
Setelah beberapa saat berlari, akhirnya simo dan namila memutuskan untuk berhenti. Mereka berusaha mengatur nafasnya yang terburu-buru sambil kedua tangannya di lutut, seolah perutnya sudah tidak kuat untuk di topang.
Tentu saja dada mereka berdetak kencang seperti alarm, kemudian air keringat bercucuran seolah mendengar alarm tersebut. Meski mereka berlari di suhu sedingin tersebut, baik simo maupun namila tidak merasa demikian.
Asap tipis keluar dari mulut mereka berdua ketika bernafas.
Setelah tarikan nafas mulai teratur dan jantung berdetak lebih normal, namila bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?”
Memikirkan sesuatu di saat terdesak dan terkepung adalah sesuatu yang sulit di lakukan, terlebih lagi sedang kelelahan. Oleh karena itu, namila bertanya kepada simo di samping yang sudah berdiri tegap.
Pemuda ini lebih cepat pulih dari namila. Wajahnya juga terlihat lebih tenang dari namila.
“Aku akan memikirkannya nanti, namun untuk hari ini, kita hanya bisa berlari dan meminta bantuan.”
“lihat, di hadapan kita,”
Namila yang menoleh ke arah simo, langsung memandang ke depan. Ekspresi terkejut terlihat di wajahnya saat menatap apa yang ada di depannya. Mereka berlari terlalu cepat, sehingga tidak menyadari apa yang ada di depan mereka sendiri.
“ini mungkin alam mimpi Azka. Dia mungkin telah memasukkan kita saat mereka mematikan lampunya.”
“Bagaimana bisa!?” Namila terkejut mendengar itu. Memasukkan orang secara instan seperti itu ke dalam alam mimpi adalah sesuatu yang terbilang mustahil, Bahkan tidak ada yang pernah melakukan di dalam sejarah.
Di depan mereka, terlihat pemukiman-pemukiman penduduk yang tidak ramai, bahkan terbilang sangat sedikit. Di hamparan salju yang luas dengan latar pegunungan yang lebar, rumah-rumah kayu terlihat menjaga jarak yang cukup jauh. Yang paling unik di antara mereka, semua bangunan itu terlihat di cetak oleh cetakkan yang sama dan tidak ada yang berbeda sedikit pun.
Hanya saja, umur mereka yang bervariasi. Bangunan-bangunan itu terbuat dari kayu yang sama, bentuk yang sama, bahkan cat pun sama. Di salah satu rumah ada cerobong asap yang mengeluarkan asap yang terbilang cukup besar.
Di tempat yang jauh lagi, ada pegunungan yang membentang seperti pembatas. Di ujungnya semuanya tertutup salju yang indah dan putih.
“Ini sungguh aneh. Aku sudah melakukan berbagai hal di alam mimpiku, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya untuk berlatih dan beristirahat.” Gumam simo seraya menyentuh dagunya. Tentu saja, dia tidak mengatakan beberapa roh tinggal di dalam alam mimpinya. Karena jika dia mengatakan itu, pasti akan mengundang berbagai pertanyaan. Dan lagi pula dia tidak ingin mengungkapkannya juga.
__ADS_1
Meski dia tidak seratus persen yakin dengan dugaannya, dia sudah mengenal alam mimpinya dari dulu dan sudah menjadi kebiasaan setiap kali bertemu dengan kaisar pedang, yang artinya dugaannya mungkin benar. Di tambah tidak mungkin juga hasil penelitian bisa sehebat ini, dan jika itu pun bisa, seharusnya simo dan Namila dapat merasakan sesuatu sebelum masuk ke sini, seperti rasa sakit atau tersedot.
“Aku juga. Bahkan aku sudah melakukan berbagai uji coba, namun semuanya gagal.” Imbuh Namila.
Gadis ini memang pernah melakukan dan lebih mengenal alam mimpi lebih dari simo.
Sebelumnya, dia yakin ini bukan alam mimpi, tapi setelah melihat ada ciri-ciri yang cukup membuatnya yakin, dia menjadi terkejut dan wajahnya terlihat tertarik sekarang, meski berada di alam mimpi seseorang dan itu pun musuhnya
“Untuk apa kalian memikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti itu?”
