
“raka! Akhirnya kita bertemu.” Suara dari seseorang yang tidak terlihat, suaranya menggema dan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat.
Mendengar itu Raka tiba-tiba menjadi takut, dia sangat mengenal suara itu, suara yang membuatnya hampir gila dan menyesal di lahirkan di dunia ini. Membayangkan rupa wajahnya saja membuatnya ngeri dan takut, apalagi dia muncul di hadapannya secara langsung mungkin dia akan sangat ketakutan.
Mendengar suara itu dia mulai mengingat saat orang itu membantai teman- temanya yang tiada ampun, jeritan-jeritan temanya yang sangat menderita masih tertanam di dalam benaknya. Saat mengingatnya dia merasa masuk ke dalam neraka yang dalam dan di bakar oleh api abadi.
Seketika tangannya gemetar dengan cepat berbalik, dia hendak pergi tetapi ada sesuatu yang menghalanginya. Dengan wajah takut, gelisah, dia berusaha menghancurkan sesuatu yang menghalanginya.
“raka lama tidak bertemu.” Suara itu terdengar datar dan berasa dari belakang Raka.
Mendengar itu Raka langsung berbalik membungkuk dan menyentuhkan kepalanya berkali kali.
“ampuni aku tuan.” Ucapnya berkali kali dengan suara parau yang sangat ingin belas kasihnya.
Raka yang tadinya sombong dan kuat kini gemetar, takut dan meminta pengampunan.
Di depannya melayang seorang pria paru baya, dia memiliki tubuh yang kekar, rambut pirang dan sedikit kumis.Wajahnya terlihat datar, meskipun begitu jika seseorang mengenalnya akan berlari terbirit-birit karena takut.
Di balik wajah datarnya terselip rupa yang mengerikan dan akan siap mencabik-cabik musuhnya.
Dia adalah kakek namila, seseorang yang menonton pertarungan dari atas tebing kemarin.
“Tuan jika kau melepaskan ku, aku akan melindungi keluarga anda dan selalu setia dengan anda bahkan jika perlu aku rela mengorbankan nyawaku sendiri.” Ucap Raka dengan suara memohon.
“Benarkan?” tanya kakek namila sambil tersenyum menyeringai.
“iya tuan, aku tidak berbohong, aku akan selalu...”
“Maaf aku tidak berminat dengan penawaran mu.” Potong kakek namila.
Mendengar itu Raka ingin memohon lagi, tetapi dengan cepat kurungan yang tidak terlihat itu bergerak jatuh dan menghantam tanah dengan keras serta masuk ke dalamnya membuat Raka terbaring tidak sadarkan diri.
Kakek namila menyentikan jarinya seketika kurungan itu mengecil dan akhir menghilang menjadi debu.
Kakek namila menarik nafas panjang. “semoga kau tenang di alam sana.” Gumamnya lalu melayang mendekati tempat aoba terbaring dan memeriksa tubuhnya.
Setelah beberapa detik memeriksa, kakek namila mengeluarkan pil berwarna hijau lalu memasukkannya ke dalam mulut Aoba kemudian membawanya dengan melayang.
...*****...
Di pihak lain namila dan pengawalnya, Nara mendengar suara ledakan yang keras membuat mereka penasaran sehingga memutuskan untuk mencari apa yang terjadi.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba di depan hutan peri dan terkejut melihat pelindung yang melindungi hutan yang perlahan-lahan menghilang.
__ADS_1
Namila merajut keningnya, heran melihat pelindung yang ada di depannya, seingatnya pelindung hanya bisa di gunakan oleh orang yang ada di tingkat surgawi dan sebelumnya dia juga mengetahui tidak ada orang yang berada di tingkat surgawi di tempat ini selain kakeknya dan jika itu kakeknya itu sangat mustahil serta untuk apa juga memasang pelindung di hutan seperti itu.
Namila memandang Nara yang memperlihatkan ekspresi wajah yang sedang memikirkan sesuatu.
Melihat itu namila berkata. “nara, apa kau mengetahui sesuatu.”
“ah, nona.” Nara sedikit terkejut. “dari buku yang saya baca, ini adalah pelindung yang di buat ratu peri.”
“ratu peri?” tanya Namila dengan heran.
Bangsa peri adalah bangsa yang terisolasi dan tidak mau memperlihatkan dirinya olah karena itu mereka sulit untuk di buktikan keberadaannya dan sepanjang pengetahuan namila dia hanya mengetahui tentang peri sedikit jadi wajar saja dia heran.
“Iya nona, ratu peri biasanya menciptakan pelindung untuk melindungi daerah kekuasaannya.”
“Apa kau yakin itu adalah pelindung yang di ciptakan ratu peri?” tanya namila meyakini.
Nara memandang pelindung itu untuk memastikannya. “dari ciri-ciri yang aku dengar memang benar-benar.”
“seberapa yakin?”
“Nona aku sangat yakin itu adalah pelindung yang dibuat oleh ratu peri.” Ujar Nara dengan suara yang lebih tinggi menandakan dia sangat yakin dengan prediksinya.
“nona mungkinkah ini adalah hutan peri?”
“Mu-mungkin.” Ucap namila ragu, baginya sangat aneh jika para peri berada di hutan yang sepertinya tidak ada keindahan sama sekali.
