Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 22 petunjuk


__ADS_3

Di malam yang dingin, bulan sabit menggantung di langit, bintang-bintang yang tidak dapat di hitung tersebar di langit malam, juga awan-awan transparan melayang-layang melewatinya.


Di sebuah gedung tua yang di penuhi semak-semak belukar dan tanaman rambat, beberapa orang berbisik-bisik. Mereka berjumlah 5 orang, dua orang dari luar dan tiga orang dari dalam. Baik dari luar ataupun dalam semuanya sama-sama memakai pakaian serba hitam dengan kain yang menutupi wajahnya. Gerak-geriknya memang sangat mencurigakan.


Salah satu dari luar mengeluarkan sebuah kotak kayu dengan beberapa hiasan di sekitarnya. Dia menyerahkannya kepada salah seorang dari dalam seraya berbisik, “kau harus bisa menjaganya, jika tidak, aku tidak akan memberikannya lagi.”


Orang itu menerimanya, Kemudian menjawab, “hehehe, kau tenang saja, kami memiliki pengalaman dalam hal ini selama beberapa tahun, kemungkinan besar untuk lolos sangat kecil.”


“Baiklah, Jika begitu aku harus pergi.” Setelah mengatakan itu, dua orang dari luar berjalan menjauh.


Seorang yang membawa peti melihat dua orang itu pergi. Lalu ketika tidak terlihat, kedua matanya berbinar memandang kotak di tangannya.


Dua pria sedikit gemuk di belakangnya mengetahui apa yang akan di lakukan oleh rekannya itu, mereka dengan cepat saling pandang dan mengangguk.


Saat pria itu ingin membuka kotak itu, salah satu pria gemuk di belakangnya menepuk bahunya, lalu berkata, “bos, kita harus membagi rata semuanya.” Pria itu menoleh ke rekan yang satunya. “benar, ‘kan?”


“Iya bos, kita harus membaginya.”


“Huh. Kalian pikir ini upah yang di berikan? Lihatlah ini.” Ucap Pria itu lalu membuka kotak kayu dan memperlihatkan isinya kepada dua gemuk itu.


Ekspresi redup seketika menghiasi kedua wajah pria gemuk itu. Mereka pikir itu adalah upahnya, ternyata hannyalah sebuah daftar tambahan tugas. Dengan lemas salah satunya berkata, “lalu di mana upahnya, bos?”


“Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti kita akan mendapatkan uang yang banyak. Heheh.” Pria itu mengelus-elus dagunya seraya membayangkan beberapa banyak uang yang akan dia terima setelah ini.


“lalu kenapa bos senang dengan kotak itu?”


“Bodoh! Dengan kotak ini, kita bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, dan jika itu terjadi, maka kita akan kaya raya. Hahaha!”


Melihat bosnya senang, pria gemuk itu juga ikut senang. Dia dengan senang berkata, “kau benar bos, aku bisa hidup senang setelah ini. Makan yang banyak, tidur sepanjang hari. Huh, aku tidak sabar ingin merasakannya.”


“Tapi.... kapan kita akan mendapatkannya?” tanya pria gemuk yang lain, yang membuat bosnya dan satu rekannya terdiam seribu bahasa.


Setelah diam beberapa saat, akhirnya mereka menjawab dengan lemas. “aku tidak tahu.”

__ADS_1


...****************...


“simo, apa kau ingin mengajakku kencan?” tanya Namila seraya berjalan di samping simo. Mereka pergi menuju alun-alun kota gunung salju dengan tujuan entah apa.


Namila menduga simo mengajaknya kencan sebab, alun-alun kota sangat indah dan romantis ketika malam tiba. Di sana akan ada beberapa lampu berjejeran menghiasi alun-alun kota. Beberapa orang duduk menikmati bulan dan sebagian besar yang mengunjungi adalah para remaja yang sedang mabuk cinta.


“Bisa di bilang begitu.” Jawab simo tanpa menoleh.


“benarkah? Tapi apa kau tahu apa itu kencan?”


Ada rasa heran dan tidak percaya apa yang simo katakan, karena namila tahu simo berasal dari desa terpencil yang semua penduduknya memiliki pengetahuan kecil mengenai itu. Namila juga tahu walau simo sudah belajar, dia pasti tidak mengetahui apa itu kencan.


“itu semacam kunjungan?”


Ternyata benar, simo tidak tahu apa itu kencan. Mendengar itu, namila dengan kesal berkata, “bukan. Itu semacam acara sepesial untuk pasangan.”


“pasangan?” simo mengerutkan keningnya, seperti tidak tahu apa itu pasangan. Dan memang seperti itulah yang terjadi. Simo memang menyukai Namila, tapi dia tidak tahu jika mereka sudah menjadi pasangan.


“sudahlah, kita fokus berjalan saja.” Namila menutup pembicaraan dengan kesal dan berjalan lebih cepat.


Saat tiba di sana, namila langsung mengajak simo berjalan-jalan menikmati indahnya alun-alun itu, mereka mengunjungi taman bunga, pepohonan hijau, air mancur dan banyak lagi. Untung saja saat itu Suasana sedang sepi, sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan apa pun.


Simo sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat namila yang bersemangat mengajaknya, dia mengurungkan niatnya.


