Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 29 pilihan


__ADS_3

“anulika sekarang!”


“serahkan saja kepadaku!”


Tiba-tiba muncul dewi es yang langsung terbang dan menebaskan pedangnya ke arah kepala latif. Saat mencapainya, seketika tentakel air dan bayangan namila membekuk. Itu menjadi sebuah patung dengan nilai seni yang tinggi, Apalagi kini berkilauan di bawah cahaya matahari sore.


Tidak berhenti di sana saja, anulika dan namila melanjutkan serangannya. Mereka membekukan area sekitar Latif, menumpuknya dengan es yang tebal. Itu dilakukan beberapa kali hingga ketebalan es mencapai 10 meter..


Namila dan anulika akhirnya kehabisan tenaga. Mereka akhirnya duduk tidak berdaya di depan dinding es.


“apakah kita berhasil?” Tanya namila dengan nafas tergesa-gesa.


“aku tidak tahu.” Jawab Anulika yang keadaannya sama.


Namun, tidak beberapa lama tanah bergetar, es-es yang di buat anulika retak dan mulai hancur di mana-mana.


Namila dan Anulika menelan ludah, ekspresi tidak karuan terlihat di wajahnya, perasaan takut mulai merasuki tubuhnya. Dengan tangan gemetaran mereka berusaha tetap tenang dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Meski latif tidak mengeluarkan aura pembunuh, dia mungkin saja membunuh mereka kapan saja. Latif juga dengan mudah membunuh mereka berdua tanpa kesulitan apa pun.


Sebenarnya, jika Latif memang ingin mengakhiri pertarungan, sudah pertama kalinya bertarung, dia bisa mengalahkan namila dan Anulika, namun, dia memilih pilihan yang lain.


Bommm!


Es Anulika hancur berkeping-keping. Serpihan-serpihan es beterbangan, seperti hujan. Serpihan-serpihan itu sangat tajam dan mulai mendekati namila dan anulika dengan cepat. Sepertinya latif ingin mengakhirinya.


Anulika dan namila yang kelelahan hanya bisa memandangnya dengan mata bergetar. Mereka tidak punya sedikit pun tenaga di dalam tubuhnya.


“ini akhir yang tidak terlalu buruk.” Gumam namila. Di dalam hatinya, meski dia mati, dia tidak mempedulikannya, asalkan orang terkasih selamat. Walaupun ini akan menyakitkan, tapi setidaknya dia berjuang sampai akhir.


Sebelumnya, saat mulai bertarung, namila sudah mengisyaratkan simo untuk pergi dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Walau simo menolaknya, dia mengisyaratkan akan marah, jika keinginannya ditolak.


Sementara di sisi lainnya, kedua mata anulika berlinang air mata, dia tidak ingin mati sekarang, dia masih memiliki sesuatu yang belum di capai, tapi takdir berkata lain, dia berakhir dengan rasa bersalah di hatinya.


Dengan ini, mereka memejamkan matanya, dan bersiap merasakan es yang mereka buat sendiri. Ini seperti senjata makan tuan.


“hahaha. Dua gadis cantik kenapa kalian berada di sana?”


Suara seorang wanita terdengar. namila dan anulika membuka matanya, mereka sudah berada jauh dari jangkauan serpihan-serpihan es itu, bahkan beberapa kilometer dari tempatnya berasal.


‘bagaimana bisa?’ itulah pertanyaan yang keluar saat pertama kali mereka melihat pandangan di depannya.


Mereka jelas tidak merasakan sesuatu ataupun keberadaan orang lain. Oleh karena itu mereka terkejut dengan kejadian yang menimpa mereka sebelumnya.


“Kalian, kenapa memasang ekspresi seperti itu?” Daria mendekati mereka.


“Kau....!”


“ya, aku adalah salah satu leluhur para siren, ternyata kau masih mengingatku.”


Meski Daria sibuk dengan pertarungan waktu itu, dia masih memperhatikan area sekitarnya.


“Bukankah kau sudah mati?” tanya Namila.


“ tentu saja tidak. Kami sulit di bunuh.”


“Lalu bagaimana kau bisa ada di sini?”


“ceritanya panjang, kau bisa menanyakannya kepada kekasihmu itu.” Jawab Daria lalu mengangguk, menunjuk simo duduk bersila di bawah pohon dengan aura hijau menyelubungi tubuhnya.


Mendengar itu, namila hendak pergi menemui simo, tapi Daria menghentikannya.


“Kau tidak boleh menggagunya, duduk di sini, dan amati semuanya, aku akan pergi menyelesaikan ini.”

__ADS_1


“apa yang sebenarnya terjadi?”


Daria tidak menjawab, dia langsung terbang.


Anulika yang melihatnya merasa heran. Dia pun menanyakannya.


“dia adalah siren.”


“siren?”


“Aku akan menjelaskannya nanti.”


Namila memutuskan untuk memejamkan matanya, lalu akhirnya tertidur.


Mendengar itu, anulika sangat penasaran dengan sosok yang dikatakan namila, namun dia menyadari, hal ini tidak tepat untuk ditanyakan sekarang.


“aku akan menanyakannya nanti.” Anulika akhirnya ikut tertidur.


*****


Di depan gedung terbengkalai, Latif berdiri di tengah-tengah pecahan-pecahan es. Nafasnya seperti kuda berlari. Pohon-pohon di sekitarnya hancur lebur, akibat dia tidak bisa menahan kekuatannya.


“huh....” dia menghela nafas panjang.


