Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 5 hujan anak panah


__ADS_3

Setelah pergi dari sana, simo mencari ke berbagai tempat dan menanyakan kepada orang-orang mengenai Naria. Tetapi setelah melakukannya beberapa menit, tidak ada satu pun yang melihatnya.


Simo berjalan terus menelusuri kota. Lampu-lampu kuning dan putih bercampur indah. Orang-orang masih ramai lalu lalang, tapi tidak seperti sebelumnya. Setelah melakukan beberapa meter perjalanan, dia akhirnya memilih mengunjungi pedagang kain terdekat. Dia berharap akan mendapatkan informasi mengenai Naria, sebab para gadis sangat menyukai kain dan pakaian.


Toko kain yang simo datangi adalah toko terakhir, jadi dia sangat berharap mendapatkan informasi.


Dia langsung bertanya kepada pemilik toko, apakah dia melihat seorang gadis yang memiliki rambut perak kebiruan. Ada beberapa pertanyaan yang membuat simo bertanya-tanya, mengapa sosok gadis cantik seperti Naria tidak ada yang mengenalnya, apakah Naria tidak se-menarik itu?


Selain itu, seharusnya orang akan memperhatikan hal-hal aneh, contohnya seperti rambut Naria berwarna Perak kebiruan, rambut yang unik, apakah mereka sudah terbiasa dengan hal seperti itu?


Jika demikian, seharusnya ada beberapa orang yang tidak mengenalnya.


“Seorang Gadis seperti itu...”


Laki-laki tua itu mengangkat kepalanya, berpikir keras mengingat orang-orang yang di temuinya sehari penuh. Dia adalah pedagang yang pekerja keras, jadi sesuatu yang aneh dan unik seperti itu, memerlukan beberapa waktu untuk mengingatnya.


“oh, iya... Jika aku tidak salah, baru beberapa saat yang lalu dia pergi melewati tokoku. Dia pergi ke sana!” laki-laki tua itu menunjuk ke arah toko yang sedang tutup yang tidak jauh dari sana.


“Ya! Aku mengingatnya, dia pergi ke sana!”


Simo mengerutkan kening memandang toko yang sedang tutup itu, itu adalah toko yang terakhir berada di kota.


“Tuan, setelah dia pergi ke sana, dia ke mana?”


“tunggu dulu...”


Laki-laki itu kembali berpikir. Setelah beberapa saat berkata kembali, “Aku tidak tahu.”


“hey, aku sudah lama menunggumu! Ayo ke sini!”


Seseorang menarik tangan simo dan membawanya pergi.


...****************...


Naria perlahan-lahan membuka kedua matanya. Pandangannya berkabut beberapa saat, kepalanya terasa pusing. Dia bangun perlahan-lahan, kemudian duduk di pinggir ranjang.


“D-di mana aku?” gerutunya sembari memegang kepalanya yang masih pusing. Ingatan terakhirnya ketika dia hendak mencoba kain yang telah di belinya, setelahnya tidak sadarkan diri.


“Ini di rumah?”


Naria mengangkat wajahnya, menatap semua hal yang diingatnya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, seorang wanita paru baya datang. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu dan perlahan-lahan datang membawa beberapa makanan.


Dia langsung memeluk Naria dengan erat, seolah Naria akan pergi selamanya.


“Syukurlah, kau selamat. Ibu tidak bisa tenang setelah mendengar berita itu.” Air mata ibu Naria mulai berjatuhan. Dia sangat takut kehilangan anak satu-satunya.


Naria membalasnya dengan bingung.


“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tidak ada. Sekarang kau makanlah.”


Ibu Naria mengambil makanan yang di bawanya.


Saat mendengar itu, Naria mengerutkan kening, dia heran apa yang sebenarnya terjadi, tetapi dia tidak berusaha bertanya.


...****************...


Rombongan simo tetap diam menunggu simo. Delisa tetap dengan secarik kertasnya, Rina berdiri menunggu simo, sementara Chan membersihkan kudanya.


Tidak ada yang terjadi, setidaknya setelah beberapa menit. Kemudian, tiba-tiba puluhan anak panah melesat ke arah mereka.


Anak panah terus mendekat dan mendekat, tepat ketika hendak menusuk rina, tiba-tiba api ungu muncul membakar semuanya.


“Apa yang kau lakukan! Cepat bersembunyi!” pekik Delisa, menarik tangan Rina, membawanya ke belakang kereta kuda.


Panah-panah yang tersisa melesat seperti hujan. Kuda-kuda terkikik saat terkena anak panah. Mereka mengangkat kaki depannya, kemudian melarikan diri setelah Delisa berhasil memotong tali-tali mereka. Namun, tidak beberapa lama mereka berlari, panah-panah kembali melesat, menusuk tubuh mereka hingga mati.


