Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 56 dua Diana


__ADS_3

Melihat seruling dan tekanan dari anulika, sosok yang mirip Azka tersenyum. Di dalam hatinya, dia Tertawa, menertawakan betapa bodoh dan lemahnya musuhnya kali ini. Dengan penguasaan alam mimpi ini dan gabungan dari dua kekuatan, tentu ini membuatnya percaya diri.


Di tambah lagi, simo dan namila baginya bukan apa-apa, jika selagi bertarung melawannya di alam mimpi, itu bukan apa-apa. Dia dengan tersenyum berkata, “aku, Diana, hari ini akan mengalahkan kalian bertiga dan tidak akan pernah membiarkan satu pun di antara kalian kembali hidup-hidup.”


“aku akan menunggunya!” anulika melesat dengan sayap es terbentuk cepat di punggungnya. Ketika menginjak salju di bawahnya, itu membuat lonjakan salju.


Saat butiran-butiran salju yang melonjak itu kembali ke tempatnya, Anulika sudah mengayunkan serulingnya dengan keras, menimbulkan percikan-percikan api di antara kedua senjata.


Anulika menggertakkan giginya dan ekspresi keras terlihat di wajahnya ketika berusaha mendorong Serulingnya, sementara Diana dengan tenang menahan serangan itu tanpa kesulitan apa pun, bahkan dia hanya menggunakan satu tangannya.


“kau tidak akan bisa menyentuhku.” Diana berucap sambil menggerakkan tongkatnya ke depan.


Perlahan-lahan tongkat bergerak memojokkan Anulika. Seiring bergerak, senyuman kemenangan terlihat di wajah Diana, sebuah senyuman yang tidak ingin anulika lihat. Anulika menggertakkan Giginya lebih keras, kemudian seketika tersenyum.


Senyuman itu membuat Diana menjadi lebih waspada dan menduga akan ada hal yang mengejutkan. Dan benar saja, tubuh anulika seketika menjadi es. Diana terkejut, dan langsung mengayunkan tongkatnya ke belakang dengan cepat. Namun, sayang sekali hanya mengenai angin saja.


“Kau pikir aku bisa bingung dengan cara murahan seperti ini? Kau salah besar, ini adalah wilayahku. Dan aku adalah penguasanya, kau tidak akan bisa mengalahkanku di sini.” Diana memandang sekitarnya. Ekspresi gelisah terlihat di wajahnya kali ini.


Meski pun dia tidak mungkin bisa di kalahkan dengan seperti ini, dia tentu takut jika anulika memiliki trik lainnya.


“Dewi es!”


Suara terdengar. Dan saat suara itu berhenti, seketika muncul dewi es di depan Diana dengan mendadak. Dia langsung menebaskan tongkatnya, membuat dewi es langsung seketika hancur lebur dan tidak menyisakan apa pun.


“kurang ngajar!” ekspresi geram terlihat di wajah Diana.


Dia lalu melihat ke bawah, tempat berada Namila dan simo yang sedang bercakap-cakap. Senyuman jahat terlihat di wajahnya. Dia langsung melesat ke arah namila dan simo.


Plak...!!!!!


Sebelum menyentuh Namila dan simo, anulika muncul dan langsung mengarahkan pukulan kepada Diana. Tetapi sayang sekali, Diana berhasil menahan dengan mudah, bahkan sangat mudah.


“hahaha. Akhirnya kau muncul juga.”


“dewi es.”

__ADS_1


Dewi es muncul di belakang Diana.


“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tidak akan bisa ke mana-mana!” Senyuman penuh Kemenangan terlihat di wajah Diana sekali lagi.


“Aku tidak akan ke mana-mana, aku akan mengalahkanmu!”


Setelah mengatakan itu, anulika mengarahkan pukulan lainya lagi, tetapi di tahan juga. Tidak menyerah, Anulika menendang perut Diana dengan cepat dan melompat mundur bersamaan dengan tubuh Diana yang mundur.


“aku pastikan aku akan membalas dendam adikku!”


Anulika dan dewi es lalu melesat dengan kecepatan tinggi seperti cahaya menyerang Diana.


“kau tidak akan bisa melakukannya!” Diana tidak mau kalah, Dia Juga melesat, menyerang Anulika.


Kini di langit di penuhi kilatan -kilatan cahaya yang saling berbenturan dan memojokkan. Sementara itu, akhirnya simo dan Namila menyelesaikan diskusinya.