“aku tidak bisa mengendalikan diriku.”


Latif mengamati tempat sekitarnya.


“Sepertinya aku sudah membunuh gadis itu.”


Kedua senjata Latif perlahan-lahan menghilang, dia kemudian pergi dari sana.


Tidak jauh dari sana Daria dan Anika berdiri di atas dahan pohon.


“Kakak Daria, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Anika.


“Kita hanya perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya.”


“kenapa kita tidak bertarung saja?”


“Tentu saja tidak. Jika bertarung, energi yang dihabiskan akan sangat tinggi, itu akan mengakibatkan kita akan cepat kembali ke alam mimpi bocah itu.”


“Biarkan saja, kita jarang-jarang bisa keluar seperti ini.”


Mendengar itu, Daria memandang tajam ke arah anika. “apa kau ingin melawan?”


Ekspresi takut seketika terlihat di wajah Anika. “tidak, tidak, tidak, aku tidak berani dengan kakak.”


“jika begitu, lakukan perintahku.”


“baik, baik.” Jawab Anika takut.


*****


Setelah beberapa saat duduk, ekspresi simo seketika berubah, kedua alis terangkat, bibirnya sedikit bergerak ke bawah, dahinya mengkerut. Aura di sekitarnya perlahan-lahan secara bertahap menghilang dan akhirnya tidak tersisa.


Kemudian simo berteriak kesakitan dan memuntahkan darah segar, lalu terbatuk-batuk.


Namila yang mendengar itu, seketika mendekatinya. “kau terlalu memaksakan diri.”


Dengan wajah khawatir dan takut di perasaannya, namila langsung mengobati simo, tidak peduli entah dia pulih atau tidak.


Namun, saat berusaha mengalirkannya, energinya tak kunjung keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


“aku mohon... bantu aku, kali ini saja.” Gumam gadis itu dengan nada takut. Dia mencobanya beberapa kali, akan tetapi tidak ada reaksi sedikit pun.


Simo lagi-lagi memuntahkan darah.


Dengan Wajah takut, namila membangunkan anulika yang masih tertidur. Namila menggoyang-goyangkan tubuh anulika beberapa kali hingga akhirnya dia membuka matanya.


Tanpa menunggu anulika sadar sepenuhnya, namila berkata, “apa kau bisa membantu menyembuhkan simo?”


“Ada apa dengannya?” Tanya anulika yang masih malas.


“tolong bangun, aku mohon, untuk hari ini saja.


“maaf, aku tidak punya kekuatan lagi. Tenang saja, dia akan baik-baik saja.” Setelah mengatakan itu, anulika kembali tidur.


“Tidak! Dia terluka parah!” ujar namila, namun anulika tidak mempedulikannya.


“Aku harus mencari bantuan.”


Setelah mengatakan itu, namila berlari sekencang-kencangnya mencari bantuan. Namun, tubuhnya terlalu lemah saat ini, dia beberapa kali jatuh. Jika bukan karena tekadnya kuat, dia pasti tidak kuat bisa lari lagi.


Tidak beberapa lama kemudian akhirnya dia jatuh, dan akhirnya tidak bisa berdiri lagi.


“Ayoklah.”


Namila berusaha berlari, tapi dia tidak bisa lagi.


Dengan berlinang air mata, dia berujar, “siapa pun, tolong aku!”


Setelah itu, dia kembali menangis. Dia sangat takut, jika terjadi apa-apa dengan kekasihnya. Jika bisa ditukar, dia ingin sekali menggantikan simo untuk menahan rasa sakit itu dari pada melihatnya seperti ini.


Setelah beberapa detik, tidak ada yang datang, namila dengan pasrah duduk seraya menangis tersedu-sedu. Walaupun belum tentu simo terluka parah, perasan dan hatinya sangat mengkhawatirkannya.


“Apa kau memerlukan bantuan?” Suara wanita tidak jauh dari namila.


Namila menoleh, tapi tidak ada orang di sana.


Meski begitu, namila tetap menjawab, “iya. Aku sangat memerlukan batuanmu. Apakah kau bersedia membatuku?”


“jika nyawa di tukar nyawa apakah kau bersedia?”


“tentu saja, aku bersedia. Ambillah nyawaku ini.” Jawab namila tanpa berpikir.


“apakah kau tidak mengawatirkan kakekmu di rumah sendirian, setelah kau pergi?”


“siapa kau!?”


“siapa aku? Itu tidak penting, yang terpenting, pilih salah satunya. Apa yang akan kau pilih?”


Mendengar itu, Namila terdiam. Ini adalah pilihan sulit baginya. Jika dia memilih kakeknya, tentu saja simo dalam bahaya. Tapi, jika memilih simo, kakeknya akan bersedih.


Setelah beberapa saat berpikir, gadis itu mengangkat wajahnya, mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan meyakini keputusannya. “aku memiliki menyelamatkan kekasihku.”


“Mengapa?”


“dia adalah orang terpenting bagiku saat ini, jika dia mati, aku tidak bisa hidup.”


“apakah kau tidak mengkhawatirkan kakekmu?”


“aku mengkhawatirkannya, tapi cepat atau lambat kakek harus bersedih, entah diriku yang meninggalkannya lebih dulu atau dirinya.”


“apa kau yakin?”


“iya, aku yakin.”

__ADS_1


“Hahaha! Sekarang tutup matamu.”


Namila dengan percaya diri menutup kedua matanya. Perlahan-lahan Namila merasakan aura dingin menghampiri tubuhnya.


__ADS_2