Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 50 pertarungan tahap 2


__ADS_3

Melihat empat pilar petir yang sangat indah dan mengerikan itu, simo tersenyum dingin. Dia perlahan-lahan mengangkat pedangnya ke atas, dan membaringkannya.


Semuanya menjadi tegang, bahkan mereka terlihat tidak bernafas sedikit pun.


Ketika simo menyelesaikan gerakannya, perlahan-lahan api biru yang ada di bilahnya meledak seperti terkena bensin. Empat Api biru berkilauan bercabang seperti tentakel-tentakel. Semua ujungnya berbentuk naga kecil yang sangat menyeramkan. Mereka meraung-raung dengan suara yang melengking. Di saat bersamaan, dari mulutnya keluar asap tipis.


Naga itu menari-nari di sekitar simo. Semua matanya memerah seperti api.


“Pergilah!”


Ketika suara itu di keluarkan, empat naga itu melesat ke udara, dan menari-nari. Mereka seperti sedang melakukan pertunjukan yang sangat mengagumkan.


Kilatan biru dan api menyebar ketika empat petir dan empat naga itu beradu. Kilatan-kilatan petir muncul di sekitar naga. Dan sebaliknya, api muncul di sekitar petir- petir itu.


Tidak lama berselang, naga-naga api itu mengungguli petir dan mendesaknya ke atas.


Mula-mula sangat pelan, namun tidak lama kemudian, naga-naga itu melesat cepat ke langit. Dan...


Bommmm!!!!


Di langit, awan-awan meledak seperti di ledakan bom atom, membentuk lingkaran dan memperlihatkan ribuan bintang-bintang di langit. Tepat di pusatnya, ledakan api biru yang sangat indah seperti kembang api meledak. Namun, naga itu tidak hancur, mereka dengan cepat beregenerasi dan memendekkan tubuhnya.


Semuanya tidak bisa menahan keterkejutannya. Mereka jelas merasakan kekuatan simo yang berada di tingkat bumi tahap empat. Jika saja ada perlawanan terhadap para naga itu, mereka tidak seterkejut ini. Ini terutama terjadi para siswa dan para guru.


Sedangkan Dira hanya memandang, dan kepala sekolah memblalakkan kedua matanya dan membuka sedikit mulutnya. “Ba-bagaimana bisa!?”


Selain mereka, Jerome dan Amara juga terkejut. Meski ini kedua kalinya, mereka tidak bisa menahan keterkejutannya.


Berbeda dengan Rina, Naria dan Safia. Mereka sangat senang melihat kejadian itu.


“sekarang giliranku!” tepat ketika simo berseru, dia menghilang bagaikan angin.

__ADS_1


“Di mana matamu!” dia sudah muncul lagi di belakang Jerome. Di bandingkan sebelumnya, dia lebih cepat.


‘ba-bagaimana bisa kecepatan mendadak meningkat seperti ini!?” Jerome ingin menyerang simo dengan pedangnya. Namun, simo langsung menebaskannya. Tepat pada saat bersamaan, empat naga meraung dan melesat menyerang Jerome.


Lima bola-bola petir muncul mendadak di depan Jerome menghalangi serangan simo. Mereka semua meledak membentuk bunga petir yang mengerikan namun indah, dan seolah kembang api.


“maaf, kau harus kalah!” simo tersenyum menyeringai.


Lima bola petir berhasil menghalangi serangan simo, namun hampir tidak setengah detik. Jelas sekali dengan waktu sesingkat itu, Jerome tidak bisa menghindar jauh.


Namun, tepat pada saat seperti itu, Amara berteriak, “kau melupakanku!”


Tepat ketika suara itu selesai, lagi-lagi pilar cahaya keemasan menyinari simo, dan lagi-lagi dia tidak bisa melihat. Selain itu, energinya terkuras lebih banyak.


Memanfaatkan itu, Jerome melesat mundur ke belakang. Tepat pada saat itu, di udara, dia mengaliri petir ke pedangnya dengan intens dan melemparkannya ke arah simo.


“kau tidak akan bisa mengenaiku!” Meski simo tidak bisa melihat, dia dapat merasakan serangan Jerome mendekatinya.


Pedang Jerome ketika menyentuh dinding itu, petir-petir di bilahnya meledak beruntun, membentuk ledakan-ledakan petir lebih kecil menyelubungi dinding simo. Namun serangan itu tidak memiliki efek apa pun terhadap pertahanan simo.


