
“tenang saja, kali ini kita akan mengalahkan mereka.” Kata Tica yang berdiri tidak jauh dari Tamara. Kondisinya tidak jauh dari Tamara , hanya saja dia masih memiliki tenaga yang lebih besar ketimbang Tamara.
“Jika begitu lakukan sesuatu, aku sudah kelelahan!” ujar Tamara marah. Dari tadi dirinyalah yang berusaha menahan berbagai gempuran dari vera dan Ragina, sedangkan Tica hanya membantunya sedikit. Oleh karena itulah Tica Memiliki kondisi yang lebih baik.
“Sudahlah, aku akan berusaha, tapi aku memerlukan bantuanmu.” Tica menoleh.
“kapan pun kau mau aku bersedia asalkan mereka kalah, aku tidak ingin kalah dari mereka.” Ucap Tamara seraya melihat Vera dan Ragina berdiri beberapa meter dari mereka. Kondisi mereka sama kelelahan, tapi tidak separah Tamara dan Tica rasakan.
Saat memandang mereka, Tamara memperlihatkan kebencian dan kemarahan dalam matanya. Jika saja dirinya kuat, dia akan membunuh mereka berdua.
“Kau bisa memegang kata-kataku.” Setelah mengatakan itu, Tica melesat dengan belatinya.
“hey! bisakah kau menungguku.” Ujar Tamara lalu ikut melesat.
Vera dan Ragina ikut melesat. Meski tidak terlalu merasa kelelahan dan hampir memenangkan pertarungan, mereka tidak menurunkan fokus sedikit pun dan sebaliknya mereka meningkatkannya, karena mereka yakin jika sedikit saja lengah maka kekalahan lah yang menyambut mereka.
Dengan cepat vera menahan serangan Tica, kemudian mereka saling serang dan ingin saling menjatuhkan.
Sementara itu Ragina berlari menuju Tamara yang juga melesat ke arahnya.
“jika kau ingin sekali melawanku. Aku akan membunuhmu!” Ujar Tamara seraya memegang erat-erat pedangnya. Jelas sekali itu hanya gertakan semata untuk membuat musuh takut, tapi Ragina tidak terpengaruh oleh gertakan itu dan terus berlari mengarah Tamara.
“dasar tidak tahu diri! Aku pasti akan mengalahkanmu!” Tamara berlari dan. Kemudian terjadi pertarungan sengit di antara Ragina dengan Tamara terjadi.
Tidak beberapa lama, terlihat Tamara yang terkena tombak Ragina dan terus mundur. Meski begitu Tamara tetap berusaha mengembalikan keadaannya. Walaupun itu akan sisa-sisa, karena dia sudah kelelahan.
“omonganmu saja besar, tapi nyatanya kau tidak lebih dari burung gagak yang nyaring bunyinya.” Ujar Ragina seraya menangkis berbagai serangan Tamara dengan mudah.
Meski begitu Tamara tetap tidak mau kalah, dia dengan sekuat tenaga terus melawan, Tetapi kekuatannya terkuras habis dan akhirnya dia terkapar jatuh.
“Kau sudah kalah!”
Merasa sudah kalah, Tamara mengambil debu di belakang punggungnya. Tentu saja dia tidak rela jika dirinya kalah. Apalagi dirinya seorang bangsawan.
“kalah? Tentu saja kau yang kalah!” Tamara langsung melempar debu itu tepat mengenai wajah Ragina dan membuat gadis itu mengusap-usap matanya.
__ADS_1
Melihat itu, Tamara tersenyum lalu mengambil pedangnya. Dia cepat berdiri lalu mengayunkan pedangnya. “matilah!”
Trangkk!!
Sebelum menyentuh kulit Ragina, vera dengan cepat muncul dan menahan serangan Tamara, dia juga menendangnya.
“Dasar kurang ajar! Sudah kalah ingin curang. Kau tidak pantas untuk masuk ke akademi ini!” kata vera lalu menarik tangan Ragina dari sana.
Semua siswa langsung membicarakan Tamara yang licik dan tidak sesuai dengan peraturan di sekolah mereka. Berbagai ejekan kian terdengar membuat Tamara malu akan sikapnya. Jika saja waktu bisa di ulang, maka Tamara akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tanpa ingin mengambil debu itu, namun nasi sudah menjadi bubur.
Mendengar berbagai kata-kata tidak baik dari semua orang Tamara hanya bisa menahan malu. Dia bangkit seraya menunduk, lalu pergi membantu Tica yang terluka. “aku akan membalasnya dua kali lipat.” Gumamnya dalam hati.
