Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 53 kepergian


__ADS_3

“Apakah kau sudah merasa lebih baik?” tanya Naria ketika dia membawa simo ke pinggir. Dia tersenyum manis sambil memandang simo. Namun, di dalam hatinya dia sangat khawatir dengan simo. Kekuatan yang muncul itu adalah kekuatan naga hitam yang sangat mengerikan, andai dia tidak menghentikannya dengan sekuat tenaga, maka dapat dipastikan Jerome dan Amara akan mati, atau lebih beruntung, mereka akan terluka berat.


Alasan Naria bisa menghentikannya adalah karena simo merupakan kekasihnya. Meskipun simo tidak sadarkan diri, dia mempunyai ikatan dengan Naria, sehingga dia sangat mengetahui keberadaan Naria. Apalagi jika mendengar suaranya, dia akan lebih mengenalnya.


Simo mengangguk linglung. Dia kemudian teringat bagaimana dia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Amara melakukan serangannya. Serangannya berupa busur cahaya. Dia yakin bisa mengalahkannya. Tapi, saat simo menebas panah cahaya itu, tiba-tiba panah itu bercahaya terang dan meledak. Setelah itu, dia tidak tahu apa-apa.


“Kau tidak boleh pergi ke mana pun beberapa hari ini tanpa diriku. Selain itu, kau di larang bertarung selama satu minggu penuh dengan alasan apa pun. Ingat, ya.”


Simo mengangguk. Kemudian dia teringat sesuatu, “Apakah setelah ini kau akan pulang?”


“Tidak. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendirian lagi? Aku harus menjagamu mulai hari ini. Tidak akan aku biarkan kekuatan itu lepas kendali lagi seperti itu. Kau juga harus menjagaku dan jangan pernah membuat putri ini marah. Putri ini adalah anak kesayangan seorang raja dan permaisuri, jadi, jika kau membuatku menangis, kau harus berhadapan dengan kedua orang tuaku.”


“aku tidak akan melakukan itu,” simo menjawab dengan gembira.


Rina yang mendengar di sampingnya merasa sedih. Jika Naria selalu bersama simo, dia tidak akan pernah berhasil mendapatkannya. Apalagi, simo sangat menyukai Naria. Dia harus berusaha menyingkirkan Naria, tapi bagaimana caranya? Dia menjadi sedih.


“Ayah! Kau sangat hebat!” Safia berlari menghampiri simo.


Simo tersenyum dan berjongkok. Dia mengusap-usap kepala Safia dan menggendongnya. Dia sudah terbiasa di panggil ayah oleh Safia.


“Safia juga hebat.”


“Tidak! Ayah lebih hebat dariku. Nanti ketika kita kembali ke istana, aku akan bertarung dengan ayah. bagaimana? Apakah ayah mau?”


Simo sedikit terkejut. Namun dia segera mengangguk.


Di lain sisi, setelah Jerome dan Amara selamat, mereka menghampiri kepala sekolah dan meminta maaf. Mereka merasa malu karena telah kalah.


“Kalian tidak perlu meminta maaf, aku sudah sangat bangga memiliki kalian berdua. Meski kalian kalah dari seorang siswa, bukan berarti kalian lemah dan merasa malu akan hal itu. Musuh kalian terlalu kuat. Aku yakin, dia bukan berada di tingkat bumi, dia menyembunyikan kekuatannya.”


“Apa kepala sekolah mengetahui seberapa kuat dia?” tanya Jerome.


“Aku tidak tahu, tapi aku sangat yakin dia sangat kuat, mungkin berada di tingkat alam.”


“alam?” Jerome terkejut mendengarnya. Dia memang mengetahui kekuatan aneh simo, Namun dia tidak pernah menyangka simo berkemungkinan berada di tingkat alam.


Sementara Amara terlihat sedang merenung. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Kepala sekolah mengangguk. “Sudah, sudah, jangan dipikirkan, kalian cepatlah beristirahat. Kalian harus berlatih lebih giat untuk melawannya. Kalian memiliki banyak potensi, jangan di sia-siakan.”

__ADS_1


Amara dan Jerome mengangguk dan bergabung dengan siswa yang lainnya.


...****************...


“I-itu sungguh mengerikan! Aku tidak ingin bertarung dengannya. Kau saja yang maju melawannya. Kau seorang laki-laki, cepat tantang dia!” seru siswa gadis sambil menggigit kuku-kukunya.


“Eh? Kau yang bilang tadi ingin bertarung dengannya. Kau tidak boleh mengingkari kata-katamu.”


“Siapa yang mengingkari kata-katanya? Yang tadi dengan yang sekarang berbeda.”


“jadi, kau tadi mau bertarung dengannya, dan sekarang tidak?”


Siswa gadis itu mengangguk dengan kedua tangannya masih di bibirnya.


