
50 jurus, tendangan, teknik dan tebasan, sudah simo arahkan untuk menyerang Diana, tetapi tidak satu pun membuat Diana merasakan sakit. Bahkan Kesatria es sudah hancur beberapa kali, tetapi setiap kali hancur, maka muncul kesatria es baru.
Ini sungguh membuat simo kesulitan Tetapi, baginya ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Sudah lama dia tidak merasakan gairah bertarungnya seperti ini.
Dia tersenyum. Dengan keringat dan nafas tergesa-gesa, simo menunjuk Diana dan Kesatria es dengan pedangnya yang masih mengeluarkan aura pedangnya. Dia berkata, “kalian adalah salah satu musuh favoritku. Dengan kekuatan kalian, kalian pantas mendapatkannya. Tapi kalian juga musuh yang harus aku habisi.” Simo menarik pedangnya dan menaruh di bahu.
Diana tertawa. “Baiklah. Jika kami musuh favoritmu, maka kau adalah musuh favorit kami juga.”
“Jangan sampai kalah, ya.”
Diana mengeluarkan pedang es hijau lalu melesat bersama dengan Kesatria es di sampingnya.
“Kau juga.” Simo menjawab, lalu melesat. Di tangan kirinya ada pedang api biru yang menyala dan sangat panas.
Kilatan demi kilatan menghiasi langit. Tebasan demi tebas simo dan Diana lontarkan. Mereka terlihat seimbang. Walaupun demikian, di sini adalah tempat Diana, dan dia adalah penguasanya. Jadi, meski simo mampu menandingi Diana dan bertahan cukup lama, dia belum tentu bisa menang dan mengalahkannya.
Terlebih lagi Diana sekarang berjumlah dua, dan itu pun masih kuat, bagaimana jika dia menggabungkan tubuhnya? Maka itu akan mustahil mengalahkannya.
Anulika tidak jauh dari simo juga terus berjuang melawan musuhnya. Walaupun dia tidak seimbang, dia tetap berusaha berjuang demi adiknya. Setiap kali dia memandang wajah Diana, dia melihat kesedihan-kesedihan yang di alami adiknya. Itu membuatnya geram dan emosi balas dendam meluap-luap seperti air rebus.
Bahkan baju yang dia kenakan sudah robek. Tubuhnya terluka di beberapa sisi. Air keringat mengalir deras. Nafasnya naik-turun dengan cepat.
Meski begitu, anulika tetap melawan Diana.
Kembali ke simo. Dia akhirnya berhenti melakukan serangan kilat. Dia memilih mundur dan mendarat di salah satu rantai. Nafasnya kini terengah-engah. Dia memegang Pedangnya dengan erat dan memandang tajam ke arah Diana yang melayang bersama Kesatria esnya yang sulit untuk di musnahkan.
Diana tersenyum setelah melihat simo kelelahan. Dia lalu berkata, “apakah sampai di sini saja kemampuanmu?”
“tentu saja tidak. Kau juga, apakah sampai di sini saja kemampuanmu?”
“Apakah ini Ucapan yang tidak penting?” Tanya Diana, baginya pertanyaan itu sangat tidak perlu di jawab ataupun di pertanyakan. Sebab, dia masih bisa terbang dan menggelar berbagai Teknik-teknik esnya, bahkan jika ingin, Diana bisa saja mengeluarkan semua kekuatannya. Namun, dia tidak ingin melakukannya, karena dia ingin menunggu Namila kembali dan menyelesaikan langkah terakhir rencananya.
Sebetulnya, dia sudah mengetahui rencana anulika, dan dia juga yang membiarkan mereka tiba di sini tanpa kesulitan apa pun. Alasan dia di sini hanya bertarung dan menikmati berbagai kemampuan dua orang di depannya.
__ADS_1
Meski pun kini Diana terbelah menjadi dua, pikiran masih satu dan kesadaran berada di dua Diana ini. Jadi, dia bisa berbicara kepada dua orang sekaligus dan menikmatinya.
“baiklah. Jika memang tidak mau jawab, maka aku akan...” sebelum menyelesaikan ucapannya, simo di kejutkan dengan aura kuat terpancar tidak jauh darinya.
Namun, Diana tidak. Dia berkata dengan tenang, “sepertinya temanmu itu sudah tidak punya banyak waktu lagi.”
Ya! Aura itu tidak lain berasal dari anulika yang kini berada 100 meter dari simo.
Dia mengeluarkan aura es yang sangat besar dan kuat. Percikan-percikan salju terhempas bersama angin di sekitarnya, menciptakan deru angin yang kencang dan mengguncang bukit-bukit di sekitarnya.
Simo yang melihatnya tidak bisa tidak terkejut. Dia merasakan kekuatan yang besar dari dalam tubuh anulika, kekuatan itu setara dengan kekuatan tingkat alam. Yang berada dua tingkat dari kekuatan simo saat ini, yaitu tingkat bumi tahap 8 dan sebentar lagi mencapai tahap 9.