Nara hendak pergi dengan cepat namila menahannya. “tunggu, aku ingin mencari tahu apa yang terjadi dulu.”
Mendengar itu Nara menjadi pucat.
Melihat wajah Nara yang cepat berubah namila pun berkata, “tenang saja setelah itu kita akan mencarinya.”
“Baiklah.” Nara kemudian pergi lalu diikuti namila.
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka tiba di perbatasan hutan.
Sepanjang perjalanan Nara memperhatikan sekitarnya dan mencari cari keberadaan para peri.
Beberapa detik berlalu dia menemukan kebun bunga yang lebat membuatnya lebih yakin bahwa di hutan itu ada bangsa peri sedangkan namila hanya fokus ke depan tanpa mempedulikannya baginya mencari sesuatu yang di dengarnya lebih penting dari sekedar mencari bangsa peri.
Saat mencapai di perbatasan hutan mereka mengerutkan kening Karena heran dan penasaran dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Di hadapan mereka puluhan mayat raksasa tergeletak begitu saja ada beberapa kepalanya terputus. Darah segar mengalir ke segala arah.
__ADS_1
“Aku tidak pernah melihat tebasan Serapi ini.” Gumam Nara sambil menyelidiki beberapa mayat raksasa.
Namila memandang sekitar dan mencari-cari apakah masih ada seseorang lalu memutuskan untuk berjalan mengitari mayat -mayat raksasa tersebut dan sesekali memperhatikannya
Dari pengamatannya dia mendapatkan beberapa tubuh raksasa itu di batin di tusuk dan di Patahkan dapat di simpulkan bahwa itu di lakukan tanpa adanya energi mikrosmos.
Beberapa menit akhirnya dia melihat tubuh seorang anak yang tergeletak begitu saja dengan baju yang di basahi darah dan keringat. Wajahnya tidak terlihat karena menghadap ke bawah, dengan cepat namila menghampirinya.
Saat membalikkan tubuhnya, dia sangat terkejut melihat wajah anak itu yang merupakan simo, orang yang dia lawan kemari.
Dengan cepat dia memeriksa detak jantung lalu menarik nafas lega karena dia masih hidup dan cuma kelelahan.
“nara, tolong sembuhkan dia.” Ujar namila kepada Nara yang tidak jauh berada yang sedang menyelidiki mayat raksasa.
“Baik nona.” Dengan cepat nara menghampiri namila. Saat melihat orang yang ingin di sembuhkan namila Nara memperlihatkan ekspresi heran dan berkata, “kenapa nona ingin menyembuhkannya?”
“bukankah menyelamatkan orang lebih penting.” Sahut namila.
Nara mengerutkan keningnya karena lebih heran, Sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat nonanya yang berperi kemanusiaan seperti ini.
“Apa nona menyukainya?” tanya Nara. seketika sorot mata yang tajam menghampiri Nara yang menandakan namila marah dengannya.
“Maaf nona, aku tidak bisa sebelum anda mengatakan alasan yang sebenarnya.” Ucap Nara yang tidak mempedulikan sorot mata marah namila.
Namila memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk melupakan kemarahannya. Dia hanya perlu menjelaskan apa yang sebenarnya. “soal itu karena dia akan menjadi teman latihanku. Sebelumnya juga kakek sudah mengatakannya bahwa dia akan menjadi teman latihanku setelah melihat bakatnya yang mumpuni dan hebat.”
Mendengar itu Nara menjadi paham apa yang di maksud. Sejak kecil namila hidup tanpa ada kasih sayang orang tua membuatnya memiliki sikap dingin dan cuek bahkan kakeknya saja tidak bisa mengubahnya.
Saat namila menginjak usia sekolah kakeknya malah mengasingkannya karena di khawatirkan dia akan membunuh setiap anak yang akan membuatnya marah dan kesal.
Namila memang mudah kesal dan marah jika bukan karena kakeknya berjanji akan membawakan teman latihan maka dia tidak akan mau berlatih seperti yang lainnya.
Oleh karena itulah jika ada seorang yang mengganggunya dia tidak akan segan-segan melukainya meskipun itu masalah kecil.
Setelah mendengarnya Nara langsung menyembuhkan simo. Tidak butuh waktu lama untuk menyembuhkannya karena simo hanya kelelahan. Saat melakukan penyembuhan sesuatu yang aneh di rasakan Nara dalam tubuh simo, dia merasakan aura dingin yang mencekam, tetapi dia tidak dapat mengetahui dari mana asalnya.
Jika itu adalah energi mikrosmos itu mustahil karena dia mengetahui simo baru mencapai tingkat bumi tahap sembilan dan butuh beberapa hari untuk menerobos ke tahap selanjutnya.
Sejenak memikirkannya, Nara tidak dapat memastikan dari mana energi itu maka Nara memutuskan untuk mencari tahunya di akademi nanti.
“nara ambilkan aku pena dan kertas.” Ucap namila setelah melihat Nara selesai menyembuhkan simo.
Nara mengangguk dan mengelukan kertas dan pena dari bajunya lalu menyerahkannya.
__ADS_1
Namila lalu menulis kemudian menaruhnya di tangan simo.
“ayo pergi.” Ucap namila yang di jawab anggukkan oleh Nara kemudian mereka pergi dari sana untuk menyelidiki hutan untuk memuaskan rasa ingin tahu Nara.