
Di tempat kepala sekolah, setelah melihat serangan Jerome yang tidak memiliki efek sama sekali terhadap simo, dia berusaha tidak memperlihatkan ekspresi kecewanya, dan hanya menonton jalannya pertarungan.
Untungnya dira tidak menanyakannya, jika tidak, dia tidak memiliki muka untuk menjelaskannya. Serangan itu seperti serangan biasa dan lemah. Dia tidak tahu apa yang di lakukan siswa dari akademi gunung salju yang membuatnya seperti itu. Namun, dia yakin, siswa dari akademi gunung salju saat ini sungguh sangat kuat dan tidak dapat di ukur kekuatannya. Bahkan ketika sudah menangkis serangan Jerome, dia masih bisa bertarung layaknya seperti tidak ada apa-apa sebelumnya.
Alasan inilah yang menyebabkannya lebih yakin, siswa dari akademi gunung salju itu menyembunyikan kekuatannya. Seberapa kuat kah dirinya? Kepala sekolah semakin penasaran dengan sosoknya.
...****************...
Di lapangan, Amara mengangkat tangan kanannya ke atas. Dia tersenyum kepada simo. “ini adalah salah satu teknikku, aku harap kau bisa menerimanya dengan baik.”
Ketika dia berbicara, cahaya emas yang berkilauan muncul dari telapak tangannya, perlahan-lahan membentuk pedang panjang berwarna putih salju. Cahaya emas bersinar darinya.
Simo menjawab dengan senang hati, “Aku akan melakukannya dengan baik.”
“Aku harap begitu.” Amara memegang pedangnya, mengayunkan ke depan, dan di saat bersamaan melesat seperti peluru.
“apakah ini pertarungan pedang? Baiklah, aku akan melayaninya!”
Simo turut melesat. Dia langsung menutup kedua matanya. Dia menduga cahaya dari pedang itu membuatnya buta sesaat yang dapat mengganggu pertarungannya.
Meski lebih sulit, itu akan bertambah sulit jika dia sampai terkena lagi serangan Amara lagi.
Bunyi nyaring dan melengking terdengar saat keduanya mengayunkan pedangnya. Simo dengan satu tangannya, sementara Amara dengan kedua tangannya.
Amara sedikit terkejut setelah melihat kekuatan kedua tangannya bisa di tahan oleh satu tangan simo. Namun, dia tidak menyerah, meski lebih lemah simo.
Beberapa detik kemudian, ayunan pedang yang sangat cepat saling beradu. Kecepatannya sangat cepat, orang-orang tidak akan bisa melihatnya selain percikan-percikan api dan garis-garis putih di sekitar mereka.
Ketika beberapa detik berlalu, mereka akhirnya menghentikan gerakan itu setelah dua pedang kembali bersilangan. Kedua nafasnya tergesa-gesa. Amara yang terlihat lebih lelah. Tentu saja karena dia yang lebih lemah. Sementara simo, dia juga sama, namun lebih baik. Akan tetapi tubuhnya sudah di banjiri keringat.
Simo tersenyum menyeringai. “Tidak aku sangka, kau juga bisa menggunakan pedang.”
“Apakah kau terkejut? Aku juga tidak menyangka kau bisa bertarung dengan mata tertutup. Kau sepertinya sudah mengetahui kelemahan cahayaku. Namun, aku ingin lihat seberapa lama kau bisa bertahan dengan mata tertutup seperti itu. Keluarkan semua kemampuanmu!” Amara mengangkat pedang dengan kedua tangannya. Ketika berada di atas kepalanya tiba-tiba pedangnya bercahaya kuning cerah. Bersamaan dengan itu, muncul empat pilar cahaya berbentuk persegi mengelilingi mereka.
Kemudian, cahaya menyebar menghubungi satu pilar dengan pilar yang lainnya membentuk sebuah ruangan.
Jelas sekali, Amara ingin membatasi gerak-gerik simo dan membuatnya tetap berada di sana.
__ADS_1
“Apakah kau sudah menyerah?” simo bertanya setelah merasakan dinding-dinding di sekitarnya.
“sampai kekuatanku habis, aku tidak akan menyerah!” Amara mengayunkan pedangnya ke arah kepala simo.
...****************...
Semua orang yang berada di luar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam, karena cahaya itu sangat kental. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam, dan mengapa Amara melakukan itu.
