Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 38 spiral


__ADS_3

Selain munculnya butiran-butiran itu, selendang di tangannya juga melepuh menjadi butiran-butiran kecil berwarna-warni. Sebelum menghancurkan sepenuhnya, Delisa memotong selendangnya, kemudian menariknya.


“Siapa kau sebenarnya!?”


Memiliki kekuatan aneh seperti itu, tentu saja membuat Delisa penasaran akan sosok di depannya.


“Jika aku memberitahumu, apa yang akan kau lakukan?”


Perlahan-lahan sosok yang bersembunyi dari kegelapan bergerak maju, memperlihatkan wajahnya. Dia tidak lain adalah Benito. Senyuman jahat bermekaran ketika dia menatap Delisa. Dia juga menatap sinis Delisa, kemudian bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”


“Tentu saja, aku tidak ingin membunuh seseorang jika belum mengetahui namanya. Seharusnya kau tahu itu kan?” Delisa juga tersenyum jahat. “Aku tidak tega membunuh seseorang tanpa mengetahui namanya. Selain itu...jika ada yang menanyakannya, aku bisa mengatakan dia sudah mati di tanganku.”


Benito tertawa terbahak-bahak. “Sungguh gadis sombong. Nona... Aku beritahu, jika mereka yang terlalu sombong akan cepat beristirahat di dalam kuburan, maka berhati-hatilah.”


“Kau juga, jika terlalu meninggikan dirimu, maka kau akan jatuh semakin sakit. Kau lebih muda dariku, berani sekali, memanggilku Nona.”


Benito sekali lagi tertawa terbahak-bahak. Dia tidak habis pikir gadis di depannya bisa berkata seperti itu.


“Kau sungguh menarik. Dasar mulut pedas.”


Benito mengangkat tangannya. Butiran-butiran yang melayang berkumpul di atas telapak tangannya. Saat dia mengepalkan tangannya, tiba-tiba butiran-butiran itu meledak ke segala arah seperti kembang api, mengenai semua dinding yang ada.


“Baiklah, aku panggil saja kau kakak. Baiklah, kakak, mari kita bertarung.”


Saat butiran-butiran yang meledak tadi mengenai dinding-dinding, semuanya berubah menjadi putih dan bercahaya terang. Cahaya itu sangat terang.


Delisa tidak bisa melihat apa pun yang terjadi. Namun setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa melihat lagi.


“Di mana aku?”


Di sekitarnya hanya ada warna putih. Sejauh mata memandang hanya ada warna putih terang. Delisa berjalan beberapa langkah dan memandang sekitarnya.


“kakak, apa kau menyukai kekuatanku?” Benito berdiri di balik Delisa.


“Kekuatanmu?”


“Iya. Selama datang di dalam tempat yang aku bulat.” Benito melentangkan kedua tangannya. “ Jika kau sudah masuk, kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat.”


Setelah mengatakan itu, Benito tersenyum jahat.


“Aku tidak percaya. Yang paling aku percaya, kau akan mati di sini. Adik kecil tampan, keluarkan semua kekuatanmu, jangan lagak sok misterius.”

__ADS_1


Delisa mempersiapkan selendangnya. “Adik kecil! Terima ini!” Dia melempar selendangnya. Selendang itu memanjang dan bercabang dua.


Namun Benito menghilang sebelum selendang itu mengenainya. Delisa langsung menarik kembali selendangnya.


“Adik kecil! Ini bukan petak umpet, keluarlah! Dan bertarung dengan kakak.”


“Sejak kapan aku menjadi adik kecilmu?”


Benito muncul lagi di belakang Delisa.


“Anak kecil seharusnya di panggil adik kecil bukan?”


“Aku setuju denganmu, tapi jangan panggil aku seperti itu. Itu sangat memalukan.”


“Tidak ada gunanya berbicara seperti itu, adik kecil. Jika kau sudah muncul, maka kau harus menerima seranganku.” Delisa mengeluarkan bola api di tangannya.


“Tahan ini adik kecil!”


Delisa melempar bola api ungu ke arah Benito. Ketika bola api itu melayang, bola itu pecah menjadi 5 bilah pedang ungu dan melesat cepat.


“Ini hanya serangan mudah.” Benito mengarahkan telapak tangannya ke depan. Tiba-tiba pedang-pedang yang mengarah ke padanya bergetar hebat dan berhenti.


“Selamat menikmati.”


Setelah mengatakan itu, pedang-pedang itu melesat ke arah Delisa. Ledakan-ledakan pun terjadi tepat di tempat Delisa.


