
Tok, tok, tok.
Suara pintu kayu yang di ketuk oleh Namila.
Seorang pria paruh baya memakai jaket membuka pintu. Wajahnya terlihat malas meski ada kumis yang sangar. Di kepalanya ada topi kerucut. Kulitnya terlihat putih sekali, nyaris tidak ada darah yang mengalir.
Melihat dua remaja yang tidak terlihat kedinginan, tentu membuatnya terkejut dan heran. Suhu di daerah ini sangat dingin, bahkan dirinya sudah bertahun-tahun berada disini belum bisa beradaptasi. Di tambah semakin hari semakin dingin dan minimnya cahaya matahari menambah kesulitan untuk hidup.
Penilaian pria itu sangat meleset, namila dan simo kedinginan, hanya saja mereka tidak tampak seperti itu.
Selain itu, mereka yang berpakaian aneh juga membuatnya tertarik. Namun, sayang sekali dia tidak akan menanyakan itu. Sebaliknya dia berkata, “pergilah, aku tidak menerima tamu di sini.” Nadanya jelas malas.
Sebelum Pria itu menutup rapat pintunya, namila menghentikannya, lalu berkata, “tuan, biarkan kami untuk beristirahat sebentar untuk memulihkan kondisi tubuh kami. Kami sudah tidak tahu lagi ke mana harus pergi. Semuanya mengusir kami seperti binatang.” Nadanya sedikit kedinginan.
Pria itu memandang simo dan namila dari atas ke bawah. Tentu karena mereka aneh dan membuatnya terusir dari tempat lain, dia pun juga melakukan hal yang sama.
Namun dia mulai memikirkan, jika dirinya seperti itu, dan tidak ada yang membantunya, bukankah itu sangat buruk?
“baiklah, hanya satu hari.”
“Baik tuan.” Jawab namila dengan riang.
...****************...
“kalian dari mana?” tanya pria itu yang sudah duduk di kursi. Tidak jauh darinya ada perapian yang masih menyala. Suaranya saling beradu dengan suara api yang menyala.
Di sekitarnya ada rak-rak buku kuno, sepertinya dia suka membaca. Ketika simo dan namila masuk, mereka tidak bisa menahan kekaguman saat melihat buku-buku tersebut. Ini adalah pertama kali mereka melihat rak buku sebanyak itu di dalam rumah. Mata mereka saling mencari sesuatu yang membuat mereka tertarik. Tentu Bau-bau buku itu tidak kalah membuat mereka tertarik.
Buku-buku itu bukan seperti buku-buku yang selalu mereka lihat di perpustakaan. Buku-buku itu seperti buku kuno dan unik.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing, simo dan namila di berikan untuk menghangatkan diri di dekat perapian itu. Pria itu menyadari simo dan namila kedinginan ketika berbicara lebih lama.
__ADS_1
Mereka duduk dengan memeluk lutut. Meski simo pengguna api, dia lebih memilih untuk tidak menggunakannya karena itu akan menghabiskan energinya, maka dari itu dia memeluk lututnya dengan erat dan mendekati diri Beberapa waktu di dekat perapian.
Pedang yang simo bawa harus di relakan untuk di sita karena pria itu mungkin takut simo akan macam-macam. Hal ini simo anggap wajar, karena semua orang akan melakukan itu untuk berjaga-jaga. Oleh karena itu, dia memberikan dengan tulus, namun dengan syarat dia akan mengambil kembali setelah dia memutuskan akan pergi.
Pria itu dengan wajah malasnya menerimanya.
“kami dari kekaisaran gunung salju.” Jawab namila.
Mendengar itu, pria itu diam, memikirkan nama itu dan mencari-carinya. Sebelumnya, dia lupa menanyakan daerah tempat mereka berasal.
“sepertinya tempat yang jauh. Bisa kalian ceritakan mengenai tempat itu?” kini wajahnya masih terlihat malas, tapi nadanya agak sedikit bersemangat terdengar.
Namila pun menceritakan semuanya mengenai tempat tinggalnya itu. Gadis ini sangat bersemangat menceritakan semuanya. Wajah dan nadanya sangat bersemangat. Dia menceritakan dari keadaan iklim, tempat-tempat yang harus di kunjungi, keadaan penduduknya, serta sistem pemerintahannya juga tidak lupa dia ceritakan.