Jerome yang melihatnya juga tidak mengerti apa yang terjadi. Sebelumnya, dia hanya di suruh untuk melakukan serangan dadakan. Kedua pedang petir di tangannya sudah dia siagakan. Namun, mengapa Amara melakukan hal ini?
Dia hanya bisa menunggu dan mengikuti rencana yang di siapkan Amara.
Meski mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, mereka dapat mendengar suara pertarungan yang ada di dalam.
...****************...
Lima menit kemudian ruangan itu hancur berkeping-keping. Amara melesat keluar. Kedua kakinya terseret di lantai sebelum akhirnya dia bisa menghentikannya setelah menggunakan pedangnya. Dia menatap tidak percaya ke arah tempatnya berasal.
‘dia tidak hanya mempunyai kekuatan aneh, tapi juga mempunyai kekuatan yang lainnya. Pemuda ini sungguh menarik!’
“Apa yang terjadi?” tepat ketika melihat Amara keluar, Jerome mendekatinya dan membantunya berdiri.
Amara menggelengkan kepalanya pasrah sambil memejamkan matanya. “Kita telah kalah. Kita tidak bisa melakukan pertarungan ini.”
“kita masih bisa berusaha sebaik mungkin.”
“Tidak. Lihatlah dia.” Amara mengangkat wajahnya menatap tempat simo berada.
Jerome mengikutinya. Dan, betapa terkejutnya dia setelah melihat simo. Dari pedangnya keluar aura merah, hitam dan putih. Di area sekitarnya membeku dan sangat dingin. Kedua matanya memerah.
Jerome tidak tahu apa itu, namun, dia tahu, ada kekuatan yang sangat besar mengalir dari pedang itu.
‘suatu saat nanti aku pasti akan mengalahkanmu!’ kebencian terlihat di kedua mata Jerome.
Tidak hanya mereka yang terkejut, semuanya yang ada di sekitarnya terkejut.
Setelah melihat targetnya, simo melesat dengan cepat ke arah keduanya.
__ADS_1
“Mati!” simo mengangkat Pedangnya dan bersiap mengayunkannya. Aura yang sangat menakutkan keluar dari tubuhnya.
‘m-moster!’ Jerome tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia seolah terpaku dengan sosok simo. Perasaan ketakutan muncul di hatinya. Dia seperti melihat pedang yang sangat besar berwarna merah darah dan mengeluarkan aura dingin sendingin es.
Deng!!!!”
Asap putih mengepul di tempat simo mengayunkan pedangnya.
Semua orang terkejut dan baru sadar setelah melihat asap yang keluar.
“Apa yang terjadi?”
“bagaimana keadaan di sana?”
“Apakah Jerome dan Amara baik-baik saja?”
Semua siswa bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi.
Setelah asap menghilang. Sosok yang sangat cantik berdiri di depan mereka sambil menahan serangan simo dengan pedang airnya. Dia tidak lain adalah Naria. Kedua tangannya di gunakan untuk memegang pedang air. Kedua kakinya tenggelam beberapa cm di tanah
Dengan menggertak giginya, dia berujar, “Simo! Apakah yang terjadi denganmu?”
Ketika mendengar suara itu, simo tersentak. Kedua matanya kembali berubah normal. Dia tanpa sadar memanggil Naria dan menjatuhkan pedangnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.
“Tenangkan dirimu.....” Naria langsung memeluk simo dengan erat.
Tidak ada yang berbicara saat ini. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi, termasuk Dira, ibunya. Dia hanya bisa memandang terkejut dengan peristiwa itu.
Jerome dan Amara bisa menghela nafas lega setelah nyawanya terselamatkan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika Naria tidak menghentikan simo.
Setelah memberikan pelukan itu, Naria melepaskannya. “Apa yang terjadi denganmu?”
“Aku tidak tahu.” Simo terlihat lilung setelah di tanya seperti itu. Dia memandang pedang dan kedua tangannya.
Dia dengan lembut menarik tangan simo. Dia dengan suara lantang berujar, “pertarungan ini sudah selesai!”
Tanpa menunggu reaksi Agni, Naria menuntun simo kembali ke tempatnya. Agni sendiri membiarkan Naria membawa simo keluar. Dia masih terpaku dengan apa yang terjadi. Kekuatan itu sungguh hebat dan mengerikan!
__ADS_1