“Perempuan memang sulit di prediksi.”


...****************...


Di lain sisi, setelah pertarungan itu selesai, kepala sekolah menanyakan, apakah pertarungan di lanjutkan atau tidak kepada Dira.


Dira menoleh ke arah simo yang di pegang tangannya dengan erat oleh Naria. Naria terlihat sangat protektif terhadap simo. Dira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia mengetahui, bagaimana perasaan Naria sekarang setelah apa yang di alami simo. Jika dia melanjutkannya, Naria pasti akan menolaknya dengan keras.


Di satu sisi dia kecewa belum bisa melihat kemampuan simo yang lebih kuat, di satu sisi lagi, dia senang, akhirnya simo menemukan seorang gadis yang sangat menyayanginya. Dan dia terlihat sangat mencintainya.


“Kita sampai di sini saja. Aku tidak mau melihat gadis itu khawatir.”


Mendengar itu, kepala sekolah menjadi lega. Dia tahu bagaimana jadinya jika pertarungan di lanjutkan. Tentu saja semua siswanya akan di kalahkan lebih mudah daripada Amara dan Jerome.


“Baiklah. Jika itu merupakan keputusan yang mulia. Aku hanya bisa menurutinya.”


Setelah beberapa saat bercakap-cakap, akhirnya rombongan simo pergi detik itu juga. Tidak tahu, mengapa dira melakukan itu. Mereka bisa saja menginap di sana semalam, tapi Dira tidak mau. Kepala sekolah juga menawarkannya.


“Aku akan mendapatkan informasi mengenai dirimu!” ujar Amara sembari melambaikan tangannya.


“Aku akan mengalahkanmu!” di sampingnya Jerome tidak mau kalah.


Simo mengangguk dan masuk ke dalam kereta kuda. Saat kereta kuda berjalan, orang-orang akademi serentak mengatakan, “sampai jumpa lagi!”


“Huh.... Sayang sekali aku tidak bisa bertarung dengannya. Jika dia mempunyai waktu banyak, aku akan memperlihatkan bagaimana kekuatanku.”

__ADS_1


“perempuan memang mahkluk yang aneh.”


...****************...


“mengapa dia bisa pergi bersama orang rendahan seperti itu?” tanya pangeran matahari terbit setelah mengetahui di mana Naria pergi. Dia tidak pernah menyangka Naria akan pergi bersama simo, yang di anggapnya rendahan.


“Hamba tidak tahu yang mulia. Mungkin tuan putri pergi bersama yang mulia ratu, ikut menonton pertandingan. Hamba dengar, yang mulia ratu pergi ke akademi karena ingin menguji simo,” lapor seorang Pria tua di depan pangeran matahari terbit.


“Jadi, mungkin Naria bukan bersama orang rendahan itu, tapi bersama yang mulia ratu?”


“Iya, pangeran.”


“kau juga berkata, yang mulia ratu ingin menguji orang rendahan itu?”


Pria itu mengangguk.


Pangeran matahari terbit tersenyum. “aku harap orang rendahan itu babak belur setelah kembali dari akademi. Ayo kita pergi.”


Pria itu mengangguk lalu pergi mengikuti pangeran matahari terbit.


...****************...


“apakah informasi yang kau dapatkan ini benar-benar akurat?” tanya dira kepada Citra. Informasi yang di berikan citra kali ini sangat serius dan mengancam keselamatan kerajaannya.


Meski begitu, Dira berusaha tetap tenang. Dia duduk meminum teh sambil menatap keluar jendela. Hal yang selalu dia lakukan.


Citra berdiri di sampingnya. “apa yang hamba dapatkan memang benar yang mulia. Kita harus mempersiapkan lebih banyak senjata dan pasukan untuk melawan invasi pasukan raksasa. Kita tidak tahu akan sampai kapan mereka akan selesai melakukan invasinya ke daerah timur. Tapi, ada satu hal yang membuatku ragu yang mulia.”


“apakah ini mengenai pelatih pasukan?”


Citra mengangguk. “selain itu, kita belum mempunyai satu jendral pun. Aku khawatir sampai tiba invasi, kita belum mempunyainya.”


“Kau tenang saja. Aku sudah memilikinya satu. Tapi, aku akan mencari yang lainnya juga. Satu jendral tidak cukup.” Jendral yang Dira katakan, itu tidak lain adalah Carissa. Dia akan mengirimkannya pesana untuk datang ke istana, dan memberikan informasi mengenai kekaisaran gunung salju.


Satunya lagi, dia sudah mendapatkan informasi mengenai salah satu jendral kuat yang berada di timur. Dia berada di negara yang lemah. Dia yakin, meski negara itu sudah hancur, jendral itu masih hidup.


“Ambilkan aku kertas.”


Citra mengangguk dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2