Delisa langsung menghindarinya. Dia cukup keheranan melihat serangan-serangan di balikan dengan mudah seperti itu.


Setelah mendarat, Delisa mengerutkan kening menatap Benito seolah bertanya, apa yang menyebabkan serangannya di balikan begitu saja.


“Kakak cantik, apa kau cukup keheranan dengan itu? Asal kau tahu saja, itu adalah kekuatanku. Aku tidak akan berkata lebih jauh lagi tentang kekuatanku. Kau amati saja apa yang bisa aku lakukan.”


“Kakak cantik, kau sungguh beruntung hari ini, tapi juga sial, aku tidak tahu mana yang ingin kau dengar, yang beruntung atau sial?”


“Dasar bocah sombong. Jika aku memilih sial, apa itu?”


“Sebelum aku menjawab, aku katakan dulu, yang sombong itu bukan diriku, melainkan dirimu. Baiklah, suasana hatiku hari ini sangat baik, aku akan menjawab dua-duanya. Pertama, kau beruntung karena telah melihat kekuatanku. Meski kau tidak paham, aku tidak peduli, kedua, kesialanmu hari ini adalah kau tidak bisa keluar. Mungkin kau sudah mengetahuinya dari awal.”


“Bagaimana jika aku membunuhmu? Apakah aku akan beruntung hari ini?”


“Tentu saja. Tapi aku katakan terlebih dahulu, belum ada yang bisa keluar dari sini hidup-hidup, jadi, berhati-hatilah.”

__ADS_1


“Permainan baru mulai, nikmatilah kakak cantik.” Benito tersenyum jahat sebelum akhirnya menghilang.


“Petak umpet lagi.”


“kakak, ini bukan petak umpet.” Suara Benito menggema di seluruh ruangan.


Setelah Benito mengatakan itu, tempat di mana Delisa berada terbelah menjadi dua, hitam dan putih. Lalu hitam dan putih itu bercampur menjadi satu dan membentuk ruangan spiral, yang bisa menghipnotis seseorang.


Di mana pun Delisa menoleh, dia akan melihat spiral.


“Apa ini?”


...****************...


Simo tidak pernah merasa nyaman seperti ini setelah beberapa lama. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkannya lagi. Perlahan-lahan simo membuka matanya. Sosok cantik menyambutnya. Dia menatap simo dalam keadaan tertidur dan menunduk, menyebabkan rambutnya jatuh dan menutupi kedua telinganya. Rambutnya tidak sampai menyentuh simo. Wajahnya sayu namun masih sangat cantik.


Simo tersenyum. Dia kemudian hendak berdiri, tetapi tangannya ternyata di pegang Naria. Meski Naria tertidur, genggamannya sangat kuat.


“Kau akhirnya terbangun.” Naria membuka kedua kelopak matanya. Meski dia masih mengantuk, dia masih terlihat sangat cantik.


“aku baru bangun. Naria, bisa kau lepaskan tanganmu?”


“Hmph! Kau pikir kau bisa semudah itu pergi dariku?” Naria mengeratkan genggamannya, kemudian kembali berkata, “Kau memang laki-laki nakal. Kau tidak boleh pergi tanpa persetujuanku, dan tanpa diriku. Kau laki-laki keras kepala, aku harus bersikap tegas kepadamu. Jika sebelumnya aku tidak bisa menyembuhkanmu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang akan terjadi. Mulai hari ini kau berada di bawahku.”


Simo hanya bisa tersenyum masam dan mengangguk.


“Apa ada rasa sakit lagi?”


Simo mengangguk. “iya. Di kepala masih ada sedikit, tapi tidak apa-apa ini hanya masalah kecil. Ngomong-ngomong bagaimana caramu menyembuhkanku?”


“setelah pengalaman sebelumnya, aku tidak akan memberitahumu. Jika aku memberitahumu, mungkin kau akan mempelajarinya dan menggunakannya ketika kau menggunakan kekuatan itu sekali lagi. Aku tidak ingin itu terjadi lagi.”


Simo tidak berkata lebih jauh, tapi sebaliknya, dia mengalihkan kata-kata ke hal yang lain.


“Naria...” simo memandang Naria lekat-lekat. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan kekasihnya setelah begitu lama.


Melihat ekspresi simo yang melembut, ekspresi Naria menjadi aneh.


“Jangan berkata seperti itu, aku membencinya. Ingat ya, jangan melakukan itu lagi. Jika kau melakukannya, mungkin kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi.”


Simo hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2