Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 26 rekan


__ADS_3

“Untuk apa kau tahu?” Simo dengan dingin menjawab seraya mengganti ikan yang gosong.


“Apa salahnya aku menanyakan itu!?” Tanya anulika sedikit marah.


Mendengar ucapan Anulika, simo menghela nafas, dia lalu memandang Anulika. “jika kau ingin mengetahuinya, aku punya syarat untuk itu. Apakah kau menerimanya?”


Anulika diam sejenak, lalu menerimanya dengan ragu-ragu.


Simo mengeluarkan sesuatu, dan dengan cepat memasukkan ke dalam mulut Anulika. Dia masukannya dengan cepat, bahkan Anulika tidak bisa menghindarinya.


Anulika terbatuk-batuk lalu menghardik, “sialan! Apa yang kau masukkan!?”


Simo membalikkan ikannya, lalu menjawab, “ itu bukan apa-apa. Aku hanya berjaga-jaga saja. Aku tidak mudah mempercayai seseorang, apalagi itu orang asing. Oleh karena itu, aku memasukkan racun untuk berjaga-jaga.”


Mendengar itu, anulika terkejut dan tanpa sadar berdiri. “apa yang kau lakukan! Ingat, jika aku mati, semua keluargaku tidak akan mengampunimu, terlebih lagi kau hanya pemuda biasa-biasa saja!”


Melihat reaksi Anulika, simo bersikap tenang, lalu menjawab, “tenang saja, itu racun terbaik yang aku pilihkan untukmu. Racun itu akan bereaksi jika kau membocorkannya. Dengan begitu, kau tidak akan berani macam-macam denganku.”


“aku tidak akan memaafkanmu!” Anulika lalu duduk dan mendengus kesal. Dia tidak menyangka akan diracuni seperti ini, apalagi dia belum mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh simo.


Sebenarnya, rancun yang dikatakan simo, bukan racun. Itu semacam teknik yang bisa di lakukan oleh para siren. Teknik itu akan berbahaya jika seseorang membocorkan informasi penting yang ingin di rahasiakan oleh pemberinya. Teknik itu akan menghilang seiring waktu dan akan kembali muncul mendadak, tergantung pengendalinya.


Maka dapat dipastikan simo sudah memiliki hubungan baik dengan para siren itu.


“Aku akan memeriksa gedung terbengkalai di hutan. Menurut informasi yang kudapatkan, di sana terlihat beberapa aktivitas aneh.”


“untuk apa kau melakukan itu?” anulika terlihat tertarik.


“apakah kau pernah mendengar tentang organisasi salju hitam?”


Mendengar ini, ekspresi Anulika seketika serius. Dia dengan nada serius bertanya, “apa ini ada hubungannya dengan tempat yang kau katakan tadi?”


Simo mengangguk. “aku ingin mengetahui lebih banyak tentang organisasi ini, apakah kau mempunyai informasi mengenai hal itu?”


“tidak banyak. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya, jika kau mendapatkan informasi organisasi itu dariku, mengapa kau harus mengancamku dengan racun?”


“Hanya berjaga-jaga saja. Sudah aku bilang, aku tidak mudah mempercayai orang lain, terlebih lagi orang asing. Jika aku bertanya dengan orang yang merupakan salah satu anggota organisasi itu, tanpa memberikan racun, itu seperti menggali tanah di tempat yang salah.”


“baiklah, aku mengerti. Aku mempunyai sedikit informasi tentang itu, tapi aku tidak akan memberikan semuanya.”


“mengapa?”

__ADS_1


“Jika aku memberikan semuanya, aku takut, kau berbohong mengenai racun itu.”


Mendengar ini, simo percaya, anulika adalah seorang jenius akademi yang mungkin akan menjadi salah satu siswa yang mempunyai nilai tinggi setelah ujian selesai.


“Baiklah.” Jawab simo singkat.


“Organisasi ini didirikan oleh kaisar Galen dengan tujuan membuat pertahanan yang kokoh dengan segala cara. Organisasi ini dibentuk bertujuan untuk meningkatkan kekuatan seseorang dengan instan, namun belum berhasil. Kabarnya, sudah banyak yang menjadi korban akibat penelitian yang mereka lakukan.”


Anulika melanjutkan, “mereka di pimpin oleh seorang Yang berada di tingkat alam tahap sembilan, yang artinya bukan orang sembarangan. Tempat dan bagaimana mereka beroperasi, aku tidak mengetahuinya.”


“bagaimana kau bisa mendapatkan informasi sebanyak ini?”


Anulika terkejut, lalu diam dan menunduk lesu. Kedua matanya memancarkan kesedihan yang mendalam, namun entah karena apa itu.


Simo yang menyadari ini, dengan cepat berkata, “kau tidak perlu menjawabnya, aku tahu alasan kau tidak mengatakannya.”


“terima kasih.” Kata anulika seraya mengangkat kepalanya.