“baiklah, ibu umumkan Vera dan Ragina yang menjadi pemenangnya.” Setelah mengumumkan, Klarika menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka ada salah satu siswanya yang bertindak seperti itu. Apalagi di depan wali kelasnya sendiri. Setahunya dia selalu di takuti oleh semua siswa, tapi nyatanya ada siswa yang berani dengannya.
Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengajari para siswa lebih baik.
“Dia terlalu licik!” ujar jauzan yang merasa geram dengan tindak Tamara lakukan.
“ya, begitulah jika seseorang ingin menang.” Kata simo dengan tenang dan mengamati semua hal yang terjadi.
Simo hanya menggeleng kecil dan menarik nafas, melihat tingkah laku jauzan.
Setelah beberapa detik para siswa berbisik, Klarika kembali mengumumkan nomor yang bertarung dan lagi-lagi ada siswa peringkat 10 besar, namun lawannya tidak sepadan dengannya, alhasil peringkat 10 besar itulah yang menjadi pemenangnya.
Para siswa menjadi bosan dan tidak menyukai pertarungan itu, sebab tidak sampai 10 detik, pertarungan itu telah usai. Bagi mereka pertarungan itu tidak ada usaha untuk menang sama sekali. Bahkan mereka melihat tidak ada keringat yang keluar dari kulit mereka.
Meski begitu, Klarika tetap melanjutkan pertarungan, tanpa berkomentar apa pun tentang pertarungan itu.
Pertaruhan terus berlanjut hingga simo dan jauzan terpanggil dan membuat harapan semua siswa terbit, sebab pertarungan yang berlangsung sebelumnya sangat membosankan, karena semua peringkat 10 besar tidak mendapatkan lawan yang sepadan. Apalagi saat Kenzo bertarung, itu hanya memakan waktu 2 detik.
Pertarungan itu merupakan pertarungan tersingkat yang pernah mereka tonton.
Saat simo dan jauzan ke tengah lapangan, aura di sekitar menjadi tegang. Bahkan setiap siswa tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ini adalah petarung yang sepertinya akan seru, karena simo, Jauzan akan melawan Sakya dan Wulin.
Dari kedua Sakya lah yang merupakan peringkat satu dan merupakan siswa kelas C yang berbakat, Karena dirinya sendirinya hampir mencapai tingkat bumi dan memiliki teknik pedang yang luar bisa. Apalagi jika sekarang dia akan bekerja sama dengan temanya, Wulin yang juga merupakan siswanya peringkat 5 besar di kelas.
__ADS_1
Sementara itu, Klarika hanya memandang mereka dengan datar, tanpa ekspresi serius atau heran dengan pertarungan itu. Dia menarik nafas lalu memulai pertarungan namun Simo dan Jauzan tidak bergerak sedikit pun dan begitu pun dengan Sakya dan Wulin yang melihatnya ikut tidak bergerak.
“Sakya, apa yang akan kau rencanakan?” Tanya Wulin heran dengan tindakan Sakya yang tidak menyerang musuh.
“kita amati dulu, jika memungkinkan kita akan menyerangnya. Kau tidak lihat mereka seperti ingin merencanakan sesuatu? Meskipun mereka siswa baru, kita tidak boleh gegabah. Persiapkan senjatamu dulu.”
Wulin mengangguk, kemudian mengeluarkan pedangnya.
“Apa pun yang kau perintahkan, aku akan mempercayainya.” Ucap Wulin dengan memperhatikan kepercayaan yang tinggi kepada Sakya.
Sakya mengangguk.
Sementara itu, jauzan dan simo mempersiapkan senjata mereka. Saat simo hendak berlari, jauzan menghadangnya.
“Ada apa?” tanya simo yang bingung dengan jauzan.
“biar aku saja yang melawannya.” Jawab jauzan dengan sungguh-sungguh.
“jangan bercanda, kau mungkin akan kalah melawan mereka sendirian.”
“Kau tidak mempercayaiku? Apa kau lupa jika aku pernah mengalahkan salah satu siswa kelas B.”
Simo mulai mengingat-ingat saat jauzan bertarung melawan lais. Dia mengingat selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
“Walaupun begitu aku sebagai pasanganmu tidak boleh tinggal diam.”
Jauzan diam sejenak, lalu berkata, “begini saja, kau boleh menyerang jika aku terdesak dan situasi tidak memungkinkan untukku melawan mereka. Apa kau mengerti?”
“Baiklah.” Ucap simo kesal. Dia ingin sekali bertarung melawan Sakya dan Wulin yang terkenal dengan bakat mereka, tapi dia juga harus menghargai pendapat jauzan.
“Kita sepakat.” Jauzan segera menyambar pedang simo, kemudian berlari.
Simo hanya bisa menarik nafas dan mengerti jika jauzan ingin meminjam pedangnya.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa kritikan dan sarannya ya