Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 11 orang misterius


__ADS_3

Matahari sudah menurun dan memancarkan cahaya hangatnya. Di perbatasan hutan, simo dan Aoba masih bertarung dengan keras. Air keringat yang bagaikan air terjun kian mengalir di pelipis dan tubuh mereka, membasahi baju mereka seperti tenggelam dalam air.


Aoba bertarung melawan Raka di tepat lain sedangkan Simo sekarang berdiri sambil bersikap siaga sesekali memandang sekitar yang sudah di kerumuni raksasa yang siap menyerangnya.


Sudah 10 raksasa dia kalahkan, tetapi itu tidak membuat dirinya memenangkan pertarungan ini, apalagi semua raksasa itu sangat kuat bahkan jika saja dia tidak melatih pedangnya maka dapat di pastikan dia akan kalah dengan cepat.


Setiap raksasa yang simo bunuh dia dapat merasakan betapa keras dan kuatnya daging raksasa itu. Pedangnya seperti memotong batu yang tebal.


“Bocah!terimalah kematianmu sekarang.”


“Mati? Tentu kalian yang akan mati duluan.” Di saat bersamaan simo berlari menuju salah satu raksasa yang berbicara dengan secepat cahaya dia memegang kakinya dan membantingnya berkali kali hingga raksasa itu mengeluarkan seteguk darah segar.


Menyadari raksasa itu tidak akan mampu menyerang dengan cepat simo melompat ke punggungnya dan menusuk punggung leher raksasa itu dengan brutalnya hingga raksasa itu berteriak kesakitan lalu akhirnya mati


“apa kau sudah melihatnya.” Ucap simo sambil Mandang semua raksasa dengan tatapan dingin dan menusuk bagaikan jarum.


Melihat itu Semua raksasa meraung dan Menyerang simo.


Dengan sorot matanya yang dingin, simo bergerak menebaskan dan mengayunkan pedangnya serta melempar semua raksasa dengan mudah.


Simo dapat merasakan kekuatannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya bahkan dia bisa membanting tiga raksasa secara bersamaan.


Dia samar samar merasakan ada aura aneh yang menyelubungi tubuhnya dan aura itu memberikan keberanian, kekuatan yang melimpah.


Setiap teriakan simo lemparkan dan setiap teriakan itu membuat salah satu raksasa mati, baik itu karena terluka atau pun karena kepalanya sudah terpisah.


10 menit sudah berlalu dari serangan simo yang brutal itu dan tinggal 10 raksasa lagi yang masih hidup.


“Apa yang kalian tunggu majulah.” Ujar simo dengan tatapan dingin dan aura membunuh.


Semua raksasa yang tersisa hanya bisa menelan ludah karena ngeri dan ketakutan, bahkan senjata pedang yang mereka biasanya dipegang dengan erat kini terlihat gemetar.


Mereka tidak menyangka bocah di depan mereka adalah bocah monster.


Di dalam pikiran mereka, mereka tidak lagi menganggap simo sebagai bocah kecil yang baru mengenal dunia melainkan sebagai malaikat maut yang harus mereka hindari setiap saat.


Dengan gemetar mereka membuang senjata dan berlari ketakutan.


“Jangan jadi pengecut!” Saat mengucapkan itu simo melesat dan memotong semua kepala raksasa itu dengan mudah membuat darah bercucuran bagaikan air hujan.


Setelah membunuh semua raksasa tadi simo secara mendadak merasakan tubuhnya sangat lemah. perlahan- lahan pedang yang di genggamnya mulai merenggang dan akhirnya jatuh.


Kakinya yang sangat kuat untuk berlari, melompat dan menendang kini terasa gemetar dan tidak kuat menahan beban tubuh simo.


“apa yang terjadi.” Batin simo yang merasa keheranan dengan tubuhnya yang mendadak lemas.

__ADS_1


Sesaat kemudian simo dapat merasakan kepalanya sakit dan penglihatannya samar samar dan buram serta tubuhnya sempoyongan dan akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.


...****...


Di perbatasan antara hutan desa dan hamparan rumput Aoba dan ketua raksasa yang di kenal dengan nama raka saling berhadapan dan menjaga jarak.


Mereka sudah bertarung sekitar 10 menit.


Beberapa lubang terlihat di sekitar mereka yang merupakan bekas pertarungan sebelumnya


“Pak tua kau hebat.”


“Apakah itu sebuah pujian?”


Raka tersenyum menyeringai. “tentu saja.”


“maaf, tapi aku tidak mau menerima pujianmu.” Sambil berbicara aoba mengalirkan energi api ke dalam pedangnya membuat pedang itu di selimuti api yang berwarna kuning kebiruan.


Melihat itu Raka tersenyum meremehkan.


Dengan kedua tangannya aoba mengangkat pedangnya dengan tinggi. “tebasan api!”


Wusss, bommm!!!! Seketika tanah terbelah menjadi dua, pohon-pohon berubah menjadi abu hingga beberapa meter.


“huh...huh...huh...” suara nafas aoba yang kelelahan.


Sepersekian detik wajah aoba menjadi pucat karena Ternyata harapan aoba meleset, Raka berdiri di sela sela tanah tanpa terluka sedikit pun. Raka memandang aoba kemudian tertawa keras


Raka membersihkan bajunya “bagus, bagus, bagus!” teriaknya.


“pak tua, kini giliran ku!” Raka melepas semua energinya kemudian menendang tanah ke belakang dan melesat dengan cepat.


Aoba mengerutkan keningnya, tidak percaya raksasa di depannya tidak mengalami luka sama sekali bahkan goresan pun tidak ada membuatnya bertanya tanya tubuhnya terbuat dari apakah?