Anulika melanjutkan, “ kau tidak perlu mencurigaiku, aku akan selalu mendukungmu untuk melakukan rencanamu. Tapi...hanya satu yang aku inginkan darimu.”


Simo mengangguk ragu-ragu.


“aku menginginkan kepala pemimpin organisasi itu.”


“terserah, aku tidak mempedulikannya. Asalkan kau mau membantuku, aku tidak mempedulikannya.” Wajah anulika berseri-seri dan penuh harapan saat mengatakannya.


Simo menyodorkan ikan Kepada anulika. Anulika dengan lembut menolaknya.


“Maaf, aku sedang tidak selera hari ini.”


“mengapa?”


“Aku tidak tahu.”


Setelah pembicaraan itu selesai, akhirnya Namila bangun dari tidurnya. Menyadari itu, simo dan anulika langsung mengajaknya pergi. Saat Namila bangun, suasana sore sudah mulai terlihat. Walaupun hari sudah menjelang sore, mereka tetap melanjutkan perjalanan, karena mereka ingin mengamatinya sebentar.


Tidak peduli seberapa jauh jarak yang masih mereka tempuh, mereka tidak mempedulikannya. Saat di perjalanan, simo menjelaskan semuanya tentang anulika. Dia menjelaskannya dari awal hingga akhir.


Namila memandang simo dengan tajam, dan sesekali memandang Anulika di samping simo.


Melihat perilaku Namila yang aneh, simo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia menduga ada sesuatu yang membuat Namila seperti itu. Dia mengetahuinya, tapi tidak mau menjelaskan lebih panjang.

__ADS_1


“apa kalian tidak melakukan hal yang aneh-aneh?” akhirnya Namila bertanya.


“Tentu saja tidak. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya. Jangan terlalu curiga Kepadaku, kita sudah berjanji sebelumnya, aku masih ingat janji itu.”


“Lalu mengapa dia mau membantu kita?”


“Aku tidak mengetahuinya, kau bisa menanyakannya langsung kepadanya.”


Melihat tidak ada kebohongan di wajah simo, Namila berkata, “Baiklah. Aku mempercayaimu.”


Waktu yang mereka habiskan untuk tiba di sana tidak lebih 2 jam. Saat mereka tiba, mereka bersembunyi di dahan-dahan pohon yang tidak jauh dari sana. Menurut pengamatan simo, bangunan itu dililit berbagai macam tanaman rambat. Dia dapat melihat bunga putih yang diinginkan namila.


Yang paling menyita perhatiannya, jalan masuk gedung itu tidak ada jejak sama sekali, hal ini membuatnya bertanya-tanya, bagaimana mereka melakukan itu.


Pikiran tentang dia di bohongi juga ikut simo pertimbangan, tapi setelah beberapa saat menggelengkan kepalanya sebab, kakeknya tidak mungkin mendapatkan informasi yang salah.


“simo, kenapa kita tidak masuk saja secara langsung?” namila bertanya. Dia tidak mengetahui situasinya sekarang, dan menganggap gedung itu kosong.


“Jika kita masuk, aku tidak tahu seberapa bahayanya di sana. Walaupun gedung itu terbengkalai dan usang, kita tidak mengetahui apa saja yang ada di dalamnya. Kita tunggu saja sampai malam tiba.”


“baiklah, jika sudah aman, bisakah kau memetikan bunga itu?” Namila menunjuk salah satu bunga putih yang ada di gedung itu.


Mendengar itu, anulika merasa jengkel. Dia dengan nada mengejek berkata, “dasar gadis polos.”


“kenapa kau merasa risih? Apakah kau tidak menyukai bunga?” Namila sedikit marah.


“Aku menyukainya, tapi aku tahu waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.”


Melihat situasi semakin memanas, simo langsung mengalihkan perhatian mereka berdua mengenai rencana selanjutnya. Rencana Selanjutnya yang mereka lakukan hanya mengamatinya saja. Simo menyuruh anulika mengamati dari belakang gedung, namila dari samping, dan simo sendiri tetap di sana untuk berjaga-jaga.


Simo menyuruh mereka untuk mengamatinya selama 4 jam penuh, lalu kembali jika ada hal-hal yang mencurigakan.


Tidak ada yang protes, mereka langsung pergi ke tempat masing-masing. Namila sebelum pergi menitip untuk memetikan bunga putih untuknya.


Simo dengan senang hati menerimanya.


Simo menajamkan pendengarannya. Dia kemudian duduk bersila, lalu masuk ke dalam alam mimpinya.


Saat masuk, simo terkejut melihat kaisar pedang tengah duduk melingkar dengan para siren. Mereka sedang menikmati makan dari alam mimpi simo.


Melihat simo datang, Kaisar pedang langsung mengajaknya makan, dan menanyakan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan, simo dan kaisar pedang duduk di bawah pohon, memikirkan cara terbaik untuk melakukan pengamatan gedung terbengkalai itu.


__ADS_2