Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 20 akhirnya


__ADS_3

“Kenapa?” simo heran dengan pernyataan Klarika mengatakan itu, padahal dia yang ingin menghukumnya, seharusnya simo yang berkata seperti itu.


“Kau sudah lulus dan sudah menerima hukumanku.” Jawab Klarika dengan tetap mempertahankan sikap terhormatnya. Sebenarnya, saat klarika menyanggah pedang simo, tangannya terasa remuk oleh tekanan kuat pedang itu. Namun, dengan separuh kekuatan yang dia keluarkan, efeknya menjadi lebih ringan, tapi tetap saja itu menimbulkan cedera bagi klarika.


Simo menarik pedangnya, lalu menancapkannya ke tanah. Walau tanpa kekuatan alamnya, pedang itu berhasil menembus tanah sedikit dalam, padahal itu tanah pegunungan yang di kenal sangat keras.


“jika seperti itu jangan ganggu aku lagi.”


Simo berbalik dan kembali duduk di tebing. Dia tidak peduli apakah harus mengucapkan salam perpisahan atau tidak kepada Klarika, tapi yang pasti dia sekarang ingin tenang dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.


Waktu tidak terasa sudah larut malam, simo masih duduk di sana. Setelah beberapa saat dia menghela nafas panjang. Ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya mengenai namila. Dia tidak pernah melihat namila seperti itu.


Jika dia bertanya, namila hanya berkata tidak ada apa-apa. Hal itu jelas membuatnya heran dan kecewa. Sebagai seorang laki-laki menyukainya dan sudah lama bersamanya, tentu saja itu membuatnya tidak di anggap.


Walau dia tahu ada sesuatu yang tidak boleh dia tahu, tapi perasannya masih saja tidak mau menerimanya.


“kenapa kau ada di sini?”


Suara seorang wanita terdengar dari belakang simo. Seketika wajah simo ceria, dia tahu siapa yang ada di belakangnya, tapi dia teringat dengan wajah namila, seketika dia kembali meredup dan seolah tidak mendengar apa pun.


Tanpa menunggu jawaban simo, namila duduk di sampingnya.


“apa yang membuatmu merenung seperti ini?” Tanya namila setelah duduk. Dia memandang jauh ke depan, namun siapa saja akan mengetahuinya jika perasan namila kini gembira, bahkan nadanya sangat ceria.


“tidak ada.” Jawab simo juga memandang ke depan.


“Jangan berbohong, aku sangat mengenalmu. Ya... walaupun aku baru pertama kalinya melihatmu seperti ini, tapi aku sangat yakin kau ada masalah.”


“Tidak ada yang terjadi.”


Tidak beberapa lama namila mengambil tangan simo, lalu menyatukannya dengan tangan putihnya yang lembut. Simo sedikit terkejut dengan perilaku namila seperti ini, tapi dia tetap memandang ke depan seolah tidak mempedulikannya.


“malam hari akan terasa dingin, jika kau seperti itu. Berbicaralah, aku pasti akan selalu mendukungmu. Bahkan jika masalahmu besar atau kecil aku tidak mempedulikannya, yang aku pedulikan kau harus tetap ceria.”


“Kau saja tidak jujur kepadaku, untuk apa aku harus jujur kepadamu?” akhirnya simo berbicara sejujurnya.


Mendengar ucapan simo, namila sedikit mengerutkan keningnya, tapi setelah itu, dia tersenyum manis lalu bersandar di bahu simo, menyebabkan rambutnya yang indah menyentuh tanah.


Simo bisa mencium bau harum dari tubuh namila yang siapa saja akan terpesona, bahkan dia akan begitu, tapi dia bisa mengendalikan dirinya. Dia juga merasakan detak jantung namila yang lembut dan tenang.

__ADS_1


Melihat perilaku namila seperti itu, simo agak sedikit tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi.


“Apa salahku?” bisik namila.


“Kenapa mukamu muram tadi siang?”


Namila bangun, lalu menjawab, “dasar, kau terlalu memperhatikanku, tapi aku akan menjawabnya. Itu karena aku memikirkan kekuatan seorang gadis berambut merah yang memiliki kekuatan hebat di akademi. Katanya dia ingin bertarung denganku.”


“hanya itu saja?”


“iya.”


“tapi kenapa harus seperti itu? Harusnya kau membicarakannya kepadaku juga. Mungkin saja aku bisa membantumu.”


“Aku lupa.”


Mendengar itu, simo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia pikir ada masalah besar, tapi hanya masalah seperti itu. Di dalam hatinya timbul rasa kesal dan marah, tapi itu tidak berselang lama. Senyuman namila membuat simo lebih tenang, apalagi kini dia merasa lebih nyaman ketika namila berada di sampingnya. Mungkin ini karena namila sering seperti itu yang membuatnya terbiasa.