Delisa mengintip dari belakang kereta kuda, melihat-lihat dari mana panah-panah itu berasal. Tetapi hanya keheningan yang ada. Delisa mengerutkan kening, bagaimana bisa tidak ada jejak sama sekali?


“nona! Anak panah sedang mengarah ke sini!” ujar Chan seraya menunjuk anak panah di depan mereka, melesat seperti hujan lagi.


Delisa langsung berlari ke depan. Dia mengarahkan tangannya ke depan. Api ungu muncul, menghanguskan semua anak panah yang tersisa.


Setelahnya puluhan orang melompat mengitari mereka. Delisa mengeluarkan selendangnya. Dia menatap tajam sekitarnya.


Orang-orang yang muncul memakai pakaian prajurit. Di tangan mereka semuanya membawa tombak.


“menyerahlah kepada kami!” pekik salah satu prajurit.


“Apa salah kami!” Delisa mempersiapkan bola api dan selendangnya.

__ADS_1


“kau akan mengetahuinya nanti.”


“Maaf, aku tidak semudah itu menyerah!” Delisa mengarahkan tangannya ke depan, dan membuat gerakan menyapu.


Api ungu muncul mengelilinginya, Rina dan Chan seperti benteng.


Para prajurit ketakutan, dan mengambil satu langkah mundur.


“Delisa, apa yang akan kita lakukan?” rina menjadi takut, dia bertanya sembari menepuk bahu Delisa.


“kau tenang saja.” Delisa berbalik menatap Rina dan Chan. “kalian diam di sini. Api ini sangat panas, jika mereka melempar panah dan tombak, kedua senjata itu akan hangus, meski berada di udara.”


Delisa melompat keluar. Di udara, dia melempar selendangnya. Selendangnya memanjang dan menyapu semua prajurit yang ada. Mereka terbang beberapa meter dan berteriak. Ada beberapa yang kembali berdiri, ada beberapa juga yang tidak, mungkin mereka pingsan.


Setelah mendarat di tanah, Delisa melempar bola-bola apinya. Jeritan-jeritan kesakitan terdengar ketika bola api mengenai para prajurit.


Beberapa menit berlalu, tinggal beberapa prajurit berdiri bersama ketua mereka. Mereka gemetar tanpa sadar mundur dan menjatuhkan senjata mereka, kecuali pemimpin mereka.


“Sungguh gadis yang kuat.” Ketua yang memimpin pasukan bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai.


“apa maumu!? Mengapa kalian menyerang kami, apa salah kami!?” tanya Delisa dengan tatapan tajam.


“hanya menjalankan tugas raja, tidak ada yang lain. Aku beri kau satu kesempatan, menyerahlah, atau aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk melihat langit lagi.”


“Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan.” Delisa tersenyum. Dia menerjang ke depan. Mengarahkan selendang dan bola apinya.


Ketika melihat dua senjata itu bergerak, pemuda itu tersenyum menyeringai seolah dia bisa menahannya atau akan ada bala bantuan yang datang.


Dan, benar saja, tiba-tiba dua bayangan muncul di depannya. Kemudian ledakan api pun terdengar. Delisa langsung menarik selendangnya ketika menyadari bayangan itu.


Dua pria paru baya muncul, mereka tersenyum puas. Keduanya memiliki tubuh berotot dan besar. Dada mereka sangat bidang dan kuat. Salah satunya memegang pedang dengan besar 1 meter dan panjang 5 meter, pedang itu seperti berbentuk pisau golok yang panjang. Ketika dia muncul, dia meletakkannya di depan untuk memblokir Serangan Delisa.


Tidak ada cedera sedikit pun di pedang itu, hanya ada asap kecil mengepul ke atas. Seberapa kuatkah pedang itu, hingga mampu memblokir serangan Delisa?


Di sampingnya, seorang pria berpakaian hitam dengan dalaman putih, lengkap dengan dasinya. Meski sama-sama berotot, pria ini memiliki tubuh yang lebih kecil di bandingkan dengan temannya. Dan, dia memiliki rambut hitam pirang dari pada temannya yang botak.


Saat mereka muncul, mereka langsung melepaskan aura intimidasi dan energi alam masing-masing.


Delisa mengepalkan tangannya erat-erat dan menggigit bibirnya karena kesal. Kedua orang di depannya ini berada di tingkat bumi tahap 7 yang tentu saja dia tidak akan bisa mengalahkan mereka berdua. Jika hanya satu yang muncul, dia mungkin bisa mengalahkannya.


Menyadari wajah kesal dan marah Delisa, pemuda yang berada di belakang dua pria berotot tertawa terbahak-bahak. “bagaimana? Apakah kau akan menyerah begitu saja? Atau... Ingin bertarung hingga mati bersama mereka berdua, hah?”

__ADS_1


__ADS_2