“Kau sudah mengerti?” tanya simo kepada Namila.


“iya. Aku mengerti.”


“baiklah, sekarang laksanakan. Jika jiwa Azka selamat, maka Diana tidak akan bisa melakukan apa-apa.”


“akhirnya aku bisa bertarung!”


Dengan kegirangan di hatinya, simo melesat.


Wusss!!!! Traangkkk!!!


Simo langsung mengayunkan pedangnya ke arah dua cahaya tersebut dan membuat Diana dan anulika terkejut. Anulika langsung mundur, sementara Diana menahan serangan simo.


“Bagaimana?” tanya simo seraya tersenyum.


“Lumayan.” Jawab Diana dengan tenang, Tapi dia merasa sedikit kedinginan dan harus mengeluarkan kekuatan lebih besar dari pada saat dia melawan Anulika. Tidak di ragukan lagi, simo lebih kuat dari Anulika!


“Kali ini tiga lawan satu, bagaimana kau akan melayani kami!”

__ADS_1


Simo seketika menghilang dan muncul di belakang Diana dan langsung mengayunkan pedangnya dengan keras, membuat es-es yang melindungi Diana sedikit tertekan.


Diana langsung melompat mundur. Dia terkejut dengan serangan itu dan begitu cepat. Di dalam hatinya, dia bertanya-tanya bagaimana caranya. padahal dia berada di daerah kekuasaannya, dan seharusnya dia bisa merasakannya. Meski demikian, Diana lah yang menjadi terkuat di sini.


“Kau Ternyata lebih kuat dari anulika, tapi maaf, akulah di sini yang menjadi tokoh utamanya.”


Perlahan-lahan kepala muncul dari leher Diana, lalu tangan, kaki, dan semuanya. Sekarang ada dua Diana, namun auranya lebih lemah dari pada sebelumnya.


“Ini menarik.” Simo tersenyum. Gairah bertarungnya mencuat setelah beberapa hari tidak bertarung.


“anulika, aku serahkan yang satunya kepadamu!”


“Kau tidak perlu memerintah!” jawab anulika cuek. Dia tidak suka di perintah seenaknya saja.


“Kalian berdua! Kami akan melayani kalian berdua dengan baik.” Ucap dua Diana serempak dan kemudian melesat ke arah berbeda; satu ke arah anulika dan satunya lagi ke arah simo.


“kemarilah! Aku sudah tidak sabar!” ujar simo lalu melesat menyerang Diana.


Dia kemudian memegang erat pedangnya. Bersamaan dengan itu, aura putih dan merah keluar seperti di paksa dan cepat. Ini tidak lain adalah peningkatan aura pedang ke tahap yang lebih tinggi dan merupakan sesuatu yang selalu simo latih.


Walau kadang-kadang, tetapi ternyata hasilnya luar bisa! Sungguh aura yang hebat. Dia harus berterima kasih kepada Kaisar pedang terhadap hal ini.


Wuuusssssss!!!! Bommm!!!!!


Simo mengayunkan pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas, sementara Diana mengayunkan tongkatnya dari atas ke bawah. Itu menimbulkan gelombang energi yang kuat dan saling membentur.


Energi sedingin es dan percikan-percikan es berusaha menembus aura pedang simo.


Setelah beberapa detik berusaha saling memojokkan, simo menghilang dengan teknik lauthing linght, dan muncul di belakang Diana, lalu mengayunkan pedangnya, akan tetapi kali ini Diana berhasil menahan dengan rambut-rambut yang memajang dan setajam pisau.


Dia lalu berbalik dan mengayunkan tongkatnya, membuat simo mundur.


“Kau pikir dengan kekuatanmu sekarang sudah membuat dirimu menang? Jangan terlalu menilai tinggi kemampuanmu. Lihatlah ini!”


Diana mengangkat tongkatnya. Dari tongkatnya, perlahan-lahan muncul baju besi dari es, kemudian tangan, kaki, kepala dan senjatanya. Dia adalah seorang Kesatria dengan baju pelindung lengkap dan membawa tombak. Dia terbuat dari es yang berkilauan.

__ADS_1


“Ini yang aku inginkan.” Gerutu simo, sikap waktu kecil kembali muncul. Alih-alih takut, dia malahan tersenyum melihat kemampuan pertama Diana.


Dia lalu melesat menyerangnya.


__ADS_2