
Theo mendengar suara pedang melesat dari arah samping. Dia tidak menoleh ataupun bergerak untuk menahannya. Sebaliknya, dia tersenyum senang mendengarnya, seolah dia sudah memperkirakan serangan itu. Atau mungkin, dia membiarkannya.
Tepat dua meter dari tubuh Theo dua pedang tanah klarika di hancurkan oleh satu pedang dari atas dengan kecepatan tinggi, dan tanpa kesulitan sedikit pun.
Ekspresi kecewa jelas terlihat saat pedangnya di hancurkan. Klarika kembali mengeluarkan pedang-pedang tanahnya, bukan dua, tapi sepuluh.
“Heh. Berapa kali kau menyerangku, kau tidak akan bisa mengalahkanku!” ujar Theo menoleh ke arah Klarika yang masih berlari.
Theo kemudian berpaling, melihat Hoshi yang sedang tidak sadarkan diri.
“Hari ini adalah kematianmu!” Theo kembali mengangkat pedangnya, lalu menebaskannya ke bawah.
Namun, lagi-lagi ada yang mengganggu. Aoba muncul di atas Theo dengan bola api di tangannya. Dia lalu berkata, “kau melupakanku!” aoba mengarahkan bola apinya.
Theo terkejut mendengar ucapan aoba. Dia lalu berbalik dan mengayunkan pedangnya ke atas untuk menahan serangan aoba.
Bola api meledak saat berbenturan dengan bilah pedang Theo, menciptakan pusaran api.
Seraya melihat aoba, Theo tersenyum menyeringai. Lalu berkata, “heh. Kau pikir serangan ini bisa menahanku? Jangan harap!” Theo mengayunkan pedangnya, membuat aoba terpental dan akhirnya menabrak tanah dengan kecepatan tinggi.
Jika sebelumnya aoba bisa menahan serangan Theo, maka kini dia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya terasa remuk saat menyentuh tanah yang keras, membuatnya tidak bisa bergerak lagi. Jika energi masih ada, maka dia masih bisa melakukan sesuatu, Namun kini tidak ada lagi energi yang tersisa.
Klarika sendiri harus berhadapan dengan pedang Theo yang menyerangnya dari segala arah. Meski itu hanya pedang, kecepatan dan kekuatannya sebanding dengannya.
“Berengsek!” seraya mengumpat klarika terus melawan pedang Theo.
Setelah tidak ada lagi halangan, Theo mengangkat pedangnya ke atas. Energi merah darah terkumpul di bilah pedangnya. Dengan itu, dia mengayunkan ke bawah dengan keras.
Bommm!!!
Tanah mencuat beberapa meter setelah pedang itu di ayunkan, menciptakan ledakan di depan Theo.
Klarika dan beberapa orang lainnya terlihat pasrah dengan serangan itu.
“Hahaha! Kini orang terkuat kalian sudah mati! Menyerahlah! Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami!” Ujar Theo tersenyum puas dengan kemenangannya.
__ADS_1
Selain Theo, rani, nayaka dan dara juga ikut senang dengan keberhasilan tuanya, meski itu bukan objek utamanya, setidaknya mereka berhasil mengalahkan penghalang terbesar mereka.
“lihat, kami akhirnya menang.” Ucap rani tersenyum bangga seraya menahan pedang kai dengan pedangnya sendiri.
“hehehe. Kami tidak terkalahkan.” Di samping rani, dara juga ikut berbicara. Kini dia sedang berhadapan dengan kai dan ingin menyerangnya, tetapi pengumuman kemenangan lebih dulu di ucapkan oleh Theo, sehingga dia memilih diam.
Kai menggertak giginya seraya marah. Di dalam hatinya, dia mengutuk dirinya karena masih lemah. Andai saja dirinya lebih kuat, maka hal ini tidak akan terjadi, dan andai juga dia, Hendry dan Klarika tidak terlambat, kematian Hoshi tidak akan terjadi.
“Berengsek!”
Kai mendorong pedang Rani. Dia kemudian menyerang dengan acak, seolah sebagai pelapisan emosinya yang sedang bercampur.
Dengan memperlihatkan giginya yang di tekan, kai mengayunkan pedangnya dengan keras. Dia melompat, menendang, memutar dan mengayunkan pedangnya. Dia tidak peduli entah itu mengenainya atau tidak, yang pasti dia sekarang ingin meluapkan emosinya.
Di sisi lain, hendry yang melihat kai seperti itu, hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Baginya itu adalah usaha yang sia-sia dan tidak berguna sama sekali!
Setelah beberapa saat sedikit menunduk, akhirnya hendry menatap tajam ke arah nayaka yang kini berdiri dengan sebilah pedangnya. Pandangannya seolah ingin menusuk mata nayaka.
