Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 20 mati part 2


__ADS_3

Benito tersenyum sembari memandang gadis cantik di depannya. Setelah membunuh semua anggota markas miliknya, dia akan menjadi raja. Walaupun dia tahu itu tidaklah mudah dan berkemungkinan kecil untuk melakukannya, setidaknya setengah langka sudah di lakukannya


Apa yang di berikannya kepada dira tentu saja itu adalah tipu muslihat. Bagaimana mungkin dia menyerahkan sesuatu yang berharga seperti itu kepada dira? Hanya orang-orang bodoh saja yang mau melakukannya.


Benito sudah mengetahui jika dira tidak memiliki kekuatan normal seperti orang lainnya, sehingga pengetahuannya pasti tidak terlalu dalam mengenai itu. Hal itulah dia manfaatkan sebaik mungkin.


Dia meminum minumannya Kemudian bergumam, “ular harus sesekali polos kepada mangsanya sebelum memangsanya.”


...****************...


Setelah tiga orang itu mati, akhirnya pria yang tadinya keluar kini kembali datang. Dia tersenyum misterius melihat Dira. Dia seolah-olah tidak merasa sedih dan marah ketika melihat orang-orang yang dia kirim mati di tangan dira, bahkan dia tidak melihatnya.


“aku Tidak salah mendengar kemampuanmu.” Kata pria itu setelah keluar.


“jika kau ingin merasakannya, aku bisa memperlihatkannya sekarang,” ucap Dira dingin.


“hahahaha! Baiklah! Aku ingin sekali merasakannya, tapi... Apa kau berani?” pria itu mengambil sesuatu dari balik jubahnya, dan memperlihatkan kepada Dira.


Ekspresi dira yang sebelumnya dingin, perlahan-lahan menjadi cerah. Dia kemudian berseru, “paman! Kenapa kau ada di sini?”


Dira berlari dan memeluk pria itu. Pria itu tidak lain adalah pria yang selalu bersamanya ketika dia masih kecil dan selalu bersamanya.


Karena ada sesuatu yang mendesak, membuatnya harus berpisah dengannya dan tidak pernah bertemu lagi, bahkan dira sudah mulai melupakannya. Tapi dia masih mengingat Tawanya yang khas dan renyah.


“hahaha! Kau sudah dewasa.”


“paman juga sudah lebih tua dari sebelumnya. Kenapa paman bisa berada di sini?” Dira melepaskan pelukannya.


Walaupun bisa saja itu adalah tanda palsu dan orang yang membunuh pamannya, tapi dira tidak mempedulikannya. Dia yakin, di depannya adalah pamannya, orang yang selalu bersamanya.


“hahaha... ah... Ceritanya panjang. Tapi apa paman setua itu di matamu?” Pria itu tidak senang mendengar ucapan Dira. Tentu saja, dia mengenal wajahnya, jadi tidak mungkin tua, di tambah lagi dia mengenal wajahnya yang awet muda, jadi sangat mustahil terlihat tua.


“Paman, bisa kau ceritakan?” dira tidak mempedulikan reaksi pamannya, dia lebih memilih cerita yang akan pamannya berikan. Menurutnya, itu adalah sesuatu yang penting.


“baiklah, tapi kita harus ke dalam, di sini panas. Paman juga ingin beristirahat.”

__ADS_1


Mereka lalu masuk ke dalam.


Setelah duduk, Hugo menceritakan semuanya. Setelah dia datang, dia mendengar dira sudah menjadi ratu, dan mendengar juga rencana kudeta. Oleh karena itu, dia bergabung untuk menghancurkannya dari dalam.


Tapi siapa yang menyangka, rencananya begitu cepat, sehingga membuatnya malas dan menyusun rencana.


Saat dira datang, beberapa orang yang ada di benteng sudah pergi merencanakan tugas untuk merebut gedung-gedung dan istana.


Walaupun di sana banyak ada prajurit, sebenarnya, prajurit itu Adalah antek-anteknya.


“jadi, di mana prajurit yang asli?” tanya Dira keheranan.


“aku juga tidak tahu, mungkin di bunuh oleh mereka atau ada juga yang bergabung dengan mereka.”


“Tapi mengapa aku tidak menyadarinya?”


Hugo menggelengkan kepalanya. “mungkin mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi tenang saja... Selama kau tidak di tangkap, kerajaan akan baik-baik saja. Aku dengar kau adalah orang terkuat yang ada di kerajaan, jadi mereka tidak akan berhasil, selama kau masih berkeliaran.”


“apa penjaga keamanan juga ikut menjadi antek-antek mereka.”