Pedang Jerome berputar-putar kembali ke tuannya. Dia mengerutkan kening dan menatap tajam ke arah dinding. ‘mengapa pertahanannya sangat kuat, Meski di bawah dukungan Amara? Aku tahu, kau memiliki kekuatan aneh, namun kau tidak akan menggunakannya kali ini. Selain itu, aku merasakan kekuatanmu berada ditingkat bumi tahap empat, yang berada di bawah kami, tapi kenapa kau bisa bertahan kuat seperti ini? Aku jadi penasaran apa saja yang kau miliki. Aku pasti akan mengungkapkannya!”


Jerome mengangkat kedua pedangnya dan menyilangnya di udara. Sekali lagi, pilar petir menyambar ke ujung pedangnya. Namun, kali ini warnanya lebih kental, dan ada petir-petir di sekitar tubuh Jerome. Dia tengah mempersiapkan suatu teknik.


Setelah merasakan serangan Jerome menghilang, simo menghilangkan pelindungnya dan kembali menjaga jarak.


Butuh beberapa detik untuk membuatnya kembali dapat melihat. Kali ini, simo harus mengalahkan Amara lebih dulu. Dia yakin, dengan mengalahkannya, maka akan lebih cepat untuknya memenangkan pertarungan ini.


Di tempat kepala sekolah, dia mengerutkan kening sambil berbicara kepada dira, “anak muda yang anda kirim memang kuat. Bahkan di serang bersamaan dari dua siswa terbaik di sini, mampu bertahan. Terlebih lagi, tingkat kekuatannya berada di bawah kedua siswaku. Dia benar-benar sangat hebat.”


“Dia memang seperti itu, tunggu lebih lama, dia akan memiliki kejutan lainnya.”

__ADS_1


“Aku menjadi penasaran, apa saja yang akan dia lakukan. Dengan tingkat kekuatannya sekarang, aku curiga dia sedang menyembunyikan kekuatannya. Apakah aku benar yang mulia?”


“Kau lihat saja, aku tidak perlu menjelaskannya.”


Dira kembali memandang ke lapangan.


Meski Dira menjawab seperti itu, kepala sekolah yakin, simo menyembunyikan kekuatannya.


Di lapangan, simo di serang tanpa sedikit pun celah untuknya menarik nafas. Amara terus menyerangnya dengan bola-bola cahaya.


Meski dia tidak bisa melihat, dia masih bisa bertahan. Tentu saja dengan lebih susah.


Amara melakukan itu, tentunya untuk memberikan waktu Jerome mempersiapkan kekuatannya. Meski dia yakin serangan itu sulit membuat lawannya kalah, setidaknya mereka sudah mencobanya.


“Di mana kekuatanmu sebelumnya?” tanya Amara masih bergerak melingkari simo sambil menyerangnya. Dia tidak hanya menggunakan bola cahaya saja, pedang cahaya dan berbagi bentuk lainnya.


Simo menghindar dengan menundukkan kepalanya, bergeser ke kiri, ke kanan dan melompat.


“Aku khawatir, kau tidak bisa menerimanya jika aku mengeluarkannya.”


“heh. Katakan saja, kau tidak bisa melakukannya? Meski kekuatan itu sangat kuat, aku yakin, ada bayaran yang harus kau bayar dan itu tidak sedikit. Tapi, meski kau tidak menggunakannya, kau masih bisa bertahan melawan kami berdua. Api biru cerah memang sangat kuat, tapi, aku yakin, kau menyembunyikan sesuatu yang lain selain kekuatan aneh itu. Cepat keluarkan! Aku ingin melihatnya.”


“mengapa aku harus menurutimu?” simo menjawab sambil menghindar dan memejamkan matanya. Serangan Amara kali ini lebih kuat dari sebelumnya dan memiliki durasi lebih lama.


“Aku tidak akan memaksa. Namun, kau yang akan mengeluarkannya sendiri. Ini hanya masalah waktu kau mengeluarkannya.”


“Aku sangat penasaran denganmu. Andai saja ada seseorang mengetahui identitasmu, aku pasti akan mengetahui apa saja yang kau miliki. Bagaimana kalau kita bertaruh?”


“Kedengarannya cukup menguntungkan. Baiklah, aku akan mengatakan semuanya yang kau inginkan, tapi jika kau kalah, apa yang akan kau berikan kepadaku?”


“Tentu saja sesuatu yang berharga. Aku tidak akan mengatakannya di sini.”

__ADS_1


Meski Amara menduga dia akan kalah, setidaknya dia bisa menggunakan akalnya jika tidak bisa menggunakan kekuatan. Dia akan mencari cara untuk mengikat simo dan mengalahkannya tanpa menguras semua kekuatannya.


__ADS_2