Nayaka dengan dingin tetap memandang hendry dari kejauhan. Tidak ada jejak terprovokasi atau takut di mata dan wajahnya. Hanya ada tatapan dingin, cuek dan sedikit pucat dari sela-sela rambut kuning pirangnya yang panjang.
“tentu saja. Meski kami sudah kalah, kami tidak akan menyerah sampai darah terakhir kami menetes.” Saat mengatakan itu, di tangan Hendry sudah ada dua pedang petir yang panjang dan memiliki aliran listrik yang sangat kuat.
“kau tahu, ayahku pernah berkata, jika memang seperti itu terjadi, maka biarlah seperti itu. Tapi tidak untuk hati kita. Meski tidak ada harapan untuk menghindarinya, maka berbuatlah sebaik mungkin yang kau bisa!”
Hendry melempar satu pedangnya. Pedangnya berputar-putar, semakin lama, semakin cepat. Saat berada di dekat nayaka, pedang petir sudah seperti gangsing petir yang mengerikan dengan akar-akar petir yang menyambar sana sini.
Namun walaupun seperti itu, tidak ada ketertarikan di wajah Nayaka. Dia tetap memandang dingin ke arah pedang hendry.
Dengan santai dia mengangkat pedangnya ke depan.
“aku tahu itu, maka berbuatlah sebaik yang kau bisa!”
Nayaka mengayunkan pedangnya. Bersamaan dengan mengayunkannya hempasan angin yang besar muncul dari pedang nayaka.
Lalu ledakan pun terjadi saat bilah pedangnya berbenturan dengan pedang Hendry.
__ADS_1
Lagi-lagi tidak ada ekspresi di wajah nayaka, seolah serangan hendry tidak ada apa-apanya.
Memang begitulah yang terjadi, energi Hendry sudah terkuras dengan pertarungan sebelumnya dan begitu pun dengan yang lainya. Bisa di katakan semuanya sudah berakhir dan tidak ada harapan untuk menang.
Perlahan-lahan nayaka mulai mendorong pedang Hendry, lalu akhirnya terpental ke belakang.
Hendry lalu berlari dengan cepat, namun tidak secepat sebelumnya. Dia kemudian meraih pedangnya dan ingin menyerang nayaka.
“jika ini yang kau mau, maka aku harus memberi kehormatan terakhir untukmu.”
Nayaka memperagakan seperti sedang ingin mengayunkan pedangnya. Perlahan-lahan angin kencang mulai berhembus di sekitar nayaka, membuat rambut pirangnya bergoyang-goyang.
Setelah di rasa angin cukup kuat, nayaka mengayunkannya, menimbulkan hempasan angin kencang seperti bulan sabit.
Jika di bandingkan dengan hendry, Nayaka bisa di bilang masih kuat, walaupun sudah bertarung dalam waktu yang lama, dan begitu pun dengan dua temannya yang lain.
Hal ini tidak lain di sebabkan oleh pengalaman mereka dalam pertarungan sebelumnya.
Mereka percaya bahwasanya menguras tenaga dan energi lawan adalah cara yang tepat untuk bertarung melawan lawan yang seimbang ataupun lebih kuat dan memiliki kemanpuan di atas rata-rata. Oleh karena itu jika tidak ada kendala lain, maka mereka di pastikan akan menang.
Wusss!
Hempasan itu akhirnya menerjang tubuh Hendry. Hempasan itu sangat kuat dan tajam, membuat beberapa kulit Hendry tergores seolah terkena pisau.
Selain itu, rasa sakit akibat tekanan yang di timbulkan lebih parah dari serangan itu. Di tambah tidak bisa bernafas, akibat sudah mengandung rancun. Itu sungguh membuat Hendy kesulitan!
Hanya perlu beberapa detik untuknya mundur dan akhirnya di terbangkan oleh angin tersebut.
Saat angin itu hendak menggilas tubuh Hendry, sebuah bayangan muncul lalu menarik tubuh hendry.
Bayangan itu kemudian mendarat. Dia adalah seorang wanita dengan rambut di kepang dua dan kaca mata di wajahnya, seperti mengidap suatu penyakit atau dia seorang kutu buku.
“Maaf, aku terlambat.” Katanya sambil merangkul hendry.
“Ukh, ukh, ukh. Tidak apa-apa. Kau datang seperti ini pun, aku sudah senang.”
__ADS_1
“Jangan bergerak banyak. Duduk dan lihatlah, aku akan membantainya.” Saat mengatakannya, wanita itu memandang tajam ke arah Nayaka lalu kembali memandang hendry.