Butiran-butiran es muncul dan segera menyatu, membentuk tubuh manusia, dia adalah Azka. Di punggungnya ada sayap putih bersih seperti salju yang lebar. Di tambah dengan gaun salju hijau panjang yang menyelimutinya, membuatnya tampak seperti malaikat.
Saat ini, simo dan namila sudah mengambil ancang-ancang untuk bertarung. Mereka memandang tajam ke arah Azka di depannya.
“Beginikah kalian bersikap di rumahku?” tanya Azka tanpa sedikit pun terkena intimidasi dari simo dan namila. Dia terlihat seperti biasa, seolah berhadapan dengan orang yang selalu dia jumpai.
Dengan pernyataan itu, simo dan Namila lebih yakin dengan dugaan mereka.
“apa yang kau inginkan!?” Seru namila ingin mengetahui apa yang akan dilakukan musuhnya saat ini
Mendengar seruan namila, Azka tersenyum, lalu berkata, “Nona cantik, tidak baik berbicara seperti itu.”
“terserahku!” pekik Namila dengan tetap memandang tajam ke arah Aska. Dia ingin menyerangnya, tetapi dia belum berani, kemampuan Azka tidak dia ketahui sedikit pun, dan di tambah dengan tempatnya berada saat ini sepertinya merupakan daerah kekuasaannya.
Selain itu, kondisi seperti ini jelas sangat tidak menguntungkan baginya yang terbiasa dengan iklim hangat, sehingga menurunkan kekuatan dan daya tahannya.
Azka mengangkat wajahnya.
“Aku akan menjawab semua hal yang ingin kalian ketahui. Di tempat kalian berada, adalah alam mimpiku, jadi, bersikap baik lah. Kalian akan bebas jika bisa membunuhku atau setidaknya memaksa aku untuk mengeluarkan kalian dari sini.”
__ADS_1
“Aku akan melakukannya sekarang!”
Simo mendadak muncul di belakang Azka. Dia langsung menebaskan pedangnya, akan tetapi sebelum menyentuh Azka, mulai dari tangan simo muncul es yang semakin banyak, lalu membeku dengan cepat.
“Aku lupa satu hal, ini adalah daerah kekuasaanku, jadi semua yang terjadi aku dapat merasakannya. Di sini ada hukum yang berlaku.”
Azka terbang di belakang simo yang masih melayang dan berusaha menghancurkan es itu. Meski simo kuat, dia tidak bisa memecahkan es itu sedikit pun, bahkan menggoresnya pun tidak bisa. Hal ini menandakan kekuatan Azka sangat kuat atau mungkin juga ini karena daerah kekuasaan Azka.
“jadi, karena kau telah melanggarnya maka aku harus memberikan hukuman padamu.”
Azka mengarahkan telapak tangan ke punggung simo dengan cepat, membuatnya melesat dengan kecepatan tinggi dan menabrak salju dengan keras.
Dada simo dan punggungnya terasa sangat sakit ketika melesat dengan kecepatan seperti itu, namun anehnya tidak ada patah tulang sedikit pun.
“jadi warga yang baik, kalian semua.” Azka kemudian menjadi ribuan keping es, lalu menghilang.
“dasar ceroboh!” seru namila membantu simo berdiri.
Simo hanya bisa tersenyum kecut setelah Namila menghardiknya. Jika di katakan ceroboh tentu saja tidak, simo hanya melakukan percobaan saja dan ternyata percobaan memang benar apa yang dia duga.
Azka adalah penguasa di tempat ini dan merupakan orang yang paling sulit untuk di bunuh di daerah kekuasaannya seperti ini, maka, simo harus keluar dari sini atau bertarung di tempat lain untuk membunuhnya atau setidaknya mengalahkannya.
“namila, kita harus cepat keluar dari sini.”
Simo tentu khawatir dengan keadaan anulika di luar yang tidak mendapatkan pertolongan sedikit pun. Di hatinya, dia menduga jika tidak cepat keluar maka mustahil untuk menyelamatkannya.
Namila mengangguk, meski tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran simo, tapi entah apa alasannya mereka harus keluar dari sini.
Namila membaringkan tubuh simo dan menyembuhkannya
__ADS_1