Jika seperti itu, maka sia-sialah dira memerintahkannya. Dan mungkin juga mereka sudah mulai merencanakan penyerangan kepadanya. Dia tidak menyangka akan seperti ini. Walaupun memiliki prajurit yang besar, tapi jika semua di kurung, maka dia akan sangat kesulitan.


Alasan dia tidak membawa prajurit untuk melakukan ritual, tidak lain karena percaya semua akan baik-baik saja. Tapi... Sepertinya tidak.


Di ibukota hanya ada 1000 prajurit, dan sisanya tersebar di daerah kerajaan, maka dapat di pastikan jumlah itu yang akan melakukan kudeta.


Menurut Benito katakan, semua anggotanya menjaga di perbatasan kota, sehingga dapat di pastikan jumlah yang melakukan pemberontakan lebih dari seribu, di tambah lagi, orang -orang kuat yang ikut, maka jumlahnya sangat besar.


Jika saja dira memiliki Jendral, maka semuanya akan menjadi lebih baik, tapi dia belum mempunyainya.


Untungnya dia bertemu dengan Hugo di sini, jika tidak, maka dia akan terkejut karena Serangan itu.


“apa yang harus kita—”


Sebelum menyelesaikan kata-katanya, seseorang berteriak di luar.

__ADS_1


“kalian berdua keluar! Aku hitung sampai lima!”


“paman apa yang harus kita lakukan?” dira menjadi khawatir. Walaupun dia sangat kuat, para penjahat itu pasti mengurung lagi para penduduk dan di gunakannya untuk mengancam.


“Tenang. Kita tidak bisa menghadapi masalah ini dengan tergesa-gesa dan pikiran kacau. Kau tenang saja, kita hanya perlu mengikuti dan menghancurkannya secara perlahan-lahan.”


Di luar, sekitar 900 perajut berdiri bersama dengan Pedang mereka masing-masing. Mereka semua gagah dan sangat kuat dan penuh intimidasi.


Di depan mereka ada 10 orang berdiri. Sepertinya mereka adalah petinggi mereka.


Orang yang berteriak tadi adalah orang yang berada paling tengah dan gagah. Dia memiliki kumis yang panjang dan wajah sanggar. Tubuhnya gagah dan penuh intimidasi layaknya para prajurit, tapi dia memiliki aura yang lebih kuat. Senyuman bangga terlihat di wajahnya ketika dia memandang benteng itu.


“Apa ini adalah rencana yang terbaik?” Pria yang ada di sampingnya menoleh dan dengan sedikit ragu-ragu di wajahnya ketika dia berkata. Sambil berkata, dia meletakkan tombak di bahunya.


“Kau terlalu meremehkanku! Apa Yang kau tahu! Hah? Ikuti saja apa yang aku lakukan. Dengan seperti ini, aku yakin, kita akan menang dan menjadi penguasa di sini.” Pria itu kemudian kembali menoleh ke depan.


Dia lalu menghitung. Ketika hitungan ke tiga, akhirnya dira dan Hugo keluar tanpa senjata. Senyuman jahat bermekaran di wajahnya. Dia dengan bangga berkata, “kalian akhirnya datang. Aku sudah menangkap beberapa orang di istana, dan akan membuat mereka aman jika kalian mengikuti kami.”


“apa yang kalian inginkan?” tanya dira dan memandang tajam ke arah pria itu.


“aku tidak punya waktu menjawabnya. Ikut atau... Kalian harus menanggung akibatnya.”


Dengan mengepalkan kedua tangannya, dira menjawab, “baik, aku akan mengikutimu, tapi jika kau berani meneteskan satu darah dari orang-orang tidak bersalah itu, aku tidak akan diam saja.”


“Kau bisa mempercayaiku.”


Pria itu kemudian memerintahkan beberapa prajurit mendekati Dira.


“aku tidak perlu di kawal!”


“Ikuti saja apa yang di perintahkannya. Kita tidak bisa melakukan apa-apa hari ini,” ucap Hugo.


Walaupun Hugo salah satu dari mereka, tapi setelah melihat tatapan semua orang, tampaknya dia sudah Tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Walaupun dia berusaha untuk membela diri, tidak akan ada yang mendengarkannya.


Dengan terpaksa, dira menyerahkan tangannya. Kemudian, di tangannya terbentuk borgol. Para prajurit itu kemudian berjalan mengawalnya, mendekati pria yang berbicara tadi.

__ADS_1


“Bagus, bagus! Dengan seperti ini. Tidak akan ada lagi pertumpahan darah.”


__ADS_2