Saat duduk di suatu tempat, akhirnya simo bisa mengatakan hal yang sangat ingin dia katakan. Simo mengatakan, ada beberapa petunjuk mengenai keberadaan ivander dan Kenzo, walaupun dia belum yakin, dia ingin memeriksa tempat yang di curigainya. Menurut apa yang telah dia dapatkan, beberapa kali terlihat orang-orang pergi ke sana dengan gerak-gerik mencurigakan.


“dari mana kau mendapatkannya?” Namila bertanya.


“Aku menyuruh beberapa orang untuk melakukan penyelidikan. Katanya, hanya gedung itu saja yang sangat mencurigakan. Bisakah kau membantuku?”


“Tentu saja, tapi sejak kapan kau melakukan penyelidikan itu?”


“sudah lama, tapi baru kali ini aku mendapat petunjuk. Mungkin karena tempatnya terpencil dan terlalu jauh. Apa kau tahu mengenai gedung terbengkalai di pinggir hutan itu?”

__ADS_1


“itu adalah tempat yang menyeramkan. Dulunya, itu adalah pabrik yang didirikan oleh warga kota gunung salju. Para warga mendirikannya untuk memproduksi kayu untuk memenuhi kebutuhan kota saat itu. Namun, seiring waktu berjalan, kayu tidak banyak lagi di gunakan, akibatnya harga kayu rendah, dan menyebabkan warga memilih meninggalkannya. Untuk sejak kapan di tutup aku tidak tahu.”


Namila menarik nafas lalu melanjutkan, “aku menemukannya ketika aku pergi dari rumah. Saat aku menemukannya, aku terkesima dan kagum dengan bangunan itu yang indah dengan semak-semak belukar dan taman rambat yang indah. Yang paling aku ingat, adalah bunga rambat putih yang indah itu. Apa kau ingin mengajakku ke sana?”


“mungkin.” Jawab simo ragu-ragu.


“Jangan bohong ya, jika kau berbohong aku tidak akan memaafkannya.”


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menelusuri taman lagi, tapi bukan untuk masuk lebih dalam, melainkan pulang. Walau itu adalah kencan terpendek dan tidak menyenangkan, namila merasa bahagia, apalagi jika di alun-alun sangat sepi pengunjung, itu membuatnya lebih senang.


Saat perjalanan pulang mereka membicarakan beberapa hal mengenai masa lalunya dan pertemuan yang tidak sengaja. Mereka juga membicarakan seberapa kuat musuh yang akan mereka lawan nanti ketika mulai ujian. Walau simo sudah mempersiapkan semuanya, dia masih saja khawatir dengan itu, apalagi dia tidak mengetahui apa pun mengenai siswa-siswi di akademi.


Saat tiba di rumah, aoba sudah duduk di aula dengan tatapan tajam ke arah simo. Simo dengan cepat mendekatinya dan memberi hormat. Walau aoba terlihat marah kepada simo, simo tahu itu adalah tatapan yang selalu kakeknya berikan ketika sedang mengujinya.


Tatapan itu sudah beberapa kali aoba berikan kepada simo untuk melatih mentalnya, supaya tidak mudah di gertak. Aoba tahu, kekuatan mental adalah salah satu kunci kemenangan untuk melawan musuh kuat, apalagi jika musuhnya memiliki kekuatan berkali-kali lipat lebih tinggi darinya.


Jika bertemu dengan musuh yang lebih kuat, aoba harap simo tidak takut setelah merasakan kekuatannya, sebaliknya, dia berusaha bersikap tenang dan mencari jalan keluarnya. Jika melawannya tidak memungkinkan, maka lari dan bernegosiasi adalah hal yang tepat dilakukan.


Aoba menghela nafas, lalu meminum minumannya.


Kini wajah aoba sudah berkriput dan rambutnya juga beruban termakan usia. Aoba sudah memperkirakan bahwa dirinya tidak lama lagi akan meninggal. Tapi sebelum itu, dia ingin melatih simo sebaik yang dia bisa.


“apa Kakek tidak apa-apa?” mendengar aoba menghela nafas, simo jadi khawatir dengan kesehatan Kakeknya itu. Walau dia tahu kakeknya kuat dan memiliki kultivasi yang tidak rendah, dia mengetahui tubuh kakek adalah tubuh Manusia yang bisa sakit kapan pun, terlebih lagi, Kakeknya sudah berusia lanjut.


Aoba menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata, “ Kakek sudah mengirimkan mata-mata untuk menyelidiki kasus hilangnya temanmu itu. Kakek juga menyelidiki kediaman pria itu, dan dia memang ikut dalam penculikan itu, tapi kita tidak bisa membunuhnya sekarang.”


“mengapa bisa begitu?”


“jika orang itu di bunuh, orang di balik semua itu akan menjadi waspada. Jika itu terjadi kemungkinan besar kita tidak bisa menemukan mereka berdua.”


“kakek benar. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”


“setelah melakukan penyelidikan, kakek belum dapat memastikan apakah itu tempatnya atau tidak. Tapi, terlepas dari itu semua, kita harus bisa masuk dan menyelidikinya sendiri. Kau tenang saja, Kakek akan mengirimkan orang lain untuk melakukannya, tapi jika kau mau kau bisa melakukannya sendiri.”

__ADS_1


Simo diam sejenak, lalu menjawab, “aku akan memikirkannya.”


Setelah percakapan yang singkat itu, simo pergi ke tempat tidurnya


__ADS_2