu, simo menghela nafas panjang, lalu berkata, “kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung.”
“Itu karena kau pasti menduga aku tidak perlu bantuan, karena aku bisa mengendalikan air. Biar ku beritahu, ada beberapa hal mengenai air tidak bisa di lakukan oleh pengendali air, maka dari itu aku meminta bantuanmu.”
“baiklah.” Kata simo seraya melepaskan bajunya, kemudian melompat ke dalam air.
“untung saja ada dia, jika tidak aku pasti kelaparan hari ini.” Kata namila lalu tersenyum.
“ah. Akhirnya aku menemukan kalian.” Suara seorang gadis terdengar dari belakang namila.
__ADS_1
Namila berbalik. Seorang gadis cantik rambut merah terurai mendekatinya, dia tidak lain dan tidak bukan adalah Delisa. Di kedua telinganya ada sepasang anting-anting lampion. Jika Delisa berjalan, itu akan berbunyi krincing, yang menimbulkan kesan tersendiri. Gadis itu sangat cantik, namun belum bisa menyaingi kecantikan namila, meski namila tidak memakai anting-anting sama sekali.