Ini memang sungguh aneh! Padahal simo tadi merasa tidak nyaman, tapi entah kenapa tiba-tiba dia terbiasa.


...****************...


Seperti biasa salah satu wali akan membuka ujian dengan beberapa kata pembuka.


Setelah itu, wali itu akan mengundi nomor yang terpilih. Kali ini Hendry yang akan mengundi. Ketika Hendry mulai mengambil nomor, semua siswa tampak tegang kecuali simo dan beberapa orang lainnya yang telah bertarung.


“Nomor 50!” ujar Hendry.


Mendengar itu beberapa siswa menghela nafas, ada juga yang geram karena nomornya tidak terpanggil.


Simo menghela nafas, memejamkan mata, lalu beranjak pergi. Sebelum itu, namila menyambar tangan simo.


“Kau harus berhati-hati.” Kata namila. Wajahnya terlihat khawatir yang membuatnya tanpa sadar memegang erat tangan simo. Nadanya lembut, tapi penuh dengan kekewahtiran.


Simo mengangguk kemudian pergi seraya membawa pedangnya.


Saat tiba di tengah lapangan, seorang gadis rambut hijau sudah berdiri di sana. Gadis itu memandang simo dari atas ke bawah. Ketika selesai, dia tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum.


Simo tidak mempedulikannya, yang dia pedulikan hanya menang dan melanjutkan ujian berikutnya. Tapi dia mempedulikan aura yang di pancarkan gadis itu. Dan dari perkiraan simo mungkin saja, gadis di depannya berasal dari kelas A karena memiliki kekuatan setara tingkat bumi tahap empat, yang artinya lawan simo bukan lawan yang lemah.

__ADS_1


“Kalian berdua perkenalkan diri kalian masing-masing.”


Simo dan gadis itu mengangguk.


Yang pertama maju adalah gadis itu. Dia memberi hormat. “namaku Anaya dari kelas A.”


Sesuai dugaan simo, gadis itu memang dari kelas A.


Setelah itu simo yang maju dan memperkenalkan dirinya.


Tidak ada yang berbisik-bisik atau tersenyum mendengar perkenalan simo, sebaliknya mereka terlihat serius dan antusias ingin menyaksikan pertarungan di antara kelas A dan C yang secara tingkat sangat jauh berbeda.


Ini jelas karena kemampuan namila dan beberapa orang hebat dari kelas C, yang membuat status kelas C tidak di pandang remeh.


Anaya mengeluarkan energi alam kecilnya. Sebuah pedang besar berdiameter sekitar 4 meter dan panjang 5 meter muncul dari tangannya. Ketika muncul, Anaya langsung melompat dan duduk di atas pedangnya.


Senjatanya terlihat tidak cocok dengannya, tapi jika di dunia ini, hal itu tidak berlaku, asalkan bisa menggunakannya.


Simo tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan energi alam kecil dan pedangnya.


Anaya gembira melihat simo mengeluarkan pedangnya. “hihihi. Ternyata kita sama-sama pengguna pedang ya. Aku ingin lihat seberapa kuat lawanku sekarang.”


Anaya melompat seraya memegang pedang besarnya lalu melemparkannya dengan mudah seperti melempar tongkat kecil dengan mudah.


Pedang besar itu semakin lama di udara semakin cepat, dan akhirnya membentuk angin tornado kecil.


Simo secara refleks menghindar, tapi tentu saja hal itu tidak mudah di lakukan. Setiap kali simo menghindar, angin itu akan terus mencarinya.


Setelah beberapa saat menghindar, simo memutuskan melempar pedangnya ke arah angin tornado.


Pedang langsingnya di layangkan semakin lama semakin cepat. Berputar-putar di udara, lalu berbenturan dengan angin tornado.


Percikan-percikan api terlihat ketika kedua pedang itu beradu. Jika di nilai dari ukuran dan kecepatan pedang, maka pedang Anaya yang akan unggul. Namun, siapa sangka pedang simo berhasil menghentikan pedang besar Anaya.


Setelah menghentikan pedang Anaya, simo menarik pedangnya, dan begitu pun Anaya. Mereka lalu memutuskan bertarung pedang. Kilatan cahaya bergerak cepat saling berbenturan dan memojokkan satu sama lainya.


Ini tidak berlangsung lama karena mereka tahu teknik pedang yang mereka miliki sama-sama kuat. Namun untuk simo, dia bisa meningkatkan kekuatannya, tapi dia tidak ingin mencolok di babak pertama ini.


...****************...

__ADS_1


maaf jika hasil jelek 🙏🙏


__ADS_2