Dengan cepat aoba melesat kemudian terjadi pertarungan cepat di udara, pertarungan itu bagaikan pertarungan cahaya yang sangat cepat dan jika orang biasa yang melihatnya dia tidak akan menyangka bahwa itu adalah pertarungan antara manusia dan raksasa.


Setelah beberapa saat, Aoba menjaga jarak dan mempersiapkan teknik bertarung. “tebasan api !” aoba menghujani Raka beberapa tebasan api, tetapi Raka bisa menghindarinya dengan mudah dan sambil tersenyum membuatnya kesal dan marah dengan cepat dia melesat mengarahnya dan Lagi lagi pertarungan kilat terjadi di langit.


5 menit pertarungan itu terjadi, aoba menghujani berbagai macam serangan kepada raka, tetapi lagi-lagi raka selalu dengan mudah menghindarinya.


Seberapa kuat dia, batin aoba.


Aoba sudah mencapai ambang batas kekuatannya dan sebentar lagi semua energi di dalam tubuhnya akan mengeringkan sehingga dia harus mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin.


“pak tua, apa kau sudah menyerah!” ujar Raka sambil menahan serangan aoba dengan mudah.

__ADS_1


Aoba tidak menjawabnya ,tetapi dia menendang perut Raka hingga membentur tanah membuat lubang berdiameter 10 meter di tanah. Kabut tebal meledak bagaikan bom atom.


“ahahahaha!” tawa Raka di dalam gumpalan debu kemudian bangkit dan membersihkan dirinya.


Raka lalu memandang aoba yang melayang. “Pak tua! Kau sudah mengenaiku beberapa kali, tetapi sepertinya seranganmu hanya gigitan semut bagiku. Sekarang cobalah seranganku ini.” Di saat bersamaan Raka sudah muncul di belakang aoba membuatnya terkejut dan hendak menyerang , tetapi dia tidak sempat sehingga.


Bommm!!!! Raka memukul aoba hingga membentur tanah dan membuat lubang yang bahkan lebih besar dari lubang aoba buat.


Raka tersenyum puas dengan serangnya dan bahagia dapat membalas serangan aoba, apalagi sepertinya aoba tidak bisa menahannya


Sejenak menunggu akhirnya debu menghilang menyisakan aoba yang terlentang di tanah.


“ukh...ukh..ukh...” suara batuk aoba sambil mengeluarkan darah segar kemudian melihat Raka yang melayang tinggi di atas.


“Pak tua, terimalah seranganku yang kedua ini. Hahahaha.” raka sudah mengangkat pedangnya dengan tinggi tinggi kemudian dia menebaskannya ke bawah dengan sangat kuat.


Wuuusssssss.” Angin berbentuk bulan sabit yang begitu besar mengarah ke tanah, tepat di tempat aoba terlentang. Angin yang bagikan badai berembus. Awan-awan menyingkirkan seperti takut akan serangan itu. Pohon-pohon bergoyang-goyang beberapa ada yang tercabut dan patah karena dahsyatnya serangan itu.


Aoba dapat merasakan energi yang begitu besar dan kuat mendekatinya, tubuhnya terasa di tekan oleh satu gunung yang sangat besar dan panas, jantungnya berdetak lebih kencang seperti ingin meledak. Dia ingin menghindar, tetapi sekarang tubuhnya begitu lemah setelah bertarung dengan Raka, apalagi tubuhnya sekarang di tekan oleh energi yang begitu besar.


Apakah aku akan mati.” Batinnya.


Aoba sekarang ingin sekali melihat cucunya untuk terakhir kali. memberitahunya tentang orang tuannya, mendaftarnya di akademi dan yang paling dia inginkan adalah melihatnya tubuh dan berkembang menjadi anak yang berbakat, yang membanggakannya.


Di dalam benaknya dia ingin sekali ada seseorang yang mampu menolong cucunya dari Raka dan membuatnya aman serta bahagia. Selain harapan dia juga ingin meminta maaf kepada cucunya itu, meskipun tahu ataupun tidak tahu apa yang membuatnya bersalah.


“semoga cucuku selamat.” Batinnya lalu memejamkan matanya untuk terakhir kali dan selamnya.


“Hahaha!!” tawa Raka yang melihat aoba tidak bisa menahannya.


Tebasan angin itu kian mendekat dan mendekat, aoba dapat Merasakan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya, beberapa sudut tubuhnya mengeluarkan darah segar karena tidak kuat menahan tekanan.


Wussssssss!!!! Tebasan itu mengenai tanah dan terus mendorongnya, retakan retakan tanah mulai terlihat dan juga beberapa pohon hancur menjadi debu.


“Ukh...ukh....ukh...” suara batuk aoba di sertai darah segar.


Raka yang mendengarnya, tersenyum puas, meskipun dia tidak terlalu senang dengan perlawanan yang di berikan aoba.


10 detik berlalu, tebasan angin itu kian merobek-robek tanah dan pepohonan.


Aoba masih di tahan oleh tebasan itu, tetapi dia sudah tidak sadarkan diri.


“Apa yang terjadi.” Gumam Raka sambil mengerutkan keningnya, biasanya serangannya akan menghancurkan tubuh lawannya saat sudah bersentuhan dan juga dia mengetahui tingkat Aoba sekarang dan mustahil untuk menahan serangannya, tetapi mengapa serangannya itu belum membunuh aoba? Membuatnya bertanya-tanya.


Wajah Raka menjadi pucat basi setelah menyadari serangannya ada yang menahan seperti dinding yang tidak terlihat dan dia sangat mengenalnya.

__ADS_1


Tebasan itu berhenti turun membelah tanah, sebaliknya terangkat dan akhirnya hancur bagikan angin ****** beliung.


“raka! Akhirnya kita bertemu lagi.” Suara dari seseorang yang tidak terlihat, suaranya menggema dan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat.


__ADS_2