Simo dan pria itu bersemangat mendengar hal itu, ini terutama terjadi kepada pria itu yang tidak pernah mendengar tentang tempat itu. dia terlihat sangat bersemangat dari balik wajahnya yang malas dan putih itu.
“sepertinya tempat kalian lahir memang menakjubkan.” Pria itu berkata sambil berjalan, dan mendekati rak buku di dekat kursinya.
Wajah simo dan Namila mengikuti arah gerak pria itu. Pria itu mengambil buku yang tebal, dia meniup debu yang menempel, kemudian kembali duduk.
Pria ini terlihat menduga simo dan Namila tersesat, tapi sebenarnya mereka berada di alam mimpi Azka.
Simo dan namila terlihat bingung dengan pria di depan mereka. Selain itu, mereka juga bingung dengan adanya penduduk di sini yang seperti tidak mengetahui bawah dirinya sedang berada di alam mimpi Azka.
Setelah beberapa saat menyelusuri buku tersebut, pria itu mengangkat wajahnya. “oh, iya, namaku Pietro, panggil saja paman Pietro.” Dia lalu kembali membuka halaman tanpa menunggu jawaban simo dan namila.
Melihat Pietro sedang serius dengan bukunya, simo memanfaatkan waktunya untuk melihat-lihat lagi. Dia masih tertarik dengan rumah ini. Meski memiliki dua lantai dan terbuat dari kayu, simo sangat tertarik dengannya, baginya rumah ini unik dan memiliki seni tersendiri.
Karena tidak ada kerjaan, namila menepuk bahu simo, lalu berbisik, “simo, kita akan berapa lama berada di sini?”
“kita akan pergi di besok hari saja. Apa kau lupa katanya? Setelah itu, kita akan menyusun rencana untuk membunuhnya. Walaupun dia mungkin mengetahui semua hal yang terjadi di sini, dia tidak akan mungkin bisa membaca pikiran, dan hal-hal yang tidak dikatakan, jadi, aku akan menggunakan sebuah teknik untuk melakukannya.”
__ADS_1
Namila mengangguk. “cepat pikirkan, aku tidak tahan dengan suhu dingin seperti ini. Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau kedinginan, meski pengendali api?”
“aku tidak menggunakannya. Meski api akan membuat tubuhku lebih panas, energi yang di habiskan sangat banyak. Aku tidak mau jika nanti Azka muncul tiba-tiba saat aku tidak mempunyai kekuatan lagi.”
“Jadi, kau mencadangkannya?”
Simo mengangguk.
Ketika mereka selesai berbicara, Pietro tiba-tiba menutup bukunya. Dia kemudian memandang ke arah simo dan namila dengan tatapan menyelidik.
Menyadari mereka di tatap seperti itu, mereka berusaha tetap tenang dan terlihat biasa-biasa saja. Walaupun mereka mengetahui Pietro bukan orang kuat, mereka tidak bisa menyimpulkannya terlalu dini. Sebab, mungkin saja ada kekuatan tersembunyi di dalam tubuhnya atau ada kekuatan lainnya yang tidak simo dan namila rasakan.
Setelah mengamati beberapa saat, Pietro menghela nafas, lalu berkata, “jangan sembarangan menyebutnya.”
“maksud paman, Azka?”
Tiba-tiba tatapan tajam mengarah kepada namila. Dia dengan cepat meminta maaf dan sedikit menunduk.
Melihat ekspresi Pietro seperti itu, muncul mengenai beberapa dugaan di pikiran simo. Dia dengan cepat bertanya, “apa paman mengetahuinya?”
Pietro menghela nafas panjang, dia kemudian pergi ke rak buku lagi seraya berkata, “tentu, siapa yang tidak tahu dia.” Pietro mencari-cari buku. “dia adalah penguasa di sini dan salah satu orang yang paling di larang menyebutnya. Dan kalian tentu tahu tentang itu kan?”
Simo dan Namila mulai berspekulasi mengenai hal itu.
“Bacalah buku....”
Sebelum akhirnya menyelesaikan kata-katanya, suara pintu di ketuk menyela.
“Paman, biar aku saja.” Namila meminta.
“baiklah, jangan lama-lama. Dan katakan saja kau adalah anak angkatku.”
__ADS_1
Namila mengangguk.
Ketika membuka pintu, seorang gadis langsung jatuh ke depan. Dia memakai jaket yang tebal dengan topi baju yang menutupi rambutnya.