Simo berbalik menoleh ke arah Diana dengan tersenyum, seolah dia tidak terkejut dan takut jika itu adalah kekuatan Anulika yang terakhir atau teknik yang membuat tubuh jiwanya hancur berkeping-keping. Dia tidak mau jika melihat musuhnya menikmati keterkejutan dan kekawatiran di wajahnya.
“Bisa kita diam sebentar? Aku ingin menyaksikannya dulu. Kita lihat siapa yang akan menang, temanku atau bagian tubuhmu.”
“Baik. Kita lihat, tapi jangan berharap temanmu itu bisa mengalahkanku.”
“Tidak ada, bahkan untuk mengungguliku saja dia tidak akan bisa,” jawab Diana dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dia berani mengatakan itu, karena dia adalah seorang yang berada di tingkat alam tahap akhir dan salah satu ketua di organisasi salju hitam.
Banyak yang tidak tahu, jika ada dua orang di tingkat tersebut karena Diana tersembunyi sangat baik, sehingga banyak yang tidak mengetahuinya.
“Katakan saja, aku ingin mendengarnya.”
Diana memandang wajah simo beberapa detik, dia ingin memastikan apakah ada sesuatu yang membuat simo bersikeras untuk menanyakan hal itu kepadanya. Namun, sayangnya Dia tidak menemukannya.
Karena simo tidak kunjung berbicara, dan seolah dia ingin Diana lah yang berbicara duluan, akhirnya Diana memilih membuka mulut, “ aku akan membiarkan kalian masuk ke dalam menara.”
“Itu tidak terlalu baik. Bagaimana kalau kau membiarkan kami masuk dan membiarkan kami juga keluar dari sini?”
Diana memandang tajam ke arah simo, kemudian menerimanya dengan mudah, tapi jika itu terjadi dia tidak akan membiarkannya.
Setelah ledakan energi dari anulika, Dewi es menjadi semakin membesar, bahkan lebih besar dari anulika. Di tangannya ada seruling yang indah.
__ADS_1
Ketika kedua matanya terbuka, mata kuning bercahaya terang dan sangatlah indah.
“Apa ini adalah kartu asmu?” tanya Diana yang melayang tidak jauh dari Anulika.
Anulika tidak menjawab. Dia memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Dan Dewi yang besar berada di belakangnya. Gaun-gaun Dewi es menari-nari di tiup angin.
Dewi es perlahan-lahan meniup serulingnya dengan lembut. Suaranya tajam, namun indah menghiasi daratan pegunungan itu.
Dari lubang serulingnya keluar butiran-butiran es. Butiran-butiran itu terbang bergelombang, lalu membentuk 7 wanita bersayap dengan warna es yang berbeda-beda.
Ungu, kuning, hijau, putih, biru, merah, dan terakhir abu-abu.
Ini adalah teknik terkuat yang di miliki penggunaan elemen es yaitu es 7 warna dan merupakan puncak dari kekuatan es tahap alam. Anulika bisa menggunakannya karena sebuah teknik terlarang yang dia dapatkan dan di latihnya. Dia mendapatkannya ketika tidak sengaja menemukannya di sebuah perpustakaan.
Buku itu sangat kuno dan berdebu, bahkan tidak ada orang yang mempedulikannya. Dia mendapatkannya di bawah rak buku.
Karena ada miliknya yang jatuh ke sana, dia pun menggapainya, dan tidak sengaja mengapai buku tersebut.
Buku itu tidak mempunyai judul. Oleh karena itu, dia tertarik dan membuka beberapa halaman, namun tidak satu pun yang dia bisa pahami.
Tapi, seiring waktu berjalan, dia akhirnya memahaminya dan bersyukur karena telah menemukannya. Dengan buku tersebut, dia ingin menyelamatkan adiknya yang telah di culik.
Sesuai teknik-teknik pada umumnya, teknik ini membutuhkan pengorbanan, itu tidak lain adalah tubuh penggunanya akan hancur dalam waktu satu hari. Karena Anulika sudah tidak mempunya tubuh, maka itu di gantikan dengan Jiwanya.
7 wanita itu kemudian menari-nari dan bersatu, membentuk dewi es 7 warna yang sangat indah. Dia memakai gaun yang indah bak seorang putri kerajaan. Gelang-gelang menghiasi tangan dan kakinya. Rambutnya di sanggul dengan tusuk konde.
Perlahan-lahan anulika membuka matanya. Dengan wajah penuh tekad, dia memandang Diana yang tersenyum tidak jauh darinya.
“apa kau sudah siap?”
Dewi es kedua terbang, mendarat di samping Dewi es kesatu.
“Iya. Sekarang lihatlah kartu asku,” kata Diana dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1